
Kita bersama di hari pertama, ada karena
Kita ada dalam ruangan koma
Tak terjeda oleh koma
Dan, tak terpisah oleh titik.
Pertama kita memulai
Pagi menemani dengan hangat
Hari pertama kita
Semoga berjalan indah.
...
Ami
Pagi telah singgahi angka sembilan, aku sudah berada di panti jompo cinta kasih sedari jarum pendek jam menempati angka delapan pas, rumah yang sepi tak bisa menahanku untuk nyaman ketika matahari masih bangunkan matanya.
Sedari tadi, aku sibuk dengan mirrorless pinkku, mengabadikan moment jarang ini, lagipula aku tak pernah pergi ke panti jompo karena kakek nenekku pun sudah tiadakan nafas sedari aku duduki bangku dua SD. Moment penghitung kapan akan teringat, ada saja sepasang kakek dan nenek yang bersama berdua saling menyuapi, ada saja yang bermain sendiri, bahkan ada kakek yang dipisahkan, ditahan oleh jeruji dingin tak bisa berbicara. Di tengah memutarnya jarum detik jam di tanganku. belum aku melihat batang hidung Raka datang,
"Hai, Ami"
Suaranya tepat mendarat ditelingaku, es krim strawberry ia perlihatkan kedepan mataku. Aku dibuatnya setengah terkejut, dia tertawa jahil menertawaiku.
Lagi-lagi aku benar-benar merasakan kesamaan dengan seseorang yang tak tau siapa.
"Iiih rakaa"
Hari pertama, yang merah hanya pipiku, senyum tiba mendarat di bibirku. Aku tenang melihat matanya, aku selalu menyukai keselarasan keduanya,
"Nih, maaf aku sudah membuatmu menunggu lama"
Apa ini? Hanya sebagai permintaan maaf atau memang sikap ia sebagai Raka yang asli seperti ini, kesemua orang?. Sudahlah, cobalah rehat sejenak.
"Aku raka,buka laka"
Ada sayatan pisau yang terasa begitu saja, tak tau kenapa. Aku memang tak suka bahkan, aku benci tentang hal-halnya lainnya.
Benci dengan hal kecil yang sepele tapi tak akan ada namanya besar tanpa adanya kecil. Ini bukan perihal aku, tapi ini perihal tuhan tau yang terbaik untukku.
…
__ADS_1
Raka
Masakan ibu yang super super enak, memang membuatku amesia dengan janjiku dengan Ami pukul sembilan pagi ini. Sekarang tiga puluh menit mulai berjalan ke angka dua belas, sedangkan jarak antara rumahku dengan panti jompo lumayan jauh.
Aku tiba pukul sembilan melewati angka dua belas dan Singgah di angka tiga. Aku takut Ami telah bosan menunggu, karena katanya, dia sudah ada di panti jompo sejak sedari jarum pendek tepati angka delapan. Aku sudah mengenalinya dari belakang, tampaknya ia sedang mengabadikan momen dengan mirrorless warna pink.
Dua anak kecil berkejaran dan melewatiku dengan membawa es krim, tanpa aku pikirkan lama, aku mendekatkan diri dengan mobil es krim itu, aku pesan rasa coklat untukku, dan rasa strawberry untuk Ami.
Aku berdiri dibelakangnya, menyodorkan tanganku yang memegang es krim strawberry tepat dengan matanya. Dia diam, mungkin saja dia takut, dengan siapa yang ada dibelakangnya. Aku posisikan diriku tepat didepannya. Hanya diam dia ungkapkan, aku mencoba mencari pencair kebekuan ini, aku goda dia dengan es krim strawberry yang tidak bisa dia tolak, karena strawberry kesukaannya,
"Iiiih,,Raka"
Ada satu yang salah dan kurang jelas aku dengar, dia tidak mahir melafalkan huruf "R", tapi kenapa ia terlihat pantas, bahkan cocok, tak ada kejelekan yang pantas aku celotehkan. Ada kejanggalan tak nyaman dia rasakan.
"Aku raka,bukan laka"
Sepertinya naluri mencemoohiku dan nalar tidak terima perubahan ekspresinya yang seketika tak dapat dibohongi.
Aku tertawa, lagipula, ini hanya keingintauanku. Aku tau dia tidak suka gurauan Semacam ini, aku hanya ingin tau bagaimana balasan dia. Tapi melihatnya seperti ini, aku bisa merasakannya.
…
Ami
Aku melihat ke sekeliling lapangan, aku tak mendengar suara nafasnya sama sekali, tiba\-tiba dari arah berlawanan dengan mataku, dia menempelkan botol minuman dingin di pipiku. Dia memperlihatkan semua giginya tepat depan mukaku. Tanganku mengalihkan mukanya melalui pipi merahnya.
"Kamu melebihi pantas yang Tuhan berikan mi"
Aku tetap diam, perkataanya yang berarti membenarkan pemikiran omongan pertama, suaranya halus mengetuk pintu hati yang sempat tertutup karena hampir tergagali. Aku mulai merasa lega, dan mencoba seperti tidak terjadi apa-apa.
"Yasudah, mana kelingkingmu? Aku berjanji tidak akan melakukan hal yang sama, dan aku akan melindungimu dari perihal tadi".
Aku melihatnya di sampingku, kelingkingnya sudah berdiri sedari tadi dia berjanji, aku tenggelam di dua muaranya yang begitu bening dengan kepercayaan, menatap indahnya senja di lengkungan bibirnya. Tanpa berpikir lama, aku memelukkan jari kelingkingku dengan jari kelingkingnya. Dua senjapun terukir di arungi janji kesetiaan sejati.
"Kalau begitu, ayo kita mulai"
Semangatnya menarik tubuhku ikut berdiri. Dan tanpa ku sadari, tangannya menggenggam tanganku, menarik tubuhku ke arah tujuan pertama aku dan dia ke tempat ini.
__ADS_1
Kata raka, aku dan dia sudah mendapatkan izin dari pemilik panti jompo ini, kemanapun aku dan Raka tempati. Sampai akhirnya, kaki Raka berhenti dan tangannya melemaskan genggaman, ia tengokan kepala ke kanan, tepat depan jeruji hitam aku dan Raka berdiri. Di dalam jeruji ini ada kehidupan laki\-laki tua yang terganggu, bukan gila. Tapi dia diam seperti memikirkan sesuatu hal yang tidak bisa ia maafkan.
"Kamu merasakannya mi?"
Aku menganggukan pertanyaan Raka. Dan dengan langkah yang sama, aku dan Raka mendekati jeruji dan memegangnya. Lelaki tua didalam ikut mendekatkan dirinya dengan aku dan Raka. Dengan tenang Raka bertanya
"Kamu kenapa?"
Mata laki-laki itu langsung tundukan kepala, seperti ketakutan akan dosa, tapi mengapa? Sebegitu takutnya dia akan dosa? Padahal Tuhan maha pemaaf bagi orangnya yang ingin memperbaiki. Dia balikan arah badannya membelakangi aku dengan Raka . Tangan Raka langsung menggenggam kembali tanganku, kini lebih erat, aku memperhatikannya, dia membalas pandanganku dan
"Sudah, nanti saja"
…
Raka
Jahilku mulai menggila, ku kenakan es krim ke hidungnya, tanpa menunggu waktu lama, dia mengejar ku kemana kaki ku melarikan diri, baru saja menjelang sepuluh menit, dia sudah dudukan diri dan melambaikan tangan pertanda menyerah. Aku tidak langsung menghampirinya, aku mencari minuman botol yang dingin, saat aku hendak menghampirinya, lagi\-lagi aku kenakan botol minuman dingin di pipinya, tapi dia langsung merampas dan meminumnya. wanita memang seperti itu, di tambah dia membuat merah pipiku, karena mengalihkan pandanganku dengan memalingkan wajahku melalui pipiku. Aku teringat untuk menjelaskan perkataan tadi. Belum dia menjawab, aku mengajukan jari kelingkingku untuk sebuah tanda janji tidak akan melakukan hal yang sama, dan akan menjaganya dari perihal tadi. Akhirnya matanya meneduh di tepi muaraku, dia memerlukan kelingkingnya dengan kelingkingku. Tanpa butuh waktu lama, aku berdiri untuk memulai dan dia ikut cepat berdiri. aku berlari mengelilingi panti jompo, tanpa aku sadari aku menggenggam tangannya sedari aku berlari.
Aku dan Ami memasuki ruangan gelap dari cahaya sinar matahari, dingin menyentuh kulit. Tepat dipertengahan ruangan aku dan Ami berhentikan langkah, aku menengokkan kepala ke kanan, tepat jeruji hitam berdiri, memisahkan 2 jiwa dengan 1 kehidupan. Aku bertanya tentang perasaan Ami dengan masalah yang satu ini
"Ada yang dia ingin ungkapkan, tapi dia urungkan dengan bantuan jeruji yang menahan dia untuk menyelesaikan titik sebab dia sendiri"
Ami hanya diam dan terus mendalami sepasang muara lelaki di dalam. Aku mendekatkan raga dengan jeruji, Ami ikut samakan langkah, tanpa tidak percaya, lelaki tua didalam ikut mendekatkan diri dengan aku dan Ami. Aku langsung spontan bertanya kenapa kepadanya. Tapi dia hanya pundurkan badan nembelakangi aku dengan Raka.
Ami masih diamkan diri. Sepertinya dia masih terbawa oleh muara lelaki tua tadi, aku menyenggol kan badanku ke badannya. Dia merengek kesakitan tapi tetap saja dia tidak bisa membohongi bagaimana rasanya menahan. Aku tetap harus mengajaknya pulang dari suasana kacau ini. Aku khawatir akan Ami.
"Mungkin, hari ini cukup sampai disini saja"
Dia masih diam, tak jawabkan diri, sampai akhirnya dia tersadar oleh suara klakson mobil kuning. Baru saja aku akan menawari diriku sendiri mengantarnya pulang. Mungkin bukan sekarang waktunya. Dan dia menghilang dimakan mobil.
…
Ami
Raka hilang ke sudut dunia mana, baru saja aku ingin mengucapkan "sampai jumpa esok", jadi hati akulah yang menyampaikannya.
Dalam perjalanan pulang, amygdalaku memutar radio suara Raka tadi
"Sudah mi, kamu pasti terbawa, tapi jangan dibiarkan terbawa, aku tak ingin kamu terbawa, aku takut kamu menghilang"
Aku mengerti, apa maksud untaian suara melantunkan kenangan untukku itu. Sepanjang jalan aku memikirkan setiap titik yang berakhir tetapi belum saja beres sudah di berikan titikan.
…
__ADS_1
Raka
Baru saja aku akan masuk ke dalam Mobil, aku melihat Ami sedang memasuki mobil kuningnya. Memang Tuhan selalu memberi jalan untuk hambanya yang tulus. Aku segera keluar dari parkiran dan mengikutinya dari belakang. Entah mengapa, sejak dia menolak aku untuk menjemputnya aku selalu mencari cara agar bisa mengetaui dimana rumah Ami, tapi sudah ku bilang Tuhan percayakan Ami kepadaku, dan tepat di pinggir kanan, mobil Ami masuk melalui pagar yang dibuka oleh Satpam. dan rumahnya itu bernuansa turkey. Sudah cukup tujuanku terpenuhi, aku langsung putar balikan mobil, meninggalkan rumah masa depanku.