AmiKa

AmiKa
paradigma tertutup


__ADS_3

Ukuran yang besar


Bentuk yang indah


Tapi setiap pintu tertutup


Tak ada satupun yang tau.


Dalamnya tak ada apapun


Jika ada,


Awan pasti mendung


Dan hujan pastikan jatuh,


Sebagai pengungkap lega.


Dari semua pintu yang tertutup


Menahan paradigma keluarga utuh


Mengapa tidak mengerti


Datarnya permukaan wajah


Berduka


Harusnya suka bersama dua orang tua


Apakah bahagia terasakan


Sedang, satu jam tak pernah bersama


Ada hanya kala pagi memakan


Adanya tertahan jeruji dingin

__ADS_1


Beberapa menit saja mungkin bersama


Lalu melewati hari secara masing-masing.


...


Ami


"Non, bangun sudah jam 7, non"


Alarmku, Bi Ros yang selalu membangunkan ku dari istirahat hidup ini, Bi Ros membuka gorden biru kamarku, aku mengagumi warna biru, setiap sudut kamarku di olesi warna langit yang tak pernah bohong dengan perasaannya, walau aku pengagumnya yang selalu membohongi perasaanku sendiri. Suara bi Ros sangat ampuh membangunkan ku hanya dengan satu kali bi Ros membangunkan, aku sudah pasti akan bangun. Lain halnya dengan ibuku, akupun tak pernah mendengar bagaimana alarmnya untuk membangunkan ku. Tapi sudah cukup bi Ros untuk setiap pagi yang harus ku lewati dengan penuh keyakinan aku bisa melewatinya.


Pagi ini, aku harus berangkat ke kampus tepat pukul 9 pagi. Aku menekuni fakultas sastra bahasa Indonesia karena sejak aku duduk di bangku SD, aku selalu suka membaca puisi yang menyentuh dasar hatiku, apalagi jika puisi itu menggambarkan kehidupanku, aku tak tau, jika aku membaca puisi, aku serasa sedang bercerita kepada Tuhan, karena untukku puisi lebih dari cukup untuk bercerita, daripada harus bercerita panjang tapi tak ada usaha untuk mengartikan, di setiap kaki melangkah pasti ada tujuan yang ingin dicapai, dan di setiap kata yang tertuai pasti ada sebuah makna yang ingin di sampaikan.



Sudah selesai aku berkemas dengan memakai kain berwarna merah jambu, tujuanku langsung mengarah ke meja makan yang telah di hiasi dengan sarapan dan dua orang tuaku yang entah sejak kapan mereka duduk, dan sepertinya mereka juga hanya menghias meja makan saja, tak ada kehidupan yang kurasakan saat aku duduki kursi paling ujung jauh dari mereka, diantara banyaknya menu makanan, aku selalu memilih nasi goreng buatan tangan bi Ros daripada bubur dan kupat sayur yang bisa Ros beli di pasar. Di suapan pertama aku arahkan mataku menatap kedua orang tuaku, tak ada tali yang menarik mata satu sama lain untuk saling bertatapan, mereka sama\-sama tertuju pada sarapan yang tak bisa di ajak berbincang. Tanpa mereka lirik aku, hatiku sudah pasti menangis, melihat kedua malaikatku saling dinginkan diri, sampai pada suapan ke tiga, aku lepaskan sendok dan garpu, aku berdiri dan tanpa pamit aku tinggalkan meja makan. Seperti yang mereka lakukan, mengajariku untuk datang dengan tiba\-tiba tanpa salam dan pergi dengan tiba\-tiba tanpa pamit. Mungkin aku pulang nanti, mereka sudah hilangkan diri, dan bi Roslah yang mengabariku, bukan mereka sendiri.



Aku diantar oleh pak Asep, suami bi Ros, mereka memang romantis dengan satu pekerjaan yang berbeda tapi sama pijakan membuat mereka selalu bersama setiap saat, tidak jarang aku kagum dengan pasangan yang biasa luarnya tapi luar biasa dalam hatinya. Dengan mobil jazz kuning, aku tak pernah di izinkan mengendarai mobil sendiri, karena kata pak Asep ini perintah dari orang tuaku, mungkin khawatir mereka sembunyikan dan takut aku larikan diri dari peperangan yang mereka ciptakan.




Aku mengenal mereka semua yang sedang menunggu dosen datang, sesekali mereka menemuiku untuk sekedar bercerita tentang bagaimana yang dilaluinya, telinga yang menyimak dengan baik cerita mereka yang sepertinya indah dan tak pernah aku rasakan, membuatku selalu bertanya sendiri.


"Sungguh, betapa beruntungnya kamu, tapi tidak aku"


Tak sekali mereka memintaku untuk menceritakan tentang aku, ya kehidupan yang aku lalui, Sukma tetap tak ingin perlihatkan sedihku, dan nalar tetap menolak membagi duka seorang amigea dibalik mewahnya rumah bernuansa Turkey. Mereka beranggapan bahwa aku malu bercerita dengan gaya bicaraku yang kurang padahal kehidupanku lebih kurang dari mereka.


Diantara dua puluh mahasiswa sastra bahasa indonesia, terpandangnya, aku yang tak banyak mengungkapkan kata dengan suara, nalar lega, padahal aku ingin rasanya bercerita, tapi tak ada keselarasan untuk bercerita dengan mereka. Tetap saja mereka sepertinya selalu mencari cara untuk aku buka suara, membuka buku cerita hidupku untuk aku ceritakan kepada mereka, karena sejatinya manusia adalah makhluk sosial bukan?.



Satu laki\-laki tak tau dari fakultas mana, memanggilku, ya dia tau namaku, dialah sang pengirim surat dari pengagum rahasiaku. Dia memberikan amplop berwarna merah maroon.

__ADS_1


Dear amigea


Tidakkah bulan ditemani hitam langit?


Tapi mengapa terang sinari malam.


Apa kabar?


Duhai sang misterius,


Tapi tetap memikat hati


Aku tau, diammu tetap bicara


Bukan mulut, melainkan naluri.


Kamu kuat, tidak lemah


Kamu tak tau, akupun tak tau


Aku tau, tapi kamu tidak tau.


Tingkahmu sekarang


Bukanlah jiwamu sesungguhnya


Bukan aku sok tau,


Dan bukan aku penasaran,


Tapi kamu memikat sudut pandangku,


Semoga kita bisa saling mengenal,


Suatu waktu membuka rahasia


Semoga harimu menyenangkan

__ADS_1


_Rahasiamu_


__ADS_2