
Dibalik manusia yang senang memijak tanah
Ada bumi yang kesakitan tak dirasakan
Sakit ini tak terasa oleh manusia
Hakikatnya, manusia pelaku yang tak bersalah.
Selalu ada segi yang tak sengaja
Terbuat dari cinta yang tak terbalaskan
Cinta yang tak terhiraukan
Harus bisa memaklumi takdir yang terjadi.
Ada yang sakit
Dibalik dua cinta yang mulai menyatu kembali
Ada yang sakit
Dibalik cinta yang terlupakan kenangannya,
Ada banyak yang sakit.
...
Aisha
Sudah hampir setengah jam aku duduk di kursi tunggu depan ruangan raka. sesekali aku tersenyum mendengar tawa yang bahagia dari dalam, semoga lekas selesai. Aku melihat kesekeliling rumah sakit yang tiap sudutnya selalu ada raga yang bermacam\-macam sedangnya. Ada satu jalan yang aku lihat itu suster dan dokter. Salah satu dokter ada yang aku kenal dari kejauhan, dia memakai kacamata. Dia semakin dekat, jalan ke ruangan yang depannya aku diami. Aku menyadari dia siapa, saat amygdala memutar kembali aku bertemu dengannya saat aku bersama ibu dan ayah ami.
“dokter fajar?”
Aku memanggilnya yang sedang berbicara kepada suster yang disampingnya. Dia menoleh kepadaku. Senyumnya terukir begitu saja
“aisha ya?”
“iya dok”
Aku menjawab dengan anggukan yang diwarnai senyuman. Dia juga tersenyum.
“kamu sendirian saja?”
“tidak dok, aku bersama ami..”
“amigea?”
Belum selesai aku menyebutkan nama ami, dia sudah menanyakan yang sudah jelas akan aku sebutkan. Aku hanya mengangguk menjawabnya
“lalu, dimana amigeanya?”
Wajahnya menyiratkan rasa yang sulit aku ungkapkan apa itu, tapi aku tahu itu. Aku menarik nafas dalam
“bersama raka didalam”
“hanya berdua saja?”
Tak ada koma yang menjeda akan jawabanku dengan jawaban sekaligus pertanyaannya lagi. Baru saja aku akan menjawab, fajar melangkahkan tujunya ke pembuka pintu ruangan raka. aku berdiri dari dudukku, tanganku langsung menahan tangan raka yang hampir membuka pintu ruangan
“jangan dok! Saya mohon”
Dia melihatku kaget dan aneh. Aku diam, nafasku terengah-engah.
“kenapa? Saya harus memeriksa raka sha”
“saya mohon dok, beri waktu untuk mereka bersama?”
“ya, aku mengerti”
Tangannya yang aku pegang, melemah sendiri.
“biar saya saja sus yang memeriksa fasien ini. kalian langsung pergi ke ruangan lain saja dan periksa fasien”
Dia berbicara dengan kepala yang menunduk kepada dua suster yang sedari tadi menemaninya.
“baik dok” jawab kedua suster (bersamaan)
Kedua suster itu pergi untuk melaksanakan tugas. Disini hanya ada aku dan fajar. Dia masih saja tertunduk, raut wajahnya menyiratkan perasaannya kepada aku yang memerhatikan.
“dok?”
“iya?”
Akhirnya dia mempertemukan mataku dengan matanya. Aku menatapnya khawatir, apa yang dia rasakan? Apa dia menyukai amigea?. Dia pelan-pelan berjalan mendekati kursi, lalu duduk dengan wajah yang tak berubah.
“duduk sha”
Dia mempersilahkan aku duduk dengan menunjukan kursi disebelahnya. Aku mengangguk dan aku iyakan silahannya. Baru saja aku duduk, tasku terjatuh ke lantai. Tanganku turun untuk mengambil, tak sadar langkahnya sama dengan langkahku. Akhirnya tanganku tersentuh oleh tangannya yang kalah telat telah menyentuh tas duluan. Tangannya langsung terangkat lagi
“eh maaf sha, aku tak sengaja”
Dia meminta maaf dengan tangan yang merapihkan rambut sedangkan aku tak melihat satu helai rambut yang terabaikan kemana-kemana. Aku hanya tersenyum dan mengangguk untuk jawabannya. Aku simpan tas yang aku ambil dan di samping aku duduk.
“memang ami dengan raka punya hubungan apa sha?”
Dia bertanya tanpa tatapan mata, matanya melihat kosong ke depan. Ada sedih yang tersirat dari mata yang menatap kosong, ada yang diam-diam tak terima dua orang pelan-pelan bersatu kembali, dan aku? Sama sedih melihatnya sedih dengan perasaannya. Aku berpikir sejenak untuk memberikan jawaban untuknya
“untuk hubungan aku kurang tahu tapi, mereka saling mencintai walaupun raka sekarang lupa ingatan, hati tetap tahu siapa yang dia butuhkan, padahal sebelumnya raka selalu merasa kesakitan saat ami belum memakai cadar”
__ADS_1
“oh begitukah?”
“iya, aku kenal betul dengan ibu ami. Aku telah diceritakan awal mula sampai sekarang mereka seperti ini”
“pantaskah aku mencintai seseorang yang sudah mencintai orang lain sha?”
Sekarang, dia bertanya dengan menatapku. Aku kaget, melihat bendungan air mata di bak muara indahnya. Aku melihat ketidak relaan akan yang telah terjadi di matanya. Aku merasa terbawa juga akan perasaanku kepadanya
“pantas jar. Karena cinta tak harus saling memiliki”
“kamu benar sha”
Sekarang dia menundukan kepala, memandangi tangan yang mengepal. Ingin aku menenangkannya, tapi aku takut jatuh semakin dalam di perasaan yang mulai membuatku senyum tak karuan.
“biasanya, jika kita mencintai orang yang mencintai orang lain itu, ada seseorang juga yang mencintai kita yang mencintai orang lain jar”
Hatiku tersenyum akan apa yang aku utarakan. Aku seakan menceritakan aku yang tersirat di apa yang aku katakana. Tapi tenang saja, dia tak akan menyadari. Cukup aku yang mencintainya dalam takut akan suatu saat aku meninggalkannya.
“masa iya sha?”
Dia tersenyum tipis saat menjawab apa yang aku utarakan. Aku ikut tersenyum menyadari dia yang memikirkan apa kataku
“iya jar, survey telah membuktikan..”
“lah udah kaya family 100 aja sha”
Aku dan fajar tertawa menertawakan aku yang memang wajar ditertawakan. Aku diam kembali
“jar, semenjak kamu mengobatiku di eropa. Ada seseorang yang aku cintai mencintai orang lain. Dan ada juga seseorang yang mencintaiku sedangkan aku mencintai orang lain”
“jika begitu siapa yang mencintai aku sha? Aku tak merasakan ada seseorang yang mencintaiku!”
“kamu tidak tahu, apalagi aku jar”
Fajar kembali diam tak menjawab. ‘aku mencintaimu sejak kamu menjadi perantara tuhan mengobati penyakitku’ hatiku bergumam yang tak ada hasilnya, sampai kapanpun fajar tak akan mengetahui perasaanku yang aku rasakan sendiri tanpa celah sedikitpun, termasuk ami.
“dokter fajar?”
Baru saja beberapa saat percakapan aku dan fajar berakhir, ada suara perempuan yang memanggil fajar. Fajar bangun dari tunduknya
“eh seina”
Aku baru ingat nama seina. Seina teman raka semasa sd sampai sma, berbeda dengan aku dan ami. Saat menatapku, Seina menyiratkan tanda tanya di matanya. Bagaimana tidak, dia tidak mengenalku
“wanita ini siapa dok? Pacar?”
“bukan na, dia temannya ami”
“ami? Amigea?”
“iya” fajar menjawabnya dan akupun ikut menjawabnya dengan isyarat menganggukan kepala. Seina melihat ke kanan dan ke kirinya
Dia masih terus mencari, sampai badannya memutar untuk dapat melihat ke sekeliling rumah sakit.
“di dalam” fajar menjawab dengan nada yang pasrah dan telunjuk tangan yang menunjuk ke dalam ruangan
“engga, engga”
Seina terlihat cemas, dia menggeleng-gelengkan kepalanya. Kakinya beranjak tangannya hampir saja menyentuh pembuka pintu. Aku langsung beranjak dari posisi duduk, tanganku meraih tangan seina dan menahannya.
“aku mohon, beri mereka luang dan waktu seina”
“tapi..”
“aku mohon kali ini saja, kasihan ami”
Seina menunduk, dia melepaskan genggaman tanganku yang menahannya untuk membuka pintu
“yasudah, demi raka”
Aku tersenyum mendengar balasannya. Aku melihat mata seina yang khawatir akan terjadi sesuatu, aku tahu persis juga seina mencintai raka. bagaimana mungkin dia tidak mempunyai perasaan untuk raka yang sudah menemani dia dari sd sampai sma. Tubuh seina menjatuhkan diri ke lantai, aku tak tega melihatnya yang terbebani perasaan yang tak terbalaskan, tapi bagaimana lagi, akupun sama halnya dengannya.
“seina”
Fajar memanggil seina yang tengah menatap kosong apa yang didepannya. Seina menengok dengan raut yang mengukirkan tanda tanya untuk fajar
“kamu mencintai raka?”
Seina tersenyum tanpa mempertemukan matanya dengan mata raka
“kamu kira?”
Fajar mengambil nafas begitu besar
“kamu mencintai raka”
Fajar menjawab dengan mata yang menatap seina seakan pendapatnya benar. Seina hanya tersenyum dengan mata yang kosong.
Beginilah cinta. Semakin tidak terungkapkannya cinta, maka semakin banyak sudut yang tercipta membentuk segi bangunan cinta. Dan sekarang diantara cinta raka dan ami, ada banyak orang yang diam\-diam mencintai tanpa mengungkapkan, hingga membentuk cinta segi lima.
…
‘krek’
Ada yang membuka pintu ruangan. Aku, seina, dan fajar langsung berdiri menyadarinya. Ternyata raka dan ami keluar. Raka duduk di kursi roda dan ami yang mendorongnya. Raka terlihat sangat bahagia, tapi tidak tahu untuk ami yang sudah tertutupi wajahnya, tapi kurasa dari matanya dia bahagia juga.
“raka?.. ami?”
Fajar mengawalinya, raka dan ami menengok kepada fajar yang memanggil
“eh dokter, dok saya mau jalan-jalan mencari udara ya sama ami, kan tadi kata dokter lebih baik mencari udara segar kan?”
__ADS_1
Raka membalas dengan senyuman dan semangat orang yang sudah sembuh. Ami hanya menunduk tanpa melihatkan wajah. Fajar hanya mengangguk memberi jawaban untuk raka.
“ka?”
Dilain posisi seina memanggil raka dengan tatapan yang lesu
“apa sei?”
Raka menjawab dengan sangat tenang, taka da rasa tak enak dari nada dan tatapan yang dia pertemukan.
“m.. tidak apa-apa ka”
Seina tersenyum dengan terpaksa tapi raka tidak menghiraukan.
“ayo ami”
Raka mengajak ami yang sedari tadi diam saja.
“sebentar ka”
Ami menjawab meminta raka untuk menunggu
“sha, kamu gak apa-apa kan pulang sendiri?”
“oh iya mi gak apa-apa, aku sudah terbiasa”
Aku tersenyum menjawab ami yang bertanya dengan wajah yang tak enak saat bertanya
“aisha pulang bersamaku saja”
Fajar tiba-tiba berbicara dengan memberi penawaran untukku. Baru saja aku akan menjawab untuk menolak tawaran fajar untuk bersama, ami lebih cepat menjawab fajar
“benar juga tuh jar. eh maksudnya dok”
Fajar tersenyum dengan reaksi ami. Aku menjadi gugup seketika
“memangnya tidak keberatan dok?”
“tidak sha, sekarang jam istirahat siang saya. Sekalian saya pulang dulu ke rumah”
“ya sudah kalau begitu”
Aku pasrah menerima penawaran fajar. Aku takut akan sesuatu akan lebih memekar dan tercium aroma kehadirannya.
“kalau begitu, aku dan raka jalan ya”
“iya” aku menjawab ami, sedangkan fajar seina hanya menjawab dengan menganggukan kepala. aku hanya bisa memandangi perasaan keduanya dari mata yang terus menatap punggung ami yang pelan-pelan hilangkan wujud.
“sha, ayo pulang”
Fajar menyadarkan lamunanku. Aku refleks mengangguk menjawab ajakan fajar.
“kamu menunggu di parkiran mobil saja. Aku ke ruangan dulu”
“iya”
Fajar langsung bergegas meninggalkan aku dan seina yang masih dengan posisi dan keadaan yang sama.
Aku melihat seina yang semakin terbawa arus perasaannya kepada raka. aku kasihan kepadanya, tapi bagaimana lagi, ini memang sudah yang dirasakan seseorang yang mencintai dalam diam.
“seina, aku duluan pulang ya”
Seina hanya menganggukan kepala menjawabku, dia masih tetap menatap kosong. Aku benar-benar khawatir meninggalkannya
“kamu jangan membuatku khawatir na”
Akhirnya seina sadar akan derasnya arus rasa yang membawanya. Dia menatapku aneh dan banyak tanda tanya yang ia siratkan di matanya
“khawatir kenapa?”
“khawatir kamu terbawa derasnya perasaan kamu sendiri”
Ada jeda yang seina beri koma. Dia seperti sedang memikirkan jawabanku
“maksudmu?”
“jangan panik, kamu juga akan mengerti”
Mata seina membalas dengan tatapan aneh kepadaku. Aku hanya tersenyum membalas pertanyaan yang masih ada di wajah yang melihat heran.
“aku pulang, assalamu’alaikum”
“wa’alaikumsalam”
…
Aku berdiri sendirian di parkiran mobil. Aku belum melihat kedatangan fajar dari setiap jalan yang ditapaki manusia berjalan. Cukup lumayan lama aku menunggu fajar, aku duduk saja di kursi yang sedari tadi tak aku manfaatkan.
‘tit tit tit’
Alarm jam tanganku berbunyi, sekarang waktunya aku minum obat. Aku langsung mangambil vitamin yang tak usah minum air untuk meminumnya. Aku beranjak mencari took yang menjual air putih dalam kemasan. Setelah aku menemukan air minum, sekarang handphoneku yang berbunyi. Saat aku lihat, ada sebuah pesan masuk, aku baca nama yang mengirimkan pesan. Tapi ini nomor baru yang masuk, aku buka pesan tersebut
‘aisha ini aku fajar. Maafkan aku, aku tidak bisa mengantarmu pulang. Ada fasien operasi tabrak lari dan aku dokter yang akan meng-oprasinya. Maafkan aku, lain waktu saja ya, aku janji’
Aku tersenyum lega membaca pesan dari fajar. Aku tidak sedih, karena jika sampai aku pulang bersamanya, yang ada aku takut akan perasaanku yang terpendam sedari dulu akan memuncak begitu saja.
‘iya tak apa jar, aku mengerti. Aku bisa pulang sendiri’
Aku langsung mengirim balasan pesan kepada fajar. Fajar tidak membalas lagi, mungkin dia sudah masuk ke ruang operasi. Walaupun begitu hati ini diam-diam mengharapakan bisa bersama-sama dengan raka.
…
__ADS_1