AmiKa

AmiKa
Aisha chika


__ADS_3

Dia tertutup


Tentang segalanya tertutup


Sampai ternyata dia segalanya


Bagiku yang melupakan.


Setelah dulu pernah selalu bersama


Akhirnya hari ini dipertemukan kembali


Dan dipersatukan kembali


Aku malu kepadanya.


Kenapa aku tidak menyadari


Kehadiran sahabat kecil


Yang sangat setia menemani


Saat kecil dulu.


...



Ami


Raka dan seina sudah menghilang di mataku. Lagi\-lagi aku sendiri lagi. Aku mengambil handphone didalam tas. Handphoneku baru membuat nomorku baru, semenjak kecelakaan kemarin, handphoneku tergeleng mobil dan hancur hingga bentuknya bukan handphone lagi. Jadi tadi aku memberi nomor handphone baruku kepada raka dan menghapus nomor handphone lamaku. Saat kecelakaan, raka tidak membawa handphone, jadi handphonenya sama sekali tidak kenapa\-kenapa. Aku membuka kontak, mengetik nama Raka Fhaisal di kolom pencarian. Aku memandangi nomor raka tersebut. Aku rindu sekali namanya muncul begitu saja dengan tanda telepon hijau dan merah, aku menginginkan ini terjadi lagi. Melihat pesan yang masih sepi, yang ramai hanyalah whatsapp, itupun diramaikan dengan group yang onar.


“ami”


Aku sedikit kaget. Ternyata dia, aisha chika. Aku memasukan lagi handphone kedalam tasku. Aku tersenyum untuk aisha, aisha membalas dengan senyuman yang sedikit membuatku berpikir tentang sesuatu, tapi apa?


“boleh aku duduk?”


Aisha bertanya dengan suara yang lembut. aku suka kehadirannya, dia lembut


“tentu saja boleh, sha”


Aku menjawabnya dengan senyuman yang menjamu. Aisha duduk di sampingku. Belum ada kutip yang memulai pembicaraan.


“ai..”


“ami, maaf hehe. Aku ingin menunjukan sesuatu”


Baru saja aku akan bertanya, aisha sudah menyeka, dan meminta maaf dengan senyuman bersalahnya telah menyekaku. Dia ingin menunjukan sesuatu, tapi mana sesuatu itu, aku sama sekali tak melihat tanda-tanda sesuatu yang akan dia tunjukan. Dia mesih diam, hanya menatap dengan kosong. Aku bosan dengan yang namanya menunggu, aku beranikan saja untuk bertanya


“apa yang akan kamu tunjukan?”


Aisha menatapku, dia belum memberikan jawaban. Sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu yang dia akan lakukan. Aisha mengambil nafas berat. Apa begitu berat apa yang akan dia tunjukan padaku? Aku semakin penasaran dibuatnya. Akhirnya dia mengambil sesuatu di tasnya. Aku mengeryitkan alis. Mataku berlinang oleh air mata yang mulai terbendung. Aku melihat sesuatu yang dia tunjukan. Amygdalaku teringat dengan kejadian sebelas tahun dulu.



Sebelas tahun dulu


‘prang!’


Baru saja aku akan membuka pintu. Ada suara yang menahan kakiku sampai berhenti diam. Aku masih mendengar suara ini, sedari malam aku berusaha mentulikan telinga, suara ini masih tak sopan masuk ke dalam telingaku. Aku pundurkan satu langkah kaki kebelakang. Punggungku bersandar di tembok yang mati, tubuhku tak sanggup untuk bertahan lagi dan akhirnya jatuhkan raga ke lantai. Mataku menatap langit rumah, kini langit rumah hanya mendung, langit mataku yang menjatuhkan hujan. Aku menangis tersedu-sedu. Baru saja aku akan mengambil keputusan. Telepon kamarku bordering. Aku langsung meraih dan mengangkat telepon yang memanggil


“assalamualaikum, hallo?”


Aku langsung memberi salam dengan tangis yang menyendak suara


“wa’alaikum salam. Ami? Ini aku Aisha, kamu kenapa? Kok suaramu seperti yang sedang menangis? Kamu dimana? Ayo kita bicara, ada yang harus aku bicarakan padamu”


Aisha menjawab tanpa ada koma yang menjeda, tanpa mempersilahkan aku menjawab satu persatu. Baru saja aku hendak menjawab


“cepat ami! Aku akan segera pergi. Aku tunggu di lapangan sekolah”


Aisha meminta tanpa menjelaskan yang dia pinta


“dut..dut..dut”


Baru saja aku akan mengiyakan. Aisha sudah menutup telepon tanpa salam penutup untukku. Kenyataan apalagi yang akan menghampiriku. Aku tidak boleh diam bingung. Aku harus langsung pergi ke sekolah.


Aku membuka pintu dengan pelan. Suara tadi yang menghentikan langkahku telah tak terdengar lagi. Aku lirik ke lantai bawah, sudah tidak ada pemilik suara tadi, yang ada sisa pertengkaran yang terlantar di lantai rumah dan membuat permadani rumah sudah seperti hamparan ubin yang terhamburi murka ayah dan ibu. Ayah dan ibu sedang dimana? Apa ini sudah berakhir? Atau ini hanya pemulaan saja?. Aku tak peduli, aku agkat kaki dari rumah dan mengarahkan tujuan ke sekolah.



Sekolah sudah aku pijak. Aku usap pipi yang terasa basah karena hujan jatuh dari mataku. Aku menarik nafas agar lega bisa aku rasakan. Aku mencoba mengukir senyuman untuk sekedar memperlihatkan kebahagiaan semata. Aku mencari sosok yang menjanjikan bertemu. Akhirnya aku temukan sosoknya di kursi taman yang menatapku. Dia, aisha sudah menatap dengan senyuman yang menjamu kedatanganku


“ami!”

__ADS_1


Aisha memanggil namaku dilengkapi dengan lambaian tangan yang sangat indah. Sahabat memang pengobat atas segala kesedihan. Senyuman terukir begitu saja. Seketika aku bahagia melihat aisha. Kakiku langsung lari menghampirinya. Baru saja satu langkah aku sampai di depannya, aku memeluk aisha dengan erat.


“aisha, aku butuh kamu”


Hujan kembali jatuh dari mataku. Aisha menjawab pelukanku dengan sangat lembut, mengelus punggungku yang sudah basah dengan keringat karena jalan yang aku tempuh cukup jauh antara rumah dengan sekolah


“kamu kenapa ami?, kok aku tidak lihat mobilmu? Apa kamu jalan? Kan jauh kali mi?”


Aku belum bisa membalas pertanyaan aisha yang panjang dalam waktu yang begitu cepat. Aku masih terbawa arus sedih yang begitu deras.


“yasudah, kamu tenangkan dulu”


Menjawab aisha, aku hanya bisa menganggukan kepala. Aku belum bisa menenangkan diri. Aku masih dengan kesedihan. Cukup lama aku dan aisha berpelukan tanpa cakap yang biasanya menga-aluni


“tapi, aku tidak bisa lama-lama mi”


Aku langsung melepaskan pelukan yang sebenarnya tak ingin aku lepaskan


“kenapa sha?”


Aisha menunduk, tidak membuka suara untuk menjawabku. Aku belum berani bertanya lagi. Aku pandangi aisha tanpa satu kedipan menyeka. Aku kaget, aisha menjatuhkan satu tetes air mata tanpa melihatkan mata yang membendung


“kamu kenapa sha? Kenapa kamu nangis?, lihat aku sha”


Akhirnya aisha memperlihatkan matanya. Kesedihan begitu dia ungkapkan dari mata yang terlinang air mata. Aku menghapus air matanya


“kenapa sahabat?”


Aku membujuk aisha pelan dengan genggaman yang meyakini akan tidak ada apa-apa. Aisha menghembuskan napas yang sangat dalam.


“aku tidak bisa menemanimu lagi, Ami”


Tangisan Aisha pecah mengeras daripada yang awal. Aku belum bisa memaknai perkataan aisha, mataku memandang kosong apa yang aku lihat.


“aku harus pindah ke eropa mi”


Seketika itu juga, air mata jatuh dari muaraku. Aku belum bisa berbicara sepatah katapun. Tangisan ini mengendurkan genggaman tanganku dengan tangan aisha. Aisha merebut kembali tangan yang mulai melepas dari tangannya, sekarang genggaman aisha lebih keras daripada genggaman tanganku


“ma ma-afkan aku ami”


Kepalaku menolak dengan sedih


“kenapa aisha? Kenapa?”


“tapi kenapa aisha? Jawab aku!”


Aku bertanya dengan nada yang tinggi. Aku tidak bisa mengontrol diri lagi, setelah kejadian yang aku alami sedari malam, dan detik ini juga aku diberi kejutan baru lagi. Aisha melepaskan genggaman tangannya dengan sangat kasar dan dia juga memalingkan badan dariku. Kenapa aisha? Kamu belum menjawab pertanyaanku. Aisha berdiri dengan tangan yang memeluk badannya


“aisha.. kenapa? Aisha”


Aisha tidak menghiraukan pertanyaanku. Apa ada yang salah dariku? Apa ini gara-gara aku?. Aisha memulai satu langkah menjauh dariku


“aisha chika, apa yang terjadi? Apa yang membuat kamu pindah dan meninggalkan aku?”


Tangisanku membuat aku berbicara dengan amat tersedu. Aisha masih tidak menghiraukan apa kataku. Aku berusaha bangun dari duduk, tapi rasa sedih ini dengan mudahnya menjatuhkanku di atas permadani semesta yang tergelar untuk ciptaan tuhan. Aku melihat aisha yang masih saja berjalan tanpa melihat ke belakang


“aisha jangan tinggalkan aku tanpa alasan yang dapat menemaniku, aku butuh kamu saat ini dan selamanya. Ibu dan ayahku bertengkar sha”


Selepas aku berbicara, aku merasakan kaki aisha berhenti. Mataku tidak ingin melihat teganya aisha meninggalkanku, jadi aku hanya melihat rumput yang ikut basah karena air mataku. Tak ada suara yang terdengar lagi. Ini hening, apa aisha sudah menghilang?. Aku izinkan mata melihat ke depan dan mencari aisha. Tapi, aisha hanya ada di lembar sebelum ini.



Ami


“aku aisha chika sahabatmu”


Aku langsung memeluknya tanpa seka, dengan erat takut dia menghilang lagi. Aku menangis, lagi-lagi menangis, tapi sekarang aku menangis karena bahagia. Aku melepaskan pelukan dan melihat setiap sudut permukaan aisha yang sudah lama aku tak lihat. Aku juga memandangi foto aku bersama aisha yang aku berikan kepada aisha saat setelah aisha meninggalkanku, aku memberikan foto karena foto yang ada padaku aku hapus dulu, saat itu aku benar-benar kacau, jadi aku berikan semua rekaman semesta kepada aisha agar terjaga.


“maafkan aku sahabat”


Kata maaf dari aisha kembali aku dengar. Aku memeluk dia lagi. Aku tahu, aisha tak akan benar-benar meninggalkan. Buktinya, sekarang dia kembali lagi, walaupun sudah sebelas tahun yang merentang. Terima kasih tuhan.


Aisha pelan\-pelan melepaskan pelukan. Dia menatapku dengan sangat dalam. Ada kehangatan yang aku rasa dari tatapannya, rindu, dan senyuman yang khas karena satu gingsul dikanannya membuat aku sangat rindu dia tersenyum.


“kamu harus cerita banyak kepadaku mi”


Dia berbicara dengan manja. Mencubit hidungku yang sudah tertutupi cadar. Kebiasaan dia masih saja ada. Dia selalu mencubit hidungku jika merasa gemas kepadaku, kalau aku selalu mencubit pipinya karena pipinya sudah seperti bapau sedari dulu sampai sekarangpun masih saja tembam.


“kamu apalagi, harus cerita, dan beritahu kenapa kamu meninggalkan aku begitu saja”


Aku membalasnya dengan tangan yang sudah gatal untuk mencubit pipinya. Aku tertawa saat respon wajah yang dia ukir karena cubitanku.


“aah sakit ami”


Aku malah tertawa karena dia mengeluh kesakitan. Ini yang benar-benar aku rindukan setelah raka. satu demi satu kerinduanku terjawab. Semoga kerinduanku terhadap raka cepat terjawab setelah ini.

__ADS_1


“tadi siapa laki-laki berkaca mata yang bersamamu?”


Aku langsung diam menjawab pertanyaan aisha


“oh, itu dokter fajar”


“dokter?”


Aku mengangguk dengan pertanyaan aisha yang meminta keyakinan.


“oh, dokter fajar. Lalu, tadi yang baru saja bersamamu dan pergi bersama yang lain siapa?”


Kata-kata pertanyaan aisha begitu menusuk hati yang memaknai. Aku tersenyum


“itu raka”.


Hanya itu yang aku balas untuk aisha


“oh, jadi benar raka orangnya”


Aku memberi pertanyaan lewat wajah yang mengukir ekspresi heran.


“aku sudah tahu semuanya mi. aku sudah bertemu dengan ayah dan ibumu, aku juga sudah tahu dengan dokter fajar. Aku disini sudah masuk hari ke tiga, selama itu aku sudah diam-diam menyusun rencana yang tepat untuk bertemu kamu mi. dan akhirnya aku sudah tahu wujud raka fhaisal kan?”


Aku diam sejenak, belum ada kata yang sudah teruntai untuk aku ungkapkan. Aku menarik nafas besar


“kenapa kamu begitu so sweet my friend?”


Aku memeluk aisha lagi, aisha juga memeluk dengan mengelus hijab yang menutupiku.


“aku akan selalu menemani kamu mi, tak pernah ada satu detikpun yang aku lewati tanpa melihat snapgram kamu, mungkin kamu yang sudah melupakanku”


Lagi-lagi aisha mencubit hidungku


“ini juga karenamu yang tidak memberi alasan saat pergi sha”


Karena tak ingin kalah, aku cubit pipi aisha dengan keras melebihi cubitan aisha kepadaku.


“maafkan aku sahabat”


“lalu kenapa kamu meninggalkan aku aisha?”


tak ada balasan langsung dari aisha. Kepalaku bertepi di pundak aisha, mataku memandang mata aisha yang menatap kosong kedepan. Aisha belum saja memberikan jawabannya


“aisha kenapa? Kamu belum menjawab pertanyaanku”


Aisha tersenyum masih dengan tatapan kosong. Aku beranjak dari senderan pundak aisha. Merasa ada yang tak beres


“aisha? Aku ingin tahu”


Aisha sudah sadar dari kosong tatapannya. aku menatap matanya yang juga menatap tatapanku


“sha?”


Aku memanggilnya dengan pelan. Dia seperti sedang menyiapkan diri untuk memberitahuku


“aku pindah ke eropa, karena aku harus menjalani terapi yang berkepanjangan”


“tunggu, terapi? Terapi kenapa sha”


Air mata sudah mulai terbendung di bak muaraku. Belum sempat aisha menyelesaikan penjelasannya, aku sudah menyeka dengan pertanyaan yang pasti akan terjawab setelah itu.


“terapi kanker darah”


Aku kembali menjatuhkan air mata. Manatap aisha yang menundukan kepalanya. Dia sepertinya takut akan kesedihan yang aku tumpahkan. Aku tersedu-sedu menyeka air mata yang terus terjatuh


“kenapa sha, kenapa kamu tidak memberitahu”


Aisha menjatuhkan satu tetes air mata pertama. Belum ada jawaban yang memberitahu alasan diatas akibat. Aisha menunduk, dia tidak melihat aku yang terpukul akan kenyataan yang terjadi padanya


“maafkan aku ami”.


Aisha langsung memelukku dengan begitu erat. Dia terisak tanpa jeda, aku mengelus pundaknya


“tidak apa aisha. Aku tahu kamu tidak ingin aku khawatir”


Aisha terangguk, tapi masih saja menangis. perlahan aku lepaskan pelukan eratnya. Memasangkan matanya dengan mataku. Aku ukir senyuman untuk menenangkannya


“jangan nangis sha, jelek tahu”


Aku cubit saja pipi aisha. Aisha hanya tersenyum manja tanpa membalas seperti biasa. Akhirnya aku temukan juga kehadiran yang hilang tanpa aku cari. Terima kasih tuhan, atas hadiah yang satu persatu menjawab kesabaranku. Aku bahagia bertemu aisha chika.



__ADS_1


__ADS_2