AmiKa

AmiKa
pelan-pelan


__ADS_3

Di sela bersabar


Pelan-pelan semuanya membaik


Sudah seakan sediakala


Saat bersama dia tidak kenapa dan mengapa.


Tak ada yang dapat mengira


Pelan-pelan dia mulai bersamaku lagi


Walau masih lupa akan ingatan dulu


Tapi, ini pertanda tuhan akan mengabulkan do’aku.


Pelan-pelan, itu pasti


Akan berjalan dengan baik


Dan akan secepatnya membaik


Tentu aku dan dia akan bersama kembali.



...


Ami


Aku mendorong raka kemana saja kaki ini melangkah. Sedari tadi raka diam saja, tak bertanya ataupun berbicara apapun kepadaku. Aku diam memikirkan ada apa dengan raka. didepan ku ada taman rumah sakit yang begitu sejuk, aku melihat kursi yang kosong dan teranungi dengan pohon yang membuat teduh, aku langsung menujukan langkah kesana. Ketika sampai di kursi taman, aku memposisikan duduk raka di sampingku. Aku duduk di kursi taman, sedangkan raka tak ada gerakan ataupun kata yang keluar dari mulutnya. Aku menarik nafas


“kamu kenapa ka? Kok kelihatannya murung?”


“ah apa?”


Raka balik bertanya kepada aku yang bertanya


“kamu kenapa?”


“oh, tidak apa-apa”


Wajah raka saat menjawab tak meyakinkanku sama sekali, aku mengeryitkan alisku


“kamu tak bisa berbohong ka”


Raka menundukan kepala seakan bersalah ketika aku berbicara


“aku merasa tak enak kepada seina saat tadi”


“memangnya?”


“akupun tak tahu kenapa”


Dia menatapku kembali. Sekarang dia tidak berbohong


“kamu menyukai seina?”


“apa? Aku menyukai seina? Tidak! Aku hanya berteman dengannya sedari sd saja, mungkin”


“mungkin?”


“iya, mungkin. Karena aku lupa segalanya”


“oh iya ya”


Aku tersenyum dengan jawaban raka yang seharusnya aku menyadarinya. Raka kembali diam, tapi sekarang dia menatap ke sekeliling semesta, ada senyum yang dia ukir sedikit demi sedikit.


“amigea”


Raka memanggilku begitu saja dengan mata yang tidak melihatku tapi melihat semesta


“iya?”


“apa yang kamu khawatirkan di dunia ini?”


“aku, mengkhawatirkan seseorang yang aku sayangi dan cintai pergi tanpa ingat kepadaku”


“memangnya siapa?”


Raka langsung menjawab dengan menatap ingin tahu jawabanku. Aku tersenyum menertawainya


“ya, khawatir saja. Bagiku itu hal yang aku khawatirkan raka”


“oh begitu”


“kalau kamu ka?”


“aku mengkhawatirkan pergi dari hidup dengan keadaan lupa akan segalanya, bahkan aku takut itu terjadi mi”


‘aku juga takut mendengarnya ka’ gumamku dalam hati. Aku tidak menjawab apapun, yang ada aku menundukan kepalaku karena rasanya air mata sudah inginkan jatuh.


“jangan sedih dong mi”


Raka menggoda dengan senyum yang menertawakan. Aku jadi malu melihatnya menertawakan karena rasanya sudah lama aku tidak melihatnya seperti ini lagi kepadaku. Aku yang salah tingkah membuat tanganku refleks memukul lengannya


“awww”


Dia mengeluarkan isyarat kesakitannya. Jantungku langsung berdebar cepat takut ada apa-apa karena aku. Sekarang tanganku refleks menyentuh dan mengelus-elus lengan yang aku pukul


“maaf kan aku. Mana yang sakit?”


Aku melihat lengan raka yang sekarang lebih kurus daripada kemarin. Aku menunggu balasan darinya, tapir aka masih belum menjawab pertanyaanku saja. Aku alihkan pandanganku kepadanya, ternyata dia menatapku begitu dalam. Aku melambai-lambaikan tanganku ke matanya langsung, tapi dia tidak sadar akan apa yang aku lakukan.


“raka? raka fhaisal?”


Dia masih saja tidak sadar akan matanya yang tak lepas menatapku. Aku berpikir dengan cara apa aku menyadarkannya


“raka fhaisal!”


Aku menyebutkan namanya dengan berteriak tepat pas di telinganya. Dia langsung kaget sadar dari pokus menatapku


“eh eh, iya apa?”


Aku tertawa mengejeknya. Bibir bawah raka maju sedikit ke depan yang berarti dia sebal karena aku menertawakan. Justru karena itu, tawaku tidak bisa berhenti. Sampai akhirnya perutku sakit mendadak karena tawa yang tak bisa kuhentikan. Aku memegang perutku, yang sakit karena geli menertawakan raka yang semakin menjadi-jadikan wajahnya dengan mengukir raut yang aneh


“cukup ami. Jangan ketawa lagi”


Sekarang nada bicaranya yang terdengar aneh untuk umur yang sudah menua seperti raka, termasuk aku.


“ah jahat!”


Raka menunduk. Tawaku langsung berhenti. Ada linang mata yang menatap sedih raka di kursi roda.


“ka..” aku memanggilnya lembut. Dia menengok dengan senyuman lembut dari hati, aku membalas dengan senyuman yang tulus dari hati.


“ami?” dia memanggilku dengan begitu lembut


“iya apa raka?”


Dia memalingkan pandangan dari tatapanku


“kamu harus bisa menjawab”


Lengkungan alis kananku refleks naik ke atas mendengar permintaan raka


“kenapa jantungku selalu berdebar kencang saat melihat dan bersamaku?”

__ADS_1


Aku sangat kaget dengan pertanyaan anak kecil tapi orang dewasapun bisa bingung menjawabnya


“ya, mana aku tahu Raka Fhaisal”


Raka tersenyum malu. Dia menatap mataku


“aku ingin tahu wajahmu bagaimana mi?”


“maksudmu?”


“ya itu” dia begitu tenang bertanya


“tidak bisa seenaknya begitu ka, pakai cadar ini ada aturan dan hukumnya”


Raka tetap tersenyum dan tetap menatapku tanpa palingkan satu centipun


“yasudah. Setahumu, aku dan kamu pernah mengenal tidak mi?”


‘bukan hanya mengenal ka, kita selalu bersama’ gumamku dalam hati. Aku tersenyum melihatnya yang begitu antusias bertanya


“entahlah”


Aku tersenyum jahil saat menjawabnya. Wajahnya langsung mengukir raut baru


“ko entahlah? Beri aku kepastian amigea!”


Dia menjawab dengan nada yang memaksa. Aku jadinya senyum-senyum sendiri saat mendengarnya


“akupun tak tahu raka. sepertinya tidak pernah ka”


Wajah raka langsung menjawab ketidak percayaan dia


“aku tidak yakin mi”


“kenapa?”


“akupun tak tahu”


“lalu?”


“sudahlah tidak apa-apa”


Dia tersenyum begitu banyak arti yang dia siratkan kepadaku. Ingin rasanya aku menggenggam tangannya dan berbicara yang sebenarnya terjadi. Tapi aku takut dia kesakitan lagi. Aku memalingkan pandanganku dari raka, sedangkan raka masih tetap menatapku


“amigea”


Dia memanggil seperti menarik aku dengan pancingan yang bisa langsung menengokan aku kepadanya


“iya?”


Dia masih tersenyum belum menjawab jawaban pertanyaanku


“aku rasa, aku menyukaimu”(menunduk)


Dia diam, aku tak bisa menatapnya. Gugup menguasaiku, aku bingung harus menjawab apa.


“sudahlah, ayo pulang mi” dia terlihat biasa tapi tetap menyiratkan kegugupan yang dia juga rasakan


“oh, iya ayo” aku menjawab dengan gugup yang tersurat di nada bicaraku, untung saja raka tidak menambah-nambah kegugupan lagi


Aku dan raka telah sampai mendarat di tempatnya. Seina duduk di kursi luar ruangan. Dia tidak lepaskan matanya melihat aku dan raka yang mulai dekat dengannya. Saat datang tepat di depan matanya. Seina tidak berbicara apa\-apa, dia malah menundukan pandangannya. Ada tak tega melihatnya seperti ini, tapi bagaimana lagi.


“ami” raka memanggilku yang tengah berbicara sendiri dalam hati


“iya?” aku menjawab sambil melihat wajahnya yang berpikiran sama dengannya


“kamu boleh pulang, aku bersama seina saja”


“oh yasudah. Raka, seina, aku pulang. Assalamu’alaikum”


“wa’alaikumsalam” (raka dan seina bersamaan)


Langkahku menjauhi pijakan raka dan seina. Mereka masih berdiri di tempat perpamitan aku dengan mereka. Saat persimpangan ke lain arah, aku menengok terlebih dulu ke belakang tepat raka dan seina masih ada belum masuk ke dalam ruangan. Raka tersenyum untukku, tapi seina masih seperti rasa yang tak rela kepadaku.




Ami


Kakiku telah angkat kaki dari rumah sakit. Aku menghirup nafas lega. Hari ini, semua rasa bercampur aduk, aku bingung harus bercerita dari mana kepada aisha. Baru saja aku akan mengambil handphone untuk menelpon aisha, seseorang memanggil namaku, suaranyapun taka sing di telinga


“amigea!”


Aku melihat dia yang memanggil, fajar. Dia sudah datang dari mengantarkan aisha pulang atau baru datang? Aku lihat jas putih masih memeluknya.


“fajar!”


Aku membalas panggilannya. Dia melangkah mendekati tempatku berpijak. Aku rasa ada sesuatu yang tak sesuai keinginan


“jar? Kamu darimana?”


“aku? Aku baru beres meng-oprasi fasien. Maafkan aku mi, aku tidak bisa mengantarkan aisha pulang karena ada fasien tabrak lari”


“lalu aisha tahukan?” aku langsung memotong perkataannya walaupun aku tahu dia pasti akan menjelaskan soal yang aku tanyakan padanya


“iya aisha tahu kok mi, tenang saja”


Wajahnya menunduk seperti bersalah kepadaku, aku jadi tak enak memandangnya seperti ini


“iya tak apa juga kok jar, yang penting aisha tahu. Aku takut jika ia menunggumu”


Wajahnya kembali bagun dan dia juga memberi senyuman kepadaku


“kamu mau pulang? Sudah beres jalan-jalan sama raka?”


“iya nih aku mau pulang. Raka sudah ditemani seina”


“yasudah aku antar kamu pulang mau tidak? Lagipula tugasku sudah selesai”


Dia memberi senyuman yang dihiasi tebaran harapan, aku jadinya refleks memberinya senyuman juga


“bener nih? Aku takut seperti aisha yang tak jadi karena ada operasi dadakan”


Aku meledeknya disertai dengan keraguan untuk menerima ajakannya


“tidak akan mi, piket ku hanya sampai sore. Kalaupun nanti ada fasien yang harus di-oprasi bukan aku dokter yang akan meng-oprasi tapi dokter yang bagian piket sore sampai malam”


Aku tak tahan menahan tawa saat dia menjelaskan apa yang aku sudah tahu tapi aku ragukan. Padahal aku hanya mengetesnya saja, akupun tahu jikalau dokter bedah itu mempunyai jadwal piket kerjanya.


“iya jar, aku juga tahu kok”


Aku menjawab dengan jahil yang selalu terukir di wajahku. Fajar tersenyum malu, tangannya langsung merenggut tanganku dan dia menuntunku ke mobilnya yang tak jauh dari tempat aku dengan fajar berdiri dari tadi. Aku rasa ada yang tidak enak untuk dilanjutkan


“fajar! Lepaskan tanganku”


Tangan pajar refleks melepaskan tanganku


“maafkan aku mi, aku lupa”


Aku mengelus-elus punggung tanganku. Aku hanya menganggukan kepala untuk menjawabnya


“maafkan aku amigea”


Wajahnya sangat bersalah kepadaku. Padahal akupun sudah memaafkannya, hanya saja aku tidak mengungkapkannya secara lisan


“iya fajar dewa aku memaafkanmu”

__ADS_1


Dia tersenyum malu mendengar jawabanku


“nah gitu dong kalau memaafkan bilang. Gimana kalau aku traktir kamu?”


“(mengeryitkan satu alis kanan) untuk apa?”


“ya, bukan untuk apa-apa”


“yasudah ayo jalan”


Dia tersenyum bahagia. Aku berjalan mendahuluinya, fajar aneh. Kenapa aku yang berjalan didepannya tapi dia masih dibelakang


“fajar ayo!”


Dia langsung sadar dari tingkah aneh yang hadir ketika aku menerima tawarannya. Dia lari mengejar aku yang sudah cukup jauh darinya sehingga aku dan dia berjalan bersama sampai irama kakipun ikut sama. Aku kanan, fajarpun kanan. Aku kiri, fajarpun kiri.


“ih, kamumah ngikutin aku langkahnya jar”


Fajar tertawa keras, aku ikut-ikut tertawa menertawakan fajar yang aneh. Tawanya semakin memuncak, sekarang dia tertawa dan tangannya menunjuk kepadaku. Ya, lebih tepatnya dia menertawakanku. Aku yang tak ingin kalah, aku membalasnya dengan cara sama. Ternyata tertawa juga melelahkan bukan hanya berjuang untuk seseorang yang tidak balik memperjuangkan. Tawaku mereda, fajarpun ikut mereda


“ayo, masuk mobil”


Ternyata dari tadi aku tertawa dengannya, aku dan fajar sudah sampai di depan mobilnya. Memang benar, bahagia itu melupakan akan segalanya. Akupun mengangguk lalu masuk ke dalam mobil.


Di dalam mobil, fajar fokus terhadap jalan yang menantangnya. Aku menikmati supiran fajar yang cukup nyaman jika aku tidur. Aku merasa ada yang kurang di dalam mobil ini. aku baru menyadari keheningan yang tercipta dari ketiadaan cakap antara aku dan fajar


“jar, boleh putar musik?”


“ya boleh mi. putar saja dari handphonemu. Di mobilku tak ada musik, biasanya aku memutar dari handphoneku”


Dia membalas dengan mata yang tidak sedikitpun berpaling dari jalan. Aku langsung mengambil handphone di tasku dan menghubungkan kabel untuk menyambungkan ke pemutar musik di mobil fajar. Di koleksi musikku aku langsung memilih Ed Sheren dengan judul perfect. Aku bernyanyi bersama musik yang aku putar


‘I found a love


For me’


“kamu suka lagu yang seperti itu mi?”


Raka bertanya ketika aku tengah mendengarkan suara raka yang selalu ikut bernyanyi jika mendengar lagu ini.


“bukan hanya itu. Aku sangat suka lagu ini, begitupun dengan raka”


“raka?”


“iya, aku dan raka selalu bernyanyi bersama jika mendengar lagu ini terputar dimanapun dan dalam keadaan apapun itu”


Saat aku berbicara itu, amygdala kembali membawaku kepada masa itu. Sampai aku melihat fajar adalah raka


“maafkan aku ami”


Aku tersadarkan oleh fajar yang meminta maaf. Sosok raka seketika langsung menghilang dari bayanganku.


“maaf untuk apa jar?”


“maaf untuk pertanyaan yang membuat kamu memikirkan raka”


“(tertawa sedikit terpaksa) tak apa-apa jar”


Fajar hanya tersenyum tidak membalas apapun. Mungkin dia tak ingin membuatku memikiran raka lagi karenanya. lagipula, taka da yang harus dijawab lagi sesudah aku memaafkannya.


“ayo mi turun, sudah sampai”


Suara fajar menyadarkanku yang sedang bercakapan dengan hati yang selalu mengingat raka saat bersama fajar. Entah kenapa, setiap kali aku bersama fajar, pikiran tentang raka selalu ada saja, kalaupun menghilang hanya beberapa detik, selepas itu datang lagi untuk aku pikirkan. Aku selalu tak enak jika melihat fajar adalah raka. bukan sekali dua kali aku melihat fajar itu menjadi melihat raka, aku sudah sering menyadari jikalau fajar memanggilku sebanyak tiga atau lebih kali.


“mi?”


“oh iya?”


Benar saja fajar memanggilku lagi karena aku yang masih terjebak dalam pelukan cinta raka.


“ayo turun sudah sampai”


Raka langsung keluar dari mobil. Aku membereskan tasku yang sedikit berantakan sebelum keluar dari mobil. Baru saja aku akan membuka pintu untuk keluar, fajar sudah membukakan pintu dari luar mobil, aku menerima jamuannya untuk keluar dari mobil. Dia membawaku ke pantai, banyak penjual yang berkeliling disekitar hamparan oasir pantai. Aku merasa segar menatap dan merasakan angina pantai. Aku menengok melihat fajar, ternyata fajar sudah memerhatikanku. Aku tersenyum malu kepadanya


“ayo”


Fajar langsung jalan tanpa seperti biasanya menggenggam tanganku. Aku tersenyum menatapnya yang sudah berjalan tanpa melihatku yang masih diam ditempat. Tiba-tiba dia berhenti, dia menengok ke belakang


“ami ayo!”


Dia memanggil dengan volume yang cukup keras karena disini ombaknya cukup keras dan membuat semesta memantulkan suaranya, jadi yang berdiam disini selalu mengeraskan suara ketika bercakap dengan pasangan cakapnya. Aku langsung mengikuti fajar yang melanjutkan jalannya tanpa menunggu aku berjalan sejajar dengannya.


Sekarang aku berjalan sejajar dengan fajar. Tak ada respon apa\-apa saat aku bersampingan dengannya. Fajar tetap fokus melihat ke depan. Sampai tiba di bibir pantai, fajar baru menghentikan langkahnya, aku juga langsung berhenti karenanya. sekarang dia menengok lalu memerhatikanku. Dia tersenyum dan menyipitkan matanya yang sudah terlihat sipit karena kaca mata. Aku membalas dengan senyuman juga. Lembayung mulai nampak di kaca muaranya. Sekarang dia tersenyum memperlihatkan giginya dan lesung pipit ikut hadir karena dia terajak. Aku menunduk karena bayangan aku melihat fajar sudah mulai berubah menjadi raka.


“amigea”


Dia memanggil saat gugup mulai mengendalikan. Aku paksakan untuk kembali pada pandangannya


“iya?”


Ada koma yang fajar hadirkan untuk membalas pertanyaanku. Pandangannya sekarang begitu dalam dari pandangan hari-hari biasa yang sudah berlalu.


“amigea”


Dia memanggil namaku lagi. Aku dibuatnya sedikit kesal karena sudah diam-diam menggodaku


“apa fa..”


Baru saja aku akan mengutarakan namanya, dia menutup bibirku yang tertutupi cadar dengan jari telunjuknya


“fajar dewa mencintai amigea”


Seketika itu juga, seperti ada petir yang melintas dan mengenaiku. Aku lemah tak tahu apa yang harus aku utarakan apalagi yang harus kulakukan untuk mengubah suasana ini. aku membuang pandangan darinya. Aku tak ingin terkurung dari ungkapan perasaannya kepadaku


“ami tak apa. Aku tak memintamu membalas perasaanku, aku hanya ingin mengungkapkannya kepadamu”


Aku hanya mengangguk membalas penenangannya yang terdengar sakit untuknya.


“maafkan aku fajar, aku ingin pulang sekarang”


Dia belum membalas permintaanku. Aku berusaha menenangkan diriku sendiri, sampai akhirnya aku bisa kembali melihat fajar. Dia masih menatap semesta yang mulai gelap.


“sebentar ami, aku ingin melihat senja terbenam”


Aku hanya mengangguk dan kembali ikut menikmati senja yang terbenam bersama fajar.


Rasanya hari ini, begitu banyak rasa yang terasakan olehku dan begitu banyak rasa juga yang terungkapkan untukku. Aku begitu mensyukuri, masih banyak orang yang menyayangi dan mencintaiku. Tapi jika orang yang aku cintai sesungguhnya sakit, sama saja bahagia ini tidak sepenuhnya terjadi. Walau banyak orang yang menghampiri dan tiba\-tiba datang membawa rasa, rasanya tak akan semudah itu aku merasakan hal yang sama dengan seseorang tersebut.


“ayo pulang mi”


Dia menyadarkanku yang tengah bercakap dengan semesta perihal hari ini. tampaknya semestapun ikut antusias terhadap ceritaku yang sudah tersaksikan olehnya, sampai sudah masuk malam dia masih memperlihatkan mega merah milik senja.


Mobil raka tiba di depan rumahku. Selama perjalanan taka da cakap yang meghiasi, akupun sibuk mendengarkan musik di earphone Bluetooth yang tertutupi hijab. Saat aku hendak membuka pintu untuk keluar


“ami”


Fajar memanggilku, dia juga menatapku. Aku juga menatapnya dengan jamuan pertanyaan yang tersirat di mataku


“terima kasih dan maaf untuk hari ini”


Matanya begitu teduh saat menatap, aku berteduh dibawah teduh matanya. Aku langsung mengangguk tanpa membalasnya dengan satu kalimat ataupun kata untuknya. Kakikupun melangkah keluar dari mobilnya. Tak ada kata akhir untuknya, aku sudah gugup dan risau kepadanya hatinya, aku takut tercipta perasaan lagi untuknya. Aku tidak ingin mempertanggung jawabkan perasaannya karena sampai saat ini aku masih mengharapkan dia yang masih lupa akan dirinya sendiri. Akhirnya aku sampai masuk gerbang rumahku


“tit”


Fajar membunyikan klakson, mobilnya sudah menghilang dari pandanganku. Seketika itu juga, ingatan saat di pantai tadi langsung teringa dan aku merasa harus bertanggung jawab perasaan fajar walaupun tidak aku terima.


__ADS_1


__ADS_2