
Kita semakin dekat
Dengan kata kita
Semakin kita tau
Akan bagaimana jawaban.
Tugas semesta
Semakin membawa kita pada
Peduli untuk mencari
Tau dulu yang mengutuk sekarang.
Dulu memang penyakit
Sekarang yang berubah
Tanpa ada yang tau
Bagaimana sebenarnya dia.
...
Ami
Aku menghitung detik yang mengejar tuntutan waktu semesta. Aku baru saja selesai dari sarapanku, sendiri. Sudah dua hari orang tuaku tak pulangkan diri, aku heran, kemana mereka pulang dari kerja, apa mereka mempunyai rumah selain disini. Menyebalkan, aku tidak suka berada di rumah lama\-lama jika tidak ada siapa\-siapa, karena pasti saja aku kacau dengan pikiran negatifku akan mereka.
Aku menunggu Raka menjemput, sekarang sudah hampir jam sembilan. Aku mendengar suara gerbang dibuka, kukira Raka, tapi ternyata ibu datang sendirian, tanpa ayah. Aku langsung mengambil tas ku, dan memakai sepatu. Aku membuka pintu, ibu melihatku, aku melewatinya, baru saja selangkah aku keluar dari gerbang
"Ami"
Ibu memanggil aku, sungguh betapa kagetnya aku setelah sekian lama tak mendengar suaranya. Tapi apa boleh buat, aku takut menangis, jadi aku lanjutkan langkahku keluar dan mengabaikan panggilan ibuku.
Aku berhenti di taman dekat rumah ku, aku mengambil handphone dan menghubungi Raka kalau aku menunggu di taman. Tak lama aku menghubungi raka, mobilnya berhenti tepat di depanku, dia membuka jendela, dan mengajakku masuk ke mobil. Aku masuk kedalam mobil, langsung membuka album musik favorit Raka, dan memutar lagu Ed Sheeran perfect. Aku bernyanyi, Raka masih heran akan sikapku, tapi tak lama, Raka ikut bernyanyi bersamaku.
…
__ADS_1
Raka
Aku membuka pintu mobil untuk Ami, aku rasa ada sesuatu tak beres yang terjadi padanya tadi pagi, karena tumben saja Ami menunggu di taman, dan saat dia masuk ke mobil, dia sendiri yang memutar lagu.
"Ayo, aku sudah tak sabar bertemu dengan pak Fhaisal"
Dia menekan nama "Fhaisal" dan menekan hidungku dengan gemas dan sakit, baru saja aku akan membalasnya, dia sudah berlari seperti anak kecil dengan memanggil Bu cika. Sungguh apa yang terjadi padanya.
Bu cika langsung mengajak aku dan Ami kedalam ruangan kemarin
"Bagaimana jika kita ditaman saja Bu, sepertinya lebih enak kita mengobrol dengan pak Fhaisal di hiasi dengan pemandangan semesta"
Aku sengaja meminta di luar ruangan, karena rasanya di dalam sama saja mengurung bebannya yang akan pak Fhaisal ungkapkan.
Aku dan Ami menunggu di kursi taman dengan meminum es teh yang telah disediakan Bu cika. Bu cika datang dengan pak Fhaisal.
"Hallo pak Fhaisal, masih kenal aku gak"
Sapa Ami dengan sangat ceria.
"Iya Ami"
Ternyata memang hanya psikologinya saja yang terganggu, dia masih bisa membalas orang dengan sewajarnya. Padahal Dia bisa mengendalikan diri sendiri, tapi sepertinya ada ketakutan yang benar-benar membunuh emosionalnya sampai ia tak dapat mengaturnya.
"Hallo pak, bagaimana semalam mimpi indah? Atau apa?"
Tanyaku untuk memulai membuka awal ceritanya
"Gak tau ka, bapak tak pernah mimpi selama bapak didalam jeruji".
Baru saja Ami mau bertanya, aku tahan dengan memegang tangannya.
"Bapak takut, dengan apa yang telah bapak lakuin dulu, bapak sayang sama seseorang tapi kenapa bapak begitu bodoh menyia-nyiakannya yang juga mencintai bapak"
Ami melepaskan tanganku, tetap bersikeras ingin bertanya
"Tapi kenapa pak? Kan bapak sama dia saling mencintai? Lalu apa yang salah"
Pak Fhaisal menghembuskan nafas dengan berat dan melihat ke arah pemandangan
__ADS_1
"Bapak melakukan hal bodoh yang tak bisa bapak maafkan, padahal dia memaafkan bapak, tapi bapak seakan sangat bersalah, tak pantas, dan sangat bersalah kepadanya Ami, raka"
Ami menaikkan sebelah alisnya
"Kesalahan apa yang bapak buat sampai bapak seperti ini?"
Ami terlihat sangat penasaran sampai bertanya terang-terangan kepada pak Fhaisal. Pak fhaisal kembalikan pandangannya kepadaku dan Ami
"Bapak menghamili dia"
Tangis pak fhaisal langsung menetes dari matanya sangat deras tanpa bisa dibendung.
"Yasudah ibu antar pak Fhaisal dulu ya"
Aku melihat Ami diam dengan kosong pandangan, aku panggil dia
"Iya?"
Tapi matanya mengacuhkanku, aku merasa Ami mengalami gangguan psikologi juga, tapi kenapa aku begitu sulit menanyakannya, dia sepertinya menghindar, dan tak ingin ada yang tau, terlebih rumah yang besar, orang tua yang tak ada di rumah, dan baru tadi pagi, Ami menungguku di taman.
Kedatangan Bu cika menyadarkan aku dan Ami dengan membawa pisang goreng. "Fhaisal memang seperti itu, jika sudah menangis dia harus langsung sendiri, dia akan lama untuk berhenti dari tangisnya"
Aku dan Ami hanya diam
"Psikologi seseorang yang sudah lama akan mengakibatkan sedih yang berkepanjangan walaupun masalah yang menyebabkan sudah lama waktunya, tapi karena tidak ditangani, ia akan merasa hidup saat masalah itu menimpa, boleh ibu ceritakan awal dari semua yang menyebabkan pak Fhaisal Bu?"
Tuturku tanpa ragu, karena jika mengandalkan pak Fhaisal yang cerita itu tidak mungkin".
"Semuanya terjadi dua puluh taun lalu, Fhaisal adalah saudara ibu dari ibunya. Tapi ibunya tidak menganggap lagi semenjak Fhaisal merajut kisah cinta dengan perempuan bernama Sarah, mereka saling mencintai, sampai suatu ketika Sarah di rumah sendirian, Fhaisal menemaninya di rumah. Namanya juga manusia yang diberikan hawa nafsu dan akal, ia menghamili Sarah, sampai akhirnya Sarah mengakui kehamilannya kepada Fhaisal, tapi Fhaisal tidak percaya akan yang ia lakukan, ibu tak tau bagaimana kehamilan Sarah diketaui oleh ibunya, tapi itu membuat ibunya marah dan meminta pertanggungjawaban kepada Fhaisal, padahal Sarah bersedia untuk di nikahi, tapi ibu Fhaisal tidak menerima, dan meminta bayi yang didalam kandungan Sarah digugurkan, Sarah tidak terima, karena tetap saja yang ia kandungi adalah anak dari Fhaisal, Fhaisal tidak berbuat apa-apa, ibu Fhaisal yang tetap ingin menggugurkan kandungan Sarah, membuat ibu Sarah tak terima dan muak, pergi dari ibu Fhaisal dan Fhaisal. Semenjak itu Fhaisal kaburan diri tapi dia sudah terlambat, Sarah sudah pindah rumah. Saat Fhaisal kembali ke rumahnya, ibunya tidak menerimanya lagi, dia di usir, dan akhirnya ibu menemukan dia di depan rumah ibu, semenjak itu psikologi Fhaisal benar-benar kacau, ibu selalu mencoba menghubungi ibu Fhaisal tapi tetap tidak ada balasan dan ibu Fhaisalpun tak pernah pijakan kaki di panti jompo ibu semenjak tau Fhaisal ada disini"
Selesai itu, aku dan Ami pamit pulang kepada Bu cika, Ami tetap diam, tidak berbicara apapun. Aku anggap penelitian ini sudah beres, jadi aku dan Ami bisa langsung membuat cerita pendek, tapi aku pikir ini bukan saat yang pas untuk membicarakan tugas.
"Ka, turunkan aku di taman saja"
Aku kaget dengan permintaan Ami yang membuatku cemas, tapi dia tetap diam walaupun aku bertanya ada apa dengannya. Taman sudah ada di depan mata, ketika Ami hendak keluar dari mobil, aku menahannya, ku pegang erat tangannya
__ADS_1
"Kamu boleh cerita apapun kepadaku mi, jangan seperti ini, aku tak mau kamu menghilang"
Dia hanya mengangguk dan tersenyum dengan sangat banyak pengartian rasa yang ia rasakan. Tapi apa boleh buat, aku tidak bisa memaksanya bercerita sekarang, mungkin sekarang dia hanya perlu waktu untuk sendiri