AmiKa

AmiKa
fajar dewa


__ADS_3

FAJAR DEWA


Saat raka sakit


Tuhan memperkenalkanku dengan seorang


Raka yang mempertemukan aku dengannya


Dan aku bertemu kembali diantara ramainya suara semesta


Dia mengingatku


Tapi aku tidak sama sekali mengingatnya


Katanya, dia berprasangka


Ingatan raka denganku yang akan


Raka sembuh


Aku tidak berharap demikian


Karena aku hanya berharap


Kepada tuhan yang mempertemukanku dengan raka


Dengan dewa juga.


Fajar dewa


Nama baru untuk waktu yang baru


Jalan baru untuk perjuangan baru,


Akankah dia dewa utusan tuhan


Untuk membantuku?


...



Amigea


Punggung bu sarah dan pak fhaisal membelakangiku mengejar raka yang keluar dibawa seina, baru saja aku akan melihat keluar kemana mereka pergi, seseorang menabrakku, membuat aku terjatuh dilantai, rasa kecewa untuk diri sendiri semakin menjadi\-jadi, seseorang yang menabrakku menjatuhkan badan dengan sengaja menyejajarkan badannya dengan badanku, kelihatannya seorang laki\-laki. Dia mengulurkan tangannya, membuka pertolongan untuk aku berdiri. Aku menerima uluran tangannya, badanku tertarik berdiri olehnya, sekarang aku berdiri dihadapannya, aku langsung melihat matanya yang memancarkan cahaya kurang jelas karena dia memakai kacamata.


“maaf nona, aku tidak sengaja, nona tidak apa-apa?”


Dia belum melihat wajahku, dia masih menggenggam tanganku dan melihat kesetiap sudut yang rawan terluka. Aku masih diam, entah apa yang aku pikirkan sekarang, aku masih diam belum menjawab pertanyaan laki-laki ini. Aku seperti pernah mendengar suaranya, tepat saat aku dalam keadaan khawatir, tapi siapa laki-laki ini. Baru saja aku kedipkan mata dan mulai akan menjawab pertanyaannya, dia memasangkan kedua matanya dengan kedua mataku, aku baru ingat dimana dan karena apa aku mengenal suaranya, dia dokter yang menangani raka


“kamu?”


Baru saja aku akan melontarkan pertanyaan, dia sudah merebut pertanyaan yang akan aku tanyakan. Aku tersenyum karena akupun bingung harus apa aku menjawabnya


“kamu keluarga dari fasien saya kan? Raka fhaisal? Dan bukannya kamu yang tadi pidato diatas?”


Yang benar saja, pertanyaannya menambah dari yang sebelumnya, bahkan ini lebih dari sekedar baru pertama bertemu

__ADS_1


“eh dokter”


Aku tersenyum malu juga bingung, hanya menjawab dengan jawaban anak SD yang ditanya ingin jajan atau tidak, bahkan aku mengangguk dengan gerakan anak kecil yang malu mengakui kemauannya untuk jajan. Ada hal yang baru aku sadari, tangan dia masih menggenggam tanganku yang terasa beku memeluk tangannya yang dingin, ya tangan dia benar-benar dingin. Rasanya tangan aku berkeringat, aku tak kuasa menahan pegalnya pelukan tangannya yang akhirnya dia sadar akan hal ini, diapun melepaskan genggamannya. Dan tersenyum sembari menggerakkan kacamatanya.


“eh, kamu mahasiswi di kampus ini?”


“iya dok, saya mahasiswi di kampus ini di jurusan sastra bahasa Indonesia. Kalau dokter?”


Dia bertanya, aku menjawabnya sangat jelas dengan penjelasan yang padahal ia tak tanyakan, dan tanpa aku rencanakan, aku bertanya balik kepadanya, ada apa dengan aku?


“oh, dokter lulusan S1 di kampus ini, dan pastinya jurusan kedokteran…”


Baru saja aku akan membalasnya, dia meneruskan suara yang sudah terjeda oleh detik


“…eh, jangan panggil saya dokter, lagian saya masih muda, panggil saja saya Fajar, Fajar Dewa”


Fajar mengulurkan tangannya yang meminta untuk tanganku peluk, untuk sebuah perkenalan di pertemuan kedua ini. aku tersenyum, tanganku bersalaman dengan tangannya


“yasudah kalau begitu, namaku Amige, panggil saja Ami”


Fajar tersenyum, dengan begitu aku lepas genggaman tanganya. Dia berlesung pipit yang manis dikedua pipinya ketika senyuman mengukirnya. matanya sipit, entah mungkin, dia memakai kacamata yang membuatnya sipit atau memang dia memang sipit. Kulitnya yang cukup putih untuk kalangan laki-laki serasi dengan baju navy dengan dasi merah maroon yang membuatnya terlihat seperti tamu penting di acara ini.


“oh iya, saya baru ingat, saya ingin membicarakan suatu hal penting kepada kamu, ini tentang raka”


Ketika dia berbicara itu, tadinya mataku melihat dia seorang, seketika sosok raka hadir begitu saja, dan hilang begitu aku mengedipkan mata karena harus menjawab


“apa dok? Eh fajar?”


Fajar tertawa bingung mendengar jawabanku, ditambah aku yang memanggil dokter kepadanya, aku hanya tertawa malu menjawab tawa fajar yang bingung akan tingkahku


“aku mau ngomong penting sama kamu ami, ini tentang raka”


“jikalau iya, boleh kita membicarakannya sekarang juga?”


Seperti badai baru saja menginjak nalarku. Aku kaget dengan keinginan fajar, apa mungkin ini benar-benar serius dan penting sampai dia meminta sekarang juga untuk membicarakannya denganku?


“kok malah diam? Kalau gak bisa sekarang juga gak apa-apa, gimana?”


“oh iya, iya sekarang saja”


Aku dengan sigap menjawab pertanyaan fajar yang semakin membekukan aku seketika. Aku tersenyum selesai menjawabnya, fajar juga tersenyum dengan lesung pipit dikedua pipinya membuat muaraku tak berpejam sebentarpun. Aku melihat ada titik hitam di bawah pelupuk mata kiri tepat sudut lancip matanya yang terhalangi oleh kacamatanya.


“ya sudah, kalau begitu, bagaimana jika sekarang kita makan siang bersama, aku deh yang traktir kamu?”


Alis mata kanannya terangkat ke atas, seolah menggodaku untuk meng’iya’kan tawaran fajar. Bagaimana lagi, aku tidak bisa menolaknya begitu saja, lagipula, nantipun aku dan fajar akan membahas tentang raka, karena memang itu yang raka bilang kepadaku. Kepalaku mengangguk langsung saat membalas senyumannya. Belum saja satu menit aku menyetujui tawarannya, fajar merenggut tanganku, menggenggam, dan menuntunku entah kemana, saat ini juga, aku teringat yang seseorang yang bernama Raka Fhaisal.



Sekarang semesta terlihat dikaca mobil fajar. aku melihat fajar yang tengah menyetir seperti merasa raka yang sedang menyetir, aku begitu rindu kehadirannya saat saat seperti ini, bagaimana keadaannya sekarang? Setelah tadi dia kesakitan lagi karena aku. Aku masih fokus terhadap fajar, tadi pandanganku kosong. Fajar menengok ke tempatku duduk, dia melirikku dan mengeryitkan alis mata kirinya melihat aku yang pandangannya kosong


“kamu melihat apa ami? Ada yang salah? Atau ada yang kurang nyaman?”


Seketika itu pandanganku terbanjiri oleh suara fajar, pandanganku memutar kembali rekamanku dengan raka, tepatnya aku membayangkan fajar itu raka. Aku langsung tersenyum tak enak rasa karena sudah seperti ini berapa kali


“maafkan aku, aku hanya sedang memikirkan sesuatu hal”


Fajar langung tersenyum mendengar balasanku yang begitu tak ada ketermasukan dengan pertanyaan fajar. Kelihatannya fajar tersenyum sangat memaklumi

__ADS_1


“santai saja, saya tau dan ngerti kok tanpa kamu katakana juga”


Yang awalnya aku sedang memandang semesta yang ada di sekeliling kaca yang bercerita, aku spontan menengok ke fajar, fajar membalas degan senyuman yang sangat banyak arti penjelasan kefahamannya akan yang aku rasakan, aku membalsnya dengan senyuman yang kurang begitu yakin aku ukir untuk fajar, tapi fajar langsung memfokuskan matanya kembali kejalan. Aku merasa tak enak untuk hal ini. Fajar tak seharusnya begitu memaklumi aku yang harusnya memaklumi semesta akan takdir yang sudah bulat.



Raka


Aku melihat ruangan baru apalagi ini? Lagi\-lagi aku terbaring di atas kasur, sedang apa aku? Dan kenapa kepalaku begitu sakit rasanya, aku melihat baying\-bayang seseorang yang aku tak tau siapa dia, tapi mengapa aku di bayanganku, aku begitu akrab dengannya. Aku pukuli kepalaku, suara menahan dengan tangannya, dia seina


“jangan dipukul raka, nanti kamu nambah sakit”


Tangannya menggenggamku dengan sangat erat. dia seperti sedang sedih sekali


“kamu harus cepat sembuh raka”


Dia mengepal tanganku, mengecup punggung tanganku. Aku hanya terdiam, memangnya aku sakit apa? Sampai-sampai dia ingin aku cepat sembuh. Aku melihat kesekujur tubuhnku yang masih segar kecuali kepalaku yang terperbani kasa dan tersa sakit, aku memanggilnya


“seina?”


“iya raka”


Dia dengan cepat membalas panggilanku. Aku diam menunduk, melihat tanganku yang masih dipeluk tangannya, tanpa aku sadari


“jangan tinggalkan aku sendirian”


Kata-kata itu begitu dengan mudah terpeleset di lidahku, aku tak tau, bagaimana lagi? Seina sudah menjawab dengan senang hati


“tak akan raka, aku tak akan meninggalkanmu”


Mendengar balasan seina, aku tersenyum dan melelapkan mata dalam gelap dan tak sadar.



Ami


Aku berbicara dengan sukma yang bertanya akan dibawa kemana aku oleh fajar. Jemariku menari\-nari diatas paha, menunggu mobil berhenti memang membuatku bosan karena memang aku tak tau akan dibawa kemana oleh fajar. Baru saja aku akan memberanikan diri untuk bertanya kepada fajar, fajar sudah melihat ke kaca spion mobil, dan aku lihat kaca mobil memberitau mobil bertepi di taman yang cukup luas dan indah. Banyak orang dan pasangannya yang tengah membuat cerita hari disini, mungkin aku dan fajarpun akan membuat cerita disini.


“sudah sampai”


Suara fajar begitu menyadarkanku yang tengah melihat semesta luar. Aku spontan membuka sabuk pengaman ketika fajar hendak membuka sabuk pengaman. Baru saja aku akan membuka pintu mobil


“tunggu dulu, biar aku yang membukakan pintu. Kamu perempuan ami”


Mendengar suara fajar yang tanpa permisi, membekukan tanganku untuk bergerak. Aku tersenyum memperlihatkan gigi-gigiku seakan aku masih anak perempuan kecil yang merasa malu akan tingkahnya. Memang benar apa kata fajar, aku seharusnya menunggu fajar bukakan pintu untukku, tapi kesannya itu seperti pacaran. Tapi, waktu aku bersama raka?.


Fajar membukakan pintu untukku, aku langkahkan kaki keluar dari mobil. Aku melihat ke sekeliling taman yang beraura indah menyelimutiku dengan rasa bahagia melihat orang\-orang yang bahagia, aku tersenyum, sudah cukup lama aku tak ke tempa seperti ini, setelah raka sakit. Rasaku terbawa sinopsis taman ini, sampai akhirnya aku bisa keluar dari larutan rasa yang menenggelamkan rasaku, mataku terseka oleh mata fajar yang tengah menatapku. Aku kembali tenggelam, dan sekarang tenggelam di muara milik fajar. Aku merasa ada sesuatu yang fajar lihat dari aku sampai tatapannya begitu tak ada jeda layu. Aku merasa aneh, aku sadarkan diri yang hampir terbawa arus.


“ayo, kita mau kemana?”


Aku langsung bertanya dan fajar langsung mengedipkan matanya, tersenyum sejuk dan mengulurkan tangannya, mengajak tanganku berpelukan dengan tangannya. Aku ragu setengah mati, bagaimana mungkin aku sudah bergenggaman tangan dengan fajar dalam kurun waktu baru hitungan jam.


“yasudah ayo kita jalan”


Aku gugup, gigiku menggigit bibir yang tak bersalah. Jari-jariku saling berkaitan menahan rasa gugup ini. ‘Mengapa dikau langsung bisa membuatku gugup Fajar?’ gerutuku dalam hati.tingkahku cukup membuat Fajar diam tidak menjawab, mungkin saja dia ikut merasa aneh dengan tingkahku yang aku rasa aneh.


“ya ayo kita kesana, disana ada kedai kopi dan disampingnya ada kedai nasi juga”

__ADS_1


Akhirnya Fajar bersuara juga. Fajar berjalan di depanku, aku membuntuti dibelakangnya. Aku bersama dengan Fajar, tapi amygdalaku merasa sedang bersama dengan seseorang yang aku rindukan.


__ADS_2