AmiKa

AmiKa
awal yang keberapa kali


__ADS_3

Kita bertemu lagi


Ini seperti pertemuan kali pertama


Aku harap


Ini menjadi awal untuk kesembuhanmu.


Aku bermimpi


Aku dan kamu bertemu


Kamu memanggilku dan


Memperkenalkan dirimu.


Aku bahagia


Aku telah mengungkapkan rasa


Walau bukan atas nama diriku


Tapi setidaknya itu aku yang kamu ingin tahu.


Aku bahagia


Mendengar cerita darimu


Dan akhirnya kamu juga


Mau menemani hariku.


...


Ami


Hari ini, setelah aku kembali bertemu dengan aisha. Aku berjalan bersama aisha di permukaan kampus ini. aku seakan merasa hanya aku yang mempunyai sahabat terbaik. Kurasa semesta iri dengan kebahagiaanku hari ini. dimulai dari raka yang berkenalan denganku, dan sekarang aku kembali bersama dengan sahabat kecilku, aisha.


“sha aku rindu gingsulmu”


Aku memandangnya, dia tersenyum dengan memamerkan gigi yang bergingsulnya, aku tertawa karenanya


“jelek ih”


Celetukku dengan tawa yang bermakna menertawai tingkahnya


“katanya rindu gingsul aku?”


Aisha memanja dengan cubitan hidung yang tidak sakit sama sekali. Aku mengulurkan lidah meledek aisha. Baru saja tangan aisha akan mencubit hidungku, aku sudah beranjak dari posisi menjauh dari aisha. Kakiku melangkah jauh dan cepat dari aisha yang berusaha menyejajarkan posisi denganku.


“Amigea, awas ya!”


Aku membalikan badan, langkahku berhenti, aku membuka tangan menelentangkan tangan tanpa ada belokan yang bersudut. Disana, aisha berlalri cepat,dan akhirnya datang didepanku, menerima rentangan tangan yang menjamu pelukannya.


“awas jangan berlari jauh dariku lagi aisha”


“iya sayangku”


Aku dengan aisha berpelukan seperti pelukan sepasang anak kecil yang baru bertemu lagi. Kedua kaki ikut menari ke kenan ke kiri dan badan sudah terkendali oleh harmoni rasa bahagia yang melantun di denyut nadi.


Handphoneku bersuara, memberitahu ada pesan masuk untukku. Aisha menarik tanganku, menyilahkan aku duduk di kursi taman yang dia tuju. Aku duduk, tapi dia beranjak kembali dan melangkah entah kemana, mungkin dia hanya ingin ke toilet atau mencari air minum lalu kembali lagi. Aku mengambil handphone yang sudah bersuara tiga kali memanggilku. Ternyata ada pesan yang masuk di whatsapp


‘assalamualaikum Amigea’


‘ini Raka Fhaisal, aku sedang di rumah sakit’


‘aku ingin kamu disini, lihat saja alamatku di GPS’


Aku langsung berdiri dari dudukku. Air mataku menggenang di pelupuk mata. Aku menengok ke kanan ke kiri, apa yang harus aku lakukan? Dimana aisha?. Akhirnya aku melihat aisha sedang berjalan. Aku langsung menghampirinya yang sedang bingung menatapku dengan tangan yang menggenggam dua botol air putih. Aku meraih tangannya, aku ajak dia berlari ke tempat yang aku tuju.



Raka


“raka!”


Aku melihat perempuan yang sedari tadi memanggilku dari kejauhan. Aku tidak melihat dia siapa, pijakan dia jauh dengan pijakanku.


“raka!”


Dia memanggil lagi, kini diiringi dengan lambaian tangan. Kakiku melangkah begitu saja. Langkahku kosong, tak tahu siapa yang aku tuju, tak tahu untuk apa aku menghampiri. Langkahku berhenti seketika wajahnya mulai nyata aku lihat. Senyumnya mulai terukir di mataku


“raka”


Kini dia memanggil dengan menjamu kedekatan jarak yang aku buat. Dia masih tersenyum, dia membuat aku membalas senyumannya


“raka, ini amigea”



“ami!”


Aku melirik ke kanan ke kiri. Ada seina, ayah dan ibu. Mereka terlihat kaget melihatku.


“a..mi”


Aku menutup mulut yang merangkai huruf menjadi sebuah nama yang spontan aku ucapkan tadi. Aku melihat bayangan kejadian mimpi yang membangunkanku dari tidur yang entah kapan lelapnya. Aku melihat, ami yang memanggilku, dia tersenyum kepadaku


“kamu kenapa ka? Tadi kamu manggil siapa? A?”


“ami”


Aku langsung menjawab pertanyaan ibu tanpa koma. Tapi ibu tak langsung merespon jawabanku. Apa ibu mengenal ami? Rasanya akupun baru mengenalnya.


“handphoneku mana bu”


Seina yang mengabulkan permintaanku, dia memberikan handphoneku yang ternyata diam di atas meja sebelah aku berbaring. Jariku menari-nari di atas layar handphone, membuka kontak, mencari sesuatu yang aku tak tahu sebabnya kenapa. Akhirnya aku menemukan sebuah nama yang aku cari di kontak ‘amigea’. Aku menyentuh gambar surat, lalu mengetik huruf merangkai kalimat yang dari tadi menunggu untuk terungkap


‘assalamualaikum Amigea’


‘ini Raka Fhaisal, aku sedang di rumah sakit’


‘aku ingin kamu disini, lihat saja alamatku di GPS’


Aku mengirimnya satu persatu tanpa jeda yang lama, tanpa ada koma yang lama aku tekan tanda panah. Tiga pesan dariku telah terkirim ke ‘amigea’.


“ka?”


Panggilan seina menyadarkanku akan pandangan seina, ibu, dan ayah yang memerhatikan entah dari kapan. Aku mengeryitkan kedua alisku, tak mengerti akan pandangan yang memperlihatkan keheranan mereka.


“kenapa?”


Aku bertanya dengan sangat santai tanpa beban. Seina yang memanggilpun tak membalas


“siapa ami?”


Ibu bertanya dengan sangat datar tanpa memohon. Aku menghembuskan nafas


“aku tidak tahu. Aku baru mengenalnya tadi di kampus. Aku tak tahu, aku ingin bertemu dengannya. Aku bertemunya di mimpi”.


“Alhamdulillah ya Allah”


Ibuku langsung mengucapkan puji kepada tuhan setelah aku menjawab pertanyaannya. Aku sedikit heran


“kok Alhamdulillah bu? Ada apa?”


“tidak nak, ibu hanya merasa lega”


Ibu menjawab dengan senyuman yang begitu lega. Aku tidak tahu harus bertanya apa lagi, lagipula tidak kenapa-kenapa.


“ibu, beli makanan dulu keluar ya nak”


Aku mengangguk memberi jawaban untuk ibu. Ibu tersenyum melihat responku, lalu langsung keluar dengan tujuan yang sudah aku tahu.


Tak jeda lama ibu keluar. Seina keluar dari ruangan, tak ada keingin tahuan yang menahan dia keluar. Aku tenang, asik sendiri meng\-scroll layar handphone. Sebenarnya aku sedang menunggu kahadiran seseorang yang aku undang.



“assalamu’alaikum”


Salam menyadarkan keasikanku dengan hal yang tak jelas


“wa’alaikumsalam”


Aku beralih melihat ke pintu yang terbuka. Dia yang masuk, Amigea. Pandanganku kosong, melihat dia masuk sendiri. Dia berjalan, menunduk kebawah, tak melihatku. pandanganku kembali terisi dengan jarak ami yang mulai dekat denganku


“ami”


Aku terpeleset melafalkan nama ami. Dia langsung memperlihatkan wajahnya yang dari tadi menunduk tak melihatku, untung saja dia tidak menabrak sesuatu. Dia tersenyum


“raka”


Suara lembutnya menjawab panggilanku. Senyumnya tertutup kain, aku tak tahu itu apa? Ibu dan seina juga tidak memakai. Walaupun demikian, aku seperti sudah melihat senyumnya, senyumnya terukir di bayangan mataku. Sejak tadi di lapangan basket dia duduk, aku seperti ikan yang kena pancingan. Aku tersenyum membalas senyumnya. Seketika matanya mengungkapkan kekhawatiran


“bagaimana keadaanmu?”


Nadanya bertanya sangat cemas. Aku tersenyum membalasnya. Sepertinya dia memerhatikan ragaku dari ujung ke ujung


“duduk dulu di sampingku”


Ami hanya mengangguk membalas jamuanku. Dia melangkahkan tujuan ke kursi yang berdiri di sampingku berbaring


“aku kira kamu tak akan kesini karena kamu tidak membalas pesanku”


Aku memulai tanda petik. Aku tersenyum memandangnya yang berada dekat denganku. Matanya teduh untuk dipandang, membuatku tak ingin ada yang sadar akan keteduhannya selain diriku saja, tapi siapa aku?.


“saat membaca pesan darimu, aku langsung melangkah pergi kesini”


Ada bahagia yang teramat saat dia mengungkapkan. Aku tersenyum memandangnya


“aku sudah dari kemarin disini, hanya saja baru tadi sadar dari koma, hehe”


Aku tertawa yang tak bahagia, leih tepatnya malu akan ungkapan yang dia tidak tanyakan. Senyumnya tersirat di lengkung alis yang ikut tersenyum


“siapa lagi yang nanya!”

__ADS_1


Dia menjawab dengan nada yang jahil meledek. Aku menggaruk kepala yang sama sekali tidak gatal.


“awwwww”


Aku mengeluarkan refleksi rasa sakitku


“eh, jangan di garuk dong, kan sakit”


Tangannya langsung spontan menghampiri dan mengusap daerah kepala yang tadi aku garuk. Aku memandangnya, dia memandangku. Dia langsung menarik tanganku, wajahnya bercerita akan kegugupan yang dia rasakan.


“maaf ka, aku gak sengaja”


‘iya, tak apa mi, aku senang”


Dia memandangku aneh. Sepertinya dia aneh mendengar jawabanku. Aku tersenyum menenangkannya


“tak apa mi. aku senang kamu datang”


Dia hanya mengangguk.


“aku ingin bercerita”


Aku meminta seperti anak kecil yang belum mendengarkan cerita. Ami tertawa pelan menertawakanka


“lah kok ketawa?”


Aku heran dengan tingkahnya yang masih membuatku bahagia walaupun dia menertawakanku


“tidak, aku tidak menertawakanmu, aku hanya ingin tertawa saja”


“ya sama saja amigea”


“pinter juga ya raka fhaisal”


Aku dan ami tertawa menertawakan jawaban diri masing-masing.



Ami


Tanganku menuntun tangan aisha berlari ke angkutan umum yang hendak akan berjalan


“ayo mas jalan, ini darurat. Ke rumah sakit siloam ya”


Supir angkot mengangguk dan langsung mengendarai mobil. Aku menunduk, menahan kepala dengan tangan. Mataku sudah melihat bayangan raka yang sedang terbaring di tempat tidur fasien. Air mataku jatuh satu tetes, langsung aku menyeka dan menghapus agar tidak terlihat oleh aisha.


Aisha melirikku, yang diam dengan wajah tertutup. Tangan aisha menghampiri tanganku, jari\-jarinya saling berpelukan dengan jari\-jariku. Aisha diam saja, tidak berbicara apa\-apa, mungkin dia tahu apa yang aku butuhkan sekarang. ‘raka sabar, aku segera datang’



Akhirnya angkot yang aku dan aisha naiki berhenti juga.


“nih mas, makasih yah”


Aku memberikan uang kepada mas tukang angkot. Aku tarik lagi tangan aisha keluar dari angkot.


“ya, sama-sama neng”


Mas tukang angkot membalas dan menerima uang dariku. Langkahku cepat seketika, sesudah memasuki pintu masuk rumah sakit, membuat yang aku tuntun melepaskan tangannya dari genggamanku


“mi, pelan-pelan dong, jangan panik!”


Langkahku berhenti mendengar apa kata aisha. Aku sadar, aku panik. Tapi


“maafkan aku sha, memang benar aku panik. Maaf”


Aisha mengedipkan matanya


“ayo”


Sekarang aisha yang menuntunku. Aku tersenyum, aisha so sweet sekali


“sha, kamu so sweet banget sih”


Aisha secara otomatis berhenti, mempertemukan mataku dengan matanya. Aisha tersenyum malu, pipinya merah. Aku sudah pasti tersenyum jahil untuknya


“kalau aja kamu cowok sha, aku pasti ngejar-ngejar kamu” aku menggodanya dengan kemustahilan


“eh eh, tuh raka!” pipi aisha semakin memerah saat menjawabku


“kan kalau sha, ya sekarang sudah jelas raka lah!”


“iya iya bawel!”


Aku tertawa jahil mendengar jawabannya yang menjulukiku dengan ‘bawel’.


Aku melihat aisha kedepan. Baru saja, aku akan berbicara. Di belakang aisha, ada seorang perempuan yang aku sangat kenal siapa.


“bu sarah!”


Aku memanggil bu sarah yang mulai dekat denganku. Bu sarah tersenyum, lalu berlari mendekatiku


“anakku, amigea”


“apa yang terjadi bu?”


Bu sarah melepaskan pelukannya pelan-pelan. Aku tak melihat satu tetes yang jatuh di bak indah bu sarah. Yang aku lihat, senyuman yang begitu bahagia dan bersemangat. Tangan bu sarah meraih tanganku, memelukan tangannya dengan tanganku. Bu sarah tersenyum dengan berjuta rasa yang tidak tidak bisa aku pastikan. Bu sarah menarik nafas besar


“raka koma, tapi dia sudah sadar. Kamu tahu nak?”


Aku menggelengkan kepala dengan kaku dan takut apa yang telah terjadi dengan raka


“saat raka bangun dari komanya, dia memanggil namamu”


Bu sarah sangat bahagia mengungkapkannya kepadaku. Aku sudah pasti merekahkan senyuman yang sangat berarti bahagia yang teramat. Sekarang aku yang memeluk bu sarah. Bu sarah membalas dan mengayunkan pelukanku, seolah-olah seperti anak kecil yang sedang berpelukan dengan temannya


“ibu, yakin raka pasti sembuh”


“aku juga yakin bu”


Percakapan tertuang dalam hangatnya pelukan yang aku dan bu sarah ciptakan. Bu sarah melepaskan pelukan. Bu sarah tersenyum bahagia sekali kepadaku


“tunggu dulu, ko kamu bisa kesini?, kan ibu belum memberitahu kamu dan ayah ibu”


Aku tersenyum mendengar pertanyaan bu sarah


“raka yang meminta”


Aku menjawab dengan centil


“oh, lewat handphone?”


“iya”


aku mengangguk memastikan jawabanku benar


“semoga lancar ya anakku sayang. Ibu titip raka”


Baru saja aku akan membalas


“oh iya, ibu dukung kamu pakai cadar. Kamu harus sabar ya nak”


“iya ibuku”


“iya calon menantuku”


Ibu sarah menjawab dengan jahil dan menggodaku. Aku hanya tersenyum yang diam-diam berdoa ‘aamiin’ di dalam hati


“itu mau ibu aja kali”


Aku membalas menggoda bu sarah


“ya emang ibu mau. Kalau kamu tidak mau juga gak apa-apa sih”


Balasan bu sarah sangat membuatku tak bisa diam untuk tidak mengakui


“ya jangan kayak gitu dulu dong bu”


“iya sayang. Sudahlah, ibu keluar dulu beli makanan. Temui raka sana”


“siap laksanakan!” aku menjawab dengan tangan yang memberi hormat, ibu sarah tersenyum


“dah ami, dah aisha, assalamu’alaikum”


Aku dan aisha bersama menjawab “wa’alaikum salam”


Aku tersenyum melihat bu sarah berjalan membelakangiku. Ada kebahagiaan yang diam\-diam akan datang dengan kejutan yang teramat rahasia.


“sudah, ayo temui raka”


Suara aisha menyadarkan percakapanku dengan nalar yang sedang bahagia. Aku mengangguk saja membalasnya. Aku berjalan dengan suara hentakan yang berharmoni bahagia. Aisha tersenyum menganehkanku


“Alhamdulillah, akhirnya pelan-pelan kamu bahagia juga”


“hehe”


Aku hanya memberikan balasan tawa yang malu kepada aisha.


“sha ini, ruangan VVIP A3”


Langkahku berhenti membuat langkah aisha juga berhenti.


“ya sudah, masuklah”


Aku diam dengan memaknai apa kata aisha


“maksud kamu? Aku masuk sendiri gitu?”


“ya iyalah ami, masa aku ikut”


“tapi..”


Belum sempat aku mengutarakan jawabanku


“raka itu pengen ketemu kamu. Aku diluar saja, nanti kalau ada apa saja panggil aku”

__ADS_1


“shaa”


“syuuuutt, masuk gak!” telunjuk aisha menahan bibir yang menutupi kata yang akan keluar. Aku sudah menyerah


“iya aisha chika”


“gitu dong dari tadi amigea”



“assalamu’alaikum”


Aku membuka pintu dengan hati-hati dan pelan-pelan. Aku tundukan kepala, walaupun begitu aku tetap melihat raka yang juga sedang melihatku


“ami”


Raka memanggilku dengan suara yang lemas. Aku langsung memperlihatkan wajah yang dari tadi menunduk tak melihat raka. aku tersenyum melihat raka tersenyum melihatku


“raka”


Aku menjawab panggilannya dengan sedikit kaku. Tapi raka tetap tersenyum sembari memperhatikanku. Aku dibuatnya salah tingkah. Aku mencoba untuk mengukir tanda petik yang dapat melegakan hati yang serasa tak beres


“bagaimana keadaanmu?”


Nadanya bertanyaku cemas, aku memerhatikan raka yang terbaring dari ujung ke ujung. Raka tersenyum


“duduk dulu di sampingku”


Raka malah memberi aku permintaan untuk duduk disampingnya. Tapi benar saja, kakiku pegal sedari tadi berdiri. Aku menghampiri kursi disampingnya. Raka menjamu dengan senyuman


“aku kira kamu tak akan kesini karena kamu tidak membalas pesanku”


Ada senyum jahil yang terukir saat raka berbicara. Senyuman terukir begitu saja mendengar suara raka yang mengharapkan kedatanganku


“saat membaca pesan darimu, aku langsung melangkah pergi kesini”


Aku menjawab dengan seadanya apa yang telah terjadi. Raka tersenyum teduh, ini yang aku rindukan darinya. Raka menarik nafas sangat dalam


“aku sudah dari kemarin disini, hanya saja baru tadi sadar dari koma, hehe”


Raka tertawa yang tak bahagia, lebih tepatnya dia menertawakan dirinya sendiri dan lebih tepatnya juga malu akan ungkapan yang aku tidak tanyakan. Aku tertawa mendengar dia tawanya dan melihat malu yang dia ukir


“siapa lagi yang nanya!”


Aku menjawab dengan nada yang jahil meledek. Raka salah tingkah dan menggaruk kepala yang sama sekali tidak gatal.


“awwwww”


Raka mengeluarkan refleksi rasa sakit. Aku kaget, tanganku langsung mengahampiri daerah kepala yang dia garuk


“eh, jangan di garuk dong, kan sakit”


Tanganku mengusap daerah kepala yang kesakitan. Aku memandangnya, dia memandangku. Aku sadar, langsung aku tarik tanganku


“maaf ka, aku gak sengaja”


Aku gugup kepada raka dengan tingkah yang tak wajar dengan penampilanku


‘iya, tak apa mi, aku senang”


Jawaban raka aneh, tak sesuai dengan apa kataku, aku kan meminta maaf


“tak apa mi. aku senang kamu datang”


Raka langsung mengulangi dengan menambahkan penjelasan maksudnya. Aku hanya mengangguk membalasnya. Raka tersenyum


“aku ingin bercerita”


Raka meminta seperti anak kecil yang belum mendengarkan cerita. aku tertawa pelan menertawakannya


“lah kok ketawa?”


“tidak, aku tidak menertawakanmu, aku hanya ingin tertawa saja”


“ya sama saja amigea”


“pinter juga ya raka fhaisal”


Aku dan raka tertawa yang tak jelas, memang ini yang dinamakan kebahagiaan yang tidak direncanakan.


“mau cerita apa raka fhaisal?”


Aku seperti bertanya kepada anak kecil yang meminta didongengkan. Raka masih saja tersenyum tanpa langsung membalas pertanyaanku yang aku tunggu balasannya.


“kok malah senyum”


Sekarang raka tertawa. Aku juga dibuatnya tertawa. Aku tutup mulutku yang sudah tertutupi dengan cadar berwarna pink sama dengan gamis yang aku pakai. Raka meraih tanganku, aku sontak kaget. Aku langsung rebut kembali tangan yang raka pegang, aku melepaskannya dengan cepat dan secara paksa. Raka kaget dan memerhatikan tangannya yang masih berbentuk seakan memegangku


“maafkan aku”


Aku mengucapkan maaf untuk hal ini kepada raka. aku tundukan kepala, tanganku saling berpegangan dengan begitu erat.


“aku yang seharusnya minta maaf mi”


Raka menjawab dengan nada bersalah yang tak enak. Aku melihatnya yang sekarang menunduk memerhatikan tangan yang tadi memegangku


“ka”


Raka melihatku lagi, ada takut yang dia ungkapkan dari mata yang lesu


“itu yang ingin aku tahu mi. kenapa aku tidak boleh menyentuhmu? Aku tak tahu tanganku tiba-tiba menghampiri tanganmu begitu saja, aku minta maaf mi. dan satu lagi, apa yang kamu pakai di wajahmu?”


Aku lemas mendengar pertanyaannya yang sama sekali aku prediksi akan keluar dari lisannya. Baru saja aku akan membalasnya


“aku tidak tahu apa-apa ami. Setelah beberapa hari kemarin aku bangun dari tidur yang kata ibu dan ayah sangat lama. Saat itu juga, aku tidak tahu siapa-siapa, termasuk diriku sendiri. Ibu dan ayah yang menjelaskan aku siapa, mereka siapa, dan juga seina siapa. Tentang agama juga mereka mengajariku sedikit demi sedikit. Pernah dua kali, aku melihat seorang wanita yang seketika itu aku langsung merasakan sakit di kepala yang tak dapat aku tahan tapi, dibalik sakit itu ada bayangan yang terlihat begitu saja, sayangnya aku tak tahu itu bayangan apa dan siapa wanita itu, kata ibu aku amesia”


Seorang amigea bukanlah seorang yang kuat menahan air mata. Aku menjatuhkan satu tetes air mata. Raka tercengang melihatku yang menangis


“jangan nangis mi”


Aku tersenyum mendengar permintaannya. Ada rasa tak enak hati yang dia ukir di wajah indahnya


“tak apa ka, aku terharu”


Raka tersenyum lega mendengar jawabanku.


“terima kasih mi”


“iya sama-sama ka”


Aku dan dia diam-diam saling membalas senyuman


“aku penasaran dengan wanita itu, sebelum aku jatuh pingsan karena sakit. Aku pernah melihat wajah wanita itu yang terlihat bersalah yang disertai rasa cemas yang berlebih kepadaku”


“wanita itu mencintaimu ka”


Raka mengukir wajahnya dengan rasa kaget


“jangan so tahu mi”


“aku perempuan ka”


Raka tidak menjawab apa-apa. Aku tersenyum yang sedikit lega bisa mengungkapkan rasa cintaku kepada raka. walaupun bukan atas namaku yang mengungkapkan, setidaknya aku membela diriku sendiri.


“kamu belum menjawab pertanyaanku yang tadi mi”


Raka mengembalikan posisi aku dan dia ke awal yang dia tanyakan. Aku tersenyum mendengarnya dan melihatnya yang terlihat mengalihkan pembicaraan


“tadi apa pertanyaanmu? Aku lupa”


Raka mendengus kesal, aku malah tersenyum menertawakan refleksinya


“ kenapa aku tidak boleh menyentuhmu? satu lagi, apa yang kamu pakai di wajahmu?”


Aku mengangguk mendengar pertanyaannya


“kesatu, kenapa kamu tidak boleh menyentuhku?, karena kita islam ka, aku perempuan dan kamu laki-laki. Dalam islam perempuan dan laki-laki tidak boleh bersentuhan karena bukan makhrom atau sejenis. Kecuali kalau sudah nikah baru boleh ka”


Aku memberi koma sejenak. Raka mengangguk menandakan akan kefahamannya


“sekarang yang kedua, apa yang aku pakai diwajahku?; ini namanya cadar dalam bahasa arab niqob. Ini pakaian perempuan muslimah yang berpindah ke jalan yang lebih dekat dengan Allah”


Aku mengakhiri jawaban dengan senyuman yang menatapnya


“oh begitu, terima kasih mi”


“ya sudah, aku pulang ya”


“jangan mi”


“kenapa ka?”


“aku tak mau sendiri, aku bosan”


Aku diam melihat raka yang memohon seperti anak kecil. Walaupun begitu aku senang, secara tidak langsung dia ingin aku temani


“aku ingin jalan-jalan keluar rumah sakit”


Aku tersenyum tak menyangka dengan permintaan raka yang memaksa aku untuk mengabulkan


“memangnya kamu boleh keluar”


“boleh mi, dokter fajar yang menganjurkanku untuk mencari angina keluar rumah sakit”


Dia begitu memastikan. Dia juga mengucapkan seseorang yang aku sudah aku kenal karena dirinya


“ya sudah, iya”


“akhirnya, ayo!”


“hati hati turunnya, aku pegang kursi rodanya”.



__ADS_1


__ADS_2