AmiKa

AmiKa
kenyataan terkejutkan


__ADS_3

Aku sempat lupa


Hari jadiku ke dunia ini


Karena mimpi yang mengajak berpetualang


Menyiratkan makna dalam lelap.


Sepertinya waktuku semakin sebentar


Umurku menambah dan mengurangi kesempatan


Kejutan dari kenyataan yang tak permisi terlebih dulu


Membuatku terpukul akan kenyataan.


...


Ami


"aku dimana?"


Aku bertanya kepada diriku sendiri yang kebingungan. Aku melihat ragaku yang pucat pasi dan kain putih yang menyelimuti. Aku tak mengerti melihat diriku sendiri.


Aku melihat kesekeliling yang gelap.


"ini tempat apa?"


Aku tersadar saat ada cahaya yang terang menerangi seseorang yang berdiri disana. Dia melihat kepadaku. Dia raka


"raka!"(teriak)


Dia tersenyum kepadaku. Dia memakai pakaian berwarna. Berbeda denganku yang putih pucat seperti tak ada kehidupan pada diriku.


"raka! ini aku ami!"


Dia masih tersenyum. Bedanya dia meneteskan air mata yang begitu terlihat dari jarak yang membentang pijakan aku dengan raka


"raka! kenapa kamu menangis?"


Dia masih dengan keadaan yang sama. Belum menjawab satu katapun kepadaku

__ADS_1


"raka jawab aku!"


"amigea, aku mohon jaga dirimu baik-baik"


Akhirnya dia menjawab walaupun dengan tanya yang tersirat dari penjelasannya


"maksudmu?"


"aku mohon kamu jaga dirimu baik-baik agar kita bisa bersama sampai nanti"


Baru saja aku akan bertanya lagi. Kakiku memudar


"kenapa ini raka!"


Raka menjawabku dengan tangisan yang deraskan arusnya. Aku tak tahu ini kenapa. Dan sekarang badanku memudar sampai aku taka da


...


"raka!"


Keringat membasahi baju yang memelukku. Aku mencari raka disekitar, tapi tidak ada siapa-siapa disini, yang ada aku baru menyadari kalau aku sedang di kamarku sendiri. Aku menghela nafas lega. Aku juga masih memakai piyama tidur, tunggu dulu! Sekarang jam berapa? Aku melihat jam digital di meja tidurku, jarum pendeknya sudah mulai menunjuk ke angka Sembilan begitu pula jarum pendek yang tinggal satu langkah lagi ke angka dua belas. Aku langsung beranjak dan angkat badan dari tempat tidur yang telah melenakan lelapku. Seharusnya aku sudah ada di kampus apalagi sekarang adalah kelas dosen terkiler selama aku belajar di kampus.


Aku menuruni anak tangga. Tidak ada siapa-siapa di bawah, termasuk bi ros yang biasanya selalu ada. Aku sampai di anak tangga terakhir, rasanya ada sesuatu yang aneh dan tidak aku ketahui


Semua orang keluar dari ruangan. Ibu dan ayah memegang kue ulang tahun. Sepertinya ini teman se-jurusanku, ramai sekali nyawa yang menyanyikan lagu untuk ku. Sampai pada lirik terakhir


Potong kuenya, potong kuenya


Potong kuenya sekarang juga


Sekarang juga, sekarang juga.


Tidak hanya aku yang bahagia, semua yang disini juga bahagia. Aku memotong kue dan menaruhnya di piring kecil. Kue yang aku potong, aku persembahkan pertama kali untuk ayah dan ibu


"selamat ulang tahun anakku"(ucap ayah dan ibu bersama)


Ayah dan ibu memelukku. Ayah di samping kananku, dan ibu di samping kiriku. Aku merasakan syukur yang mengaliri naluri kebahagiaanku.


"terima kasih ayah, ibu. Aku mencintai kalian"


Ada satu tetes air mata yang jatuh begitu saja saat aku mengungkapkan rasa kepada ibu dan ayah. Setelah beberapa menit, ibu dan ayah melepaskan pelukannya. Sekarang aku kembali menatap sekeliling. Tepat di sudut kananku, ada fajar yang sedang memandangiku, aku tersenyum menemukan sosoknya hadir di hari ulang tahunku. Aku kembali mencari sosok sahabat kecilku. sampai ke ujung belakang, tak ada aisha sahabatku disini. aku sedih seketika itu. Ibu dan ayah menatap aku yang berjalan kembali ke arah mereka

__ADS_1


"kenapa nak?"


Ibu bertanya dengan raut wajah yang cemas


"kemana aisha bu? Aku tidak menemukan aisha"


Jawabku dengan nada yang melantunkan lagu kesedihan. Ibu langsung memandang setiap sudut yang membentuk ruang, ibu terlihat kebingungan dari matanya


"ibu juga baru sadar nak. Ibu tak tahu"


Ibu melantunkan lagu cemas dari suaranya, aku lebih cemas daripada ibu. Mataku mulai membendung air mata, aku takut sesuatu terjadi pada aisha


"coba kamu telepon, siapa tahu ada sesuatu yang tidak sempat diberi tahu"


Mendengar usulan ibu, aku langsung meraih handphone di tas yang telah aku genggam dari tadi. Aku memilih kontak aisha dan langsung menghubungkan teleponku dengan teleponnya


"nomor yang ada tuju


Sedang dalam luar jangkauan


Cobalah beberapa saat lagi"


Pirasatku sudah tak lain arah. Aku takut terjadi sesuatu pada aisha, terlebih tentang penyakitnya yang aku takut merenggut nyawa sahabat kecilku ini.


"ibu, ibu punya nomor handphone orang tua aisha tidak?"


Ibu membalas dengan menggelengkan kepalanya. Aku tak bisa tinggal diam seperti ini.


"aku ingin menemui aisha bu"


"memangnya kamu tahu dimana rumah aisha"


Seketika itu, nafasku seakan berhenti. Aku baru sadar, aku tak tahu dimana rumah aisha yang sekarang, diapun tidak pernah mengajakku bermain ke rumahnya. Air mata telah jatuh satu tetesan. Aku teringat sesuatu kemarin


"fajar! Kamu tahu rumah aisha?"


Fajar juga hanya menggelengkan kepala. aku baru ingat kalau kemarin fajar tidak jadi mengantarkan aisha pulang.


"aku bisa sendiri!"


Aku langsung melangkahkan kaki angkat dari rumah. Tak tahu akan kemana aku pergi, tapi hatiku menginginkan aku ke kampus mencari data aisha disana.

__ADS_1


...


__ADS_2