
Satu ketika
Aku benar-benar terjatuh
Dari masalah yang memuncak
Bantu aku temukan kamu
Aku tertampar begitu merah
Sakit tak kuat aku tahan
Beginikah kalian sebenarnya?
Apa mau kalian?
Serasa aku tak dianggap
Kenapa aku harus terbawa
Suasana ini menyakitkan
Anak kalian yang seharusnya tidak tau
Harus merasakan hidup tanpa kasih dan sayang.
...
Raka
Aku menunggu Ami keluar dari rumahnya, setelah aku memberitaunya, aku sudah sampai di depan rumahnya, sepertinya ami sedang makan karena ketika aku menelponnya ada suara sendok dan garfu. Akhirnya Ami membuka gerbang dan membuka pintu mobil
"Halo Raka Fhaisal"
Aku tersenyum, sekarang diam-diam Ami menggodaku dengan lembutnya sapaannya
"Hai amigea, selamat pagi"
Aku tersenyum melihat dia tersenyum sendiri, untungnya mood dia sedang membaik, aku harus menjaga jangan sampai ada yang mengacaukan.
Kampus telah aku pijaki dengan Ami, aku dan Ami berjalan berdampingan bersama, tidak sedikit mata yang fokus terhadap aku dan Ami, terlebih Ami termasuk perempuan yang banyak disukai banyak laki\-laki di kampus, karena memang ami cantik, sangat cantik.
Ami meraih tanganku, menuntunku ke belakang kampus, sebelumnya aku tak pernah sekalipun ke belakang kampus selama aku belajar disini. Ternyata di belakang kampus indahnya tak bisa aku ungkapkan
"Bagaimana? Kita membuat cerita disini saja yak"
Aku masih belum bisa berbicara apapun, hanya menganggukan kepala jawabanku. Ami meraih tanganku lagi dan mendudukkanku di bawah pohon.
"Ayolah Raka, sadar, jangan seperti baru lihat tempat indah saja, aku bosan"
Aku tertawa mendengar keluhan Ami, dan mulai menekan hidungnya, Ami malah tertawa memperlihatkan giginya, oh betapa manisnya dia tertawa.
"Yuk, kita mulai membuat cerita"
Ami mengangguk dan mengambil buku dan pulpennya.
Selama membuat cerita, aku tak lepas dari memandang Ami menulis, matanya yang semakin indah saat menulis menyadarkan keindahannya melebihi semesta. Mungkin Ami tau kalau aku sedari awal tak lepas memandangnya, dia mencoretkan pulpen ke mukaku, aku malah diam tertawa melihatnya yang bahagia mengerjai aku
"Amigea"
Godaku tak ingin kalah dengannya, tapi tetap saja perempuanlah jagonya menggoda
"Raka Fhaisal"
Godanya balik, dan melempar bukunya kepadaku, aku membukanya, membaca cerita yang baru saja dia buat. Aku terbawa oleh arus cerita yang dia buat, sampai aku meneteskan air mata.
"Ih lebay ah Raka"
Aku hanya tersenyum mendengar ami berkata itu
"Kamu memang ahlinya membawa perasaan orang ya mi, tidak cukup perasaan aku aja ya"
Aku tertawa mendengar aku sendiri yang berkata seperti itu, apalagi Ami, yang aku goda.
Sudah Dzuhur, aku mengajak Ami pulang, lebih baik pulang saja, tugaspun sudah beres, tunggu waktu yang tepat saja.
"Nih buat supir kecew aku"
Tanpa aku pedulikan sindiran Ami, aku langsung mengambil botol minum yang Ami tawarkan. Aku bukakan pintu mobil untuk Ami, masuk ke mobil, Ami langsung mencari album favoritku, dan memutar lagu Ed Sheeran perfect. Saat ini aku dan Ami bernyanyi sangat bahagia tanpa aku merasakan sedikitpun kejanggalan dari matanya. Aku hentikan mobil, karena sudah sampai, Ami membuka pintu dan keluar dari mobil. Aku memutar balikan mobil dan melambaikan tangan kepada Ami
"Dah, sampai berjumpa kembali"
__ADS_1
Salam perpisahan sementara Ami untuk aku, aku hanya tersenyum dan membalas lambaiannya.
…
Ami
"Assalamualaikum"
Hanya ada suara bi Ros yang menjawab, aku langsung ke atas, kamarku, lagipula daripada aku diluar dan melihat muka-muka yang tak ingin aku sebut. Aku diam tak keluarkan diri sampai senja tidak malu keluar dari semesta.
Aku melihat keluar jendela,
terbawa suasana semesta, aku merasa ngantuk, tiba-tiba
"Bruk!"
Suara vas bunga jatuh, aku tak habis pikir dengan ayah dan ibu, mengapa harus perang disaat seperti ini, suara sayatan pisau menusuk relungku
"Ami anakku, kamu tidak bisa membawanya begitu saja, aku yang melahirkan dia ke dunia"
Betapa kagetnya aku mendengar suaranya ibuku pecah, tangis hujan suaranya kini.
Dan tak lama ada suara tamparan yang begitu kencang, suara kaca di jatuhkan begitu sangat keras terdengar, mengapa ayah seperti letak titik permasalah nya. Ayah semakin lama, semakin mengeluarkan bahasa kasar. Aku keluar dari kamar, melihat kebawah, betapa berantakannya rumah ini dari atas, aku langsung keluarkan diri
"Ami, amigea"
Panggil ibuku, aku hanya lurus ke depan untuk cepat keluar dari rumah ini. Sedari tadi aku sudah menahan hujan Yang sudah teruap di dua pelupuk matanya, aku lari, membuka handphone menanyakan keberadaan rumah Raka, untung saja rumah raka tak terlalu jauh dari rumahku. Aku berlari dengan mata yang membengkak karena aku sudah teteskan hujan kesedihan.
Aku langsung buka pintu pagar rumah Raka, masih dengan keadaan basah dengan hujan dari mataku, Aku mengetuk pintu rumah raka dan berharap Raka yang membukakan pintu. Tuhan memang menyayangiku, aku langsung senderkan kepala di pundaknya
"Kamu kenapa Ami, coba sini aku liat"
Aku semakin lepas hanyut terbawa arus dengan memori yang tadi berlangsung, dan terperangkap oleh rasa yang sudah sedia lama aku rasakan. Raka menenangkan aku dengan mengelus kepalaku. Dia membawaku masuk dan memanggil ibunya. Aku tidak tau jika ada orang tuanya di rumah, itu karena rumahku saja yang selalu tidak ada orang tua.
Ibu Raka benar\-benar teliti memperhatikanku, dan senyum kepadaku, aku hanya senyum membalasnya. Ibu Raka memegang tanganku dengan penuh cinta dan sayang
"Amigea?"
"Ibu titip Raka ya, Raka sudah cerita banyak kepada ibu tentang kamu"
Aku tersenyum malu mendengar ibu Raka membuka segala tentang Raka, sedangkan Raka sedari awal disini menahan suara sanggahannya.
"Kamu nginep aja ya"
Aku belum menjawab, tapi ibu Raka sudah meraih tanganku dan menuntunku ke dalam kamar yang sudah disediakan, memang buah jatuh gak jauh dari pohonnya, ibunya begitu erat menggenggam tanganku, sama seperti Raka yang selalu tiba-tiba meraih tanganku dan menggenggamnya dengan sangat erat.
"Ami ayo makan"
Suara raka menjadi pengingat untukku, untungnya aku ingin keluar untuk makan malam, aku lapar sekali, sedari siang aku belum makan. Saat sudah berkumpul di meja makan, Raka memulai percakapan menghadirkan tawa kerena ter-undang candaan, aku baru merasakan bagaimana bahagia dalam ruang meja makan, walaupun ini bukan keluargaku, setidaknya mereka mengenalkan ku bagaimana keluarga yang sedari dulu aku harapkan.
Malam gelap menjadi saksi bahwa aku pernah merasakan bahagia dalam keluarga walaupun sudah jelas aku orang lain, tapi ini sudah lebih dari cukup untuk membuat setengah lingkaran di bibirku, Dari sini waktu mengajarkan, untuk bahagia dengan siapapun, dan cinta itu harus tetap untuk sang pemilik hati.
…
Raka
‘tok tok’
Aku mengetuk lagi pintu kamar yang ami tempati, hatiku tak tenang dengan keadaan ami sekarang, dia butuhkan sekarang adalah ketenangan yang memberi perhatian bukan ketenangan yang memberi kesepian. Aku akan mengajaknya ke tempat ramai tapi tenang untuk berbagi rasa tepatnya di sebuah dataran tinggi tapi semesta akan bercerita langsung apa yang ia rasakan sekarang. Ami membukakan pintu, wajah yang menyembunyikan berjuta rasa yang ingin ia bebaskan terwakili oleh redupnya muara yang terpancar, dengan tenang ami menjawab
“apalagi raka fhaisal?”
Aku langsung memelukan tanganku dengan tangannya, menuntunnya keluar menuju ke mobil, ku berikan sweater merah maroon dengan senyuman hangat, tapi yang membalas senyuman adalah garis hitam di atas mata yang tertarik kaget.
“ayo ikut denganku tuan putri, izinkan aku mengawalmu malam ini”
Ami tertawa, dan langsung mengambil sweater yang sedari tadi ssudah aku sodorkan, aku membukakan pintu mobil dan sebelum ia masuk, ia balik menggodaku, dengan membalas rayuanku sebelumnya, Yang benar saja, aku begitu terbawa angina rasa seketika itu, pikirku dia tidak akan menuruti panggilan awalku, kalau begitu kenapa aku tidak menjadikan tahtaku seorang pangeran jika memang ia sukai tahta putri.
…
Ami
__ADS_1
Aku di kagetkan dengan ketukan pintu dan suara raka yang memanggilku untuk keluar. Gagal sudah detik\-detikku pejamkan mata, ku harap memang ini urusan penting sampai\-sampai harus aku beranjak dari tempat tidur. Aku membuka pintu dan bertanya atas panggilan apa dan siapa ia kemari. Dia hanya tersenyum dan meraih tanganku dan memeluknya dengan erat. Dia mengeluarkanku dari rumah dan tepat berhenti di depan mobilnya, mempertemukan sepasang mata sampai beradu Tanya tentang apa, dia sudah langsung menyodorkan sweater merah maroonnya yang ia pakai sejak kali pertama bertemu atas ikatan janji. Dia tersenyum dan menggodaku dengan sanjungan tuan putrid an dia pengawalnya, ya sudah aku balas dia dengan senang hati
“terima kasih pengawalku, tuan putri masuk ya”
…
Ami
Di mobil ia memberikan kain putih kepadaku, tapi dia diam tak bicara apapun, bagaimana mungkin aku ambil, jika aku tak tau apa maksudnya, pekapun ada batas kewajarannya, terlebih raka memang bukan siapa\-siapaku, aku tak tau apa ini sudah takdirnya, atau ini hanya kebetulan tempat atau saat takdirnya bertabrakan dengan takdirku karena sama atau tertulis berdampingan sama seperti titik awal aku mengetaui namanya yang berdampingan disebelah namaku saat pembagian kelompok tugas semester. Aku diam tak sama sekali bertanya untuk apa
“pakai dan halangi matamu dengan kain ini tuan putri, akan kutunjukan sesuatu kepadamu”
Raka tidak menoleh ke arahku, karena ia sedang saat dalam kondisi menyetir, raka memang konsisten terhadap segala sesuatu, sepertinya dia tidak oernah menemukan kata sepele dalam hidupnya. Tanpa harus banyak bertanya, aku ambil kain yang raka sodorkan, aku pakai dan seketika semesta padamkan cahaya mata.
Suara mobil sudah terdengar mati, dan aku tersadar dari lamunan yang hadir karena gelap yang aku hanya lihat, tanpa tunggu waktu lama, raka meraih tanganku dan memulai pembicaraan untuk mengetes kesadaranku
“tuan putri amigea”
Aku tersenyum dulu mendengar irama yang terlantun dari harmoni suara raka
“iya pengawal aneh, masa tuan putri diginiin sih?”
Tawa raka langsung aku dengar dan maknai, anehnya, dia masih sempat saja mencubit bibirku saat mataku ia tutupi
“ayo makanya cepat”
Aku langsung eratkan pelukan tangan aku dengan raka yang membawaku entah kemana dan sedang ada dimana.
“nah akhirnya sampai juga, ayo buka 1,2,dan 3! Bagaimana tuan putri?”
Tadinya mataku tak melihat apapun, kini cahaya semesta bercerita dari mata semesta ke mataku dengan beribu macam warna cahaya yang terungkapkan di dataran tinggi ini, aku menengokkan pandanganku kepada raka yang sudah sedari tadi memandangku dari samping, aku tersenyum, raka tersenyum, tanganku menghampiri tangan raka, dan jari kami saling bertautan, akhirnya tangan kananku dengan tangan kiri raka berpelukan, aku bercerita kebahagianku dengan raka dari mata ke mata, dan aku berterima kasih kepada tuhan dari hati ke hati tentang malaikat yang berada disampingku saat ini, dan akupun memanjatkan do’a untuk bersamanya selama-lamanya.
...
Ami
“terima kasih pangeran raka fhaisal”
Aku dan mataku langsung terjengah dari kenikmatan menatap matanya, aku tersenyum dan menggaruk kepalaku yang sama sekali tidak gatal, tanpa ku sadari kepiting rebus diam dipipiku dan membuat ami tertawa tanpa main bahagianya, dan aku? Aku menutup pipiku dengan telapak tanganku dan membalikan pandanganku dari ami untuk membiasakan diri lagi.
Aku mempertemukan mataku dengan matanya lagi, dan aku hanya diam seperti diikat tarik oleh matanya yang meneduhkan, tanpa sudari dia tertawa lagi dan
“pangeran raka fhaisal, putri bilang terima kasih belim di jawab-jawab gimana sih?”
Pikiranku langsung kembali, benar-benar kembali dan untungnya aku bisa menjawab pertanyaan ami dengan biasa
“iya tuan putri cantik, sama-sama”
Sekarang dia tersenyum sangat manis sampai rasanya aku seperti mengidap diabetes karena empat hari ini aku kelebihan menikmati senyum ami yang manis.
“raka, menurutmu..apa arti keluarga sebenarnya?”
Ami langsung bertanya tanpa memulai pembicaraan seperti biasa, apa memang yang membuat ami pergi ke rumahku adalah keluarga, ada apa dengan keluarga ami? Mana mungkin aku tidak bisa menebaknya selama empat hari ini, aku tau, aku baru bersamanya dalam hitungan jari, tapi betapa bodohnya aku tidak bisa membaca perasaan ami hanya karena ia selalu tersenyum dan kelihatan bahagia di depanku, dan pastinya aku tidak bisa menanyakan dia sekarang dan memintanya cerita sekarang dalam keadaan dan tempat seperti ini, aku hanya harus bisa menenangkannya dan meyakinkannya sebagaimanapun hancur keluarganya, siapapun yang menyebabkan, pasti dalam hati yang terdalam inginkan membaik, inginkan bersatu dan selamanya seperti itu
“menurutku, keluarga adalah segalanya. dimanapun kamu belajar keluarga adalah tempat belajar pertama kamu berbicara, jalan, bahkan sekedar berinteraksi dengan sesamapun belajarnya pertama kali dengan keluarga dan gurunya adalah orang tua. Bersama siapapun kita berkelana itu karena keluarga, bahkan sampai akhirnya kita dimakan oleh bumi pasti bersama keluarga. Itu menurutku. Dan aku sangat bersyukur walaupun aku mempunyai ayah yang selalu sibukan diri diluar rumah, aku tetap bahagia, kamu tau setiap tingkah manusia itu pasti ada sebabnya, aku belajar itu dan aku rasakan kebenarannya”
Ami tersenyum sambil memalingkan arah pandangannya
“iya ka, pasti semua tingkah manusia ada sebabnya, tapi aku tak pernah menemukan sebabnya, aku hanya menemukan kesakitan dari diam-diam nya rahasia mereka sembunyikan dariku, dan aku hanya mendengar jawaban dari setiap lagu-lagu yang secara langsung menyayat hati, aku….”
Dia menyeka air matanya dengan tangan dan suara isakan yang membuatku memegang tangannya, dan menjadikan sepasang mata aku dan ami saling berbagi suka dan duka
“aku yakin, kamu kuat, aku yakin, pasti ada tempat istirahat yang indah disetiap perjalanan yang sakit dan aku siap jadi tempat pengistirahatan kamu mi, dan aku yakin, ending cerita hidupmu pasti indah”
Ami tersenyum dengan tangisan yang belum saja berhenti dari awan putih matanya, dia tetap indah walau sedang menangis terlebih tangisannya yang bercerita kepadaku, betapa kuatnya dia menahan cerita hidupnya tanpa sama sekali aku rasakan selama aku sedang bersamanya. Izinkan dan dengarkan aku berjanji tuhan, aku akan bersamanya sampai akhir hayat, dan semoga aku memang jodohnya, amigea
…
Ami
“Izinkan dan dengarkan aku berjanji tuhan, aku akan bersamanya sampai akhir hayat, dan semoga aku memang jodohmu, amigea”
Dia berjanji, aku langsung memeluknya dari depan menceritakan kepada tuhan bahwa pengharapanku sama dengan harapannya, aku sangat berharap
“aku langsung memohon kepada tuhan untuk mengabulkan do’a dan harapan aku dan kamu”
Raka membalas pelukanku, aku dan raka tenggelam dalam rasa yang ingin sangat dikabulkan. Aku melepaskan pelukan, dan menghapus air mataku dari permukaan wajahku. Aku berharap momen ini terekam dalam amygdala raka dan aku sudah pasti tak akan melupakan momen ini dengan janji yang tergantung di langit malam dan berharap tuhan baca dan kabulkan.
“ ayo pulang, udara malam tak baik untukmu”
__ADS_1
Aku meraih tangan raka yang sudah menunggu tanganku sedari tadi, aku danraka berjalan mendekati mobil, raka membukakan pintu mobil dan aku langsung masuk tanpa bicara, dalam mobil aku melihat raka yang sedang mengendarai mobil dengan begitu sangat bertanggung jawab
‘aku inginkan dia tuhan, sangat inginkan dia”