
Ini kan jadi saksi
Pertama janji dipertemukan
Yang baru saja mengenal
Walau karena suatu tugas.
Tak usah cepat
Lebih baik perlahan
Tapi kepastian menjanjikan
Tak ada yang terluka
Di akhir titik.
Sampai senja menyapa
Kita masih ditempat
Menikmati bersama
Secangkir kopi yang ahli
Memanjakan Indra penciuman
Untuk menikmati sampai lupa
Malam mulai tampakkan hitam.
...
Raka
Satu langkah memijakkan ku di lantai kopi janji jiwa. Kakiku mengantarkan tubuhku duduk di tempat duduk yang sudah aku pesan sewaktu siang, tepat di luar ruangan, menghadap ke arah gunung yang menjulang tinggi, dengan pepohonan yang hijau menyegarkan pandangan. Sengaja aku memesan tempat duduk diluar, ku rasa Ami seorang pencinta alam, terlihat dia menginginkan tempat yang tenang. Terlebih cafe ini milik ayahku, jadi aku dengan mudah memesannya.
Aku melihat sudut muara yang mencari tepi, tepat dia mengarah padaku
__ADS_1
"Ami"
Aku memanggilnya dan langsung membalikan badan menyambut Ami yang sedang melangkah ke arahku. Anehnya rasa nyaman memandangnya memelukku lagi saat dia membalas tatapanku. Kini dia mengenakan kain berwarna biru langit menutupi auratnya, aku teduh melihatnya dengan senyuman yang melengkapi mendinginkan hangatnya mentari.
Aku memesan cofee latte dengan pancake chocolatte, dia memesan cofee with strawberry cream dan choco waffle strawberry. Sepertinya dia penikmat strawberry, karena saat baru saja ia memegang menu, dia langsung menanyakan menu strawberry.
"Yeah, I got it"
Sial, apa-apaan ini, hati memang tidak membohongi perasaan yang ia rasakan, tapi apa waktu tak akan menertawakan, baru saja aku mengenalnya tadi pagi, kenapa hati sudah senang mengetaui kesukaannya.
Dia melihat ke arah gunung, mengukir setengah lingkaran di bibirnya, matanya berkonstalasi dengan semesta sedangkan mataku sibuk mencari celah matanya, dan
"Ayo, dari mana kita mulai?"
Suaranya menyadarkan jiwaku dari lamunan, akupun tersenyum malu, dia membalas heran melihatku yang tersenyum sendiri, aku memberi pendapat untuk melakukan penelitian di panti asuhan, tapi dia membuka suara
"Ku rasa, itu sudah tidak menarik, pasti banyak kelompok lain yang mengambil penelitian di panti asuhan dan pasti objeknya anak-anak. Bagaimana kalau kita meneliti di panti jompo?, Pasti ada orang tua yang bermasalah psikologinya, entah itu kenapa, dan aku penasaran adanya".
Senja telah berpindah ke matanya, sepertinya dia pandai berlagu, suara lembutnya memanjakan telingaku, menyunggingkan bibirku, menyadarkanku akan kemenarikan idenya, membuat kepalaku kontras mengiyakan.
"Nah, kalau begitu kita ke panti jompo cinta kasih saja, yang dekat dari sini, disana jumlahnya lumayan banyak".
"Tahun depan Raka"
pada intinya besok yang ia maksudkan, aku dibuat malu dan nyaman melihatnya tertawa menertawakanku.
Aku menanyakan rumahnya, agar aku bisa menjemputnya, sekaligus meminta izin kepada kedua orang tuanya, namun dia menolak, dia hanya meminta langsung bertemu disana saja jam sembilan pagi, karena katanya orang tuanya tidak ada di rumah. Tanpa menggali penasaranku ini, aku hanya membalas dengan anggukan kepala.
Senja mulai memeluk kamu dalam dialog syahdu yang tercipta diantara kamu, entah apa yang mengundangnya, dia bercerita kenapa dia mengambil fakultas sastra bahasa Indonesia dalam sejarah hidupnya
"Aku tak tau, tapi semenjak aku SD aku mulai tau bagaimana cara bercerita dengan kertas bisu namun aku rasa ia berbicara, aku, seorang yang sulit mempercayai orang lain mendengarkan ceritaku, perlahan aku menyukai puisi yang menenggelamkanku kedalam lautan makna yang tak tersurat kalimat. Sejak saat itu aku jatuh cinta dengan sastra, mempelajari setiap jenis sastra dan sampai sekarang dia perantara setiap alur cerita hidupku".
Mendengar itu, aku bertanya tentang dia yang sulit bercerita kepada orang lain, apa aku tidak termasuk pada kategori itu?
"Aku tidak tau kenapa, hatiku begitu saja menginginkan aku bercerita".
…
Ami
__ADS_1
Sudah kuduga, mereka, kedua orang tuaku sudah hilangkan jejak di rumah. Hanya bi Ros yang ada dan pak Asep yang akan mengantarkanku ke kopi janji jiwa. Lagipula, ada atau tidak adanya mereka tak mempengaruhi suasana rumah, kalaupun ada hanya ada suara perdebatan yang terdengar dari dalam kamar.
Aku sampai di kopi janji jiwa tepat jam dua lewat lima menit, baru saja aku akan membuka pintu, ada suara yang baru saja aku kenal memanggilku,
"Hai ka!"
Jawabku dan melangkah tepat kearahnya.
Siang teduh ini dia dipeluk dengan mantel merah maroon, yang lagi-lagi sama dengan warna amplop waktu pagi menyapaku. Dia berdirilah badan menyambut kedatanganku, sampai aku duduk di kursi sebelahnya, dia baru dudukan diri lagi. Barista menghampiri aku dan raka, memberikan menu yang bisa dipesan, aku langsung menanyakan menu strawberry, sedangkan Raka, dia langsung memesan cofee latte dan pancake chocolatte tanpa membuka menu dan menanyakan persediaannya.
Semesta mengajak mataku bermain dengan indahnya semesta, senja memang tak pernah mengecewakan penunggunya, Raka tau sekali tempat pas untuk menikmati momen ini. Senja perlahan terlihat, akupun tersadar dari pelukan semesta dan langsung memulai pembicaraan. Sepertinya dia sedang berpikir
"Bagaimana kalau kita melakukan penelitian di panti asuhan, sepertinya akan banyak anak dibawah umur yang sudah terganggu psikologinya"
Aku kurang suka untuk idenya, kurasa itu sudah hal biasa, pasti sudah banyak kelompok yang mengambil penelitian di panti asuhan, terdengar percakapan dua orang disebelahku yang sedang membicarakan akan memasukan nenek dan kakeknya ke panti jompo. Seketika saja lampu terang menghasilkan ide yang bisa kukatakan menarik untuk dicoba. Tidak panjang aku menjelaskan, dia sudah menganggukan kepalanya, dan tersenyum mengukir kata
"Kira-kira kita akan ke panti jompo mana?"
Aku langsung teringat dengan panti jompo cinta kasih yang pernah aku kunjungi saat semesta pertama aku kuliah, dan letaknya tak jauh dari sini. Raka pun tau keberadaannya. Dia langsung bertanya kapan dimulainya
"Tahun depan"
Tawaku pecah saat mengatakan itu, muka jahilku berkenalan dengan muka malunya. Dia lebih menggemaskan saat malu, dan untuk keberapa kalinya dia membuatku rindu akan seseorang yang entah siapa.
"Dimana rumahmu?"
Dia seketika bertanya, dan seketika pintu rumah yang dingin terbayang untuk tau, pasti nanti perlahan dia akan tau, tidak untuk saat ini.
"Tidak, kita langsung jenjian saja disana jam 9 pagi"
Jawabku dengan tunduk, tak mau terbaca pikiran, karena setauku anak psikologi itu bisa membaca pikiran orang dari daun wajah saja. Dia menaikan alis kanannya dan bertanya demikian. Padahal ia hanya ingin menjadi lelaki tanggung jawab.
Diam sebentar melingkari kita berdua, dan senja menghipnotis dua mata kita, tapi kenapa aku secara tak sengaja tanpa rencana bercerita kepadanya tentang kenapa aku mengambil fakultas sastra bahasa Indonesia kepada raka, Raka yang baru saja aku kenal tadi pagi, mengapa dengan mudah mengundang kisahku terceritakan oleh aku sendiri. Saat aku tiba di titik akhir cerita,
"Kalau kamu, kenapa mengambil fakultas psikologi?
"Tak tau kenapa, Sukma yang begitu meminta, naluri yang ikut setuju, dan nalar memaksa mencari, tentang mereka yang mengalami gangguan psikologi. Aku, seorang yang kepo,mi. Bahkan sekarangoin aku ingin tau semua tentang kamu"
Aku hanya diam melihat mata yang mengasihi ku, bukan hanya kau, tapi semestapun menjadi saksi temu pertama ini.
__ADS_1