Always You

Always You
Episode 15


__ADS_3

“Entah karena sudah lelah sehingga terbiasa ataukah


memang hatiku yang sudah menerima apa yang sering mereka katakan?”


Seperti biasa, kebiasaan Syahila pada sore hari adalah merapikan buku – buku yang akan dibawanya ke sekolah esok nanti. Saat merapikan buku pelajarannya, Syahila sambil membuka – buka bukunya takut – takut ada tugas yang harus dikumpulkan besoknya. Setelah memastikan bahwa tidak ada tugas dan buku – bukunya telah tersusun rapi dalam tas,  Syahila mengambil baju dari lemarinya karena ia hendak mandi.


“Astagfirullah, Min. Kamu ngagetin aja deh.” Ucap Syahila saat mendapati Yasmin sudah berada tepat dibelakangnya sambil tersenyum.


“Kak Sya mau kemana?” Tanya Yasmin.


“Jajan.” Jawab Syahila asal


“Wah... aku juga mau donk kalau begitu, titip yaa.” Kata Yasmin kegirangan.


“Ya kamu lihatlah Min aku mau kemana? Akumau mandi.” Ucap Syahila kesal.


“Loh, tadi katanya mau jajan, tapi sekarang bilangnya mau mandi? Kakak jangan plin plan donk.” Canda Yasmin.


“Serah!” Ucap Syahila kesal. Ia hendak keluar dari kamarnya namun Yasmin menghalangi jalannya.


“Kak Sya, aku mau minta uang.” Kata Yasmin kemudian.


“Tadi pagikan udah dikasih 10 ribu, emangnya udah habis?” Tanya Syahila.


“Iya, tapi kali ini uangnya bukan buat jajan.”

__ADS_1


“Terus buat apa?” Tanya Syahila penasaran, ia akhirnya duduk kembali tidak jadi pergi ke kamar mandi.


“Tapi kakak jangan marah yaa.” Kata Yasmin mengingatkan, Syahila mengangguk.


“Temen aku kan ada yang bawa musik box, terus aku minjem. Eh, kesita sama Ustadzah. Aku disuruh ganti deh 100 ribu.” Kata Yasmin hati – hati, ia takut Syahila akan memarahinya.


“Ya udah tinggal ganti aja.” Ucap Syahila, ia bangkit dan berjalan kearah lemarinya. Setelah itu, memberikan uang seratus ribuan satu lembar kepada Yasmin.


“Berarti uang kamu sisanya 150 ribu lagi yaa.” Kata Syahila memberitahu. Yasmin mengangguk, namun ia belum pergi juga dari kamar Syahila.


“Ada lagi? Aku mau mandi Min, udah sore.” Tanyanya.


“Hhmm.... aku juga disuruh pergi ke kantor pengasuhan sama orang tua kak.” Ucap Yasmin sambil menundukkan kepalanya tak berani menatap mata Syahila.


“Tinggal telepon mamah kamu suruh dateng kesini, selesai.” Kata Syahila cepat, sedangkan Yasmin menatapnya tak percaya.


“Terus kamu maunya apa? berani berbuat berani bertanggung jawab donk.” Ucap Syahila.


“Kak Sya aja yaa yang ke kantor pengasuhan, please...” Pinta Yasmin.


“Gak mau ahh, kemarin saja waktu kamu ketahuan kabur dari pondok aku yang jadi wali kamu. Jadinya orang – orang pada su’udzan Min sama aku.” Tolak Syahila.


“Ya udah sihh, jangan pikirin omongan orang lain.”


“Kamu gak ngerasain apa yang aku rasain Min.” Kata Syahila dengan nada sedikit meninggi.

__ADS_1


Yasmin langsung terdiam, ia baru menyadari bahwa selama ini sadar atau tidak sadar ia selalu bergantung kepada


Syahila. Mulai dari menjadikannya tameng dari teror Nisa melalui surat sampai tameng agar tidak ada gosip tentang Jay dan Shofi, melainkan Jay dan Syahila. Ia menyadari bahwa selama ini Syahila selalu ada untuknya, dikala senang maupun sedih. Namun, ia sendiri tidak selalu menemani saat Syahila sedang terpuruk karena terlalu asyik dengan dunia sendiri. Yasmin terdiam cukup lama, ia merenungkan keegoisannya terhadap Syahila. Ia selalu membebani Syahila dengan segala macam perbuatan yang tidak bisa ia pertanggungjawabkan. Melihat Yasmin


yang hanya terdiam, Syahila pergi ke kamar mandi meninggalkan Yasmin di kamarnya.


Seusai mandi, Syahila pergi ke kamar Sasha sekedar untuk bercengkrama melepas lelah karena padatnya kegiatan. Saat tiba disana ternyata sudah ada teman – temannya. Mereka pun membahas hal – hal yang tadi terjadi di kelas masing – masing karena kebetulan diantara mereka ada yang tidak satu kelas. Walaupun begitu, pertemanan mereka kukuh tak tergoyahkan. Semuanya tertawa bahagia hanya dengan hal kecil yang diceritakan oleh salah satu dari mereka. Namun, suasana menjadi sunyi saat pertanyaan yang diajukan Sasha kepada Syahila.


“Oh, iya. Sya, tadi aku ke kamar kamu tapi kamu katanya lagi mandi. Di kamar kamu tadi cuma ada Yasmin, tapi kok mukanya murung gitu yaa?” Tanya Sasha.


“Gak ada apa – apa kok, sudahlah jangan bahas itu.” Jawab Syahila berusaha mengalihkan pembicaraan.


“Sya, kamu apain anak orang sampe mau nangis gitu?” Tanya Nabila.


“Enggak diapa – apain juga kok, lagi kangen orang tuanya aja kali.” Jawab Syahila asal.


“Kamu jangan galak – galak donk Sya, sama calon adek ipar sendiri juga.” Ucap Sari.


“Kalau ngomong dijaga yaa, nanti kalau malaikat lewat gimana?” Kata Syahila mulai kesal.


“Ya tinggal di aminin aja repot amat.” Ucap Nabila asal.


“Tapi kok anehnya, aku yakin kalau Sya itu bakal jadi deh sama Jay sampe nikah” Kata Sari dengan nada serius.


“Aamiin.....” Ucap Sasha, Nasywa, dan Nabila.

__ADS_1


“Serah! Terserah kalian mau ngomong apa juga aku gak perduli.” Ucap Syahila yang sudah malas dengan candaan teman – temannya.


__ADS_2