Always You

Always You
Episode 9


__ADS_3

“Janganlah pernah mencoba menjauh dari seseorang, siapapun itu. Karena bisa jadi Tuhan akan mendekatkan dirimu dengan dirinya. Entah hanya untuk menguji dirimu atau memang dia diciptakan sebagai pendamping hidupmu.”


Jika siswa siswi di sekolah umum apabila liburan hanya bermain – main saja, namun santri berbeda. Karena bagi kebanyakan santri, refreshing itu bukan hanya sekedar untuk main. Namun bagaimana cara mereka agar mendapat ilmu baru, pengalaman baru, dan yang pasti mendapat teman baru. Dan hal itu juga yang dilakukan oleh Syahila pada liburannya kali ini. Syahila sudah dua tahun ini termasuk anggota suatu komunitas X yang lumayan cukup aktif, namun dikarenakan Syahila masuk pesantren semenjak ia SMP menjadikannya ia hanya aktif dalam komunitas X pada saat liburan saja. Walaupun begitu Syahila tetap bersyukur, karena komunitas itu ia mempunyai kenalan baru yang tersebar di seluruh Indonesia serta dapat sharing pengetahuan untuk mendapatkan wawasan baru.


Namun akhir – akhir ini Syahila merasa tidak nyaman dalam komunitas itu karena ia merasa ada salah satu anggota dalam komunitas itu yang menurutnya sedikit meyebalkan. Syahila sendiri tidak mengetahui sebab utama mengapa ia sangat merasa terganggu dengan adanya orang itu, walau Syahila tahu bahwa tidak seharusnya ia berlaku seperti itu. Mungkin alasan Syahila seperti itu karena nama dari anggota yang sedikit mengganggu Syahila adalah Jay, Jay Prasetya. Karena nama itu sama persis dengan orang yang saat kini sedang di gosipkan dengannya, yang memang Syahila benar – benar tidak tahu orang yang merupakan kakak dari Yasmin adik kelasnya itu. Beberapa kali Syahila dan Jay bertemu bahkan sempat terlibat perdebatan, namun Syahila belum


menyadari bahwa Jay yang satu komunitasnya itu adalah Jay Prasetya kakak dari Yasmin Tazahara, adik kelasnya. Tetapi pada saat pertemuan selanjutnya obrolan mereka sudah sedikit santai, tidak ada lagi perdebatan diantara mereka. Syahila mulai menemukan titik terang.


“Sya kamu itu mondok di pesantren X ya?” Tanya Jay.


“Kok kamu tahu? Tahu dari mana?” Tanya Sya terkejut akan pertanyaan Jay tersebut, Syahila menjadi mempunyai pikiran bahwa selama ini kecurigaan dia terhadap Jay itu benar.


“Ahh... itu, saya melihat profilmu bersama orang yang saya kenal. Namanya Yasmin Tazahara, adik kelasmu bukan? Kelas tujuh C, kamar nomor dua puluh dua lantai tiga, benar?” Tanya Jay berturut – turut, Yasmin mengangguk mengiyakan semuanya.


“Kamu tahu semuanya tentang dia, jangan – jangan kamu itu....” Belum sempat Syahila menyelesaikan perkataannnya, Jay sudah memotongnya terlebih dahulu.


“Ya, saya kakaknya, Jay Prasetya.” Jawab Jay cepat dan santai.


“Ohh... iya iya.” Respon Syahila sekenanya, karena sesungguhnya Syahila sangat terkejut dengan kenyataan bahwa Jay yang ia kenal adalah yang selama ini terus menghantuinya, karena rasa tidak nyaman ketika ia bertemu dengan Shofi, kakak kelasnya yang menyukai Jay. Walaupun Shofi nampak biasa saja, namun Syahila tahu bagaimana rasa dihatinya yang terpancar dari mata Shofi. Syahila juga tidak mau terus – terusan dijuluki


perusak hubungan orang antara Jay dan Shofi. Yang memang sesungguhnya Syahila adalah korban atas kesalahpahaman yang sangat sepele.


“Oh iya Sya, saya harap kamu sabar yaa menghadapi sikap ade. Dia memang sedikit susah dibilangin, tapi aku dengar dari mamah bahwa ade lumayan nurut sama kamu ya Sya?” Ucap Jay.


“Ohh mungkin itu karena aku adalah salah satu seniornya yang ada di kamar, setiap junior pasti sedikit segankan dengan seniornya.” Jawab Syahila cukup hati – hati.


“Iya juga yaa.” Ucap Jay membenarkan perkataan Syahila.


“Tapi aku boleh tanya sesuatu?” Tanya Jay, Syahila mengangguk mempersilahkan.


“Ade itu anaknya gimana sihh kalau di pesantren? Soalnya beberapa hari ini saya perhatikan jika berada di rumah pasti kerjaannnya hanya bermalas – malasan.” Kata Jay kemudian. Syahila sempat berfikir sejenak untuk menjawab pertanyaan itu, karena tidak mungkin rasanya membongkar semua apa saja yang telah dilakukan oleh adiknya itu di pesantren.


“Ohh... Yasmin anaknya baik dan rajin kalau di pesantren, dia selalu bangun jam tiga pagi dan langsung mandi.


Walaupun kadang sehabis mandi ia tidur lagi, menurutku itu wajar sihh untuk yang pertama kali masuk pesantren. Dan masalah dia di rumah nampak selalu bermalas – malasan karena mungkin ia merasa bahwa selagi ada di rumah bisa santai, karena di pesantren itu kegiatan full dari bangun tidur sampai mau tidur lagi. Tenang saja, biasanya itu paling lama terjadi di tahun pertama saja, mungkin karena masih baru jadi butuh penyesuaian. Tapi nanti tahun kedua ketiga bahkan sampai lulus SMA In Syaa Allah sudah tidak begitu.” Jelas Sya kepada Jay.


“Hhmm... btw, mamah itu selalu cerita tentang kamu di rumah, jadi saat aku tidak sengaja melihat profilmu bersamaYasmin, aku nampak familiar dengan wajahmu. Ternyata kita satu komunitas dan kita beberapa kali sempat terlibat perdebatan.” Ucap Jay.


Syahila hanya tersenyum sopan menanggapi perkataan Jay, walaupun ia kesal terhadap Jay karena masalah perdebatan – perdebatan kemarin, belum lagi ternyata dia adalah orang yang digosipkan dengannya entah asal usulnya bagaimana. Tapi Syahila merasa bahwa ia seharusnya bersikap biasa saja dengan Jay karena dia tidak mengetahui apa – apa tentang gosip yang sedang beredar di pesantren tempat belajarnya itu. Walaupun sebenarnya, Syahila sedikit kesal kepada Jay dan Shofi. Karena terseret ke dalam cinta monyet mereka.


“Kenapa juga sihh aku bisa terbawa dalam situasi cinta monyet seperti itu, antara Jay dan kak Shofi? Terlebih gosipnya aku sebagai orang ketiga, astagfirullah.... kenal saja tidak kok bisa jadi orang ketiga? Aneh memang. Kalau bukan karena janji aku kepada Yasmin bahwa aku akan selalu ada untuknya, mungkin aku tidak akan terlalu jauh terlibat dari hubungan mereka itu, walaupun aku tidak tahu hubungan seperti apa antara Jay dan kak Shofi yang sebenarnya. Yang aku pikirkan sekarang adalah bagaimana caranya agar Nisa adik dari kak Shofi berhenti mengirimi Yasmin surat yang isinya itu ada unsur pengancaman.”Kata Syahila dalam batinnya.


Usainya masa liburan para santri mulai berdatangan kembali ke pondok pesantren untuk kembali mengikuti kegiatan belajar disana. Parkiran motor maupun mobil dipadati oleh para wali santri yang datang dari berbagai daerah seluruh Indonesia. Para wali santri  itu ada yang langsung pulang lagi pada hari itu dan tak sedikit wali santri yang menginap beberapa hari karena jauhnya tempat asal mereka. Disamping itu, banyak santri yang pulang sendiri atau mengikuti konsulat. Yang pasti pada hari ini seluruh santri baik putra maupun putri harus berada di wilayah pondok pesantren hari ini juga, selambat – lambatnya pukul 23:59 WIB. Jika tidak, santri yang melanggar akan dikenai sanksi.


Seperti biasa Syahila sudah berada di kamarnya, ia sedang merapikan barangnya dibantu oleh sang ibunda. Namun anggota kamarnya yang sudah datang terlebih dahulu darinya adalah Zahra Nabila, teman sekelas Yasmin. Sedangkan Syifa, yang satu angkatan dengan Shofi belum datang, begitupun Yasmin.


“Mungkin Yasmin dan kak Syifa datangnya malem.” Kata Syahila melihat arlojinya yang kini menunjukan pukul 17:15 WIB. Dan benar saja selekas Syahila menunaikan sholat isya Yasmin datang dengan ibunya.


“Assalamu’alaikum...” Ucap bu Farras seraya membuka pintu kamar.

__ADS_1


“Wa’alaikumussalam.” Jawab Syahila dan langsung menyalami Bu Farras dengan sopan serta langsung membantu membawa barang bawaan yang dibawa bu Farras.


“Wahh... kak Sya sendirian saja?” Tanya bu Farras.


“Bu... maaf duduk di kasur saya saja bu jangan dilantai” Pinta Syahila, saat melihat bu Farras hendak duduk dilantai.


“Owhh... enggak kok bu, Zahra sudah datang. Saya tidak sendiri, kan banyak teman – teman disini.” Kata Syahila


menjawab pertanyaan dari bu Farras tadi. Bu Farras mengangguk mengiyakan dan tersenyum pada Syahila.


“De mamah pulang yaa, udah malem. Kasian papah sama aa nunggu di parkiran.” Ucap bu Farras kepada Yasmin. Awalnya Yasmin menunjukkan rasa keberatan, namun setelah dibujuk – bujuk Yasmin akhirnya mengizinkan ibunya pulang. Bu Farras menoleh kearah Syahila, ia tersenyum dan berpamitan. Sudah tentu Syahila langsung menyalami Bu Farras dan beliau mencium kedua pipi serta kening Syahila kemudian dipeluknya. Sebenarnya Syahila agak kaget mendapat perlakuan seperti itu, karena Syahila dan ibunya termasuk orang yang memang benar – benar memiliki gengsi yang tinggi. Bagi Syahila dan Bu Nur, tidak perlu menunjukkan rasa sayang secara jelas, yang terpenting tahu bahwa mereka saling menyayangi satu sama lain.


“Kak Sya, titip ade yaa. Anggap saja ade sendiri, jangan sungkan – sungkan kalau memang ade salah tegur saja.” Kata bu Farras sambil tersenyum. Syahila hanya tersenyum dan mengangguk. Sepulangnya Bu Farras, Syahila dan Yasmin langsung mengobrol menceritakan liburan masing – masing serta saling berbagi oleh – oleh yang dibawa masing – masing. Karena keasikkan mengobrol, Syahila dan Yasmin tidak menyadari bahwa sekarang sudah


larut malam, bahkan Zahra saja sudah tertidur pulas.


Hari demi hari telah berlalu, namun gosip mengenai Syahila dan Jay masih belum berlalu. Bahkan sekarang orang – orang semakin genjar saja menggoda Syahila ketika orang tua Yasmin datang ke pesantren untuk menjenguk. Sehingga Syahila yang biasanya mengobrol dengan Bu Farras, kini ia lebih sering menghindar karena ia tidak mau terlibat lebih jauh dengan gosip yang beredar. Syahila tidak ingin semua orang salah sangka terhadapnya, ia dekat dengan Yasmin bukan karena ingin mendekati Jay, namun memang karena ia nyaman dan cocok dengan Yasmin sebagai teman curhat. Tapi karena akhir – akhir ini Syahila sedikit menghindar saat orang tua Yasmin datang, Bu


Farras menanyakan hal itu pada Yasmin. Beruntungnya, Yasmin adalah anak yang cukup mengerti situasi.


“Kak Sya sedang di kamar temannya mah.” Jawab Yasmin saat ditanya kemana Syahila.


“Owhh.. gitu, ya sudah ini ada nasi. Kasih Kak Sya satu yaa, kata kamu kak Sya suka nasi bakar buatan mamah.


Yang lainnya buatan kamu, jangan lupa bagi – bagi sama temen yaa.” Kata ibunya mengingatkan.


“Iya mah.” Jawab Yasmin cepat.


Sementara Yasmin dan Bu Farras pergi ke parkiran, Syahila berada di kamar temannya yang masih satu lorong dengannya.


“Kamu kenapa sih Sya kok akhir – akhir ini menghindar dari ibunya Yasmin, biasanya kamu langsung klop ngobrol sana sini.” Tanya Sasha salah satu sahabat dari Syahila.


“Tau sendirilah, aku udah cape Sa. Aku memang gak nanggepin sihh, aku kira juga bakal hilang dengan sendirinya, tapi ya sampai kapan gitu.” Keluh Syahila, ia memijit pelan keningnya.


“Oalah... masalah gosip itu ya Sya? Tapiaku sendiri juga heran sihh, baru kali ini gue lihat gosip yang menarik banget.”


“Maksudnya menarik?” Tanya Syahila heran.


“Yaa menarik aja gitu, dimana – mana yaa kalau yang di gosipin itu orang yang memang sama – sama suka atau minimal salah satunya sukalahh, sedangkan kalian saling tahu saja tidakkan awalnya?” Nabila memberi penjelasan.


“Ya gak tahulah, aku juga bingung. Padahal kita udah tahu yaa bahwa gosip itu dilarang islam, tapi kenapa yaa di


lingkungan pesantren aja masih banyak yang bergosip.” Kata Syahila.


“Maklumlah, perempuankan banyak mulutnya. Sabarin aja Sya.” Ucap Sasha.


“Tapi sebenarnya Jay tahu gak sihh masalah ini? Emang gak panas apa yaa itu telinganya?” Tanya Nasywa, yang sedari tadi hanya mendengarkan saja.


Setahu aku sihh enggak tahu, dan gak usah tahu dehh nanti malah panjang ceritanya. Lagian aku juga gak mau nanti disangka suka sama Jay.” Jawab Syahila.

__ADS_1


“Tapi kalau aku lihat Yasmin kayanya setuju – setuju aja tuhh kamu sama kakaknya.” Kata Nabila.


“Akunya yang gak setuju.” Jawab Syahila mulai malas dengan topik pembicaraan.


“Gak setuju kok dimading kamu ada tulisan AJP161298? Itu inisial nama lengkap Jay dan tanggal lahirnyakan? Hayoo ngaku!” Nabila mendesak Syahila.


“Iya benar, tapi itu bukan aku yang nulis. Yasmin yang nulis itu di mading aku.” Jawab Syahila cepat.


“Kalau itu, emang benar Yasmin yang nulis. Aku lihat sendiri kok Yasmin yang menulis itu, dikasih love segala


lagi.” Kata Sasha membela Syahila.


“Tapi itu bisa buat orang lain salah sangka lohh?” Tanya Nasywa, Syahila mengangguk membenarkan.


“Kalau kata aku ya Sya, dari Yasminnya sendiri juga yang membuat gosip itu bertahan sampai sekarang.” Ucap Nabila. Syahila hanya terdiam mendengar perkataan Nabila, karena Yasmin pernah bicara kepadanya bahwa ia lebih baik mendengar gosip Jay dengan Syahila dari pada dengan Shofi. Alasannya karena Nisa, adiknya Shofi selalu mengirimkan surat kepadanya hampir semua isinya mengancam Yasmin.


“Kamu juga sihh Sya terlalu baik sama Yasmin, mending agak jaga jarak sama dia dehh.” Ucap Sasha. Syahila hanya diam menatap lantai dengan tatapan kosong.


“Masalahnya aku sudah janji sama dia buat selalu ada untuknya, terutama dari ancaman – ancamannya Nisa, adik Kak Shofi. Dia juga masih baru disini kasihan, biarlah semua orang mengira aku dekatdengan Yasmin karena ingin mendekati kakaknya, atau mendekati ibunya karena modus belaka. Yang penting Yasmin bisa betah di pesantren, biarlah orang berburuk sangka padaku, yang pasti Allah SWT tahu niatku sebenarnya. Karenakita tak pernah tahu apa  yang akan terjadi kedepannya.”Syahila membatin, lalu ia tersenyum seorang diri.


“Kamu waras Sya? Senyum – senyum sendiri gitu.” Ucap Nabila sambil memegang dahi Syahila. Syahila memutar bola matanya dan menepis tangan Nabila yang menempel di dahinya. Tiba – tiba ada suara orang mengetuk pintu dan mengucapkan salam, Nasywa membukakan pintu. Muncullah sosok Yasmin yang dari tadi menjadi topik pembicaraan.


“Ehh... Yasmin, ayo masuk.” Ajak Nasywa ramah.


“Owh, gak usah Kak Nasywa.” Tolak Yasmin halus.


“Kak Sya, ke kamar dulu yukk. Ada titipan dari mamah buat Kak Sya.” Ajak Yasmin kepada Syahila.


“Udah sana! Udah dijemput tuhh.” Kata Sasha.


“Iya pulang sono pulang ke kamar.” Ucap Nabila. Syahila bangkit dari duduknya dan berpamitan kepada sahabat –


sahabatnya.


Syahila dan Yasmin akhirnya tiba di kamar mereka, Yasmin langsung memberikan satu gulungan nasi bakar yang dibungkus dengan daun pisang kepada Syahila.


“Itu nasi bakar dari mamah, tadi mamah menanyakan kakak lohh.” Kata Yasmin. Sedangkan Syahila hanya tersenyum dan memakan nasi bakar dari Yasmin.


“Min, kamu enggak ngasih Kak Shofi?” Tanya Syahila.


“Untuk apa? mamah cuma menyuruhku untuk memberikan ini kepada Kak Sya, tidak ke Kak Shofi. Aku juga males kak berurusan sama adiknya yang kaya gitu, cape.” Jawab Yasmin.


“Ya kamu jangan gitulah, kan Kak Shofinya baik sama kamu. Kamu juga harus membalasnya dengan kebaikan donk. Kalau masalah adeknya gak usah di tanggepin, nanti juga cape sendiri dia.” Ucap Syahila.


“Sekarang gini ya Kak, pertama, aku itu gak terlalu suka sama orang yang kalau deket sama aku cuma buat deketin kakak aku aja. Kedua, aku itu males berurusan sama orang yang baperan kaya Kak Nisa.” Kata Yasmin.


“Kamu jangan su’udzan dulu sama Kak Shofi, gak baik itu.” Syahila mengingatkan.


“Kamu juga gak tahu isi hati seseorangkan? Bisa saja aku punya perasaan sama kakakmu lohh,  dan bisa saja aku deket sama kamu karena mau deketin kakak kamu gimana? Terus kamu masih mau deket sama aku?” Tanya Syahila.

__ADS_1


“Kalaupun sekarang Kak Sya punya perasaansama aa ya aku sihh biasa saja, karena aku tahu dari awal kita deket itu Kak Sya tahunya aku gak punya kakak. Jadi Kak Sya itu sudah dekat sama aku sebelum tahu kakakku, toh kak Sya tahu aa juga karena mamah sering ceritakan? Aa juga tahu Kak Sya karena mamah sering cerita di rumah tentang Kak Sya.” Kata Yasmin menjelaskan.


“Kita juga satu komunitas.”. Bathin Syahila.


__ADS_2