AmiKa

AmiKa
Lima tahun kemarin


__ADS_3

Tak ada yang dapat manaksir


Sekalipun mereka sudah saling mengikat


Waktu tetap akan tunjukan kejutan


Dimana kenyataan tak dapat terprediksi


Sudah terjadi


Harus bagaimana lagi


Tak ada yang dapat menahan


Rasa yang akan menyinggahi


Lima taun kemarin

__ADS_1


Aku masih ingat


Tapi tak terasa aku pernah menjalin kasih


Dengan seseorang yang kini waktu tak kasih


Untuk kembali menjalin kasih


Karena jarak memisah belah.


...


Dia menghampiriku yang sedang bersama dengan ayah dan ibu. Mengepal kotak kecil dengan sangat erat. Seina, temanku sedari aku SD, dia selalu bersamaku, terlebih rumahnya yang berada tepat di samping rumahku, membuat setiap hariku selalu aku lalui bersamanya. Tapi mungkin, tidak untuk empat tahun kedepan, dia akan melanjutkan pendidikannya di universitas korea bersana kedua orang tuanya yang kebetulan tinggal disana, karena selama ini dia tinggal hanya ditemani pembantu dan sopir yang sudah saja seperti orang tua keduanya.


“raka!, kita harus membuat janji sebelum berpisah”


Aku tersenyum melihatnya kelelehan berlari menghampiriku dengan kedua orang tuaku, dia mengatur nafasnya yang mulai tak beraturan, aku segera mendudukkannya di kursi yang taka da kerjanya, seina memang sering seperti ini, dia selalu kesulitan mengatur nafas jika sudah berlari, sependek apapun jaraknya, nafasnya selalu saja sulit untuk dikendalikan. Aku selalu bawel jika dia dalam keadaan seperti ini, aku selalu menyuruhnya untuk cek ke dokter, karena aku rasa ada sesuatu yang tak beres, aku merasakannya, dan aku mulai melihat perbedaannya, tapi seina selalu saja menolak, dan menenangkanku dengan perkataan tidak ada apa-apa, atau bahkan dia akan cek ke dokter, meski akupun tau dia sama sekali taka da keinginan untuk ke dokter, padahal ayahnya dan ibunya adalah seorang dokter di korea, tapi entah apa yang membuatnya enggan pergi ke dokter, apa mungkin dia ingin diperiksa oleh ayah dan ibunya? Aku yang tak mempunyai nomor ayah dan ibunya, kesulitan untuk membicarakan hal ini, terlebih jika ada ayar dan ibunyapun, seina melarang keras aku untuk memberitau mereka, jelas dia, biar dia saja, tapi kenapa aku tidak yakin dengan itu.

__ADS_1


“mau berpisah ala-ala apa? Ala-ala drakor? Atau ala-ala film indosiar saja?”


Aku bertanya dengan gaya seoang kaka kepada adiknya. Seina mencubit pipi kananku, dia tertawa sampai matanya menyipit, aku senang melihatnya bahagia, gadis cantik dengan rambut lurus coklat ini sudah aku anggap seperti adik sendiri, walau tak sekali dua kali dia mengakui perasaannya kepadaku dan dia kecewa akan jawabanku.


“ini”


Dia memberikan kotak kecil yang sedari tadi tangannya peluk. Aku membuka kotak kecil ini,


“pakaikan cincin itu di jariku ka, itu pemberian dari kakekku yang sudah meninggal, aku baru bisa memakainya saat aku sudah lulus SMA saja, dan aku ingin kamu yang memakaikannya, aku mohon, aku ingin kamu, dan aku ingin kamu juga berjanji, akan selalu jadi raka yang aku kenal ya saat nanti aku sudah kembali ke Indonesia”


Baru saja aku akan berbicara, dia sudah menyeka mulutku dengan jari telunjuknya


“please raka, aku tau kamu hanya menganggapku sebagai seorang adik, tapi apa salahnya kamu sebagai seorang kakak memakaikan cincin ditangan aku sebagai adikmu?”


Sudahlah aku pasrah dengan permintaan seina yang tidak bisa aku tolak. Akupun mengambil cincin dari kotak kecil dan meraih tangannya lalu memakaikannya sembari mengucapkan janji yang ia pinta


“raka janji, gak bakalan berubah, raka akan jadi raka yang seina kenal”

__ADS_1


Baru saja aku selesai mendaratkan cincin di jari telunjuknya, ada sentuhan kasih yang mendarat di pipi kananku, membekukanku, dan aku tidak bisa mengelak sedikitpun. dia berlari meninggalkanku dan bekas simbol love di pipiku.


__ADS_2