
“Serahkan semua kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena sebaik – baiknya rencana adalah rencana-Nya. Yang harus kita lakukan hanya ikhlas dengan segala keputusanNya.”
Dua puluh empat tahun yang lalu, lebih tepatnya saat Syahila baru berusia dua tahun. Ia mengalami kecelakaan berupa kepalanya tertimpa buah kelapa langsung dari pohonnya yang mempunyai tinggi lebih kurang dua meter. Akibatnya, Syahila mengalami koma selama dua bulan. Karena Syahila tidak juga sadar dari komanya, dan dokter telah melakukan segala macam cara untuk membuatnya sadar namun tetap gagal. Dokter spesialis bedah syaraf yang menangani Syahila memanggil kedua orang tua Syahila. Dokter Andre menjelaskan bahwa sudah tidak ada harapan untuk Syahila hidup, maka dokter mengusulkan untuk menyuntik mati Syahila untuk kebaikannya, daripada harus melihat Syahila yang koma berbulan – bulan yang akan menyakiti diri Syahila sendiri, disamping itu juga biaya rumah sakit yang memang tidak terjangkau membuat dokter menawarkan penawaran itu kepada orang tua Syahila.
“Ya tidak bisa begitulah dok, banyak juga kok kasus orang yang koma lebih lama dari Syahila yang akhirnya sadar. Kalau saya menyetujui hal itu sama saja saya membunuh darah daging saya sendiri, dalam agama saya hal itu di larang.” Jawab Pak Agus dengan nada yang sedikit meninggi.
“Saya ibunya, saya yang telah mengandungnya selama 9 bulan, yang telah melahirkannya dengan taruhan nyawa, yang membesarkannya dengan penuh kasih sayang. Dan sekarang dokter bilang dengan mudahnya agar saya
menyetujui untuk menyuntik matinya? Dokter sehat?” Ucap Bu Nur yang sudah tidak dapat mengontrol emosinya. Sedangkan dokter berusaha memahami reaksi dari kedua orang tua Syahila.
“Itu demi kebaikan Syahila juga pak, bu. Jika terlalu lama dibiarkan seperti itu, kasihan anaknya juga.” Ucap dokter Andre berusaha menenangkan sepasang suami istri tersebut.
“Saya ibunya, saya yakin Syahila suatu saat nanti pasti sadar.” Ucap Bu Nur sambil menunduk dan mulai menangis. Pak Agus langsung merangkul dan menyandarkan kepala istrinya dipundaknya.
“Lagipula bukannya di Indonesia hal itu dilarang yaa dok?” Tanya Pak Agus.
Tiba – tiba ada perawat yang masuk ke ruangan dokter Andre memberitahukan bahwa dokter harus segera datang ke ruangan Syahila. Dokter langsung berjalan cepat menuju ruangan tempat Syahila dirawat. Di perjalanan menuju kesana Dokter Andre menanyakan kondisi Syahila. Orang tua Syahilapun mengikuti langkah kaki dokter dan perawat dengan perasaan khawatir karena memang beberapa hari ini Syahila mengalami kejang – kejang yang sangat dahsyat. Setibanya disana, Pak Agus dan Bu Nur hanya dapat menunggu diluar, mereka hanya dapat berdoa yang terbaik untuk Syahila. Walaupun itu berarti harus kehilangan Syahila untuk selama – lamanya mereka sudah ikhlas, daripada melihat anaknya yang mungil itu menderita.
Sudah hampir 30 menit berlalu dokter Andre belum keluar juga, Pak Agus dan Bu Nur tentu sangat cemas. Bu Nur yang hanya bisa terduduk sambil menangis dan doa tak pernah terputus darinya. Serta Pak Agus yang dari tadi mondar mandir di depan ruangan Syahila. Saat dokter keluar, Pak Agus dan Bu Nur langsung menanyakan keadaan Syahila.
“Alhamdulillah, Syahila sudah sadar. Namun kondisinya masih sangat lemah, bapak dan ibu bisa menemuinya setelah kondisi Syahila sudah cukup stabil.” Ucap Dokter Andre tersenyum.
Mendengar kabar bahagia itu Pak Agus langsung sujudsyukur atas keajaiban yang telah diberikan Allah SWT kepada Syahila. Sedangkan Bu Nur masih menangis, bahkan tangisannya kini semakin deras. Namun, kali ini bukanlah tangisan kesedihan, melainkan tangisan kebahagiaan. Pak Agus langsung mengabarkan kepada keluarga besarnya atas sadarnya Syahila. Setelah keadaan Syahila stabil, Pak Agus dan Bu Nur diperbolehkan untuk melihat Syahila dengan ditemani oleh dokter.
“Sya, ini mamah nak.” Ucap Bu Nur, mengusap rambut Syahila perlahan.
Sedangkan Pak Agus hanya menatapnya penuh haru, beliau tak percaya akan melihat Syahila kembali membuka mata melihat dunia. Pak Agus meraihtangan kanan anaknya itu dan menciumnya dengan penuh kasih sayang. Namun Syahila menatap orang tuanya itu seperti tatapan bertanya – tanya, doktermenyatakan bahwa hal seperti itu wajar dialami orang yang baru tersadar dari koma. Tak lama kemudian, keluarga besar tiba di rumah sakit untuk melihatkeadaan Syahila. Tetapi dokter melarangnya, karena untuk saat ini Syahila belum dapat dijumpai oleh banyak orang. Maka keluarga besarnya hanya dapat melihat Syahila dari balik jendela, hampir diseluruh tubuhnya terdapat alat bantu agar ia tetap hidup. Keluarga besarnya hanya dapat berharap bahwa Syahila akan kembali menjadi anak yang ceria seperti dulu.
Hari – hari berlalu, kedua orang tua Syahila tidak pernah berhenti untuk terus merawat dan menjaga anaknya. Walaupun seminggu ini usaha mereka hanya mendapat tangisan yang tak bersuara, tapi mereka tetap sabar
menghadapi Syahila yang memang baru tersadar dari koma. Namun lama kelamaan Pak Agus mulai memperhatikan Syahila lebih cermat. Syahila tidak memberi respon selain dengan isyarat tangan kirinya dan menangis tanpa suara. Pak Agus membicarakan hal itu dengan dokter Andre, yang akhirnya ada pemeriksaan lebih
lanjut kepada Syahila. Dokter Andre bersama dua perawat memeriksa Syahila kembali, dan dokter Andre pun menemukan kejanggalan pada selang yang mengeluarkan darah kotor yang ada dikepala Syahila.
“Sepertinya selang ini baru? Apakah sudah ada yang menggantinya?” Tanya dokter Andre ke dua perawat yang menemaninya, namun tidak ada yang menjawab.
“Kemarin selangnya memang di ganti dok.” Jawab Bu Nur pada akhirnya.
“Loh siapa yang mengganti bu?” Tanya dokter Andre lagi.
“Sama salah satu perawat, tapi saya tidak tahu namanya. Perawat tersebut yang menggantikan selangnya Sya.” Jawab Bu Nur.
“Siapa yang berani – berani mengganti selang Sya tanpa perintah saya?” Tanya dokter Andre kepada dua perawat yang menemaninya. Kedua perawat itu hanya bisa menundukan kepala karena takut kena dampak atas kemarahan dokter Andre, yang tak lain adalah pemilik rumah sakit ternama di kota Cirebon. Ketika kemarahan dokter Andre sudah menandakan akan segera meledak, tiba – tiba ada yang mengetuk kamar rawat Syahila.
“Permisi dok, ini data terakhir penanganan pasien atas nama Syahila Afsheen Myesha.” Ucap perawat yang baru datang itu.
“Nah, suster ini yang kemarin menganggantikan selang Syahila dok.” Kata Bu Nur memberitahu dokter Andre. Perawat itu sedikit terkejut, karena dokter Andre langsung menatapnya tajam.
“Benar begitu?” Tanya Dokter Andre tenang, namun cukup
mengintimidasi. Perawat tersebut mengangguk kemudian menundukan kepalanya tidak berani menatap dokter.
“Atas perintah siapa kamu melakukan itu?” Tanya dokter Andre lagi.
“Dokter Dinda dok, dokter jaga kemarin. Sebelumnya saya sudah memperingatkan kepada beliau untuk tidak mengganti selangnya, karena dokter melarangnya.” Jawab perawat itu dengan perasaan takut.
“Lalu mengapa kamu mengganti selangnya? Saya sudah bilang, masalah Syahila jangan sembarangan bertindak, salah sedikit akibatnya sangat fatal. Kamu mau bertanggung jawab jika terjadi sesuatuyang buruk padanya?” Kata dokter Andre yang mulai emosi namun beliau masih berusaha menahannya demi etika. Perawat tersebut hanya dapat menunduk dan meminta maaf kepada dokter Andre dan Bu Nur.
“Kamu, ikut ke ruangan saya sekarang!” perintah dokter Andre kepada perawat yang menggantikan selang Syahila.
“Dan kalian berdua, panggil dokter Dinda untuk keruangan saya segera. Serta periksa keadaan Syahila lebih lanjut untuk kesiapan operasi kepalanya.” Kata dokter Andre lagi memberi intruksi kepada dua perawat yang tadi menemaninya. Dua perawat mengangguk tanda mengerti. Setelah itu dokter Andre keluar dengan diikuti oleh perawat yang tadi dimarahinya.
Melihat kejadian itu Bu Nur hanya menatapnya tak percaya, karena selama ini yang ia ketahui Dokter Andre adalah sosok yang sangat ramah dan lemah lembut, kini Bu Nur melihat Dokter Andre yang terlihat sangat marah. Sehingga Bu Nur mempunyai pikiran apakah akan terjadi sesuatu yang sangat fatal yang terjadi pada anak semata wayangnya. Kedua perawat yang masih memeriksa keadaan Syahilapun melihat ke arah Bu Nur seakan tahu apa yang sedang dipikirkan olehnya.
“Tenang saja bu, Syahila akan baik – baik saja. Dokter Andre selalu optimal kepada setiap pasiennya, karena prinsip semua dokter pasti begitu. Apalagi kepada anaknya sendiri.” Jawab salah satu perawat tersenyum. Bu
__ADS_1
Nur mengernyit tanda tak mengerti.
“Maksudnya?” Tanya Bu Nur, kedua perawat itu terkejut dan menyadari bahwa merreka telah lancang.
“Maaf Bu Sya ini anaknya dokter Andrekan?” Tanya dua perawat itu.
“Loh? Kalian mengapa bisa punya pemikiran seperti itu?”
“Karena dokter Andre selalu berkata bahwa Sya itu adalah anak beliau, jadi kami mengira Sya itu benar – benar anak dokter Andre.”
“Lah? Dokter Andrekan sudah punya istri, saya juga sudah punya suami.”
“Itu masalahnya Bu, sebelumnya maaf ya bu. Pertama, kami mengira bahwa Bu Nur itu istri keduanya dokter Andre.” Ucap salah satu perawat, ia sedang mengatur infus Syahila.
“Kedua, kami kira Pak Agus itu kakak dari Bu Nur.” Sahut perawat yang satunya lagi, ia sedang merapikan alat – alat medis yang dibawanya. Mendengar jawaban dari dua perawat tersebut, Bu Nur tertawa.
“Kalian ini ada – ada saja.” Ucap Bu Nur yang tak menyangka para perawat mempunyai pemikiran seperti itu. Setelah menyelesaikan tugasnya dua perawat itupun pamit untuk menjalankan tugas baru yang tadi diberikan dokter Andre.
Sementara itu diruangan dokter Andre suasananya sangat menegangkan, setidaknya seperti itulah yang kini dirasakan oleh dokter Dinda dan suster Indah. Dokter Andre menjelaskan situasi yang akan terjadi kesalahan sedikit saja nyawa Syahila akan lenyap. Dikarenakan selain ada gumpalan darah kotor di dekat otaknya, posisi tulang kepala sebelah kiri Syahila menusuk ke otak. Maka dari itu, dokter Andre juga harus benar – benar mempertimbangkan jika akan melakukan operasi terhadap Syahila. Saat dokter Andre sedang berbicara dengan dokter Dinda dan juga suster Indah, ada suara ketukan pintu yang kemudian masuk memberi kabar perihal kesiapan Syahila untuk menjalani operasi pasang batok kepala.
Keesokan harinya, dokter Andre memanggil orang tua Syahila untuk membicarakan operasi Syahila. Yang mana untuk saat ini Syahila belum bisa melakukan operasi pasang batok dikarenakan jantung Syahila yang masih sangat lemah disebabkan usia Syahila yang masih sangat belia dan Syahila baru saja sadar dari koma. Dokter juga menjelaskan bahwa untuk saat ini Syahila mengalami lumpuh pada tubuh bagian kanannya, selain itu Syahila juga untuk sementara ini tidak dapat berjalan maupun berbicara. Melihat keadaan Syahila yang seperti itu, dokter Andre mencoba bernegosiasi dengan kedua orang tua Syahila untuk kesembuhannya.
“Bapak dan Ibu pasti sangat menginginkan Sya dapat hidup normal kembali bukan?”
“Kalau itu tidak usah di tanya dok, orang tua mana yang tidak mau anaknya kembali normal?” Ucap Pak Agus.
“Saya mempunyai tawaran untuk bapak dan ibu agar Sya bisa kembali normal seperti dulu lagi.”
“Caranya?” Tanya Bu Nur.
“Sya akan saya bawa ke Amerika untuk mendapatkan pengobatan yang lebih optimal daripada di Indonesia.” Kata dokter Andre, Pak Agus dan Bu Nur langsung termenung, kemudian mereka saling pandang.
“hhmm.... kalau untuk menjalani pengobatan di Amerika jujur saya belum sanggup dok, saya bekerja sebagai karyawan swasta, untuk hidup saja pas – pasan.” Kata Pak Agus.
“Ya tidak bisa begitu dok, Sya inikan anak kami. Jadi sudah sepatutnya kami yang menanggung semua biaya pengobatannya.” Ucap Pak Agus kemudian.
“Begini, jika bapak dan ibu setuju Sya saya bawa ke Amerika, Sya akan mendapatkan pengobatan sampai benar – benar kembali normal seperti dulu sebelum dia kecelakaan. Saya juga berniat akan menyekolahkan Sya
di Amerika. Masalah biaya biar saya yang menanggungnya.” Jelas Dokter Andre.
“Berarti Sya akan tinggal di Amerika cukup lama dok?” Tanya Bu Nur.
“Bisa jadi begitu.” Jawab Dokter Andre.
“Tapi kalau saya ingin bertemu Sya bagaimana dok?” Tanya Bu Nur lagi.
“Jika bapak dan ibu setuju, Sya akan kembali lagi ke Indonesia tepat di usianya 17 tahun, nanti saya akan mempertemukan lagi Sya dengan kalian. Tapi dengan satu syarat.” Jawab Dokter Andre.
“Itu berarti aku tidak akan bertemu dengan anakku selama belasan tahun, apakah nanti akan mengenali bahwa kami ini adalah orang tua kandungnya?”Kata Bu Nur dalam hati kecilnya.
“Syarat?” Tanya Pak Agus penasaran.
“Jika nanti bapak dan ibu saya pertemukan dengan Sya, bapak dan ibu jangan menganggap Sya sebagai anak.”
“Kalau begitu saya tidak akan menyetujuinya, tidak apa – apa Syahila hanya mendapatkan pengobatan yang seadanya yang penting Syahila hidup bersama orang tua kandungnya.” Jawab Pak Agus cepat, kemudian ia
menggandeng istrinya dan permisi meninggalkan ruangan.
Setelah mendengar jawaban dokter Andre, hati kedua orang tua Syahila bagaikan disambar petir bertubi – tubi. Mereka tak menyangka orang yang beberapa minggu kemarin ingin menyuntik mati Syahila, setelah Syahila
sadar dari komanya dia juga orang yang ingin mengambil Syahila. Jika saja ada dokter yang lebih berpengalaman dari dokter Andre, kedua orang tua Syahila pastilah akan langsung mengganti dokter yang akan menangani Syahila. Tapi sayang, saat itu tidak ada dokter yang berani untuk menangani Syahila selain dokter Andre. Bahkan para dokter merekomendasikannya, karena beliau sudah sangat terkenal keahliannya dalam hal bedah syaraf.
Setelah kondisi Syahila dirasa sudah cukup baik, dokter memperbolehkannya pulang. Dengan syarat kepala Syahila jangan sampai terbentur karena belum melakukan operasi pasang batok pada kepalanya, sehingga orang tua Syahila harus menjaganya dengan extra. Sesampainya dirumah, keluarga besarnya telah menunggu kedatangan Syahila. Namun Syahila seakan hilang ingatan akibat benturan yang dialaminya, sehingga saat sampai di rumah, Syahila hanya memandang semua keluarga besarnya dengan tatapan kosong seakan tidak mengenali
mereka sama sekali. Ditambah lagi Syahila yang mengalami lumpuh sehingga ia tidak dapat berjalan maupun berbicara, hal itulah yang membuat keluarga besarnya menatap Syahila miris. Syahila yang dulunya adalah anak yang sangat aktif dan ceria, kini ia harus berbaring sepanjang waktu di tempat tidur. Jika ingin sesuatu, ia hanya dapat meneteskan air matanya tanpa adanya suara. Terkadang ia juga hanya menunjuknya dengan tangan kirinya yang normal.
__ADS_1
“Sya mau apa sayang?” Tanya Bu Nur saat Syahila terus menerus mengeluarkan air matanya dengan deras.
Bu Nur kebingungan saat Syahila seperti itu, karena memang Syahila tidak dapat berbicara dan berjalan, akhirnya Bu Nur menggendong Syahila dengan tujuan Syahila dapat menunjukan apa yang dia inginkan dengan menunjuk menggunakan tangan kirinya yang normal. Walaupun begitu, orang tua Syahila serta kerabat terkadang tidak mengerti maksud Syahila.
“Sya mau melihat teletubies?” Tanya Bu Nur, karena sejak kecil Syahila sangat menyukai hal – hal yang berbau teletubies.
Namun air mata Syahila masih juga mengalir deras dari kedua matanya, padahal Bu Nur telah menyalakan kaset teletubies. Akhirnya Bu Nur membuatkan Syahila susu dan dimiumkannya kepada Syahila, ia pun masih menolak. Bu Nur mengajaknya jalan – jalan keluar, air matanya masih belum berhenti. Setiap harinya, Bu Nur menjalani hari – harinya seperti itu. Berusaha mengerti maksud Syahila yang memang hanya bisa meneteskan air mata tersebut.
Karena telah merasa sangat frustasi, Bu Nur menyebrang tatapan kosong. Dalam dekapannya terdapat Syahila yang masih saja meneteskan air matanya. Karena pikirannya kosong itulah Bu Nur sampai tidak sadar bahwa bis dari arah selatan melaju dengan kecepatan tinggi. Orang – orang yang melihat Bu Nur yang hanya berdiri di tengah jalanpun berteriak memerintahkannya untuk segera menyingkir. Tapi Bu Nur hanya melihat orang – orang yang meneriakinya dengan tatapan kosong, seakan ia tak mendengar suara teriakan orang – orang yang meneriakinya. Padahal beberapa klakson mobil maupun motor telah dibunyikan oleh para pengemudinya agar Bu Nur menyingkir. Bahkan klakson bus yang telah dibunyikan beberapa kali oleh sopirnya tidak dihiraukannya. Namun, tiba – tiba Bu Nur merasakan seakan ada yang mendorongnya sampai ia hampir terjatuh mengenai trotoar jalan, dan disaat itulah kesadaran Bu Nur kembali.
***
Saat menunggu panggilan dari dokter untuk melakukan operasi pasang batok, Syahila menjalani hari – harinya dengan menjalani terapi. Dengan harapan Syahila dapat berbicara dan berjalan kembali, terapi demi terapi pun telah Syahila jalani. Bahkan sampai memakai metode strum pun Syahila jalani, tapi sayang, bukannya sembuh terapi itu malah berdampak pada jantungnya karena efek kejut akibat terapi setrum itu. Sampai pada akhirnya, ada teman ayahnya yang memberitahu terapi dengan metode urut. Alhasil, Syahila dibawa oleh kedua orang tuanya untuk mencoba terapi tersebut. Sempat terlintas rasa keputus asaan dalam hati kedua orang tua Syahila karena sudah mencoba berbagai macam terapi tetapi tetap saja tidak berdampak kepada Syahila. Saat sudah berada di tempat terapi tersebut, orang tua Syahila meragukan alamat yang telah diberikan temannya. Bagaimana tidak? Melihat halaman rumahnya yang begitu luas dengan taman kecil yang terlihat sangat indah. Ditaman itu pula terdapat kandang – kandang hewan peliharaan sang pemilik rumah. Berbagai jenis kucingpun ada di sana, ada kucing anggora, persia dan jenis kucing mahal lainnya. Selain kucing, berbagai burung hiaspun ada disana, salah satunya adalah burung kakak tua.
“Assalamu’alaikum, assalamu’alaikum.”
Bu Nur dan Pak Agus mencari asal suara tersebut, namun sejauh mata memandang mereka tidak melihat orang berada disekitarnya. Setelah suara itu terdengar berkali – kali, barulah Pak Agus menyadari bahwa suara tersebut berasal dari burung kakak tua berwarna putih tersebut. Tak jauh dari tempat mereka berdiri, terlihat beberapa kandang kuda yang berjejer rapi. Dilihatnya ada orang disana, sehingga Pak Agus menghampirinya, sementara Bu Nur menunggu di dekat sangkar burung kakak tua tadi sambil menggendong Syahila.
“Assalamu’alaikum.” Ucap Pak Agus kepada orang yang sedang memberi makan kuda – kuda Australi tersebut.
“Wa’alaikumussalam.” Jawabnya dan tersenyum ramah.
“Maaf kang, Abah Budinya ada?” Tanya Pak Agus to the point.
“Ohh, ada. Masuk saja kang, abah ada didalam.”
“Nuhun kang.”
“Sami – sami.”
Pak Agus menghampiri istrinya dan mengajaknya kedalam, setelah menjelaskan apa yang telah Syahila alami. Orang tua Syahilapun menjelaskan bahwa keadaan kepala Syahila yang memang batok kepala sebelah kirinya rusak dan belum menjalani operasi. Abah Budi langsung mencoba memijat Syahila perlahan, sesekali Syahila meringis namun Abah Budi tetap memijatnya ke seluruh bagian tubuh Syahila terutama pada bagian tangan dan kaki Syahila. Setelah selesai terapi, kedua orang tua Syahila mengobrol dengan Abah Budi.
“Pak, Bu, mau Syahila bisa berbicara dulu atau jalan dulu? Karena ini tidak bisa sekaligus.” Tanya Abah Budi.
“Bicara saja dulu bah, biar kami mengerti jika Sya mau apa – apa.” Jawab Pak Agus.
“Tapi proses pemulihannya sedikit lama, kalian harus sabar. Diperkirakan 2 tahun lagi Sya baru bisa berbicara dan 2 tahun setelahnya barulah Sya bisa berjalan. Jadi totalnya itu bisa sampai 4 tahunan.” Jelas Abah Budi.
“Tidak apa – apa abah, yang penting Sya normal lagi.” Jawab Bu Nur.
Sejak saat itu Syahila mulai menjalani terapi dengan metode urut tersebut, dengan menaiki sepeda motor orang tua Syahila semangat untuk mengantarkan anaknya terapi. Meski mereka harus terkena teriknya sinar mentari atau kedinginan karena diguyur hujan. Namun, Pak Agus dan Bu Nur tetap datang setiap minggunya ke rumah Abah Budi mengantarkan Syahila menjalani terapi. Dan akhirnya mereka memetik buah yang manis, bahkan sangat manis. Karena Syahila hanya membutuhkan waktu 4 bulan untuk akhirnya ia dapat berbicara dan berjalan kembali. Padahal sebelumnya, untuk kembali normal, Syahila membutuhkan waktu 4 tahun lamanya. Namun itulah prediksi manusia, terkadang benar terkadang juga salah. Yang pasti inilah anugerah dari Allah SWT yang memang Allah berikan kepada umatnya yang senantiasa berusaha dan sabar. Melihat banyak kemajuan yang di tunjukan Syahila beberapa bulan terakhir, orang tua Syahila semakin semangat untuk mengantarkan dia terapi. Karena tinggal
tangan kanan Syahila yang masih belum pulih, masih lumpuh tidak bisa dipakai untuk melakukan sesuatu. Saat mereka sampai dirumah Abah Budi, beliau malah menyuruh Syahila bermain dengan salah satu kuda Australinya.
“Bah, kenapa gak langsung ngurut saja?” Tanya Bu Nur.
“Abahnya lagi puasa.” Jawab Abah Budi sambil tersenyum.
“Owh... kalau lagi puasa gak mijit ya Bah?” Tanya Pak Agus. Belum sempat menjawab, istri Abah Budi yang lebih akrab dipanggil ummi menghampiri suaminya itu dengan membawa semangkuk mie.
“Katanya Abah lagi puasa? Kok makan mie?” Tanya Bu Nur heran. Ummi pun menjadi kebingungan karena setahunya suaminya itu sedang tidak berpuasa sunnah, lagi pula hari ini adalah hari minggu. Karena biasanya Abah Budi berpuasa dihari senin atau kamis. Sedangkan Abah Budi hanya tersenyum, dan pandangannya beralih kepada Syahila yang sedang bermain dengan kuda – kuda peliharaannya dengan ditemani penjaganya.
“Abah itu puasa mijit Sya.” Jawab Abah Budi pada akhirnya. Pak Agus dan Bu Nur saling pandang.
“Maksudnya Bah?” Tanya Pak Agus.
“Abah sudah tidak membuka praktek pijit lagi, karena mesjid yang Abah bangun sudah selesai."
“Jadi Abah sudah tidak praktek lagi bah? Terus Sya gimana bah? Tinggal sedikit lagi, tinggal tangan kanannya saja yang belum pulih bah.” Ucap Bu Nur berusaha membujuk Abah Budi.
“Sebelumnya Abah minta maaf, tapi Abah buka praktek pijat itu karena Abah kekurangan dana untuk pembangunan masjid. Berhubung masjidnya sudah selesai, abah sudah tidak buka praktek lagi.
Pak Agus dan Bu Nur pun mau tidak mau harus berlapang dada, mungkin Allah ingin mereka lebih bersabar terhadap kesembuhan Syahila. Mereka yakin, suatu saat nanti pasti mereka akan melihat Syahila kembali normal
walau entah kapan waktunya. Yang perlu dilakukan adalah tawakal berdoaberusaha, tiga hal itu akan menjadi satu kekuatan yang sangat dahsyat karena selalu melibatkan Allah di dalamnya.
__ADS_1