Always You

Always You
Episode 33


__ADS_3

Pagi menyinari bumi, Daifa sudah bersiap untuk berangkat sekolah, bahkan iya tidak sarapan terlebih dahulu, ntah kenapa iya sungguh bersemangat hari ini.


"Fafa beneran ga mau sarapan dulu? ntar sakit loh" Tanya Lidia membujuk sang anak agar sarapan terlebih dahulu, namun Daifa menggeleng dan segera beranjak setelah meminum susu nya.


"Ngga akan bun, anak Bunda kan kuat" Ucap Daifa mengacungkan kepalan tangan nya ke atas membuat sang Bunda terkekeh geli.


"Yaudah hati-hati ya" Pasrah Lidia saat Daifa sudah berlalu pergi keluar rumah.


Mengerutkan kening nya heran, Daifa bergegas ke depan gerbang rumah nya.


"Ngapain lo nongkrong di depan rumah gue?!"Tanya Daifa, saat melihat Darel di depan rumah nya tengah duduk santai di atas motor.


" Lo mau berangkat?"Tanya Darel menghiraukan pertanyaan Daifa.


"Bukan! mau terbang!" Cetus Daifa segera membuka pintu gerbang.


"Bareng gue aja" Ajak Darel tampa menjawab ucapan Daifa, iya segera menghidupkan motor nya.


"Gas lah!" Balas Daifa segera naik, selagi ada yang geratis ngapa meski modal, begitulah pikir nya.


Melajukan motor nya capat, hingga membutuhkan 2 menit untuk sampai di sekolah SMA Negeri Jaya.


Menghentikan motor nya setelah melewati gerbang sekolah, ke datangan Darel selalu menjadi sorotan Siswi, ya begitulah seorang Moswonted.


𝘐𝘵𝘶 𝘋𝘢𝘳𝘦𝘭 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢?


𝘞𝘢𝘩 𝘨𝘪𝘭𝘢! 𝘢𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘨𝘶𝘦 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘤𝘦𝘸𝘦!


𝘌𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘢 𝘮𝘢𝘶 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘭𝘰?


𝘐𝘴𝘴 𝘭𝘰 𝘯𝘨𝘦𝘳𝘶𝘴𝘢𝘬 𝘴𝘶𝘢𝘴𝘢𝘯𝘢 𝘴𝘢𝘥 𝘨𝘶𝘦 𝘢𝘫𝘢!


𝘒𝘰 𝘨𝘶𝘦 𝘬𝘢𝘺𝘢 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘭 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘣𝘰𝘥𝘪 𝘤𝘦𝘸𝘦 𝘯𝘺𝘢?


𝘐𝘺𝘢 𝘣𝘦𝘯𝘦𝘳, 𝘬𝘢𝘺𝘢 𝘴𝘪 𝘋𝘢𝘪𝘧𝘢 𝘪𝘺𝘢 𝘬𝘢𝘯?


𝘞𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘯𝘦𝘳 𝘵𝘶𝘩


Sedangkan sang tersangka hanya acuh saja bahkan iya segera turun dari atas motor Darel.


Setelah memberikan kembali helem yang iya pake, iya bergegas pergi ke kelas nya tampa mengucapkan terima kasih kepada Darel. Jangan di tiru guys ga baik.


Berjalan santai, Daifa segera memasuki kelas nya, mendekati sahabat nya, iya segera mendudukan diri nya di kursi.


"Ke kantin yo" Ajak Daifa menoleh ke arah Liana dan Afifa.


Setelah mendapat anggukan dari kedua nya, mereka bertiga segera beranjak menuju kantin.


Memasuki area kantin yang tidak terlalu ramai. Mereka segera memilih meja yang akan mereka duduki, hingga memutuskan untuk duduk di meja paling ujung.


"Nana pesan" Suruh Daifa setelah mendudukan diri nya di kursi.


"Pesen apa?" Tanya Liana menatap Daifa malas.


"Seperti biasa aja" Sahut Daifa menyerahkan selembaran uang nya membuat Liana menggerenyit heran.


Menyadari ekpresi heran Liana, Daifa segera menjelaskan.


"Biar gue traktir kalian hari ini, hari ini doang! jangan minta hari lain!" Jelas Daifa menatap Liana yang cengengesan.


"Siap deh, pelit amat"Ucap Liana berlalu pergi menuju stand makanan.


Sambil menunggu pesanan, Daifa memainkan handphone nya, begitu juga dengan Afifa.


" Ngapain lo di sini?!"Tanya Daifa saat tiba-tiba Darel dan kedua teman nya duduk di meja yang iya tempati tampa permisi.


"Duduk"Balas Darel singkat.


" Gue tau! tapi ngapa meski di sini!"Ucap Daifa kesal.


"Suka-suka gue" Acuh Darel pokus memainkan handphone nya.


Daifa yang tidak mau memperpanjang masalah mengalihkan pandangan nya pada handphone yang iya pegang, dari pada makin sebel.


"Wehh, ngapa pada ikut-ikut nemplok di mari?" Tanya Liana yang baru datang dengan nampan pesanan di tangan nya.


"Ke kantin punya nenek moyang lo aja" Sahut Erlan membuat Liana mendengus malas.


"Iya, punya nenek moyang gue! Mau apa lo!"Tukas Liana mendaratkan b***ng nya di kursi yang akan iya tempati, sambil menatap Erlan sengit.


" Mau gue gusur!"Ucap Erlan balas menatap sinis Liana.


"Lawan dulu gue kalo berani!" Tantang Liana.


Erlan mendengus kesal. Tampa menjawab ucapan Liana, iya menempelkan tinjunya di kening Liana membuat sang mpu melotot tajam.


"Yak! berani sama cewe! cemen lo!" Seru Liana memelototi Erlan yang menatap nya malas.


"Lo yang cemen!, tadi nantangin, di tantang balik ga terima, dasar cewe!"Sinis Erlan sambil menjauhkan tangan nya.


" Ehh! gue berani ya! tapi jangan di sini juga bangst! di lapang kalo berani!"Tandas Liana masih menatap Erlan tajam bak peredator.


Sedangkan di sisi lain, mereka berempat hanya menyimak dengan tangan yang santai menyuap ke mulut, tampa niat menghentikan perdebatan mereka berdua.


"Pisahin Fa" Suruh Afifa tampa menatap Daifa.


"Biarin aja, mereka belum adu jetos, ga seru!" Seloroh Daifa masih asik menonton.


Mendengar jawaban Daifa, membuat Afifa menggeleng pelan, iya ikut menikmati perdebatan Liana dan Erlan tampa ikut campur.


𝘛𝘪𝘯𝘨 𝘵𝘰𝘯𝘨


𝘔𝘰𝘩𝘰𝘯 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘱𝘢𝘳𝘢 𝘱𝘦𝘭𝘢𝘫𝘢𝘳 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘴𝘦𝘨𝘦𝘳𝘢 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘬𝘦𝘭𝘢𝘴


"Ayo Na kita ke kelas" Daifa berdiri dari duduk nya. Segera menyeret Liana yang belum siap apa-apa membuat sang mpu menggerutu.


"Kampret!, ga usah narik-narik woy!" Gerutu Liana di saat Daifa masih menyeret nya dengan tidak sabaran.


"Tutup dulu tuh mulut bebek lo" Celetuk Daifa tampa menghiraukan umpatan Liana.


Mencabikan bibir nya kesal, iya segera menghempaskan tangan nya hingga terlepas, setelah itu iya berlalu meninggalkan Daifa dengan muka kesal nya.


"Dih ke bocah!" Seru Daifa mengejek Liana yang sudah menjauh dari nya, tampa memperdulikan sekitar nya.


"Lo juga sama" Ucap Darel yang tiba-tiba sudah ada di sisi nya membuat iya kaget. Untung ga di tabok.


"Dihh, kita ga kenal! ga usah nyindir"Sahut Daifa melirik Darel sinis sebelum berlalu pergi, namun langkah nya terhenti saat Darel kembali angkat suara.


" Ntar sore gue jemput"


"Mau ngapain?" Tanya Daifa membalikan badan nya menghadap Darel.


"Ntah, Bunda gue yang nyuruh"Sahut Darel acuh.


" Gue ijin dulu sama bunda"Ucap Daifa membalikan badannya melanjutkan kembali langkah nya tampa menoleh kembali.


Menatap Daifa yang sudah menjauh, Darel ikut pergi menuju kelas nya di ikuti Erlan dan Alvin.


Berjalan menuju kelas nya masih santai, iya teringat sesuatu. Afifa, iya melupakan satu manusia itu, bergegas menuju kelas nya, iya berpikir mungkin Afifa sudah lebih dulu di kelas dengan Liana.


Memasuki kelas dengan napas sedikit tersenggal-senggal, iya berjalan sanati menuju meja nya.


Ya tebakan nya tidak salah, Afifa sudah duduk santai di kursinya, bahkan iya tidak menoleh saat iya datang.


"Selamat pagi anak-anak" Salam sang guru yang tiba-tiba sudah masuk kelas membuat se isi kelas ribut kembali ke tempat masing-masing.


Sesi pembelajaran di mulai, Daifa sudah ngantuk berat, tampa terasa iya tertidur dengan sangat nyenyak. Bahkan iya tidak sadar bahwa sanga guru sudah menatap nya dengan sorot tajam nya.


𝘉𝘳𝘶𝘬


"Samson!" Celetoh Daifa langsung bangun secara terkejut.

__ADS_1


Latahan nya membuat seisi kelas tertawa, apa lagi dengan kondisi tubuh nya yang siapa menyerang, benar-benar lelucon.


"Enak ya tidur di kelas!"Sindir Bu Mega. sang pelaku yang melempar penghapusan papan tulis ke arah Daifa.


" Emang saya tidur?"Tanya Daifa menunjuk diri nya sendiri dengan tampang polos nya. Membuat Bu Mega tambah kesal.


"Jelas iya! kamu tidur nyenyak ke gitu!"Sengit Bu Mega menatap Daifa tajam.


" Ohh...saya ijin ke toilet ya Bu?"Ijin Daifa santai, iya hendak beranjak dari meja nya untuk pergi ke toilet, namun iya menunggu Bu Mega mengijinkan, walau tidak di beri ijin pun iya akan tetap pergi.


"Heh! kamu!.. berdiri di luar!" Seru Bu Mega membentak Daifa yang langsung lari keluar kelas. Iya sudah jengah dengan tingkah nya yang membuat darting.


Berdiri di luar kelas dengan bosan, Daifa mengedarkan pandangan nya ke kanan kiri, bukan Daifa nama nya jika tidak bertingkah, bahkan saat ini iya sedang menyusuri lorong dengan tujuan ke taman. Bahkan iya melupakan tujuan nya ke toilet.


Setau nya jika jam segini bakal ada yang bolos untuk ketemuan di taman, atau sekedar mencari angin, karena gabut, iya akan cosplay jadi penunggu taman untuk mengganggu mereka yang bolos.


Mencari pohon yang pas untuk iya singgahi, Daifa segera memanjat pohon dengan lihai, bahkan dengan mudah iya sudah duduk manis di dahan.


𝘚𝘦𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘱𝘢 𝘬𝘢𝘶?


Tiba-tiba suara seseorang datang dari arah samping telinga nya, tepat di telinga kiri nya membuat Daifa tersentak kaget.


"Astagfirullah!, ngagetin aja!" Gerutu Daifa mengusap dada nya karena kaget.


Menoleh ke arah kiri nya, iya kaget bukan main saat tahu yang bertanya kepada nya buka manusia, melainkan hantu penunggu taman. Iya jadi merasa sedikit bersalah karena berencana mencosplay jadi hantu tersebut.


"𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢" Heran hantu tersebut saat Daifa menoleh ke arah nya. Namun sedetik kemudian iya menyeringai membuat Daifa bergidik ngeri.


"𝘒𝘢𝘶 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘬𝘶?" Tanya nya mendekatkan kepala nya ke arah Daifa membuat Daifa mendorong kepala nya ke belakang, hingga tampa sengaja terdorong terlalu kuat menyebabkan kepala tersebut patah ke belakang.


"Aduh! Sory kaga sengaja!" Kaget Daifa buru-buru meminta maaf sebelum hantu tersebut menggeram marah kepada nya.


"𝘒𝘢𝘶 𝘬𝘦𝘵𝘦𝘳𝘭𝘢𝘭𝘶𝘢𝘯 𝘣𝘰𝘤𝘢𝘩! 𝘏𝘶𝘩𝘶 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘭𝘢 𝘬𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘯𝘨"Seru si hantu meratapi kepala nya yang terdongak ke belakang.


Iya ingin memelototi Daifa dengan mata seram nya, namun apalah daya, kepala nya saja tidak bisa mendongak bagaimana iya bisa memarahi Daifa.


Karena merasa bersalah, Daifa tampa jijik atau takut membenarkan kembali kepala si hantu.


"Maaf banget ghost!, ga sengaja"Tutur Daifa menatap hantu tersebut dengan wajah bersalah nya.


" 𝘏𝘶𝘩!"Dengus kesal hantu itu, namun tak urung kepala nya mengangguk.


"Makasih dah maafin, gue turun dulu ya, kapan-kapan kita ngobrol lagi" Pamit Daifa melompat turun, setelah berada di bawah, iya melambaikan tangan nya tanda perpisahan di balas lambayan tangan si hantu penunggu taman dengan senyum manis nya, walau jatoh nya nyeremin.


Daifa melupakan tujuan nya untuk menjahili murid-murid yang bolos sepertinya, kapan-kapan saja iya akan menjalankan rencana nya, untuk sekarang iya akan kembali ke kelas.


Karena waktu istirahat sudah tiba, Daifa buru-buru ke kelas nya untuk mengajak ke dua teman nya ke kantin.


"Kemana aja lo Fa?" Tanya Liana menghampiri Daifa yang berada di ambang pintu masuk.


"Kita nyariin kamu loh Fa" Tambah Afifa yang menyusul Liana di belakang.


"Eh?, gue abis dari taman, ada apa emang?" Ucap Daifa menatap kedua nya penuh tanya.


"Kita cari'in di taman ga ada tuh"Tutur Liana menatap Daifa tak yakin.


" Hah? Masa sih, gue di atas pohon biasanya loh"Ucap Daifa menatap kaget kedua nya.


"Gue udah cari di sekitaran situ, tapi gue ga ngeliat lo?"Ujar Liana yang ikut bingung, membuat Daifa terdiam dalam keheranan nya.


" 𝘈𝘱𝘢 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯-𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘬𝘶𝘵 𝘱𝘢𝘶𝘵 𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘩𝘢𝘯𝘵𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘨𝘶𝘦 𝘢𝘫𝘢𝘬 𝘯𝘨𝘰𝘣𝘳𝘰𝘭?"Batin Daifa menerka-nerka.


"Udah lah ga usah di pikirin, mending kita ke kantin" Alih Daifa segera mengajak Liana dan Afifa agar tidak curiga apa-apa.


Tampa terasa waktu berlalu dengan cepat, hingga jam terakhir pelajaran usai.


𝘋𝘪𝘯𝘨 𝘥𝘰𝘯𝘨


𝘞𝘢𝘬𝘵𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘪 𝘬𝘦 𝘩𝘢𝘣𝘪𝘵𝘢𝘵 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘯𝘨-𝘮𝘢𝘴𝘪𝘯𝘨


𝘋𝘪𝘯𝘨 𝘥𝘰𝘯𝘨


" Ohh, pulang toh"Ujar salah satu siswi yang linglung karena suara bel.


Semua murid-murid SMA Negeri Jaya segera membubarkan diri untuk kembali ke rumah masing-masing, begitu pun dengan tiga sekawan yang tengah berunding dahulu.


"Eh Fa, lo mau ikut ke kantor polisi ga buat liat si peneror yang neror keluarga Fifi?" Tanya Liana mengajak Daifa.


"Ayo lah, tapi kalian jemput gue ya?" Setuju Daifa, iya juga meminta mereka berdua menjemput nya, iya mager untuk mengendarai mobil sendiri.


"Sip lah, entar sore kita jemput"Tutur Liana mengangguk pasti.


" Jangan sore, sekarang aja, kalo sore gue ada acara"Pungkas Daifa menolak.


"Acara apa?" Tanya Liana yang penasaran.


"Acara, ya acara, kepo amat lo" Tukas Daifa menonyor jidat Liana membuat sang mpu menycabikan bibir nya kesal.


"Iss, maksud gue kan acara ngadain apa dodol!" Kesal Liana.


"Gue di suruh ke rumah temen Bunda gue" Jelas Daifa.


"Mau ngapain?" Tanya Liana semakin penasaran membuat Daifa memutar bola mata nya malas.


"Mau maling!" Jawab Daifa asal dengan dengusan nya.


"Gue serius anjr!"Decak Liana menatap Daifa sebal.


" Ya mana gue tau"Ucap Daifa menggerutu kesal.


"Dah lah gue mau balik aja" Lanjut Daifa bergegas pergi.


"Woy! lo ga mau bareng kita aja!" Seru Liana yang tak di hiraukan Daifa.


Daifa terus melangkah hingga sampai di luar gerbang.


Menengok kanan kiri, iya tidak menemukan mobil yang sering menjemput nya,


"Macet kali ya?" Gumam nya sambil bergegas menuju halte bus yang terlihat sepi.


Melirik arloji yang terpasang di tangan nya, waktu sudah menunjukkan jam 14:21. Menghela napas lelah, iya menyenderkan punggungnya di kursi halte.


"Kemana sih nih supir, lama amat!" Gerutu Daifa saat sudah menunggu berjam-jam namun belum muncul.


𝘉𝘳𝘶𝘮


𝘉𝘳𝘶𝘮


Atensi nya teralih saat suara itu mengganggu pendengaran nya membuat iya mengumpat.


"Berisik oy!" Seru Daifa menatap tajam sang pelaku.


"Ngapain lo di sini?" Tanya si pelaku dengan heran.


"Mulung!"Asal Daifa menatap Darel malas.


Tampa mengindahkan jawaban nyeleneh Daifa, Darel mematikan motor nya turun dan ikut duduk dengan Daifa membuat Daifa menatapnya heran.


"Kenapa ga balik aja sonoh!" Sargah Daifa penuh penekana.


Menatap Daifa sekilas, Darel kembali mengalihkan pandangan nya ke arah depan. Iya tidak peduli Daifa marah-marah atau mengumpat.


Karena tidak di perdulikan Darel, Daifa mendengus kasar, iya memalingkan muka nya ke arah lain.


Netranya tampa sengaja menangkap objek yang menarik perhatian nya.


"𝘕𝘨𝘢𝘱𝘢𝘪𝘯 𝘥𝘪𝘢 𝘥𝘪 𝘴𝘪𝘵𝘶? " Heran Daifa dalam hati.


"𝘏𝘦𝘩𝘦, 𝘨𝘶𝘦 𝘬𝘦𝘳𝘫𝘢𝘪𝘯 𝘴𝘦𝘳𝘶 𝘬𝘦 𝘯𝘺𝘢" Kekeh Daifa bersemangat saat mendapatkan ide.


Memikirkan apa yang akan iya lakukan, Daifa menengok ke arah Darel.

__ADS_1


Menghela napas kasar, iya melupakan mahluk lempeng satu ini.


Berpikir keras, iya mengingat akan satu hal.


"Si ghost bakal mau ga ya gue minta buat ikutin tu huma?" Gumam Daifa menggerenyitkan kening nya tak yakin.


"𝘈𝘥𝘢 𝘢𝘱𝘢 𝘬𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨𝘨𝘪𝘭 𝘬𝘶? "


"Astagfirullah!" Kaget Daifa mengelus dada nya.


"𝘔𝘶𝘯𝘤𝘶𝘭 𝘣𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨-𝘣𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘯𝘢𝘱𝘢, 𝘯𝘨𝘢𝘨𝘦𝘵𝘪𝘯 𝘢𝘫𝘢!" Kesal Daifa dalam hati nya.


"Kenapa lo?" Tanya Darel heran saat tampa sengaja menangkap ekspresi kaget Daifa.


"Gue lupa kalo hari ini gue ga bisa di jemput" Ujar Daifa memberi alasan, walalu sebenarnya itu pakta.


"Gue anterin" Ucap Darel berdiri dari duduk nya.


Mendapat tawaran, tentu saja Daifa tidak akan menolak nya, dengan segera iya naik dan duduk manis di jok belakang.


"𝘎𝘩𝘰𝘴𝘵, 𝘭𝘰 𝘵𝘰𝘭𝘰𝘯𝘨 𝘪𝘬𝘶𝘵𝘪𝘯 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘵𝘶, 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘬𝘢𝘯? " Pinta Daifa saat mengingat kembali tujuan nya memanggil hantu itu, tidak lupa iya melirik sang objek.


"𝘚𝘪𝘱 𝘭𝘢𝘩" Angguk hantu taman tersebut, iya segera melayang menuju orang yang Daifa suruh ikuti.


Orang tersebut segera memasuki mobil yang berhenti di samping nya.


Hantu taman yang tidak di ketahui nama nya akan kita panggil ghost.


Mengikuti ke mana mobil itu pergi, ghost dengan sengaja duduk di atas mobil sambil menyisir-nyisir rambut kusut nya.


Hehe enak nih nyantuy.


"𝘕𝘪 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘶 𝘯𝘨𝘦**** 𝘬𝘦 𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘴𝘪𝘩" Gerutu Ghost kesal, iya rasa akan masuk angin bila terlalu lama di atas mobil.


Ke hantu bisa masuk angin aja.


Melayang turun dari atas mobil, iya memilih duduk di samping orang yang akan iya ikuti, siapa tau dapet impormasi buat si Daifa. Begitu kira-kira pikirnya.


"Ko merinding ya?" Bingung orang yang di dekati Ghost.


Mendengar kebingungan gadis yang iya dekati, dengan jahil nya iya meniup-niup tengkuk nya, membuat gadis selaku sang objek mengusap-usap tengkuk nya ketakutan.


"Tuhh kan, bener merinding" Gumam nya bergidik.


"𝘏𝘪𝘩𝘪𝘩𝘪, 𝘳𝘢𝘴𝘢𝘪𝘯 𝘭𝘰" Tawa Ghost puas dengan mimik ketakutan si gadis.


Tak lama mobil berhenti di bangunan tinggi, menatap heran bangunan tersebut Ghost segera mengikuti gadis yang kini sedang berbincang dengan resepsionis, setelah selesai dia segera berjalan menuju tempat yang di maksud.


"𝘉𝘦𝘯𝘦𝘳𝘢𝘯 𝘯𝘪𝘩 𝘥𝘪𝘢 𝘯𝘨𝘦****?"


Cklek


Gadis itu sudah membuka pintu kamar hotel dan segera memasuki nya.


Segera Ghost ikut masuk, dan yah, dia melihat gadis itu berbincang dengan laki-laki yang lebih tua dari nya.


"Kamu harus membantu ku!" Ucap gadis yang Ghost ikuti dengan tingkah manja nya, membuat Ghost ingin memukul muka nya.


"𝘏𝘰𝘦𝘦! 𝘔𝘦𝘯𝘫𝘪𝘫𝘪𝘬𝘬𝘢𝘯" Gidik Ghost berlaga akan muntah.


"Apa yang kamu mau?" Tanya laki-laki itu mengusap-usap pipi gadis yang bertingkah di depan nya.


"Aku ingin kamu membantuku menyingkirkan gadis ini sayang" Pinta gadis itu menunjukan poto seseorang yang ada di ponsel nya ke arah lelaki itu.


Ghost yang ada di atas kasur tersentak kaget melihat poto Daifa yang di tunjukan itu, dengan segera iya mempertajam pendengaran nya untuk iya laporkan ke Daifa setelah selesi.


"Apa yang harus aku lakukan pada gadis itu?" Tanya laki-laki itu lagi menatap lurus manik gadis yang bermanja di depan nya.


"Aku ingin kamu menculik nya dan memperkosa nya, jangan lupa kirim Video nya kepada ku"Tutur gadis itu dengan kilat licik di mata nya.


Ghost yang mendengar nya mendengus dingin.


" 𝘙𝘶𝘣𝘢𝘩 𝘬𝘶𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘴𝘦𝘮, 𝘯𝘺𝘦𝘴𝘦𝘭 𝘮𝘢𝘮𝘱𝘶𝘴 𝘭𝘰!"


Laki-laki itu tersenyum manis sebari mengangguk mantap.


"Apa pun untuk Aluna seorang"Balas laki-laki itu memeluk gadis yang ternyata Aluna dengan erat.


Aluna membalas pelukan laki-laki yang memeluk nya erat, iya tersenyum penuh kemenangan akan rencana nya yang iya yakini akan berjalan lancar.


Merasa cukup memiliki informasi, Ghost segera menghilang ke rumah Daifa, meski sebenar nya iya tidak tau di mana rumah nya, tetapi dengan keistimewaan nya, iya berhasil menemukan rumah Daifa.


Menerobos dengan cara menembus pintu, Ghost segera mencari keberadaan Daifa, namun iya tidak menemukan nya di mana pun.


Melayang keluar lagi, iya melihat sosok sebangsa nya tengah bersntai di atas pohon mangga di sebrang, dengan segera iya menghampiri sosok itu untuk bertanya.


"𝘈𝘱𝘢 𝘬𝘢𝘶 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘥𝘪 𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘩𝘶𝘯𝘪 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘪𝘵𝘶?" Tanya ghost.


Sosok tersebut menoleh ke arah nya dengan pandangan heran.


"𝘒𝘢𝘶 𝘣𝘢𝘳𝘶 𝘺𝘢?, 𝘥𝘪𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘬𝘦𝘥𝘶𝘢 𝘵𝘦𝘮𝘢𝘯 𝘯𝘺𝘢, 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪 𝘬𝘦 𝘮𝘢𝘯𝘢, 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘵𝘢𝘩𝘶" Jelas nya tampan minat lebih lanjut.


"𝘠𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘢𝘳𝘶 𝘥𝘪 𝘵𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘪𝘯𝘪, 𝘛𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢 𝘬𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘪𝘯𝘧𝘰𝘳𝘮𝘢𝘴𝘪 𝘯𝘺𝘢, 𝘢𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶 𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘪 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩" Angguk Ghost berlalu pergi dari hantu penghuni pohon mangga tetangga itu.


********


Daifa menatap malas sosok di depan nya. Iya sungguh kesal dengan pemikiran yang cetek menurut nya, masa karena dendam spela sampe tega membuat rencana jahat seperti itu.


"Om tuh udah tua, harus nya banyakin pahala, bukan nambah dosa ke gitu!, di jemput malaikat mampus!" Dengus Daifa mengeluarkan kata-kata yang membuat para polisi menggeleng heran dengan tingkah nya yang sedari tadi asal ceplos.


Menatap tajam Daifa, Tirta sang tersangka menggertak marah.


"Kamu anak kecil tau apa! sola dosa!"


"Sodara Tirta harap jaga perilaku anda" Tegur polisi yang tiba-tiba masuk ruangan.


Serentak tiga sekawan itu menoleh ke arah polisi tersebut.


"Wah! Polis nya ganteng, mau dong pak di penjara"Celetuk Daifa saat melihat polisi yang tadi menegur Tirta dengan senyum genit nya.


Polisi yang di ketahui nama nya Berayen menatap bingung Daifa yang mengingin kan di penjara, aneh-aneh aja.


" Kamu buat salah apa mau di penjara?"Tanya nya heran.


"Karena sudah mencintai bapak, eya!"Jawab Daifa dengan genit nya membuat Liana yang ada di sisi nya mengerutu kesal.


" Jangan malu-maluin Fa!"Serkas Liana menatap Daifa kesal.


Daifa menatap sinis Liana, tampa berniat membalas kekesalan Liana.


sedangkan Berayen hanya menggelang melihat tingkah laku remaja yang menggombali nya.


"Dan, saya ijin memantau keadaan luar" Ijin Berayen menghadap komandan yang tengah mewawancarai Tirta.


"Silahkan" Jawab Komandan tegas.


"Yah, polis ganteng nya pergi deh, padahal belum kenalan" Gerutu Daifa menekuk muka nya.


"Wawancara kali ini kita akhiri di sini, terimakasih atas waktunya anak-anak" Ucap Komandan menjabat tangan ketiga nya sebagai tanda pengakhiran.


"Sama-sama Pak, kita pamit pulang" Timpal Afifa sopan, iya segera menarik kedua teman nya untuk keluar dari kantor polisi dan segera pulang.


BERSAMBUNG................


Hay semua maaf baru UP, saya masih pelajar jadi akan menghadapi ujian, untuk kedepan nya saya akan berhenti up sampai ujian saya berakhir.


By


By


Tinggalkan jejak ya🤗

__ADS_1


__ADS_2