
Ada yang baru
Dari pertemuan yang telah terikat
Beberapa hari lalu
Dia menceritakan saat waktu yang tak tepat.
Sudah ada dua pengakuan rasa
Di satu hari ini
Yang pertama, memang aku cinta
Sedang yang kedua, aku tak bisa menolak juga.
Siapa bisa menolak dalam keadaan ini
Saat hati tak kuasa menahan sabar
Dan menolak yang terlihat tulus dan hadir
Aku tak tahu, sungguh.
...
Ami
Kakiku telah angkat kaki dari rumah sakit. Aku menghirup nafas lega. Hari ini, semua rasa bercampur aduk, aku bingung harus bercerita dari mana kepada aisha. Baru saja aku akan mengambil handphone untuk menelpon aisha, seseorang memanggil namaku, suaranyapun taka sing di telinga
"amigea!"
Aku melihat dia yang memanggil, fajar. Dia sudah datang dari mengantarkan aisha pulang atau baru datang? Aku lihat jas putih masih memeluknya.
"fajar!"
Aku membalas panggilannya. Dia melangkah mendekati tempatku berpijak. Aku rasa ada sesuatu yang tak sesuai keinginan
"jar? Kamu darimana?"
"aku? Aku baru beres meng-oprasi fasien. Maafkan aku mi, aku tidak bisa mengantarkan aisha pulang karena ada fasien tabrak lari"
"lalu aisha tahukan?" aku langsung memotong perkataannya walaupun aku tahu dia pasti akan menjelaskan soal yang aku tanyakan padanya
"iya aisha tahu kok mi, tenang saja"
Wajahnya menunduk seperti bersalah kepadaku, aku jadi tak enak memandangnya seperti ini
"iya tak apa juga kok jar, yang penting aisha tahu. Aku takut jika ia menunggumu"
Wajahnya kembali bagun dan dia juga memberi senyuman kepadaku
"kamu mau pulang? Sudah beres jalan-jalan sama raka?"
"iya nih aku mau pulang. Raka sudah ditemani seina"
"yasudah aku antar kamu pulang mau tidak? Lagipula tugasku sudah selesai"
Dia memberi senyuman yang dihiasi tebaran harapan, aku jadinya refleks memberinya senyuman juga
"bener nih? Aku takut seperti aisha yang tak jadi karena ada operasi dadakan"
Aku meledeknya disertai dengan keraguan untuk menerima ajakannya
"tidak akan mi, piket ku hanya sampai sore. Kalaupun nanti ada fasien yang harus di-oprasi bukan aku dokter yang akan meng-oprasi tapi dokter yang bagian piket sore sampai malam"
Aku tak tahan menahan tawa saat dia menjelaskan apa yang aku sudah tahu tapi aku ragukan. Padahal aku hanya mengetesnya saja, akupun tahu jikalau dokter bedah itu mempunyai jadwal piket kerjanya.
"iya jar, aku juga tahu kok"
Aku menjawab dengan jahil yang selalu terukir di wajahku. Fajar tersenyum malu, tangannya langsung merenggut tanganku dan dia menuntunku ke mobilnya yang tak jauh dari tempat aku dengan fajar berdiri dari tadi. Aku rasa ada yang tidak enak untuk dilanjutkan
"fajar! Lepaskan tanganku"
__ADS_1
Tangan pajar refleks melepaskan tanganku
"maafkan aku mi, aku lupa"
Aku mengelus-elus punggung tanganku. Aku hanya menganggukan kepala untuk menjawabnya
"maafkan aku amigea"
Wajahnya sangat bersalah kepadaku. Padahal akupun sudah memaafkannya, hanya saja aku tidak mengungkapkannya secara lisan
"iya fajar dewa aku memaafkanmu"
Dia tersenyum malu mendengar jawabanku
"nah gitu dong kalau memaafkan bilang. Gimana kalau aku traktir kamu?"
"(mengeryitkan satu alis kanan) untuk apa?"
"ya, bukan untuk apa-apa"
"yasudah ayo jalan"
Dia tersenyum bahagia. Aku berjalan mendahuluinya, fajar aneh. Kenapa aku yang berjalan didepannya tapi dia masih dibelakang
"fajar ayo!"
Dia langsung sadar dari tingkah aneh yang hadir ketika aku menerima tawarannya. Dia lari mengejar aku yang sudah cukup jauh darinya sehingga aku dan dia berjalan bersama sampai irama kakipun ikut sama. Aku kanan, fajarpun kanan. Aku kiri, fajarpun kiri.
"ih, kamumah ngikutin aku langkahnya jar"
Fajar tertawa keras, aku ikut-ikut tertawa menertawakan fajar yang aneh. Tawanya semakin memuncak, sekarang dia tertawa dan tangannya menunjuk kepadaku. Ya, lebih tepatnya dia menertawakanku. Aku yang tak ingin kalah, aku membalasnya dengan cara sama. Ternyata tertawa juga melelahkan bukan hanya berjuang untuk seseorang yang tidak balik memperjuangkan. Tawaku mereda, fajarpun ikut mereda
"ayo, masuk mobil"
Ternyata dari tadi aku tertawa dengannya, aku dan fajar sudah sampai di depan mobilnya. Memang benar, bahagia itu melupakan akan segalanya. Akupun mengangguk lalu masuk ke dalam mobil.
Di dalam mobil, fajar fokus terhadap jalan yang menantangnya. Aku menikmati supiran fajar yang cukup nyaman jika aku tidur. Aku merasa ada yang kurang di dalam mobil ini. aku baru menyadari keheningan yang tercipta dari ketiadaan cakap antara aku dan fajar
"ya boleh mi. putar saja dari handphonemu. Di mobilku tak ada musik, biasanya aku memutar dari handphoneku"
Dia membalas dengan mata yang tidak sedikitpun berpaling dari jalan. Aku langsung mengambil handphone di tasku dan menghubungkan kabel untuk menyambungkan ke pemutar musik di mobil fajar. Di koleksi musikku aku langsung memilih Ed Sheren dengan judul perfect. Aku bernyanyi bersama musik yang aku putar
'I found a love
For me'
"kamu suka lagu yang seperti itu mi?"
Raka bertanya ketika aku tengah mendengarkan suara raka yang selalu ikut bernyanyi jika mendengar lagu ini.
"bukan hanya itu. Aku sangat suka lagu ini, begitupun dengan raka"
"raka?"
"iya, aku dan raka selalu bernyanyi bersama jika mendengar lagu ini terputar dimanapun dan dalam keadaan apapun itu"
Saat aku berbicara itu, amygdala kembali membawaku kepada masa itu. Sampai aku melihat fajar adalah raka
"maafkan aku ami"
Aku tersadarkan oleh fajar yang meminta maaf. Sosok raka seketika langsung menghilang dari bayanganku.
"maaf untuk apa jar?"
"maaf untuk pertanyaan yang membuat kamu memikirkan raka"
"(tertawa sedikit terpaksa) tak apa-apa jar"
Fajar hanya tersenyum tidak membalas apapun. Mungkin dia tak ingin membuatku memikiran raka lagi karenanya. lagipula, taka da yang harus dijawab lagi sesudah aku memaafkannya.
"ayo mi turun, sudah sampai"
Suara fajar menyadarkanku yang sedang bercakapan dengan hati yang selalu mengingat raka saat bersama fajar. Entah kenapa, setiap kali aku bersama fajar, pikiran tentang raka selalu ada saja, kalaupun menghilang hanya beberapa detik, selepas itu datang lagi untuk aku pikirkan. Aku selalu tak enak jika melihat fajar adalah raka. bukan sekali dua kali aku melihat fajar itu menjadi melihat raka, aku sudah sering menyadari jikalau fajar memanggilku sebanyak tiga atau lebih kali.
__ADS_1
"mi?"
"oh iya?"
Benar saja fajar memanggilku lagi karena aku yang masih terjebak dalam pelukan cinta raka.
"ayo turun sudah sampai"
Raka langsung keluar dari mobil. Aku membereskan tasku yang sedikit berantakan sebelum keluar dari mobil. Baru saja aku akan membuka pintu untuk keluar, fajar sudah membukakan pintu dari luar mobil, aku menerima jamuannya untuk keluar dari mobil. Dia membawaku ke pantai, banyak penjual yang berkeliling disekitar hamparan oasir pantai. Aku merasa segar menatap dan merasakan angina pantai. Aku menengok melihat fajar, ternyata fajar sudah memerhatikanku. Aku tersenyum malu kepadanya
"ayo"
Fajar langsung jalan tanpa seperti biasanya menggenggam tanganku. Aku tersenyum menatapnya yang sudah berjalan tanpa melihatku yang masih diam ditempat. Tiba-tiba dia berhenti, dia menengok ke belakang
"ami ayo!"
Dia memanggil dengan volume yang cukup keras karena disini ombaknya cukup keras dan membuat semesta memantulkan suaranya, jadi yang berdiam disini selalu mengeraskan suara ketika bercakap dengan pasangan cakapnya. Aku langsung mengikuti fajar yang melanjutkan jalannya tanpa menunggu aku berjalan sejajar dengannya.
Sekarang aku berjalan sejajar dengan fajar. Tak ada respon apa-apa saat aku bersampingan dengannya. Fajar tetap fokus melihat ke depan. Sampai tiba di bibir pantai, fajar baru menghentikan langkahnya, aku juga langsung berhenti karenanya. sekarang dia menengok lalu memerhatikanku. Dia tersenyum dan menyipitkan matanya yang sudah terlihat sipit karena kaca mata. Aku membalas dengan senyuman juga. Lembayung mulai nampak di kaca muaranya. Sekarang dia tersenyum memperlihatkan giginya dan lesung pipit ikut hadir karena dia terajak. Aku menunduk karena bayangan aku melihat fajar sudah mulai berubah menjadi raka.
"amigea"
Dia memanggil saat gugup mulai mengendalikan. Aku paksakan untuk kembali pada pandangannya
"iya?"
Ada koma yang fajar hadirkan untuk membalas pertanyaanku. Pandangannya sekarang begitu dalam dari pandangan hari-hari biasa yang sudah berlalu.
"amigea"
Dia memanggil namaku lagi. Aku dibuatnya sedikit kesal karena sudah diam-diam menggodaku
"apa fa.."
Baru saja aku akan mengutarakan namanya, dia menutup bibirku yang tertutupi cadar dengan jari telunjuknya
"fajar dewa mencintai amigea"
Seketika itu juga, seperti ada petir yang melintas dan mengenaiku. Aku lemah tak tahu apa yang harus aku utarakan apalagi yang harus kulakukan untuk mengubah suasana ini. aku membuang pandangan darinya. Aku tak ingin terkurung dari ungkapan perasaannya kepadaku
"ami tak apa. Aku tak memintamu membalas perasaanku, aku hanya ingin mengungkapkannya kepadamu"
Aku hanya mengangguk membalas penenangannya yang terdengar sakit untuknya.
"maafkan aku fajar, aku ingin pulang sekarang"
Dia belum membalas permintaanku. Aku berusaha menenangkan diriku sendiri, sampai akhirnya aku bisa kembali melihat fajar. Dia masih menatap semesta yang mulai gelap.
"sebentar ami, aku ingin melihat senja terbenam"
Aku hanya mengangguk dan kembali ikut menikmati senja yang terbenam bersama fajar.
Rasanya hari ini, begitu banyak rasa yang terasakan olehku dan begitu banyak rasa juga yang terungkapkan untukku. Aku begitu mensyukuri, masih banyak orang yang menyayangi dan mencintaiku. Tapi jika orang yang aku cintai sesungguhnya sakit, sama saja bahagia ini tidak sepenuhnya terjadi. Walau banyak orang yang menghampiri dan tiba-tiba datang membawa rasa, rasanya tak akan semudah itu aku merasakan hal yang sama dengan seseorang tersebut.
"ayo pulang mi"
Dia menyadarkanku yang tengah bercakap dengan semesta perihal hari ini. tampaknya semestapun ikut antusias terhadap ceritaku yang sudah tersaksikan olehnya, sampai sudah masuk malam dia masih memperlihatkan mega merah milik senja.
Mobil raka tiba di depan rumahku. Selama perjalanan taka da cakap yang meghiasi, akupun sibuk mendengarkan musik di earphone Bluetooth yang tertutupi hijab. Saat aku hendak membuka pintu untuk keluar
"ami"
Fajar memanggilku, dia juga menatapku. Aku juga menatapnya dengan jamuan pertanyaan yang tersirat di mataku
"terima kasih dan maaf untuk hari ini"
Matanya begitu teduh saat menatap, aku berteduh dibawah teduh matanya. Aku langsung mengangguk tanpa membalasnya dengan satu kalimat ataupun kata untuknya. Kakikupun melangkah keluar dari mobilnya. Tak ada kata akhir untuknya, aku sudah gugup dan risau kepadanya hatinya, aku takut tercipta perasaan lagi untuknya. Aku tidak ingin mempertanggung jawabkan perasaannya karena sampai saat ini aku masih mengharapkan dia yang masih lupa akan dirinya sendiri. Akhirnya aku sampai masuk gerbang rumahku
"tit"
Fajar membunyikan klakson, mobilnya sudah menghilang dari pandanganku. Seketika itu juga, ingatan saat di pantai tadi langsung teringa dan aku merasa harus bertanggung jawab perasaan fajar walaupun tidak aku terima.
...
__ADS_1