
Tentang ketetapan
Yang sudah ditetapkan
Dan kebenaran yang seharusnya
Diterima manusia seutuhnya
Bukan untuk dipasrahkan
Ini untuk diikhlaskan
Jangan disesali sesekali
Bersyukur pantas dilakukan
Untuk sang penerima takdir,
Lain takdir, lain halnya diri sendiri
__ADS_1
Walau cacatku keagulannya
Istirahatlah sejenak
Kamu butuhkan hanya tenang
Agar kamu dapat temukan
Satu citra punyamu, tidak ia punya.
...
Di umur yang akan menginjak 22 tahun di satu bulan yang akan datang, Senja saat yang selalu aku nanti, orange menetralkan rasa yang mengalir di darahku. Amigea, nama yang entah dari mana asalnya, entah apa artinya, sampai bisa membuat kedua orangtuaku menobatkannya untuk aku anaknya, tapi entah untuk beberapa hari kedepan atau mungkin hari ini juga, semesta dan ribuan pemijak bumi akan merayakan ketidak sempurnaanku yang semakin hari semakin menambah saja, lahi dan lagi.
Mereka yang tau aku, memanggilku ami, tiga huruf yang sangat singkat tidak sesuai dengan rentetan kekurangan yang aku miliki. Seringkali nalar tidak terima, diam\-diam bertanya, kenapa harus ada perbedaan jika kekurangan dijadikan masalah dan kelebihan dijadikan keagulan yang tidak layak. Tuhan memang sangat sayang kepadaku, tak ingin aku disukai lain makhluk selain dia sang maha pencipta. Sukma memang hebat menenangiku tapi tetap saja amygdalaku selalu membuatku merasa percuma ketika semua kejadian terputar kembali dalam kaset ingatan, dimana memori hari kemarin dan kemarinnya lagi begitu tak terlupakan.
__ADS_1
Lidahku berbeda, dengan banyak suara yang membunyikan nada dalam setiap huruf membentuk kata bersatu menjadi kalimat. Sedari dulu, aku sudah dikenal dengan seorang manusia yang tidak bisa melafalkan satu huruf begitu jelas.
“tidakkah tuhan amat sangat menyayangiku?”
Ketika itu, tidak hanya satu, tapi lebih dari banyak yang mempermasalahkan kekuranganku. Dan hanya sedikit pula yang menenangiku dengan kalimat yang amat aku hafal
“udah, jangan dengerin apa kata mereka”
Aku bersyukur, karena buktinya allah lebih sayang lagi kepadaku, telah mengirimkan malaikat tak bersayap untuk menenangiku dan menemanikum.
Angin memang mudah menepis daun telinga, karena ia tak terbertulang dan transfaran, namun dengan mudahnya meninggalkan jika sudah teriyakan. Diam sendiri dalam rumah bernuansa Turkey ditemani Bi Ros yang melayaniku setiap aku membutuhkan sesuatu. Orang tuaku yang tidak diketaui keberadaannya dan datang perginya kapan, apalagi orang lain yang sama sekali tidak tau wujud dan wajah orang tua ku. Nalarku tertawa begitu dalam duka, orang tua yang seharusnya ada untuk memenuhi sekaligus teman hidup, sepertinya hanya menemaniku saat sedang aku balita. Sedari aku mulai bisa mengenal dan menghafalkan kejadian hingga sekarang aku baru saja menepih kepala dua di dua bulan lalu, satu jam saja aku tak pernah merasakan hangatnya percakapan di ruang televisi, aku hanya bisa bersama dengan mereka di meja makan saat pagi sebelum aku berangkat kampus, itupun selalu saja Sukma tak kuasa berlama\-lama menatap dua orang tuaku yang saling urungkan suara, bahkan mengukir setengah lingkaranpun enggan, dan akhirnya perutku yang harus menahan lapar.
Aku masih menganggap mereka, memang harusnya seperti itu.
"Apakah aku,dianggap oleh mereka?".
__ADS_1
Aku berharap pertanyaanku terjawab di salah satu titik kisah ini, entah titik mana, dan keberapa aku tak tau, yang pasti aku menganggap mereka yang ketika adapun dirumah, rumah seketika berubah menjadi padang pasir panas, egosentris yang tak mau saling mengalah, membuatku selalu mengangkatkan kaki dari rumah, entah kemana tujuanku, aku tetap harus pergi dari kefanaan ini.