
Aku tak bisa tinggal diam
Karena aku yang tidak bisa apa-apa
Harus merepotkan orang yang mengasihiku
Mereka harus menjauhiku.
Jangan
Aku tak ingin kasihan yang melandasi
Aku bisa sendiri walau sulit
Aku lebih baik sendiri menyusahkan diri.
...
Ami
"ami, ayo bangun, sudah pagi"
Aku membuka mataku. Aku rasa belum pagi, karena hitam yang tetap aku lihat. Aku bangunkan badan dari tidur. Tak tahu apa yang harus aku lakukan, tapi ibu masih terasa ada disampingku
"ayo makan dulu nak"
"aku ingin mandi dulu bu"
"yasudah, ibu pandikan"
"aku ingin sendiri"(pintaku datar)
"kamu yakin?"
"aku bisa bu, aku mohon"
"yasudah, ibu tuntun kamu ke kamar mandi ya"
"aku juga bisa sendiri bu"
"tapi.."
"aku bisa ibu"
Aku sedikit menaikan nada suaraku. Aku merasa bersalah telah menolak pertolongan ibu, tapi bagaimana lagi, aku tak ingin semakin merasa tak beguna. Kakiku langsung turun ke lantai. Aku berjalan, berjalan, dan aku menabrak meja
"awww" aku mengeluh kesakitan, ibu langsung berlari kepadaku
"kucup buat ibu khawatir. Ada ibu nak, ibu pasti membantumu"
"tapi, aku merasa menjadi anak tak berguna"
"kamu itu anak ibu, ibu yang melahirkan kamu"
Air mata menyanyikan lagu kesedihan aku dan ibu. Aku langsung pinta pelukan ibu dan ibu memelukku.
"ayo ibu pandikan kamu"
Aku mengangguk menerima permintaan ibu.
...
Raka
"assalamu'alaikum"
Aku mengetuk pintu rumah ami. Tak lama ibu membukakan pintu.
"eh raka, ada apa nak?"
"raka ingin mengajak ami jalan bu, boleh?"
"masuk dulu saja yuk"
Aku mengangguk dan mengikuti bu arsyi yang menjamuku.
"ibu panggil aminya dulu"
__ADS_1
Aku masih menjawab dengan mengangguk. Bu arsyi melangkah jauh dan masuk ke kamar. Tak lama kemudian, bu arsyi datang menjayak ami. Ada sedih yang langsung hinggap saat melihat mata ami.
"raka"
Ami memanggilku, aku langsung berdiri menyambut ami.
"kita jalan-jalan yuk mi, tenang aku pasti jagain kamu kok"
"boleh bu?" ami bertanya kepada ibu
"ya tentu boleh anakku, jagain anak ibu ya raka"
"siap laksanakan bu" aku memberi hormat menerima amanat ibu. Ibu tersenyum dengan tingkahku, ami juga tersenyum dibalik cadarnya yang menebarkan kecantikan hatinya.
"jayak saja aminya"
Ibu meminta aku untuk menjayak ami. Ami menganggukan kepalanya mempersilahkanku untuk menuntunnya. Tanganku meraih tangan ami, aku menuntunnya sampai ke mobil
"ayo ami naik mobil"
Ami hanya membalas dengan anggukan kepala. aku tersenyum sedih melihatnya yang seperti ini kepadaku, walau aku tahu hatinya tidak diam seperi ini. Aku sudah mengendarai mobil. Tanganku menekan pemutar musik, musik yang terputarpun perfect Ed Sheren, ini memang sudah menjadi musik yang pertama terputar di mobilku. Ami menundukan kepala, aku memerhatikannya, matanya masih sama teduh seperti biasanya walaupun dalam keadaan seperti ini.
Akhirnya aku sampai juga di pantai. Aku berhentikan mobil di tempat yang teduh.
"yey, ami sudah sampai"
Ami menganggukan kepala. Aku langsung keluar dari mobil dan bergegas membukakan pintu untuk ami keluar. Aku menggapai tangannya, amipun turun dari mobil. Aku menuntunnya ke bibir pantai.
"ami, tau gak sekarang dimana?"
Ami menggelengkan kepalanya, aku berpikir sebentar
"ami jawab aku dengan suaramu yang aku rindukan"
Ami diam tak berkutik apapun. Aku sedikit sedih dengan yang ami balas
"ami aku mencintaimu dalam keadaan apapun"
Ami menggelengkan kepala, ada rasa aneh yang sedih melihatnya menggelengkan kepala
"kenapa mi?"
"kamu pantas untuk yang lebih pantas dari aku ka"
Akhirnya ami membuka suara. Tapi suaranya beralunan musik yang menyayat hati. Aku tidak boleh membuat ami sedih karena aku tahu ami juga mencintaiku, hanya saja keadaan yang membuatnya menyembunyikan perasaan
"tapi, yang pantas untukku itu kamu mi"
"tidak ka, kamu tidak buta, jangan ikut-ikutan buta"
Air mataku jatuh untuk pertama kalinya tanpa sengaja karena suara ami.
"aku tidak buta mi, kamu pantas untukku"
"jangan seperti itu raka! aku buta!"
Ami menangis, dia dudukan diri di pasir. Air mataku bukan jatuh lagi, tapi menangis sama seperti ami. Aku menyamakan posisi dengan ami. Ami masih menangis
"ami" aku memangilnya dengan tangan yang menghampirinya
"jangan sentuh aku raka, aku mohon!"
"kenapa mi?"
"sudah aku katakana, aku tidak pantas untukmu raka"
"hatiku inginkan kamu ami"
"aku tidak ingin raka"
"tidak ingin apa ami?"
"jangan membuatku semakin tidak pantas raka!"
"ken.."
"aku ingin pulang raka, sekarang juga!" ami langsung menghentikan kata yang akan keluar dari mulutku. Aku masih tersedu dengan tangisan belum menjawab permintaannya
__ADS_1
"aku mohon ka, aku ingin pulang"
aku masih menenangkan diri belum bisa membalasnya
"aku mohon ka"
Tangan ami langsung tepat meraihku. Aku tahu mata hati ami tidak buta, dan aku merasakan rasa cintanya kepadaku.
"iya ayo kita pulang"
Aku membalas dengan suara yang tersedu air mata. Aku membantu membangunkan ami dari duduk. Tanganku menggenggam terus tangannya menuntun ke mobil yang ada di parkiran. Sesampai di depan mobil, dan tanganku membuka pintu sampir pengendara
"aku ingin duduk di belakang"
"kena.."
"aku ingin berbaring"
"ya sudah"
Aku menuntun dan membukakan pintu kursi belakang. Air mataku jatuh begitu saja, ami kenapa kamu begitu membuat aku merasa semakin tak bisa tanpamu?. Aku masuk dan langsung mengendarai mobil. Sesekali aku melihat ke belakang, ami yang benar sedang berbaring, mungkin ami lelah seharian ini. Aku tidak ingin sepi di dalam mobil, langsung aku putarkan lagu perfect Ed Sheren. Aku mengendarai mobil dengan diiringi jatuhnya air mata yang begitu deras.
Akhirnya, rumah ami sudah terlihat. Aku melihat ke belakang, ami masih terbaring, aku jadi tak tega membangunkannya. Mobil sudah berhenti di depan rumah ami
"sudah sampai ka?"
Tiba-tiba ami bangun, ternyata dia merasakan mobil yang berhenti
"iya mi, sudah sampai"
Aku langsung keluar, dan bergegas membukakan pintu untuk ami. Tanganku menggapai tangan ami, tangannya terasa dingin. Aku tuntun dia sampai ke depan pintu. Tanganku menekan bel yang ada di samping pintu. Tak lama bu arsyi membuka pintu. Ami langsung melepaskan genggaman tanganku, dan berjalan pelan ke bu arsyi.
"kamu mau kemana nak?"
"aku bisa sendiri ke kamar bu"
"tunggu dulu nak, raka masih ada"
"suruh dia pulang, aku tak ingin bersamanya lagi"
Aku dan bu arsyi tidak menjawabnya sama sekali. Aku saling bertatapan dengan bu arsyi.
"bu, jangan terima dia kemari lagi. aku tidak ingin diganggu"
"iya nak"
Bu arsyi menjawab dengan menatapku. Aku melihatnya yang berjalan tanpa melihat sendirian
"bu, raka gak bisa tanpa ami"
Aku memperlihatkan mata yang tak ingin kehilangannya
"ibu tau nak, tapi bagaimana lagi?. untuk saat ini, kamu sabar dulu, dan do'akan agar ami mendapatkan donor mata".
Aku hanya menganggukan kepala. Bu arsyi ikut menangis denganku
"kita sama-sama harus sabar. Sekarang kamu pulang dulu, istirahat"
"tunggu dulu bu, ada titipan dari ibuku"
Aku berlari ke mobil untuk mengambil sesuatu. Setelah itu langsung berlari kembali ke bu arsyi. Aku memberikan sesuatu kepada bu arsyi
"ini tongkat dari ibu untuk ami"
Bu arsyi tersenyum dan tangannya mengelus-elus pundakku
"beritahu kepada ibumu, terima kasih. Pasti ami senang"
Aku menganggukan kepala menjawab bu arsyi. Bu arsyi tersenyum haru kepadaku
"yasudah bu, raka pamit. Assalamu'alaikum"
"wa'alaikumsalam"
Bu arsyi melambaikan tangannya, tanganku membalas lambaian tangannya juga. Aku langsung masuk ke mobil dan membunyikan klakson untuk tanda aku akan jalan. Di mobil aku membayangkan ami yang tadi duduk di sebelahku dan ami yang berbaring di belakang. Aku juga memutarkan lagu perfect Ed Sheren dan kenangan bersama ami.
...
__ADS_1