AmiKa

AmiKa
hari ke dua


__ADS_3

Kita istirahat sejenak


Hari ini, biarkan


Tenang mengendalikan khawatir


Sudah cukup kemarin saja.


Kini hanya ada tawa


Kedua dari tujuh kesempatan


Bersama dalam ikatan


Kita bersama


Dalam tugas yang menuntut


Pergunakan kesempatan ini


Walau tidak begitu berarti.


...


Ami


 


Katanya, dihari kedua ini, aku dan Raka akan melanjutkan penelitian sehabis kampus, sedangkan belum kulihat batang hidungnya sedari jam delapan disini. Setauku fakultas psikologi masuk jam delapan pagi. Tak tau akan apa jika sudah bertemu, nalar memang manja jika sudah seperti ini.


 


"Mi, nih ada titipan"


Lagi-lagi, seseorang menepukku dari belakang, menyodorkan sehelai amplop merah maroon,


Sudah berapa lama


Tak jumpa kata


Ini yang merangkai kalimat


Menyampaikan makna


Makna rasa yang tersirat


Tapi tak pernah jua


Semoga lekas bisa bersama


Walau dalam gati


Sembunyi ini bukan malu


Tapi kita sudah jua


Tak lama aku bersama


Aku ingin kita bersama


Karena takdir


Apa kabar amigea?


_Rahasia_


 


Hati ini mulai keluarkan rasanya melalui sebal akibat nama akhir yang ia berikan, sang pengagum yang dirahasiakan, mengapa begitu bisa memperlihatkan ketulusan hanya dalam setiap jarak huruf yang mengagumkan kata menghubungkan menjadi kalimat, membuat mataku nyaman memandang untaian kata, hingga bibirku tak kuasa menahan diam untuk membaca surat dari Pengagum rahasia.


Baru saja aku balikan badan, Raka sudah ada di belakangku, dengan tawa yang entah karena apa, apalagi yang dia buat agar aku tertawa. Kejahilan apalagi yang Raka perbuat sekarang. Aku baru sadar, aku masih menggenggam surat di tanganku, tanpa memasukan ke dalam amplop. Aku melihat mata Raka yang juga melihat ke tanganku, tanpa perlu berpikir lagi, aku langsung larikan diri dari Raka, dia belum membalas lariku, tapi saat aku mulai cukup jauh darinya, dia langsung mengejarku dengan kecepatan yang cukup cepat bagiku. Tuhan sedang berpihak kepadaku, aku melihat toilet perempuan yang kosong, aku langsung masukan diri kedalam toilet, tak lama Raka tiba setelah aku telah menutup pintu toilet,


 


"Yah, kamu curang, aku pencet hidungnya ya, kalau kamu nanti keluar"


Dia tertawa setelah ancaman kejahilannya membuat aku semakin tak inginkan keluar. Tak ada jawaban satu katapun aku berikan padanya, dan akhirnya dia mulai merengek meminta aku untuk keluar


"Ayolah Ami, aku tak suka menunggu, aku jadi rindu sama kamu, aku serius Ami, tak becanda sama sekali lah"


Aku menahan tawa karena permohonannya dengan nada suara Upin Ipin , yasudah akupun membuka pintu tanpa memberitau raka, dan


"BRUK!"


Ternyata sedari awal Raka menyenderkan badannya di pintu toilet, karena aku yang tidak memberitau kalau aku hendak keluar, membuat Raka jatuh dan membuatnya mengeluh kesakitan


"Kamu harus bertanggungjawab atas ini Ami"


Aku tertawa, kali pertama aku melihat bagaimana wajahnya saat kesakitan. Aku mengulurkan tanganku untuk membantunya bangun,


"Aku tak mau memaafkanmu"


Cetus dia seperti anak kecil yang menginginkan sesuatu. Aku dengan tenang dan menggoda apa sebenarnya yang dia inginkan


"Ada syaratnya, aku harus menjadi orang yang menjemput dan mengantarmu pulang"


Aku terkekeh mendengar apa yang Raka inginkan, hanya itu saja, akupun mau jika itu yang dia syaratkan.


 


Aku langsung mengontak pak Ahmad memberitau bahwa dari sekarang hingga nanti ada yang harus ku tebus dengan menjemput dan mengantar aku pulang, untung saja pak Ahmad mengerti tanpa bertanya lebih dalam lagi. Baru saja aku masukkan handphone ku, tangan Raka sudah menggenggam tanganku, menuntunku ke mobilnya. Aku mengeluh agar dia pelan\-pelan dalam berjalan terlebih dia menggenggam tanganku tanpa celah sedikitpun


 


"Aku takut kamu kabur kan diri"


 


Didalam mobil, dia memutar lagu Ed Sheeran di album favoritnya, dan kebetulan, akupun penggemar lagu Ed Sheeran

__ADS_1


 


We were just kids


When we fell in love


Not knowing what itu was


I know Will be alright this time


 


Aku dan Raka bernyanyi bersama, ditemani suara hentakan tanganku yang tak bisa diam jika sedang bernyanyi. Ada rasa yang memaksa agar aku artikan. Tapi hati sadar diri, tak mungkin dalam waktu yang baru akan menginjak dua hari, sudah ada rasa yang seolah\-olah tepat menghinggapi di hati yang sudah lama kosong penghuni.


Tepat lagu selesai, rumahku sudah berdiri disampingnya kanan mobil. Aku mengucapkan terimakasih untuk penutup percakapan saat ini, tapi baru saja selangkah aku jauh dari mobil


 


"Aku boleh masuk"


Suaranya, katanya memberhentikan langkahku, dan memberhentikan suaraku, entah apa yang harus aku katakan dalam posisi seperti ini


"Maaf, maksudku tidak sekarang, tapi nanti saja, saat semuanya sudah tepat. Oh iya, aku jemput jam dua siang ya, kita ke panti jompo lagi oke"


Aku hanya anggukan kepala tanpa lantunkan suara. Dan dia melambaikan tangannya untuk tanda perpisahan sebentar.



Raka


 


Semesta yang ramai, membuatku sulit menemukan sosok Amigea. Tapi pucuk dicinta ulampun tiba, aku melihat Ami dari belakangnya, dia seperti sedang membaca sesuatu. Aku langsung dekatkan diriku dengannya, baru saja aku tiba dibelakangnya, dia balikan badan dan berhadapan denganku. Aku melihat kertas ditangannya yang terhiasi huruf, padahal aku sama sekali tidak ada pikiran untuk mengambil kertasnya, tapi dia sudah larikan diri dariku, entah apa yang ada dipikiran Ami, dia mulai hilangkan diri, membuatku langsung mengejarnya, baru saja aku mulai dekat dengannya, dia malah masuk kedalam toilet perempuan dan menutupnya rapat\-rapat, aku goda dia untuk keluar tapi tak ada respon suara terdengar, sudah saja aku pasrah, memintanya untuk keluar, baru saja aku menghela napas, menyenderkan badanku di pintu toilet


 


"BRUK!"


Ini baru namanya rasa yang mandiri, tak usah aku artikan lebih dalam lagi maksudnya, aku mengeluh kesakitan. Ami tertawa dengan sangat lepas, belum pernah aku melihatnya sebahagia ini, tapi memang aku baru mau menginjak dua hari bersamanya, tapi setiap aku memperhatikan dia dari kejauhan dulu, aku tak pernah melihatnya sebahagia ini. Dia mengulurkan tangannya, menawarkan bantuan untuk aku bangun dari jatuh. Dia tertawa lagi dan lagi


"Maafkan akulah Raka Fhaisal"


Tak ingin aku sia-siakan permintaan maafnya, aku manfaatkan kesempatan ini untuk bisa menjemput dan mengantar nya pulang sampai kapanpun. Dia menganggukan kepala dengan senang hati tanpa keterpaksaan aku lihat.


 


Dia membuka handphone,


 


"Sebentar, aku beritau pak Ahmad terlebih dahulu"


Aku menunggu dia memasukkan handphone, dan baru saja ia mengunci handphone, langsung aku meraih tangannya dan menggenggamnya sampai tiba di mobil, aku genggam dia dengan sangat erat, tak mungkin dia tidak mengeluh, dan aku menggodanya, menjadikan pipinya merah karena aku, ya aku.


 


 



Ami


 


Aku duduk di meja makan, memperlihatkan makanan yang tersedia, tanpa sedikitpun tak aku ambil, dan piringpun masih balikan badan. Setiap kali aku singgah di meja makan, aku selalu membayangkan dua orang tuaku ada, bahkan aku membayangkan yang tidak pernah terjadi padaku, membayangkan suara canda yang berusaha menciptakan tawa, dan tawa yang memeluk bahagia, tapi semua itu hanya bayangan.


Aku di kagetkan oleh suara pak Ahmad yang katanya ada seseorang yang menjemput di depan rumah, ku pastikan itu Raka, dan untungnya sedari tadi aku sudah siap, walaupun belum saja makan siang.


 


"Kamu sudah makan mi?"


Lamunanku disadarkan oleh suara perhatian Raka, aku menggelengkan kepala, dan mengukir senyum di mulut Raka,


"Ya sudah, kita makan di pinggir jalan saja, di panti jompo saja ya, akupun sama belum makan"


Kali ini aku menganggukan kepala. Aku masih terbawa bayangan tadi, kenapa harus saja terbayang saat sedang bersama Raka, aku tak ingin dia membaca pikiranku yang mulai kacau, aku mengikuti lagu yang terputar, dan untuk kedua kalinya aku bernyanyi bersama Raka di dalam mobil


I found a love for me


Darling just Down right in


and follow my lead.



Raka


 


Aku tiba tepat didepan rumah Ami, lima menit sebelum jam dua, aku meminta tolong pak Ahmad untuk memanggilkan Ami, padahal aku belum tau dia pak Ahmad atau siapa, tapi aku yakin itu pak ahmad, karena aku lihat dia sedang membersihkan mobil kuning Ami, siapa lagi kalau bukan pak Ahmad


dari pintu gerbang rumahnya, kurasa ada suatu yang tak beres dalam pikiran Ami, mungkin dia belum makan karena orang tuanya tidak ada. Setelah dia dudukan diri, aku langsung bertanya keadaan dia sudah makan atau belum, dan dia hanya menggelengkan kepalanya pertanda dia belum makan, akupun mengajaknya makan dipinggir jalan panti jompo cinta kasih saja, karena aku kebetulan disana banyak makanan yang gak kalah enaknya dengan restauran. Aku memutar lagu Ed Sheeran perfect, ternyata baru di lirik pertama, Ami sudah mengikuti lagunya, walaupun tetap saja, dia tidak bisa menyembunyikan kegaduhannya.


 



Ami


 


Baru saja aku beranjak keluar dari mobil, dia langsung mengajak ku menyebrangi jalan, dan dia membawaku ke tempat makan nasi remas


 


"Kamu duduk saja disini, biar aku yang pesan, tenang , aku tau makanan apa yang enak"


Dia menciptakan senyuman di bibirku, dan dia membalasnya dengan penuh semangat, perlahan aku mulai merasa tenang dan bayangan yang sedari tadi menutupi mataku.

__ADS_1


 


Dia membawa dua piring nasi remas dengan telur bumbu cabe merah, aku belum menyentuh sendok, tapi Raka sudah membelah telur dan membuat satu suapan


 


"Jangan ngelamun mi, makan nih"


Dia memberi suapan pertamanya kepadaku, aku dibuat beku oleh tingkahnya, entah kenapa matanya meneduhkan mataku, mengganti bayangan yang tadi menutupi mataku, dan mulutku membuka, dia menyuapiku. Aku langsung tersenyum dibuatnya, mengakui rasa enak nasi remas dan rasa nyaman saat ia menyuapiku. Aku langsung tersadar dari bayangan tadi, dan akhirnya aku makan dengan sangat lahap sampai satu nasipun tak aku sisakan di piring.


"Enak kan..."


Goda Raka dengan senyum jahilnya. Raka memang jahil tapi jahilnya ciptakan bahagia siapa yang melihatnya, dan semoga hanya aku yang melihatnya.



Raka


 


Sesampai di panti jompo, langsung aku raih tangan Ami, dan menuntunnya menyebrangi jalan. Mengajaknya ke sebuah rumah makan nasi remas yang sudah jadi makanan favoritku setelah masakan ibuku, padahal aku sudah kenyang makan masakan ibuku tadi siang jam satu, tapi daripada Ami harus sakit karena tidak makan, lebih baik aku kekenyangan karena makan. Aku minta Ami menunggu di meja makan, biar aku saja yang memesan, karena aku sudah tau masakan apa yang enak di rumah makan ini.


Aku membawa dua piring nasi dengan telur bumbu cabe merah. Aku berikan satu porsi untuk Ami, Ami masih saja belum menyentuh sendoknya, tapi aku sudah mengaduk nasi dengan bumbu telur. Aku buat satu suapan di sendokku, dan aku suapi ami, awalnya dia diam melihat tingkahku, tapi akhirnya dia membuka mulutnya dan memakan suapan dariku. Aku menggodanya yang berubah mukanya saat memakan nasi remas, dia hanya tersenyum malu dan langsung menghabiskan nasi remasnya sampai tak ada satu nasipun tersisa.


 



Ami


 


Selesai aku dan Raka menghabiskan makanan, aku menarik tangannya, dia tersedak karena belum minum, aku meminta maaf karena aku ingin cepat ke panti jompo dan menemui lelaki tua kemarin. Tapi dia hanya tersenyum


 


"Apa? Ada syaratnya lagi?"


Kataku membuat Dia tertawa malu, aku langsung tau apa maunya, aku memberikan uang lima puluh ribu ke kasir, dan kembaliannya tak aku ambil


"Untuk Raka saja, jika nanti dia makan tak membawa uang"


Dia melorotkan mata, aku langsung larikan diri darinya, salah siapa syarat-syaratan Mulu, jadi aku kerjain dia.


 


Dia menangkapku dari belakang, dan mencubit pipiku sampai merah karena jujur cubitannya memang sakit. Aku merengek sakit kepadanya. Dia malah menggenggam tanganku dengan menarikan kedepan ke belakang. Berjalan dengan santai menemui pemilik panti jompo. Pemilik panti jompo Bu cika, hanya tersenyum memperhatikan tingkah aku dan Raka yang seperti anak kecil, tapi aku dan Raka tertawa menertawakan apa saja yang dibuat lucu.


Raka meminta ingin berkenalan dengan lelaki tua kemarin kepada Bu cika,


 


"Silahkan den Raka dan non ami, lagian lelaki itu tidak kenapa-kenapa, hanya psikologinya saja yang terganggu karena masa lalunya."


Baru saja aku mau bertanya kenapa dengan masa lalunya, tapi Raka


"Nanti saja, kita tanyakan langsung saja pada orangnya"


Benar juga apa kata raka, akan semakin seru kalau kita menanyakan pada orangnya langsung.


 


Aku menunggu di ruangan berwarna putih, hanya ada meja satu dan kursi empat. Aku dan Raka duduk menunggu Bu cika yang sedang memanggil Lelaki tua itu.


Bu cika datang bersama lelaki tua itu. Sepanjang berjalan dia tundukan kepala, dia seakan takut kedepan. Raka memegang tangan lelaki tua itu dengan tenang dan menenangkannya


 


"Tenang saja, kami tak akan melakukan apa-apa, kami hanya ingin tau dan peduli padamu, aku Raka dan perempuan sebelahku Ami, namamu siapa?"


Aku hanya tersenyum mendengar tenangnya suara Raka menenangkan suasana.


Dan ternyata suara Raka menarik dia berbicara


"Aku.. namaku Fhaisal, kenapa kalian ingin tau dan peduli padaku? Padahal aku tidak kenal kalian?"


Jawab lelaki tua. Namanya Fhaisal, seperti nama kedua Raka, tapi apa hubungannya, lagipula di dunia ini bukan hanya Raka yang berhak memakai nama Fhaisal, dia menjawab dengan suara yang lirih, tetap menundukan kepala tanpa melihat aku dan Raka.


"Ini perintah Tuhan, aku memang tidak kenal kamu siapa, dan bukan siapa-siapa kamu, tapi izinkan kami menyimpan separuh bebanmu, agar kamu bisa bebas dari semua ini. Izinkan kami panggil anda pak Fhaisal ya? Dan bapak panggil aku Raka dan sebelahku Ami".


Pak Fhaisal hanya menganggukkan kepala dan tidak melihat aku dan Raka.


"Sudahlah kalau begitu, aku dan Ami pamit pulang ya, besok kita kesini lagi, dan aku harap bapak bisa bercerita kepadaku dan Ami"


Dia menganggukan kepala kembali dan berdirikan badan, aku dan Raka ikut berdiri beserta Bu cika. Dan pak Fhaisal pun balikan badan dituntun oleh Bu cika, pak Fhaisal sudah hilangkan pundak.


 


Di dalam mobil, Raka masih diam, sejak tadipun ia seperti memikirkan sesuatu.


 


"Raka, maafkan aku, jika tadi aku tidak membuka suara"


Raka sadar dari lamunannya, dan tertawa gemas


"Tak apa mi, lagian aku sudah terbiasa untuk masalah ini, sudah kamu pikirkan cerita nya saja untuk masalah ini yak"


Dia menenangkanku dengan mengelus kerudungku, aku hanya mengangguk dan bersyukur Raka tidak kenapa-kenapa. Saat mobil telah sampai di samping rumahku.


"Nanti besok aku jemput lagi ya jam 9, kita ke panti jompo lagi oke"


Aku tersenyum "oke"


Aku melangkah keluar dari mobil dan melambaikan tanganku saat Raka putarkan mobil. Raka membuka jendela mobilnya


"Sampai bertemu besok"


Aku hanya tersenyum, dia juga tersenyum. Ketika mobil Raka tak terlihat warnanya, aku baru membuka gerbang dan masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


__ADS_2