
Pertama aku memulai
Hari dimana kamu menghilang
Dari berdua yang terukir
Cerita yang dikenal masa lalu
Belum lama
Bukan masalah lama
Tapi ini masalah sulit
Melangkah tanpa genggamanmu
Aku mulai melewati
Dan kamu mulai melewatiku
Dengan ingatan yang memisahkan
Aku dari kamu, dan kamu dari aku.
...
Raka
“raka, ayo bangun, kita harus pergi”
Aku terbangun dari tidur akibat kesakitan yang tak biasa dari nampaknya seorang perempuan yang tak aku kenal tapi aku mengapa ingatanku begitu bersihkeras memaksa untuk ingat tentang sesuatu?.
“ayo, ganti baju kamu, kamu sudah boleh pulang, dan kita langsung ke kampus kamu saja karena sekarang ada acara penting untuk kamu”
Kata ibu begitu menyadarkanku dari diamnya memikirkan perempuan semalam. Aku hanya mengangguk dan ibu langsung menjayakku dan menuntunku ke kamar mandi untuk ganti baju. Di dalam kamar mandi, aku melihat perban yang masih membalut kepalaku, dan sakit terasa ketika repleks aku memegangnya. Aku masih diam, kenapa bisa aku sakit seperti ini? Dan kenapa aku begitu tak tahu kenapa?
“raka, ayo cepat nak, acaranya akan segera dimulai”
“iya bu”
Lamunanku langsung terbangun ke kenyataan, dan aku langsung buru-buru mengganti baju. Dan merapihkan rambut yang berantakan mungkin saja selama aku di rumah sakit, rambutku tak teruruskan karena perban yang terus memelukku tanpa ingin terpisahkan. Aku rasa aku sudah rapih. Aku langsung membuka pintu dan melihat kesekeliling rumah sakit yang rasanya ada seorang yang seharusnya ada hadirnya, tapi siapa? Sedangkan ibu, ayah, termasuk seinapun ada disini. Tiba-tiba, rasa sakit di kepala singgahkan di diri lagi, seina langsung mengambil kursi roda dan mendudukanku di kursi roda. Aku pejamkan mata, memaksa untuk rasa sakit ini pergi segera. Terdengar suara yang membukakan pintu, aku dengan pelan membuka mata, ternyata yang masuk adalah dokter dewa yang sudah merawatkan selama aku disini. Dokter dewa seperti masih seumuran denganku, kaca mata yang membuka aura kepemudaannya dan melihatkan kesendiriannya. Dokter dewa tersenyum kepadaku, dan aku tersenyum kepadanya.
“semoga lekas pulih ya raka”
__ADS_1
“iya dok”
Dokter dewa tersenyum mendengar balasanku, dan langsung membuka perban yang membaluti kepala ku tapi tidak untuk lukaku
“asal kamu tahu, saya masih seumuran sama kamu, hanya saja saat SMA saya mengambil kelas ekselerasi, dan saya hanya satu tahun SMA nya”
Aku membalas dokter dewa dengan tawa pelan
“tapi tetap saja dokter adalah pangkat dokter”
Dokter dewapun tertawa kecil dengan memegang pundakku
“iya, tapi saya mohon saat di luar rumah sakit panggil saya ‘dewa’ saja ok”
Entah kenapa dokter dewa memohon seperti ini kepadaku sebagai fasiennya, tapi rasanya lebih baik aku iya-kan saja daripada kepala aku harus sakit. Aku hanya membalas dokter dewa dengan anggukan dan senyuman.
“ok, sudah beres, raka boleh pulang”
“terima kasih dok”
Ibu dan ayahku menjawab sedangkan aku diam dan seinapun tersenyum sambil mendorong kursi rodaku. Aku mulai melihat luar ruangan, dan akhirnya keluar rumah sakit. Aku masuk mobil, ayahpun mengendarainya dengan amat pelan, bersamaan dengan berputarnya roda, musik ikut terputar dengan mengajak menyanyi
I found a love, for me
I love you when you call me senorita
Aku langsung merasa tak nyaman mendengarnya, aku rasa ini bukan lagu yang sesuai dengan rasa yang aku rasakan sekarang
“pindahkan ke yang tadi, sekarang juga”
Aku langsung menatap mata seina, seina membalas tatapanku, dan secara spontan seina memutarkan lagu pertama, lagu yang membuat aku tenang. Sesudah lagu terputar, aku memalingkan mataku dari seina, aku lebih memilih menatap keluar mobil, melihat semesta yang seperti baru pertama kali aku lihat. Mengapa aku begitu tak merasakan apapun dengan seina? Berbeda dengan perempuan semalam, yang dengan secara langsung menghadirkan bayangan yang seperti ingatan tapi begitu menyakitkan. Dan kenapa lagi seina masih ada dengan keluargaku sampai sekarang? Siapa dia dalam kehidupanku? Sampai ikut kemenapun keluargaku pergi. Aku melihat seina sedang memperhatikanku di pantulan kaca mobil yang membiaskan cahaya. Seina tampaknya seperti menaruh harapan dan menunggu kepastian dari seseorang, siapa? Apa mungkin aku? Aku yang tak tahu apa-apa diharapkan apanya olehnya?. Akhirnya ayah memakirkan mobil juga, dan aku lihat banyak mobil juga yang sudah bertepi disini, sedang ada acara apa disini? Mungkin ini yang dimaksud ibu tadi, ibu meminta aku menunggu, ternyata aku akan keluar dari mobil dengan kursi roda yang mati tapi menghidupkan manusia yang kesulitan jalan. Aku dibantu seina yang mendorong kursi roda, ayah dan ibu berjalan di depan mengarahkan arah yang akan aku dituju.
…
Ami
Aku duduk dengan banyaknya mahasiswa sastra bahasa Indonesia dan psikologi di studio ini besar kampusku. Aku merasa ada yang kurang, memang ada yang kurang, yang seharusnya ada bersama menanti kabar yang sudah diharapkan saat bersama, kini, entah sedang dimana, kemana, dan sedang apa? Aku membutuhkannya saat sedang seperti ini. Oh tuhan, beginikah akhir cerita yang baru saja aku goreskan selama lembar tujuh hari bersamanya? Aku melihat kebawah kaki, aku membayangkan kakinya bersampingan dengannya, betapa menghayalnya amygdalaku yang terhipnotis oleh indahnya hari kemarin saat bersamanya. Suara sorakan manusia yang ada disini, menengadahkan kepalaku untuk sadar acara sudah dimulai. Aku menyaksikan acara ini debga biasa saja tanpa ada pengharapan sedikitpun, aku tahu, ini tak akan sesuai dengan pengharapanku dulu saat bersamanya. Sekarang arah pembicaraan acara sudah masuk ke maksud dari acara ini. Aku sibukan diri dengan gawai yang sama sekali tak ada apa\-apanya
“inilah yang kita tunggu-tunggu, peraih hasil dan nilai tugas kerja sama terbaik semester tujuh kali ini adalah, amigea dari jurusan sastra bahasa Indonesia dan raka fhaisal dari jurusan psikologi. Untuk keduanya dimohon untuk maju ke atas panggung sekarang juga”.
Aku langsung melihat kedepan saat dua orang dosen di depan menyebut namaku dan raka, kakiku langsung memberdirikan badan, tanganku langsung menutup mulutku yang tak kuasa menutup segala Tanya yang hadir seiring terasanya rasa, kakiku memenuhi permintaan dosen yang memanggil namaku dan raka, raka? Bagaimana aku bisa maju tanpa raka yang seharusnya ada untuk saat-saat seperti ini, dengan spontan kakiku diam dari langkah yang ia tuju. Mataku mencari sosok yang aku harapkan setidaknya ada, agar dia tau namnya ada disini dan dipanggil untuk maju bersamaku, tapi tetap saja harapan tinggal puing-puing tak tahu kapan akan terwujudkannya. Dengan sangat memaksa, aku langkahkan kembali kakiku ke atas panggung dan saat aku sampai, ada bayangan yang harapan aku buat diam-diam, aku membayangkan seakan ada raka bersamaku di atas panggung. Tapi tetap saja, ini tersadarkan oleh dosenku yang mempersilahkanku berbicara diatas sini sendiri, sepertinya mereka sudah tau tentang apa yang teralami raka dan aku kemarin. Dengan sangat berat hati aku terima dan aku iya-kan permintaan yang sama sekali bukan harapanku.
"Semua manusia di dunia pasti punya dan pernah merasakan yang namanya masalah psikologi, termasuk aku dan raka. Tapi semua kembali kepada pribadi masing-masing, itu yang aku ingat dari raka saat dia menceritakan apa itu gangguan psikologi. Aku bingung harus berkata apa, lagipula teman kerja tidak ada…”
Aku memberanikan melihat kesekeliling, dan aku melihat bu sarah,pak fhaisal, yang dibelakangnya raka dengan kursi roda yang seina bantu dorong, ada tetesan hujan yang tak mampu terbendung saat-saat seperti ini, tapi apa boleh buat, aku harus bisa menyelesaikan ini sendiri.
__ADS_1
“aku tak akan, bisa menyelesaikan tugas ini tanpanya, lagipula, tugas ini sepertinya sudah petunjuk dari tuhan untuk membahas segala yang telah aku jalani dengan dia, dan segala Tanya yang sudah aku tuangkan disetiap jalan yang berujung penjelasan buntu. Menurutku, setiap masalah psikologi selalu ada penyebabnya, bahkan diri sendiripun bisa menjadi penyebabnya karena tadi, semuanya kembali kepada pribadi masing-masing, dan aku sudah belajar darinya…”
Aku berbicara dengan tatapan yang hanya tertuju padanya, dan dia tiba-tiba menatapku saat aku baru saja akan melanjutkan pembicaraanku, aku tundukan kepala darinya, aku takut dia merasakan rasa sakit yang sama seperti semalam
“ terima kasih ibu, ayah, bu sarah, pak fhaisal, dan kamu raka fhaisal..terima kasih”
Aku beranikan melihatnya saat namanya aku sebutkan, dan aku melihat raka memegang luka di kepalanya, dan menarik tangan seina seakan meminta tolong
“apa lagi ini? Sakit…..ibu, ayah sakit…. Raka gak kuat”
Aku mendengar raka kesakitan, aku langsung menghampirinya, tapi pak fhaisal langsung menahanku untuk tidak mendekat, apa aku lagi yang salah
“bapak harap kamu megerti bagaimana kondisi raka sekarang ok”
Aku hanya mengangguk dan sibuk mencari celah untuk melihat raka dari banyaknya manusia yang menghalangi, ada seseorang yang berlari menghampiri raka, mungkin dia dokter, dia dengan sigap memberi satu tablet obat, raka meminumnya dengan suara yang getir akan rasa sakit yang terasa olehku, rasa sakit dimana akulah yang membuat dia merasa sakit kembali.
Seina membawa keluar raka dari stadion dengan kursi roda sampai hilang dari ujung penglihatanku, bu sarah memegang tanganku
“maafkan ibu ami, hanya untuk saat ini ok”
Aku hanya mengangguk, dan bu sarah langsung lari ditarik pak fhaisal keluar dari stadion ini. Aku hanya diam tak ada gerakan yang aku paksa, yang ada perasaan yang aku paksa untuk mengalah untuk saat ini saja. Ikhlas untuk keadaan yang memang harus aku jalani dengan segini adanya, aku sudah cukup kuat walau memang diam menjadi pelampiasan akan rasa yang terasa.
…
Raka
Aku melihat kesekeliling jalan yang seina bantu untuk aku melewatinya, ayah dan ibu berjalan tepat di depanku. Aku merasa ada rasa yang berteman dengan hatiku saat aku memasuki kampus ini, tapi aku tak tau itu apa. Semua orang yang melintasiku, melihatku, lalu menyapaku dengan namaku, apa mereka sudah mengenalku? Atau mungkin aku pernah kesini sebelumnya?. Rasanya, mereka tersenyum sangat berkeluarga kepadaku, memang mereka orang yang baik, padahal aku tak mengenal mereka.
“kamu tau gak raka? Mereka teman kamu tau..”
Suara seina begitu menyadarkan pikiranku yang tadi memikirkan hal yang menurutku baru, aku hanya tersenyum dan
“oh yah”
Hanya itu yang menurutku pantas untuk menjawab pertanyaan seina. Di depan sana, sepertinya terdengar sangat ramai, sepertinya ini yang ayah dan ibu maksud. Kenapa tiba-tiba rasanya kepalaku sedikit sakit untuk berisik seperti ini, apa harus aku meminta kembali pulang, pulangpun aku tak tau akan kemana, sudah begini aku hanya bisa diam dan berdo’a semoga tak akan terjadi apa-apa.
Aku baru saja masuk ke ruangan besar ini. banyak suara yang sama arah tapi beda cara, aku mulai sulit mengendalikan diri. Ada suara yang begitu langsung membuat aku ditarik dan melihat siapa yang berbicara. Dia? Bukannya dia yang membuat aku kesakitan saat dia masuk ke ruanganku,
“ terima kasih ibu, ayah, bu sarah, pak fhaisal, dan kamu raka fhaisal..terima kasih”
Aku tak salah dengar? Dia menyebutkan terima kasih kepadaku? Untuk apa? sekarang juga, kali kedua dia membuat rasa sakitku memuncak saat tepat dia mengadukan muaraku dengan muaranya, dan ini membuat aku spontan berteriak diantara banyaknya teriakan yang memaksa untuk mendengar
“apa lagi ini? Sakit…..ibu, ayah sakit…. Raka gak kuat”
Aku memegang kepalaku, ingin rasanya aku mengambil rasa sakit ini dari kepalaku dan langsung membuangnya jauh-jauh dariku. Ibu, ayah, dan seina, langsung dudukan badan agar dapat melihatku dengan sejajar. Ibu kebingungan, ayah langsung membuka gawainya, dan menari-narikan jar diatasnya, sedangkan seina menenangkanku dengan suara yang sudar samar terdengar olehku. Aku melihat dia mendekatiku, tapi ibu dan ayah maju, menahannya maju lebih dekat, dan berbicara yang aku sudah tidak tau apa. Aku sudah tak kuat lagi dengan sakit ini, tanpa aku perjelas, rasanya aku melihat dokter dewa di hadapanku, dan memasukan tablet yang langsung masuk tanpa harus aku meminum air sesudahnya, dan akhirnya sakit menghilang, yang ada hanya hitam ku lihat.
__ADS_1