Always You

Always You
Episode 37


__ADS_3

Setelah bosan di taman, kini mereka beranjak keluar dari area taman.


Saat berjalan di Koridor yang sepi, mereka di kagetkan suara di belakang mereka.


"Kenapa kalian masih di sini? sekolah sudah bubar dari tadi!" Jelas orang itu yang tak lain satpam sekolah dengan keheranan yang di tanggapi tak percaya oleh mereka.


"Bapak ga bohong kan?, masa udah pulang sih pak?" Tanya Daifa yang tidak percaya.


"Liat aja jam udah jam berapa" Ucap pak satpam langsung pergi meninggalkan mereka.


"Astagfirullah" Kaget Daifa saat melihat jam yang ternyata sudah sore.


"Ayo pulang guys" Ajak Daifa segera menarik kedua sahabat nya yang pasrah saja.


Tit


Mereka tersentak kaget saat tiba-tiba sebuah motor membunyikan klakson nya.


Daifa dengan kesal memarahi sang pelaku.


"S***n! kalo gue jantungan gimana hah!,terus kenapa lo masih ada di sini, bukan nya sekolah udah bubar ya? " Heran Daifa sedikit kesal karena dikagetkan.


"Emm, gue sengaja nunggu lo" Ucap Abi membuat Daifa bingung.


"Nganggur lo nungguin gue?" Heran Daifa.


"Mulut!" Tegur Liana menatap sinis Daifa.


"Lo ga sadir!" Cetus Daifa menonyor kepala Liana membuat sanga mpu merengut.


"Apaan dah sadir?" Tanya Liana menatap Daifa heran.


"Sadar Diri!" Tukas Daifa sedikit memberi penekana.


Liana langsung cemberut mendengar penjelasan Daifa, sungguh sangat ingin iya tabok!.


"Gue mau ngajak lo jalan entar malem" Ucap Abi memotong perdebatan kedua sahabat itu.


Menoleh dengan bingung Daifa menatap Abi yang juga tengah menatap nya.


Tampa mereka sadari ada perasaan yang tidak bisa di jelaskan.


"Atas dasar apa lo mau ngajak Daifa jalan?" Sahut Darel yang entah kapan sudah berdiri di sisi Daifa dengan muka datar nya.


Menoleh ke arah Darel, Abi tersenyum.


"Emang gue butuh ijin dari lo dulu ya?, gue rasa ngga deh?"


Karena merasa suasana mulai tidak aman, Daifa segera menengahi kedua nya.


"Gue pikir-pikir dulu deh, kalo gue setuju gue kabarin, tapi lo ajak Aril kan?" Setuju Daifa dengan alasan Aril sebagai persetujuan nya.


"Iya, gue bakal bawa Aril" Angguk Abi setuju.


"Kalo lo nekat pergi, gue harus ikut" Sela Darel tiba-tiba membuat Daifa mendelik kesal.


"Kenapa lo yang ngatur?"Ucap Abi yang mulai kesal.


" Daifa pergi berarti gue juga pergi"Jawab Darel acuh.


"Lo kenapa jadi ke gini dah?" Heran Daifa menyahuti sambil menggaruk tengkuk nya yang tak gatal.


"Gue harus jaga calon gue" Ucap Darel mengelus kepala Daifa sebelum menarik nya pergi tampa menghiraukan Abi.


"Calon?" Abi bergumam lirih tampa mengalihkan pandangan dari kedua nya.


Sampai kedua nya benar-benar hilang.


Sementara di sisi Daifa, iya tengah merutuki Darel yang menyeret nya pergi sebelum menyelesaikan obrolan nya dengan Abi.


"Ga usah ngedumel" Ucap Darel menatap sekilas Daifa.


"Lo nya ngeselin!" Geram Daifa memukul bahu Darel yang tidak bereaksi apa pun.


Setelah Darel mengantarkan Daifa pulang, meski Daifa merengut kesal, namun Darel tetap mengantar sampai rumah dengan selamat.

__ADS_1


Setelah itu iya langsung pergi tampa berbasa-basi.


Setelah berleha-leha di kamar sambil menonton, Daifa beranjak dari atas kasur hendak menuju dapur. Melirik sekilas jam yang bertengger di atas naskah sambil bergumam.


"Udah malem aja"


Memutar arah menuju kamar mandi, iya tidak jadi mengambil cemilah karena sudah malam. Iya akan mencuci muka sebelum tidur.


Daifa segera menyelesaikan ritual skincer nya.


Membuka pintu kamar mandi, iya berjalan ke arah lemari nya guna mengambil piyama nya, namun pandangan nya justru jatuh ke arah ghost yang bertengger manis di atas lemari.


"Lo ngapain masih ada di rumah gue? Pergi sono" Usir Daifa menarik daster ghost yang langsung jatuh tampa persiapan.


Bruk


"Aduhhh, kau jahat kali lah jadi orang! "Kesal ghost berusaha bangkit dari acara tengkurup nya, melayangkan tatapan tajam ke arah Daifa yang asik tertawa.


"Ahaha, aduhh sakit perut gue!" Ucap Daifa sambil memegangi perut nya yang keram karena tertawa berlebihan.


Mengabaikan Daifa yang masih tertawa, Ghost berjalan pergi ke arah meja belajar Daifa dengan mimik kesel, iya memalingkan muka nya ke arah lain tampa melirik sedikitpun ke arah Daifa.


"Fa! Ada yang nyariin" Panggil bunda Lidia yang menghentikan aktipitas tawa nya.


"Sebentar bun" Sahut Daifa segera mengambil piyama berwarna putih. Dengan segera iya memakai nya.


Cklek


"Siapa bun?" Tanya Daifa sesudah membuka pintu.


"Ngga tau, kamu samperin aja, kaya nya temen sekolah kamu deh, tapi ko bawa anak kecil?, Jangan-jangan dia dudan anak satu lagi" Daifa tercengang mendengar penuturan sang bunda, iya menggeleng kepala saat sang bunda akan angkat suara lagi.


"Udah-udah, bunda ngaco deh, dia Abi, itu adek nya, nama nya Aril" Jelas Daifa masuk kembali kedalam kamar untuk berganti pakayan dan mengambil barang peribadi nya.


Setelah memakai pakayan santai nya, iya keluar kembali, namun iya tidak menyangka sang bunda masih ada di depan pintu.


"Ngapain bunda masih di sini? Ko ga nyuruh mereka masuk" Tanya Daifa yang seketika membuat bunda Lidia menepuk kening.


Tampa menjawab sang anak, iya segera bergegas kembali ke bawah.


Daifa hanya menghela napas pelan, bunda nya ada-ada saja.


Tidak lama setelah kepergian bunda Lidia Daifa muncul dari arah tangga yang langsung membuat Aril berseru.


"Ka Fafa" Aril langsung berlari memeluk Daifa yang di tanggapi dengan senang oleh nya.


"Alil kangen sama ka Fafa" Keluh Aril menatap Daifa dengan mimik menggemaskan membuat Daifa tidak tahan untuk mencubit kedua pipi nya.


"Ayo pergi, kata nya pengen jalan-jalan?" Ucap Abi yang membuat kedua nya melepaskan pelukan. Aril menatap kesal sang kaka yang menurut nya mengganggu kebersamaan nya dengan Daifa.


Mengapit tangan mungil Aril, mereka segera keluar dari rumah setelah berpamitan dengan Bunda Lidia.


Namun tampa di duga Darel juga ada di luar dengan tampang datar nya menatap Daifa.


"Ngapain lo di sini?" Tanya Daifa sambil berjalan mendekat.


Darel hanya menatap Daifa tampa menjawab pertanyaan nya.


"Ka Fafa, kaka ini siapa?" Tanya Aril pelan dengan takut-takut melirik Darel yang berwajah datar.


"Tembok, udah ga usah takut, ada ka Fafa di sini" Ucap Daifa menghibur Aril yang hanya mengengguk kecil.


"Pergi?" Darel menatap Daifa datar, namun Daifa bingung apa yang Darel tanyakan hingga iya menatap nya bingung.


"Hah?"


"Apa kalian mau pergi" Jelas Darel lebih jelas membuat Daifa mengenguk-angguk.


"Ayo" Ajak Darel menarik tangan Daifa tampa meminta persetujuan nya.


Iya segera memasukan Daifa dan Aril kedalam mobil nya, tampa memperdulikan Abi yang terdiam.


Abi merasa iya yang mengajak jalan-jalan, namun mengapa Darel yang berkuasa atas kedua nya, itu tidak benar!.


Iya langsung tersadar kembali, namun mobil yang Darel kendarai sudah tidak ada, iya buru-buru memasuki mobil nya dan segera mengejar kendaraan Darel.

__ADS_1


Di sisi Darel berada, Aril tidak hentinya bertanya di mana sang abang, mengapa sang abang tidak di ajak.


"Aduhh Ril, diem dulu bisa? abang kamu pasti nyusul, jangan bawel" Ucap Daifa menjelaskan yang membuat Aril terdiam.


"Nah, ke gini kan enak" Ujar Daifa menyenderkan punggung nya.


Aril hanya diam di pangkuan Daifa, iya tidak terlalu menghawatirkan sang abang. namun iya bingung dengan kaka yang membawa nya, mengapa benar-benar seperti tembok?.


"Kemana?" Tanya Darel setelah sedaritadi diam.


Daifa berpikir sejenak, iya menatap Aril yang juga menengok ke arah nya. Seolah tau ka Fafa nya tengah bertanya kepada nya, Aril menggeleng tidak tahu.


"Ke pasar malem gimana?" Daifa menatap Aril yang mengangguk antusias.


"Ayo ke sana ka tembok" Suruh Aril membuat Darel mendengus kesal.


Iya melirik ke arah Daifa yang cekikikan seolah mendukung ucapan Aril.


Setelah sekian lama berkendara, kini mereka sampai di lokasi pasar malam.


Setelah mengambil karcis, mereka bertiga segera masuk.


Langsung di suguhi suasana ramah, Aril dan Daifa tertawa girang, mereka dengan semangat mulai menjelajah.


"Wahh, ayo ka Fafa kita main itu!" Ajak Aril menunjuk tempat game lempar bola.


"Ayo!" Angguk Daifa setuju, dengan menarik Darel ikut bersama. Aril dan Daifa paling semangat dan heboh membuat Darel geleng kepala.


Satu persatu permainan mereka coba, namun tidak ada satupun wahana yang mereka minati, mereka berdua hanya mencoba berbagai permainan saja, setelah puas, Daifa meminta mencari tempat makan.


Setelah menemukan kedai baso dan mie ayam, mereka segera sianggah di sana.


Memesan menu tersebut, Daifa dan Aril selalu paliang antusias, membuat Darel heran, apa mereka begitu full batrei?.


Setelah menghabiskan satu mangkok baso, kini ketiga nya segera berjalan pulang.


Daifa berhenti sejenak, saat melihat pedagang aksesoris, iya mendekati sang penjual untuk melihat-lihat.


Pandangan nya jatuh pada gantungan kunci yang lucu menurut nya, segera iya mengambil nya dan melihat-lihat warna yang lain.


"Berapa harga nya bu?" Tanya Daifa pada sang penjual yang sibuk memandang Darel dan Aril yang ada di belakang nya dengan mata berbinar.


Sadar sang ibu penjual tidak mendengar nya, Daifa menepuk sang penjual membuat iya tersadar.


"Ehh, iya kenapa?" Bingung ibu penjual membuat Daifa mendengus.


"Berapa harga nya?!" Ulang Daifa sedikit kesal.


"10 ribu aja dek" Ucap sang panjual.


"Saya beli 3, dan satu lagi, jangan panggil saya adek, umur saya 17 tahun" Dengus Daifa tidak terima, setelah itu iya memberikan uang bayaran nya.


"Oalah, saya kira masih 15 tahun" Ucap sang ibu penjual malu.


Setelah itu mereka bertiga segera pergi menuju mobil yang Darel parkir.


"Abang!" Panggil Aril saat melihat keberadaan Abi yang baru iya lihat, segera iya berlari kecil ke arah sang abang yang tengah bersandar di mobil nya.


"Kalian dari mana aja, gue cari-cari ga ketemu" Kesal Abi setelah menggendong Aril yang sudah kelelahan, iya kesal karena di tinggal, Jalan-jalan yang harus nya iya nikmati bersama Daifa malah kacau gara-gara Darel.


"Sorry, kita lupa kalo lo juga ikut, kapan-kapan lagi kita jalan lagi aja, gimana?"Ujar Daifa meminta maaf karena bersalah, namun iya tidak menyadari tatapan Darel yang semakin dingin.


"Gue ga ijinin" Sela Darel dingin.


"Emang gue butuh ijin lo gitu?!" Ketus Daifa melirik Darel sebal.


"Tetep ga gue ijinin!" Ucap Darel tanpa bantahan, iya segera menggenggam tangan Daifa yang berusaha di tepis olehnya.


"Isss lepasin!, gue mau ngasih ini sama Aril" Ucap Daifa menujukan gantungan kunci yang berwarna biru ke arah Aril.


Dengan segera iya menyodorkan gantungan kunci tersebut.


Setelah di terima dengan senang hati oleh Aril, Darel segera menarik Daifa ke arah mobil nya.


"Terima kasih ka Fafa!" Seru Aril saat Daifa sudah memasuki mobil. Setelah itu iya juga di bawa sang abang memasuki mobil.

__ADS_1


*****


Hay semua, maaf baru kembali, tampa banyak kata silahkan menikmati lanjutan cerita nya, semoga kita bertemu kembali di episode selanjutnya 👋


__ADS_2