Always You

Always You
Episode 34


__ADS_3

Setelah sampai di rumah nya, Daifa segera masuk setelah berpamitan kepada Afifa dan Liana. iya juga menawari mereka menginap, namun mereka berdua menolak dan langsung kembali pulang.


"๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ณ ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ!" Seru Ghost yang tiba-tiba muncul di depan Daifa membuat Daifa tersentak kaget.


"Astagfirullah, udah di bilangin jangan ngagetin juga! masih ngagetin!" Gerutu Daifa mengelus dada nya sabar.


"๐˜”๐˜ข๐˜ข๐˜ง ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ, ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช, ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ช ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ง๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ด๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ถ"


"Udah, jangan bahas ini di sini, bahas entar malem aja" Sela Daifa segera berlalu meninggalkan Ghost yang terdiam.


Memasuki rumah dengan wajah lelah, Daifa berniat langsung ke kamar nya untuk istirahat, namun langkah nya terhenti saat sang bunda muncul dengan raut khawatir.


"Aduh, kamu dari mana aja Fa?, Darel udah nungguin kamu dari tadi loh" Cerca Bunda Lidia membuat Daifa pusing.


"Aduh Bun, santai kali, pusing nih pala Fafa!" Dengus Daifa mencak-mencak.


"Terus tadi bunda bilang Darel nungguin aku?, mau ngapain bun?" Lanjut Daifa heran.


"Iss, kenapa nanya bunda!, bunda kan ngga tau, udah sana samperin" Suruh Bunda Lidia menarik Daifa ke ruang keluarga.


Mengikuti langkah sang Bunda, Daifa menatap Darel malas, iya segera mendudukan diri nya di sofa sebrang.


"Ngapain sih lo ke sini!" Gerutu Daifa menatap Darel malas.


"Jemput lo" Jawab Darel singkat.


"Ngapain jemput gue?" Heran Daifa.


"Di suruh Bunda, lo lupa?" Darel menatap Daifa seksama, padahal iya sudah memberi tahu nya.


Daifa terdiam sebentar, berusaha mengingat-ingat apa yang iya lupakan.


"Ohh, sory, gue lupa, yaudah gue siap-siap dulu" Angguk Daifa setelah mengingat yang iya lupakan, dengan segera beranjak menuju kamar nya.


Setelah memasuki kamar nya, iya langsung di cerca dengan pertanyaan dari Ghost.


"๐˜‰๐˜ข๐˜จ๐˜ข๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข? ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ค๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ต๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ?" Tanya Ghost dari arah lemari.


"Ngapain lo nangkring di atas lemari gue!?, awas kalou kotor!. entar malem aja napa sih, gue masih ada urusan lain"Sungut Daifa nyelonong masuk ke kamar mandi, bahkan iya lupa tidak membawa handuk nya membuat iya berteriak memanggil Ghost.


" GHOST AMBILIN HANDUK GUE"Teriak Daifa dari dalam kamar mandi, untung saja kamar nya kedap suara, jika tidak, sudah di pastikan iya akan di tanya-tanya oleh bunda nya perihal Ghost.


"๐˜•๐˜บ๐˜ถ๐˜ด๐˜ข๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฏ!" Gerutu Ghost segera melayang mengambil handuk kimono yang di gantung di dekat lemari, iya segera memberikan nya kepada Daifa, setelah itu menghilang pergi untuk berkenalan dengan penghuni komplek yang sempat iya temui. Daripada di suruh-suruh Daifa lebih baik iya menghilang.


Cklk


Daifa segera keluar dari kamar mandi, iya menatap bingung keadaan kamar nya yang sepi.


"Kemana si ghost?" Bingung Daifa menatap lemari yang sudah tidak di tempati Ghost.


Tampa memikirkan lebih lanjut, iya segera bergegas memakai pakayan simpel nya, sesudah selesai iya merias wajah nya dengan bedak dan lipstik.


"Ferfec" Bangga nya saat melihat pantulan bayangan nya di cermin.


Selesai dengan sesi kagum-mengagum, iya segera bergegas menemui Darel, tidak lupa iya membawa tas kecil nya di gendongan.


"Yo berangkat" Ucap Daifa setelah sampai di depan Darel.


Darel segera berdiri dari duduk nya, setelah berpamitan dengan Bunda Lidia mereka berdua segera tancap gas ke rumah Darel.


Beberapa jam terlewat, kini motor Darel sudah sampai di depan gerbang rumah nya.


"Turun" Suruh Darel saat sudah sampai di depan gerbang rumah nya.


Daifa segera turun dari atas motor, iya menatap sekitar dengan pandangan kagum, banyak pohon-pohon rindang di sekitar rumah Darel.


"๐˜ž๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฉ, ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ญ๐˜ฐ ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฆ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ข๐˜ญ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ด๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช!" Batin Daifa semangat.


Pada dasar nya iya memang suka panjat memanjat, jika bisa iya ingin memiliki rumah di hutan yg banyak pohon nya.


Dah kaya monyet aja si Daifa.


"Ngapain lo bengong di sini, buruan masuk" Ucap Darel saat Daifa masih asik melamun.


Daifa segera mengangguk dan ikut berjalan dengan Darel.


Setelah memasuki rumah mewah tersebut, mereka berdua di sambut hangat oleh Dila dan Dania, namun tidak terdapat kehadiran Damar, iya sepertinya belum kembali dari kantor nya.


"Ayo makan dulu Fa" Ajak Dila saat kedua nya baru muncul.


"Iya tan" Angguk Daifa berjalan bersamaan dengan Dania yang antusias dengan kehadiran nya.

__ADS_1


Mereka makan dengan tenang, meski kerapkali Dania menceletoh membuat suasana tidak terlalu hening.


Setelah menyelesaikan acara makan, mereka segera berkumpul di ruang tamu untuk sekedar berbincang.


"Bang, kamu kapan beli cincin?" Tanya Dila membuat Darel mengangkat alis nya bingung, begitu pun Daifa yang tiba-tiba deg degan.


"Cincin apa?"


"Ohh iya, Bunda lupa bilang sama kamu, kalian kan akan tunangan"Ujar Dila membuat Daifa membulatkan bola mata nya kaget. hingga refleks berteriak.


" APAH!"


Teriakan Daifa mengagetkan seisi ruangan, Daifa segera meminta maaf dengan malu.


"๐˜”๐˜ข๐˜ญ๐˜ถ-๐˜ฎ๐˜ข๐˜ญ๐˜ถ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ต"Gerutu Daifa dalam hati.


" Kenapa Fa?"Tanya Dila hati-hati, iya sudah bisa menebak, mereka berdua pasti belum bisa menerima, apa lagi tampan diskusi terlebih dahulu.


"Bunda ga cerita sama aku, terus kenapa meski tunangan, kita aja ngga sedeket itu tan! "Sargah Daifa menatap Dila dengan tatapan menuntut.


Melihat reaksi Daifa membuat Dila semakin tidak enak hati, iya beralih menatap sang anak sulung nya, tatapan dingin dan datar yang tertera, membuat iya semakin merasa bersalah.


" Maafin tante sayang, ini emang udah rencana dari kalian masih dalam kandungan, dan lagi, bukannya Bunda kamu ga bilang, tpi kalian nya yang pada pulang duluan waktu acara semalam"Tutur Dila memberi penjelasan dengan rasa bersalah.


"Gimana ceritanya sih tan, mana ada anak yang belum lahir udah di jodoh-jodohin!" Tekan Daifa masih belum percaya.


Dila menghela nafas pelan, apa iya, iya meski menceritakan sekanarior nya, sedikit memalukan.


"Jadi gini....... "


Flashback


Di tahun 2003, keceriaan terjadi di sebuah keluarga besar yang tengah berkumpul di taman rahasia yang hanya di ketahui dua keluarga saja.


Kedua keluarga itu adalah keluarga Arkatsa keluarga berpengaruh di Indonesia, dan keluarga Maheswara yang baru-baru ini kembali ke tanah air.


"Wah, Dil, kamu baru mengandung ya?" Tanya perempuan cantik yang tak lain Lidia dengan senyum manis nya.


Perempuan yang di tanya tersenyum bangga, iya mengangguk sambil mengelus perut nya yang terlihat membesar.


"Iya, apa kau juga tengah mengandung lagi?, aku perhati'in perutmu tidak seperti biasanya?" Ujar Dila menatap perut Lidia sangat sahabat penasaran.


"Wahh, kau bisa menebak nya ya, iya, aku tengah mengandung anak kedua ku" Angguk Lidia kagum dengan pengamatan sang sahabat.


"Huh, kau curang, aku baru kehamilan pertama, tapi kau sudah yang kedua, bagai mana bisa Dika begitu hebat!" Gerutu Dila cemberut membuat Lidia tertawa lepas.


"Hahaha, bagai mana bisa kau jadi pemarah?, biasanya kau selalu cuek, apa paktor kehamilan mu membuat mu menjadi seperti ini?" Tanya Lidia masih dengan tawa mengejek nya.


Dila memalingkan wajah nya dengan marah, iya ingin sekali memukul wajah Dila yang menyebalkan.


Melihat Dila yang semakin marah, Lidia segera meminta maaf.


"Jangan marah, aku hanya becanda. bagai mana jika anak mu laki-laki, dan anak kedua ku perempuan, aku ingin hubungan persahabatan kita lebih erat dengan menikahkan anak kita, bagai mana?" Tutur Lidia membuat Dila kembali menatap nya dengan binar antusias.


"Ide yang bagus, aku tidak sabar menanti hari itu" Setuju Dila dengan antusiasme yang tinggi.


Mereka berdua menghabiskan waktu sore dengan canda tawa, suami-suami nya mereka biarkan berkeja membuat makanan, lagipula mereka sangan overprotective, mungkin karena mereka tengah mengandung.


Namun selang beberapa bulan, Lidia harus kembali ke negara sang suami, Korea, iya juga tidak tau akan kembali lagi atau tidak, hanya janji perjodohan yang masih iya simpan sampai saat ini.


Flasbackof


Memijat kening nya pusing, Daifa tidak habis pikir dengan tingkah sang Bunda.


Mengapa meski jodoh-jodohan?, apa Bunda nya ragu iya bisa memilih pasangan, rasanya iya ingin cepat pulang dan mengamuk di sana, iya cukup terauma akan percintaan, penghianat itu masih membekas di hati nya, dan sekarang iya di jodoh kan?, itu sangat tidak lucu sama sekali.


"Kamu jangan marah sama Bunda kamu sayang, kasihan dia, dia pasti ngerasa menyesal jika kamu marah" Pinta Dila saat melihat ekpresi tak mengenakan Daifa.


"Huff, aku ga janji tante, harusnya Bunda tau aku bangt" Hela nafas Daifa lelah.


"Ka Fafa jangan marah, aku mau ka Fafa yang jadi istri bang Darel" Pinta Dania menatap Daifa penuh harap, juga dengan sorot polos nya.


"Kamu tau begitu dari siap dek?" Sorot Dila menatap anak bungsunya.


"Ehehe, dari temen-temen aku Bun, kata mereka sih gitu" Jawab Dania kikuk.


Dila menghela napas pelan.


"Kamu ga usah ikutin hal negatif temen-temen kamu itu, klo kamu ga mau Bunda larang temenan sama mereka"


"Yahh, ko Bunda gitu sih, kan cuman temenan"Sungut Dania merasa tidak terima.

__ADS_1


" Klo mereka bawa pengaruh negatif buat kamu, Bunda ga mau kamu temenan sama mereka, bukan ngelarang"Jelas Dila penuh perhatian terhadap Dania.


Jika sudah begitu Dania hanya bisa menurut.


"Anterin gue pulang" Pinta Daifa membuat Darel menoleh ke arah nya dengan pandangan heran.


"Loh, ko buru-buru banget?" Tanya Dila menyahuti.


"Nanti kemaleman tan" Balas Daifa sekenanya. Dila yang mendengar jawaban Daifa seketika melirik jam yang ternyata sudah jam 17:45, ternyata tidak terasa mereka mengobrol dengan panjang.


"Yaudah sana anterin bang, Hati-hati bawa motor nya" Angguk Dila menyuruh Darel mengantar Daifa pulang.


Darel hanya mengangguk dan segera berdiri, Daifa pun demikian.


Setelah perjalanan cukup lama, motor Darel sudah berhenti di depan gerbang rumah Daifa.


Dengan segera Daifa turun dari atas motor Darel.


"Lo ga mau ketemu ortu gue dulu?" Tanya Daifa membuat Darel menatap nya bingung.


"Mau ngapain?"


"nolak perjodohan ini, klo lo ga suka" Tutur Daifa santai.


"Kalo gue ga mau lo mau apa?"Sahut Darel menatap Daifa pasti.


" Mau gue bakar rumah lo!"Cetus Daifa menatap Darel jengah.


"Silahkan kalo lo berani. gue ga bakal nentang perjodohan ini, klo lo ga suka gue ga akan ikut campur, gue cuman ngikutin apa kata orang tua gue"Ucap Darel membuat Daifa terdiam mencerna ucapan nya.


Melihat keterdiaman Daifa membuat Darel terkekeh, hingga membuat iya mengacak rambut Daifa gemas.


" Gue pulang dulu ya, jangan bengong di sini, nanti lo kesambet"Ucap Darel segera menyalakan motor nya dan berlalu pergi setelah menyadarkan Daifa dengan klakson motor nya.


"Woy! dasar Darel bang***" Seru Daifa menghentakan kaki nya kesal membuat satpam di pos rumah nya kaget.


"Ada apa non? apa ada penjahat?" Tanya satpam rumah nya cemas saat mendengar seruan Daifa.


"Ngga ada penjahat pak, ada nya baji***n"Imbuh Daifa segera memasuki rumah nyanya tampa memperdulikan satpam yang kebingungan.


Memasuki rumah dengan gerutuan yg terus keluar dari mulut nya, membuat sang Bunda yang tengah duduk di ruang tamu menatap nya heran.


" Kenapa Fa? ko pulang nya kusut gitu? apa Darel nyakitin kamu?"Tanya Bunda Lidia yang tengah membolak-balik majalah.


Berhenti sejenak, Daifa menatap Bunda nya dengan sorot tak terbaca, iya jadi mengingat apa yang di katakan Dila tentang perjodohan yang di buat kedua nya.


"Bunda sadar ga sih?, Bunda bener-bener lupa klo aku punya rasa trauma akan cinta?, kenapa Bunda bikin ajang perjodohan aku sama Darel?!"Papar Daifa menatap sang Bunda yang mematung menyaksikan kemarahan sang anak kepada nya.


" Bu.. bukan gitu sayang, Bunda punya.... "


"Alesan?, alesan apa?, jujur, Fafa kecewa sama Bunda" Potong Daifa menatap sang Bunda dengan tetesan air mata yang jatuh di atas pipi cuby nya. setelah mengatakan itu, iya langsung pergi tampa menunggu balasan sang Bunda.


"Fa!... dengerin dulu penjelasan Bunda!, Fa! " Panggil Bunda Lidia mencoba menghentikan sang anak, namun Daifa segera berlari menuju kamar nya tampa menghiraukan sang Bunda.


Melihat Daifa yang langsung berlari, Bunda Lidia segera mengejar sang anak, namun Daifa dengan cepat menutup pintu dan menguncinya dari dalam.


Tok


Tok


Tok


"Buka Fa, dengerin dulu penjelasan Bunda!" Pinta Bunda Lidia mengetuk pintu kamar Daifa.


"Bunda ga bermaksud buat kamu kecewa Fa, bunda hanya ingin kamu bahagia. karena bunda pikir, jika kamu mencarinya sendiri itu tidak mungkin, kamu tidak akan mau pacaran, jadi bunda mutusin untuk menjodohkan kamu dengan anak tante Dila, itu pun sudah rencana dari kalian dalam kandungan"Tutur Bunda Lidia, namun tetap saja Daifa tidak menyahut atau membuka pintu kamar nya.


Semenata Bunda Lidia masih berusaha membujuk sangat anak. Daifa tengah menenggelamkan kepala nya di atas bantal, iya marah akan keputusan sangat Bunda yang tidak memberi tahu nya terlebih dahulu.


Karena lelah menangis, tampa sadar iya tertidur dengan posisi yang masih sama.


"๐˜ˆ๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข? ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ด?"


Ghost memandang bingung Daifa yang tengah tertidur lelap.


"๐˜๐˜ถ๐˜ง๐˜ง, ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ฐ๐˜ฌ ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ค๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ข ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข"


Pasrah Ghost segera melayang menuju lemari yang ada di kamar Daifa.


Bersambung...........


Untuk yang sudah mampir, Terima kasih banyak๐Ÿค—

__ADS_1


__ADS_2