Always You

Always You
Episode 20


__ADS_3

“Perempuan itu hanya menunggu, menunggu pangeran mengetuk


pintu. Menyampaikan maksud tertentu, meminta menjadi calon imammu.”


“Sya, maafin


Satria yaa, Satria gak bermaksud buat Sya sedih.” Ucap Satria tulus setelah


mencium pipinya tanpa izin.


Syahila hanya


melihatnya sekilas, lalu ia kembali menangis kepada ibunya. Satria merasa


permintaan maafnya itu tidak diterima langsung menundukan kepalanya,


pandangannya menatap lantai. Di satu sisi ia takut terkena marah oleh Bu Nur


karena telah membuat Syahila menangis. Namun disisi lain, Satria memang tidak


sengaja untuk membuat Syahila menangis. Melihat itu Bu Nur tersenyum dan


berusaha memahami situasi yang sebenarnya sedang terjadi.


“Satria gak mau


lihat Sya nangis, tapi gimana ini? Sya gak maafin Satria, padahal Satria cuma senang


karena Sya berhasil masuk 5 besar. Satria bangga sama Sya, jadi Satria cium


Syahila.”Kata Satria dalam hati.


“Sya anak baik,


kalau ada yang minta maaf sikapnya harus baik sayang, gak boleh dicuekin gitu.


Allah aja maha pemaaf, masa kita  umatnya


enggak? Memangnya Sya mau kalau Sya berdoa sama Allah minta ampun atas dosa –


dosa yang Sya perbuat terus sama Allah di cuekin? Sya mau Allah cuekin Sya?”


Kata Bu Nur memberikan pengertian kepada Syahila.


Syahila hanya menggelengkan kepalanya, ia


melirik kearah Satria yang sedang menundukan kepalanya. Merasa diperhatikan


Satria mengangkat kepalanya dan mengulurkan kembali tangannya kepada Syahila


dan tersenyum tulus kepadanya. Syahila melirik ibunya yang mengangguk


memberikan isyarat, setelah itu Syahila menjabat tangan Satria tanda bahwa ia


sudah memaafkannya. Mata Satria seketika berbinar, ia merasa senang Syahila


telah memaafkannya.


“Alhamdulillah Ya Allah, makasih ya Sya


udah mau maafin Satria. Satria tahu kok Sya itu orang baik.” Ucap Satria sambil


tersenyum. Syahila hanya tersenyum sedikit dipaksakan karena ia masih kesal


dengan tindakan Satria.


“Tante, boleh gak kalau nanti Satria udah


gede, Satria mau nikah sama Sya?” Tanya Satria kepada Bu Nur. Sudah pasti Bu


Nur dan wali kelasnya langsung berpandangan dan menatap Satria dengan tatapan


tak percaya, sedangkan Syahila kebingungan karena tidak mengerti apa yang


sedang dibicarakan. Bagaimana bisa anak berumur 6 tahun sudah berbicara seperti


itu? Namun, akhirnya Bu Nur tersenyum lembut kepada Satria.


“Kalau seperti itu, Satria harus belajar


yang rajin biar pinter yaa.” Ucap Bu Nur kepada Satria.


“Satria janji akan rajin belajar tante.”


Jawab Satria dengan wajah yang bersungguh – sungguh.


“Untuk sekarang, Satria belajar dulu yaa.


Jangan pikirin itu dulu, belajar yang pinter, raih cita – cita buat orangtua


bangga. Pertahankan prestasimu yaa” Kata wali kelasnya menasehati.


            Bu Nur


masih saja tersenyum melihat kepolosan Satria dan Syahila, karena kepolosan


mereka, mereka jujur dengan perasaan yang mereka rasakan sehingga tidak ada


kesalahpahaman. Bu Nur masih memaklumi Satria karena ia belum benar – benar


mengerti, namun dengan terjadinya kejadian ini, Bu Nur dapat lebih waspada


untuk menjaga anak perempuannya. Ia tidak ingin hal serupa terhadap putrinya lagi.


Namun tetap saja, Bu Nur pasti tersenyum sendiri jika mengingat kejadian itu.


            Dan saat


Syahila tiba – tiba tidak masuk sekolah lagi, Satria menjadi lebih pendiam di


kelasnya. Padahal sebelumnya, Satria adalah anak yang sangat ceria.  Bu Ely, wali kelasnya pun menyadari akan


perubahan sikap Satria. Ia mengerti perasaan Satria, kehilangan sosok teman


yang sangat dekat dengan dirinya merupakan hal yang menyedihkan. Sebagai wali


kelas, Bu Ely mencoba menghibur Satria yang terlihat murung akhir – akhir ini.


            “Satria


kenapa gak main sama yang lain?” Tanya Bu Ely saat melihat Satria hanya duduk


didekat jendela menatap keluar.


            “Satria


kangen Syahila bu, kenapa Sya tidak sekolah lagi?” Tanya Satria dengan wajah


murung.


            “Satriakan


sudah tahu Syahila itu menjalani operasi kepalanya biar Sya cepet sembuh. Emang


Satria gak mau lihat Sya sembuh?” Bu Ely mencoba memberi pengertian kepada


Satria.


            “Satria


tahu itu bu, tapi ini sudah seminggu. Kenapa Syahila tidak masuk sekolah lagi?”


Tanya Satria lagi.


            “Sya


juga perlu istirahat, setelah operasi Sya harus banyak istirahat biar cepet


pulih. Apalagi Sya operasi bagian kepala, jadi butuh istirahat yang lebih lama.


Nanti jika Sya udah baikan Sya akan sekolah lagi. Makanya Satria doain Sya biar


cepet sembuh yaa.” Ucap Bu Ely menenangkan hati Satria. Namun, pada


kenyataannya sampai waktu wisuda TK pun Syahila belum juga kembali.


Sampai pada akhirnya, Satria mengikuti seminar


pra nikah yang diadakan di kotanya. Ia berpapasan dengan dua orang perempuan


ditangga, dan Satria merasa familiar dengan salah satu perempuan tersebut.


Sadar sedang diperhatikan, salah satu perempuan itu tiba – tiba menatap


kearahnya. Karena terkejut, Satria langsung mengalihkan pandangannya kearah


lain. Perempuan itu berbisik kepada temannya lalu mempercepat langkahnya


menuruni tangga, meninggalkan temannya dibelakang.


“Sya, tunggu aku! Pelan – pelan saja Sya,


nanti kamu jatuh.” Ucap perempuan yang satunya lagi. Saat Satria berpapasan


dengannya, ia tersenyum sopan dan segera menyusul temannya yang sudah mulai


menjauh.


“Syahila Afsheen Myesha, tunggu aku!”

__ADS_1


teriak perempuan berkerudung hitam itu memanggil perempuan berkerudung merah


muda.


Langkah kaki Satria terhenti seketika, ia


langsung berbalik arah menuruni tangga dengan tergesa. Ia mencari dua perempuan


tersebut namun terlambat, kedua perempuan itu telah hilang entah kemana. Satria


telah berlari mengelilingi tempat tersebut, namun tidak menemukannya. Satria


sangat menyesal karena ia tidak dapat mengenali perempuan yang sudah lama ia


cari. Satria mengacak rambutnya kasar, ia tak tahu lagi apa yang harus


dilakukannya, ia tak mau kehilangan Syahila untuk kedua kalinya. Saat ia sudah


putus asa, tiba – tiba Satria teringat akan seminar yang diikutinya, maka ia


langsung berlari kembali ke tempat seminarnya. Namun bukannya ia langsung masuk


auditorium, Satria malah mendatangi panitia bagian penerimaan tamu acara


tersebut.


“Maaf boleh saya melihat daftar nama tamu


yang hadir pada acara ini?’ Tanya Satria kepada panitia tersebut.


“Jika boleh tahu untuk apa ya kak?” tanya


panitia bagian penerimaan tamu itu.


“Saya sedang mencari seseorang, tadi


sempat berpapasan dengannya. Namun, tiba – tiba saya kehilangan jejaknya.” Kata


Satria menjelaskan. Perempuan itu hanya menatap Satria curiga, dan Satriapun


menyadarinya.


“Saya tahu mungkin tidakan saya ini


mencurigakan, namun percayalah! Saya tidak akan berbuat macam – macam. Orang


yang saya cari adalah teman lama saya, kita sudah 12 tahun tidak bertemu.” Kata


Satria menjelaskan berusaha meyakinkan panitia bagian penerimaan tamu tersebut.


“Atau tolong cek apakah ada peserta yang


bernama Syahila Afsheen Myesha.” Pinta Satria pada akhirnya. Dan perempuan


tersebut mencarikan nama Syahila dalam daftar peserta yang hadir.


“Ya ada.” Ucap perempuan itu.


Wajah Satria langsung berbinar, senyum


mengembang diwajahnya. Terlihat jelas ia sangat bahagia. Bagaimana tidak


bahagia, ia akhirnya menemukan perempuan yang sudah dicintainya selama 12


tahun. Walaupun dahulu, Satria belum terlalu yakin dengan perasaannya karena


saat itu Satria masih sangat muda. Dan ia pikir itu hanyalah cinta monyet


belaka, namun entah mengapa ia tetap menunggunya kembali bahkan mencarinya. Bagi


Satria Syahila adalah motivasi terbesarnya sampai sekarang, Saat Satria sedang


terpuruk, ia selalu mengingat Syahila yang selalu ceria. Satria berfikir bahwa


Syahila saja yang mempunyai keterbatasan fisik serta kehidupan yang sulit saja


masih dapat tertawa mengapa ia cepat putus asa. Maka jika Satria mengingat


senyum Syahila kecil, ia kembali bersemangat. Terlebih lagi, ia mengingat akan


janjinya yang pernah diucapkannya dahulu.


“Nah, pendaftaran acara inikan via


Whattshap. Pasti panitia mempunyai kontak semua peserta acara ini, boleh saya


minta kontak orang yang bernama Syahila Afsheen Myesha?” Tanya Satria lagi.


“Mohon maaf untuk hal itu kami tidak


mempunyai wewenang memberikan kontak peserta kepada sembarang orang.” Jawab


“Tolonglah, setelah ini saya akan pergi.”


Ucap Satria memohon.


“Maaf, tapi kami tidak bisa.” Ucap


perempuan itu lagi. Tiba – tiba ada seorang lelaki yang menghampiri perempuan


yang sedang berjaga dibagian penerimaan tamu. Ternyata lelaki itu juga salah


satu panitia acara tersebut, terlihat dari nametag yang tergantung dilehernya.


Dengan membawa kamera ditangan kanannya, ia menghampiri temannya yang sedang


berbicara dengan Satria.


“Ada apa ini ribut – ribut?” Tanyanya.


Temannya yang berjaga dibagian penerimaan tamu menjelaskan secara singkatnya.


Kemudian lelaki tersebut melihat kearah Satria yang masih sangat berharap untuk


mendapatkan kontak Syahila.


“Siapa nama yang dia cari?” Tanya lelaki


tersebut.


“Syahila Afsheen Myesha.” Jawab temannya


memberitahu. Lelaki itu langsung melirik kearah Satria dengan tatapan yang


sulit diartikan.


“Agung, tolong gantikan saya sebentar


untuk mengambil gambar. Saya ada urusan sebentar.” Kata lelaki itu kepada


temannya yang kebetulan lewat, ia menyerahkan kamera yang sedang dibawanya


kepada orang yang dipanggil Agung tersebut.


“Ikut aku.” Ucap lelaki itu. Satria pun


menurutinya, dan saat mereka jauh dari keramaian. Lelaki tersebut mulai


berbicara.


“Kamu mengenal Syahila?” tanya lelaki


itu.


“Sya teman saya saat di taman kanak –


kanak.” Jawab Satria jujur.


“Kamu sendiri mengenal Sya?” Tanya Satria


kemudian.


“Owh, itu. Sya satu pesantren dengan


Yasmin adik saya, dia kakak kelas adik saya. Yasmin sangat dekat dengan Sya,


sehingga saya dapat mengenal Sya.” Jawab Jay memberi penjelasan.


“Berarti kamu tahu kontak Sya?” Tanya


Satria, Jay mengangguk.


“Tapi saya hanya bisa memberi tahumu


media sosialnya saja, jika nomor whattshap sepertinya kamu harus meminta


langsung kepadanya. Karena bagaimana pun juga itu adalah hal yang privasi.”


Kata Jay berharap Satria mengerti.


“It’s okay, kalau itu gak masalah. Yang


penting saya dapat kontaknya Syahila sebelum saya berangkat ke London untuk


program S2.” Kata Satria. Alis Jay terangkat sebelah.


“Bukannya kamu tadi bilang kamu teman Sya


saat di taman kanak – kanak? Jika seperti itu, harusnya kamu seangkatan dengan

__ADS_1


Sya. Mengapa kamu bilang akan melanjutkan S2 sedangkan Sya sendiri baru lulus


dari pesantren dan baru mau mengambil program S1-nya di universitas pesantren


juga.” Kata Jay merasa heran.


“Panjang deh ceritanya, intinya aku


seumuran sama Sya.” Kata Satria.


“Kamu bilang Sya pesantren ya? Dan mau


masuk universitas pesantren, berarti Sya kuliah sambil pesantren lagi?” Tanya


Satria.


“Iya, sejak SMP Sya sudah masuk pesantren


dan ia melanjutkan SMA di pesantren yang sama. Dan sekarang ia mau melanjutkan


kuliah di universitas pesantren yang ada di Jawa Timur.” Jawab Jay.


“Sepertinya kamu tahu banyak tentang


Sya?” Tanya Satria lagi,


“Awalnya saya tahu karena ibu sering


cerita dirumah tentang Sya, tapi sampai akhirnya kita berteman dan Sya


terkadang curhat sama saya terlebih masalah universitas yang akan dimasukinya


dan program studi yang akan ia ambil.” Jawab Jay. Mendengar itu entah mengapa


dada Satria menjadi sesak, ia merasa malu karena ia mengaku mencintai Syahila


namun ternyata ia tidak mengetahui tentang dirinya.


“Masih pantaskah aku mencintainya? Tidak,


maksudku masih pantaskah aku mengharapkan dia sebagai tulang rusukku yang


hilang? Karena untuk mencintainya itu merupakan hakku sepenuhnya, haknya adalah


hanya akankah ia menerima cintaku atau tidak. namun, ia tidak berhak melarangku


untuk terus mencintainya. Masihkah ada harapan untukku untuk mendapatkan


cintanya? Sedangkan aku tahu kini disisinya telah ada lelaki yang sepertinya


dia percaya dan selalu ada untuknya? Ya Allah, egoiskah diriku jika meminta ia


yang akan menjadi makmumku? Aku hanya pasrah kepada-Mu, karena aku tahu Engkau


selalu mendengar setiap doaku.”Bathin Satria.


Namun, pada saat Satria telah selesai


melanjutkan studi S2-nya di London. Ia memberanikan diri untuk melamar Syahila


dengan dibantu Jay yang sempat ia pikir Jay adalah saingannya untuk mendapatkan


Syahila. namun pada kenyataannya, Jay malah yang memberi alamat rumah Syahila


kepadanya karena dulu Jay pernah datang ke rumah Syahila. Disaat Satria datang


untuk kali pertama ke rumah orangtuanya Syahila, ia datang sendiri setelah mengumpulkan


keberaniannya. Beruntung, saat itu Syahila masih ada di kampusnya karena memang


belum saatnya liburan.


“Assalamu’alaikum.”


“Wa’alaikumussalam, maaf cari siapa yaa?”


Tanya Bu Nur karena merasa asing dengan wajah Satria.


“Om-nya ada tante? Ada hal penting yang


ingin saya bicarakan.” Jawab Satria sopan.


“Oh ada, silahkan masuk. Saya akan


panggilkan bapak dulu.” Ucap Bu Nur mempersilahkan. Saat Pak Agus sudah berada


dihadapannya, dan Bu Nur datang membawakan minum lalu duduk disamping suaminya


Satria mulai berbicara.


“Sebelumnya saya ucapkan terima kasih


karena telah menyediakan waktunya untuk berbicara dengan saya.” Kata Satria


memulai pem                    bicaraan.


“Tante, masih ingat sama saya? Saya yang


dulu pernah meminta izin untuk menjadi suami Syahila saat masih duduk di taman


kanak – kanak?” Tanya Satria kepada Bu Nur. Sedangkan Bu Nur tampak sedang


mengingat – ngingat karena memang kejadian itu sudah 15 tahun yang berlalu.


“Saya yang dulu mencium pipi Syahila


sampai dia nangis.” Kata Satria kemudian.


“Owh, itu kamu. iya saya ingat sekarang.”


Jawab Bu Nur sampai mengangguk – anggukan kepalanya.


“Nah, kedatangan saya kemari berniat


untuk mempersunting putri om dan tante untuk dijadikan pendamping hidup saya.”


“Bukannya kamu belum selesai kuliah?


Syahila saja masih semester 6. Memangnya kamu sudah bekerja?” Tanya Pak Agus.


Satria hanya tersenyum.


“Alhamdulillah, saya mempunyai usaha


properti di Jakarta. Dan baru bulan kemarin saya tiba di Indonesia setelah


menyelesaikan studi S2 saya di London.” Jawab Satria dengan tenang. Pak Agus


dan Bu Nur berpandangan.


“Bukannya kamu satu angkatan dengan


Syahila? Dulu kamu sekelas sama Sya.” Kata Bu Nur merasa heran.


Akhirnya Satria menjelaskan bahwa dirinya


saat SMP dan SMA menjalani akselerasi, sehingga dirinya hanya menyelesaikannya


masing – masing selama 2 tahun. Selain itu, Satria juga berhasil menyelesaikan


S1-nya dalam kurun waktu 3 tahun. Sampai ia mendapatkan beasiswa S2 di London.


“Kamu tahu sendirikan Syahila memiliki


keterbatasan fisik? Apakah kamu akan menerima Syahila dengan segala


kekurangannya?” Tanya Pak Agus.


“Pastilah saya sudah mengetahui hal itu


dan saya tidak mempermasalahkannya. Jika tidak, saya tidak mungkin mencari


keberadaan Syahila sampai 15 tahun lamanya, yang akhirnya saya memberanikan


diri untuk menjemputnya langsung kepada om dan tante.” Jawab Satria tegas.


Pak Agus dan Bu Nur hanya mengangguk lalu


meminta Satria untuk datang kembali bersama orangtuanya untuk menentukan


tanggal pernikahan. Setelah itu, pernikahan Satria dan Syahila digelar dengan


meriah. Semua wajah yang hadi disana tampak bahagia, seakan ikut merasakan


kebahagiaan yang tengah dirasakan oleh Satria dan Syahila.


“Teruslah mencintainya, namun jangan


pernah memberitahu apalagi mengusiknya. Biarkan ia melakukan hal yang ia


inginkan. Sampai kau memang sudah siap untuk menjemputnya langsung dari


ayahnya, untuk kau jadikan makmummu kelak. Jangan takut nanti diambil orang,


karena ia adalah tulang rusuk kita yang hilang. Percayalah, jika sudah saatnya,


Allah akan mengembalikan tulang rusuk kepada pemiliknya. Walaupun entah kapan


waktunya, yang diperlukan hanyalah kesabaran.”

__ADS_1


~Satria~


__ADS_2