Always You

Always You
Episode 23


__ADS_3

Hay hay. maaf baru up poko nya saya lebih sibuk di real jadi baru sempet.


Silahkan nikmati cerita nya


_______________________________________


"Ehh lo semua harus bantu gue, ga ada yang boleh nolak!"Perintah Daifa dengan tegas. Sekaligus Memasang pupieye nya.


Sebagian yang ingin perotes pun merasa ta enak hati, mereka memilih menurut saja, padahal mah si Daifa cuman ngejadiin babu doang haha.


Merasa semua menurut, Daifa mulai menyuruh satu orang satu menggambar di kertas havies dengan gambar papan ludo, ada juga yang iya suruh menggambar dadu nya.


Dan jadi lah game dadakan ala kelas


IX IPA_3.


Kini Daifa akan mengatur, permainan nya.


"Okeh, kita Kretas batu gunting, yang beda duluan" Ucap Daifa semangat. Mereka menganggukan kepala tanda mengerti.


"KERETAS BATU GUNTING" Seru mereka serempak.


"Yey gue duluan" Kata Liana semangat, tatkala telapak tangan nya berbeda dari yang lain.


Sementara yang lain hanya menunggu, semoga tida keduluan. Begitulah pikir mereka.


Setelah mengocok dadu nya Liana mendapatkan angka 3, sungguh malang sekali.


"Isss.. ko cuman 3 sih" Kesal Liana.


"Udah lah Na, bukan ke beruntungan lo" Ucap Daifa dengan senyum mengejek.


Yang terlihat menyebalkan bagi Liana.


Mereka mulai melakukan keretas batu gunting kembali, yang di menangkan oleh Daifa.


Setelah mengocok dadu, dan mendapatkan angka 6,yang menandakan iya berhasil mengeluarkan satu poin nya.


Lanjut iya mengocok kembali dadu dan mendapatkan angka 4, Daifa mulai melanjutkan perjalanan poin nya.


Cukum lama mereka bermain dengan sabar, kini semua teman-teman nya sudah mengeluarkan poin-poin mereka. Terutama Daifa yang sudah mengeluarkan 3 poin.


Dan kali ini giliran Afifa yang memajukan poin-poin nya.


π˜›π˜Άπ˜¬


Dadu menunjukan angka 5, Afifa menjalankan poin nya sesuai urutan angka dan berhenti di tempat Daifa, yang menyebabkan poin milik Daifa ter usir.


Semua bersorak girang, dan mulai berebut ingin memberikan pertanyaan mereka, sedangkan sang tersangka hanya bisa pasrah, mau perotes, tapi ide nya sendiri. jadi yasudah lah.


"Gue yang ngasih pertanyaan! " Pinta Liana.


"Ga! Gue yang ngasih" Tolak jesi tidak mau kalah.


Karena pusing dengan pertengkaran yang membuat sakit telinga , Aksa sang ketua kelas memberi usulan, agar tida berdebat.


"Mending suit aja deh biar adil" Tukas Aksa, menengahi.


"Oke" Putus Liana, yang memilih menurut.


"Suit" Teriak mereka berdua secara bersama an.


"Yes... gue menag" Jingkar Liana, ya yang memenangkan suit, Liana kembali. Tentu saja hal ini membuat sebagian tida terima, karena mereka juga ingin bertanya. Namun sudah takdir.


Dengan semangat Liana mulai berujar.


"Trut Or Dare" Tanya Liana dengan senyum manis nya, yang memiliki sejuta arti.


Lama Daifa terdiam, iya tengah menimang-nimang apa yang akan iya pilih, sebelum akhirnya memiliki ke putusan. yang menurut nya tepat.


"Trut" Jawab nya mantap, tanpa keraguan sedikit pun.


"Yakin? " Tanya Liana memastikan.


"Hemm" Jawab Daifa berdehem.

__ADS_1


Dengan senyum devil nya, Liana mulai melontarkan pertanyaan.


"Lo suka sama Darel kan? " Tanya Liana.


Daifa mengangkat Alis nya heran, apa-apaan pertanyaan nya! .


"Ngapain lo nanya ke gitu? " Tanya balik Daifa, tampa langsung menjawab.


"Ga ada apa-apa sih" Balas Liana berbohong.


Tampa merasa aneh, Daifa menjawab dengan setengah jujur, karena iya tida mau ada ke salah pahaman.


"Gue suka sama manusia triplek?," Tanya nya. sedangkan Liana mangut-mangut, meski iya tida mengharapkan jawaban yang benar-benar iya, tapi iya menunggu apa yang akan keluar dari mulut Daifa selanjutnya.


"Gue ga suka sama dia, bahkan gue yang ada kesel sama tu orang, bisa nya bikin gue susah mulu. Yakali gue bakal suka" Lanjut nya menjelaskan kan, atau lebih tepatnya menjawab pertanyaan.


"Bener? " Tanya Liana tak percaya. Karena iya pikir, dari saling ga suka bakal jadi cinta. Begitulah pemikiran nya.


"Terserah, mau percaya atau ngga juga" Ucap Daifa menggidikkan bahau nya acuh.


"Oke, tapi kalo ke makan omongan sendiri, lo meski telaktir gue belanja" Tutur Liana, yang mengajukan persyaratan.


Daifa hanya meng' iya kan saja, karena iya memang berniat untuk shoping dengan ke dua teman nya.


Sesudah itu mereka melanjutkan permainan hingga waktu istirahat tiba.


"Yey gue menag! " Sorak Daifa, yang mendapat peringkat ke 2. Dan pemenang pertama di menagkan Afifa, yang ke tiga di menangkan oleh sang ketua kelas, Aksa. sedangkan Liana iya tida mendapatkan juara.


"Yang menang di kasih apa nih? " Tanya Aksa.yang penasaran.


"Eh iya juga ya? " Bingung Daifa, sebab iya tida mengatakan apa yang akan di berikan bagi si pemenang.


"Yang kalah patungan uang, beliin yang menang hadiah, terserah apa aja hadiah nya, asal jangan aneh-aneh"Saran Afifah .Yang sedaritadi tida banyak bicara. ntah di setujui atau tida, iya tida peduli.


Semua pemain yang kalah pun berunding dengan cara melingkag, sebelum akhirnya menyetujui usulan tersebut. mereka akan membeli hadiah dengan hasil uang patungan besok.


Ting nong


Ting nong


Waktu istirahat telah tiba di mohon untuk keluar kelas.


"Ayo kita ke kantin" Ajak Liana, yang paling antusias.


Sedangkan teman yang lain sudah lebih dulu keluar kelas dengan tujuan masing-masing, terkecuali Daifa dkk.


"Gass" Seru Daifa, sebelum berlalu di ikuti ke dua sahabat nya.


Kini Daifa tengan berjalan menuju kantin bersama ke_dua sahabat nya.


namun tiba-tiba terhenti , tatkala Daifa tida sengaja menabrak punggung seseorang yang berhenti mendadak, hal itu sontak membuat iya terjatuh ke bawah.


π˜‰π˜³π˜Άπ˜¬


"Aduh.. Kenapa, suka nabrak mulu sihh! " Gerutu Daifa, tatkala bok*ng nya menyentuh keramik koridor dengan cukup keras.


Orang yang tak sengaja tertabrak pun menbalikan badan nya, dan membantu Daifa yang masih duduk di bawah.


"Sorry" Kata orang tersebut meminta maaf setelah membantu Daifa berdiri. Padahal kan Daifa yang salah.


"Ko lo yang minta maaf? " Heran Daifa, iya memperhatikan orang yang sudah iya tabrak, kenapa iya meperhatikan nya? Yang pasti bukan jatuh cinta ya, tapi Daifa tida mengenali orang tersebut.


Orang yang di tabrak Daifa pun hanya biasa saja, seolah itu tidak masalah.


"Lo murid baru ya? " Tanya Liana menyahuti, di antara mereka berdua.


Orang yang di maksud pun mengalihkan pandangan nya kepada Liana, yang juga memperhatikan nya. Sambil menunjukan senyum nya iya berkata.


"Iya gue murid baru, kenalin nama gue Abiada mahesa kelas IX IPA 2, terserah mau manggil apa aja" Ucap nya memperkenalkan diri tampa melunturkan senyum manis nya.


Liana yang melihat senyum manis Abi sempat terpesona. Hingga iya kembali tersadar oleh senggolan Daifa.


Menampilkan cengiran khas nya Liana balas memperkenalkan diri dengan kikuk.


"Eh.. Hehe, kenalin nama gue Liana" Balas Liana memperkenalkan diri.

__ADS_1


"Daifa" Saut Daifa santai. Dengan kesan yang tida terlalu peduli


Abi yang mendengar hanya mengangguk saja tanpa mempersalah kan cara Daifa berkenalan, kini atensi nya teralih kepada Afifa yang acuh terhadap sekitar nya.


Liana yang paham akan tatapan Abi, iyapun menyenggol Afifa yang hanya menatap nya tanpa ekspresi.


"Afifa" Singkat Afifa, membuka suara.


Sesudah sesi perkenalan,kini. Daifa yang sedaritadi tida terlalu peduli pun mulai melangkah kan kaki nya, meneruskan perjalanan.


"Ayo" Ajak Daifa kepada Liana yang masih tida beranjak juga, sedangkan Afifa, iya sudah berlalu lebih dulu saat Daifa mengajak Liana yang masih diam.


"Iya" Balas Liana ogah-ogahan. Meski ta ayal iya pun menurut.


Kini mereka sudah duduk di kantin dengan tenang, setelah perjalanan tertunda tadi, kini mereka tengah menyantap makan siang dengan lahap.


hingga suara seseorang membuat acara makan mereka terhenti.


"Boleh ikutan? " Tanya nya dengan sopan.


Sontak suara itu mengalihkan atensi mereka yang sedang makan.


Daifa hanya menoleh sebentar sebelum melanjutkan makan nya, yang merasa lebih penting. Berbeda dengan respon Liana yang terkesan err.


"Eh boleh, duduk aja Bi" Ucap Liana mempersilahkan orang tersebut yang tak Lain Abi.


Setelah Abi duduk Kini tiba tiba bertambah lagi orang yang menghuni meja Daifa, yang membuat sang mpu merasa sebal.


"Siapa yang ngijinin lo pada duduk di sini hahh! " Kesal Daifa.


saat mengetahui yang duduk di samping nya adalah Darel.


Kenapa Darel yang duduk di samping nya? Bukan kah yang pertama datang Abi? Ya, yang pertama datang memang Abi, iya juga duduk di dekat Daifa, namun saat Darel datang, iya di hempas ke sisi lain , dan jadi lah kini Darel di tengah tengah antara Daifa juga Abi.


"Vin, pesenin makan" Suruh Darel kepada Alvin yang membuat Alvin terpaksa beranjak sambil menyeret Erlan.


"Kamu ga pesen makan Bi? " Tanya Liana basa-basi.


Daifa yang mendengar Liana menggunakan kata 'Kamu' , seketika muncul jiwa ke Julidan nya.


"Triplek, lo denger gue bilang kamu ga?" Tanya Daifa mulai julid nya, sambil menghadap Darel, tida lupa juga mata nya yang mengedip- ngedip tanda kode. Untuk memulai aksi nya.


Seakan paham Darel pun melayani tingkah Daifa. Walau dengan wajah datar nya.


"Denger" Balas Darel datar.


"Gimana kalo gue panggil aku kamu? " Lanjut Daifa dengan nada di buat-buat.


"Ga! kita baru kenal" Tolak Darel tegas. Igat ya, iya hanya mengikuti permainan Daifa bukan maksud menyindir, walau iya aga kesel dengan Abi yang so akrab dengan Daifa.


Kita alihkan ke Liana, yang tengah memasang tampang jelek, iya juga sadar bahwa Daifa tengah menyindir nya dengan halus, tentu saja itu membuat nya kesal, hingga tida tahan untuk membalas.


"Eh iya Bi, lo tau ga?, di kelas gue ada orang yang suka main rahasia-rahasia an sama sahabat yang udan di anggap sodara banget, dan lebih parah nya so benci padahal bakal cinta, bener ga sih?! " Derama Liana sambil sesekali melirik Daifa dengan pandangan sinis nya.


"Emm iya sih, benci sama cinta tuh beda tipis" Jawab Abi sekena nya, karena iya tida paham.


"Nah bener kan! " Seru Liana memlirik Daifa dengan senyum yang menggantung di bibir nya.


Daifa hanya mendelikan mata nya kesal, apa kah Liana tida sadar bahwa Darel juga ada di dekat nya.


Dan yah Darel yang sedari tadi diam


Kini di buat penasaran dengan ucapan Liana.


Iya pun menoleh ke pada Liana sebelum bertanya.


"Bisa lo ceritain? " Tanya Darel yang merasa penasaran.


Liana melirik Daifa yang tengah memelototi nya, iya juga ragu, karena iya hanya becanda guna membalas ke jahilan Daifa. Tapi kini malah semakin merembet tida jelas.


Dengan canggung iya membalas pertanyaan Darel asal.


"Itu.. Itu, tetangga gue yang benci sama teman sekolah nya dan dia curhat sama gue" Jawab Liana asal.


Darel hanya mengangguk saja, meski iya tida yakin kalo itu jawaban nya, tapi iya memilih diam.

__ADS_1


Hingga percakapan mereka terhenti tatkala Alvi dan Erlan datang membawa pesanan mereka.


Mereka semua melanjutkan makan siang mereka dengan khidmat.


__ADS_2