AmiKa

AmiKa
tiba cerita


__ADS_3

Di lingkupan semesta aku bersama


Dia yang baru aku kenal


Dia tiba cerita


Tentang seseorang yang aku sayang


Dia bercerita


Apa yang dia tau


Sampai tiba aku hampir putus


Kan harapan aku bersama seseorang


Di keramaian manusia


Aku berharap kepada tuhan


Dan memohon dia membantu


Untuk kesembuhan seseorang


Yang aku sayangi.



...


Ami


Cukup indah yang mataku terima, termasuk senyuman fajar yang berbicara ‘tidak apa\-apa’. Nalarku sedikit tak yakin untuk memulai ini, aku sudah berjalan dengan seseorang yang baru aku kenal tanpa ada alasan yang mengikat kuat, yang ada, hanya kerana aku terjatuh karena dia tabrak dan dia dokter yang menangani raka.



Sekarang aku di belakangnya, mengikutinya, sesekali dia melihat ke belakang, melihatku dengan kacamata yang memancarkan aura dirinya. Melihat lesung pipit di pipinya, mengingatkanku dengan manusia setengah vampire yang aku sayangi. Aku benar\-benar masih merasa aku bersama raka bukan fajar.


“kamu mau makan apa?”


Aku langsung sadar dari bayangan yang aku rindukan. Suara fajar begitu pelan menyentuh pendengaranku. Aku diam sejenak, amygdalaku memutar satu pertemuan pertamaku dengan raka, aku langsung spontan menjawab


“cofee with strawberry cream dan choco waffle strawberry”


Tapi aku diam tidak meneruskan dengan satu katapun, aku terbawa dengan suasana dulu, sampai akhirnya


“tidak ada menu itu ami, lihat menunya!”

__ADS_1


“ih raka!”


“apa? Raka?”


Aku langsung tersadar, ternyata aku menjawab fajar dan memanggilnya dengan nama ‘raka’. Sadar ami, ini fajar dewa bukan raka fhaisal. Aku melihat mata fajar yang begitu memberitahu akan perasaannya saat aku memanggilnya ‘raka’. Aku mencari kata dan cara apa yang pantas aku rantai untuk mencairkan suasana ini. Aku begitu merasa tak enak kepada fajar


“ami?”


Sepertinya fajar begitu berusaha mencari celah untuk keluar dari zona yang aku buat. Dia begitu tenang memanggilku, dia begitu teduh menatapku, dan membuat aku kembali biasa


“memang ada menu apa saja disini jar?”


Aku lega, akhirnya aku terbiasa lagi. Semua ini karena aku sendiri, kalau saja aku tak begitu menyayangi raka, aku pasti tidak akan seperti ini. Sudah cukup amygdala, tak akan berpengaruh untuk kesembuhan raka. Sudah saja, aku kembali bicara sendiri kepada diriku sendiri. Sampai-sampai fajar yang sedang membaca satu persatu menu yang lumayan banyak, aku sadar.


“dan terakhir ada pisang crispy sauce strawberry, mau yang mana?”


Untung saja, menu terakhir yang fajar baca rasanya strawberry, aku langsung membalasnya tanpa ragu


“nah, strawberry, aku mau itu”


Aku langsung rekahkan senyuman, tapi kenapa fajar hanya menarik sudut bibir kirinya dan setengah lingkar fitam atas mata kanannya terangkat


“jadi kamu pecinta strawberry?”


Fajar begitu menebalkan suara di kata “strawberry” dan kini dia benar-benar merekahkan senyumannya, dan aku ikut tersenyum bahkan aku rasa, pipiku sudah tak bisa menyembunyikan perasaan maluku ini. Aku tertawa dan entah karena apa, tanganku mencubit lengan fajar, kenapa bisa aku berani mencubit fajar, dan lagi-lagi apa karena kebiasaanku bersama raka yang selalu mencubit raka kala raka membuatku malu sendiri.


Aku menunggu makanan yang aku dan fajar pesan di kursi taman tengah taman. Disetiap detik yang beranjak, selalu ada langkah kaki yang bernyanyi bahagia dan adapula yang bernyanyi kesedihan. Aku melihat ke sekeliling taman, aku cemburu dengan semesta yang indah ini, dia begitu bisa membuat penepi nyaman walau baru kali pertama menepi disini. aku mengalihkan pandanganku dari semesta ke samping muara yang tengah bersamaku. Aku baru menyadari, sedari tadi fajar memperhatikan aku yang sedang bermain sendiri bersama semesta. Dibalik pandangannya ada beberapa kata yang sedang rangkai untukku, tapi kurasa dia bingung harus mengawali dari mana. Sampai akhirnya pramusaji sudah menghidangkan pesanan aku dan fajar, pandangan fajar beralih. Aku tersenyum melihat raut wajah fajar yang baru aku lihat dan aku temukan rasa nyamannya saat memandangku, sama saat raka memandangku, dengan raut wajah yang sama seperti fajar tadi. Sekarang aku tengah memandangi fajar yang sedang merapihkan makanan yang aku dan fajar pesan di meja.



“jangan diam-diam melirikku, bisa-bisa kamu menyukaiku, Fajar Dewa”


Aku tak tahan menahan tawa lagi. Tawaku terekam oleh semesta, bahkan fajar juga tertawa. Memang laki-laki jika sudah begini selalu menertawakan dirinya sendiri. Aku kembali menemukan senyuman yang mirip akan senyuman raka saat bersamaku, tapi tidak untuk seperti raka, cukup hanya raka saja.


“oh iya, ada sesuatu yang harus kamu tahu ami”


Fajar bersuara dengan sangat tenang, tapi kenapa matanya bercerita akan kekawatirannya akan sesuatu, atau mungkin tentang raka?. pikiranku langsung berjalan kemana-kemana. Aku usahakan tak cemas dengan tenang menyirami nalarku. Pelan-pelan aku menjawab


“aku harus tahu apa?”


Akhirnya aku berhasil juga, aku menunggu fajar yang sedang mengunyah makanannya, nampaknya dia begitu santai, tapi kenapa..


“ini tentang raka”


Garfu dan pisau yang tanganku peluk, langsung jatuh kebawah dan memainkan irama suara ‘prang!’, aku diam tak menjawab sedikitpun kata. Mata fajar begitu membinarkan rasa tak teganya.


“sudahlah, kamu tak usah tahu”

__ADS_1


Fajar begitu mudahnya dia membalasku dengan rasa pasrah


“tidak fajar, aku harus tahu!..”


“tapi kamu juga tidak siap untuk menerima”


Belum juga aku beres menjawab, fajar sudah menyeka suaraku, dan ini benar-benar membuat aku kawatir akan raka


“aku benar-benar harus tahu, aku menyayangi raka, fajar!”


Fajar tidak langsung menjawabku, ada koma yang panjang setelah kalimat yang aku suarakan. Dia memejamkan mata sebentar dan menghembuskan nafas yang begitu terdengar olehku.


“jadi, setelah kejadian raka kesakitan karena melihatmu. Ada baiknya, raka tidak melihatmu. Tunggu dulu, jangan seka aku dulu. Ini demi kesembuhan raka. semakin sering raka mengeluh kesakitan seperti tadi, semakin raka sulit untuk sembuh, dan mungkin saja tidak sembuh”.


Air mataku sehati dengan rasa sedih yang langsung membawaku mengarungi lautan kesedihan. Aku menangis tanpa suara. Air mataku sudah bercerita kepada semesta akan kesedihan yang semakin amat teramat ini. fajar memberiku sapu tangan berwarna army dengan bordir nama ‘Fajar Dewa’, aku terima sapu tangannya. Aku masih tak percaya dan tak ingin terima dengan apa kata fajar.


“tapi kenapa fajar? Kenapa begini?”


Fajar menghembuskan nafas yang terdengar sangat berat


“kamu tahu, ingatan terberat yang harus hilang dari ingatan raka itu, ingatan tentang kamu ami. Dan itu pula yang membuat raka berat untuk mengingat kembali tentang kamu. Raka pasti akan merasa sulit yang membuat dia akhirnya kesakitan saat melihatmu”.


“lalu, apa yang dapat membuat raka segera sembuh? Dan bagaimana dengan aku?”


Aku menjawab dengan lesu tanpa melihat wajah fajar sesudutpun


“aku tak tahu, tapi aku pasti akan mengusahakan yang terbaik untuk raka dan kamu ami. Jika memang kamu tetap ingin berada disamping raka, lebih baik kamu memakai masker atau apapun itu yang bisa membuat kamu tidak begitu jelas di mata raka”.


Aku menatap mata fajar yang begitu serius dengan semua ini. mungkin ini memang harus aku terima.


“kalau boleh aku tahu, raka kecelakaan karena apa?”


Aku mengambil nafas begitu berat. Aku tatapkan mataku dengan mata fajar


“raka kecelakaan karena dia menolongku. Seharusnya aku yang merasakan apa yang raka rasakan saat ini!”


Air mataku mengalirkan sungai bak indahku. Aku tersedu karenanya. tanpa aku bisa hentikan, fajar meraih tanganku, dan menggenggam dengan erat tanganku. Aku dibuat menatapnya


“maafkan harus mempertanyakan ini. tapi aku berjanji, aku akan berusaha semaksimal mungkin agar raka sembuh, dan aku yakin raka pasti sembuh. Jangan hanya aku yang yakin. Ami, kamu juga harus yakin”


Karena tak kuat menjawab fajar. Aku hanya menganggukan kepalaku dan meyakinkannya lewat mata yang bercerita akan perasaanku saat ini.


Aku sudah kembali biasa walau diam\-diam sedih membawaku menghanyutkan diri dengan air mataku. Aku melihat fajar yang sedang menatapku dari tadi. Dia begitu tak palingkan mata saat aku memergoki matanya menatapku, beda dengan raka yang langsung memalingkan mata dan mewarnai pipinya dengan merah malunya. Aku merasa hari ini sudah tua, melihat kesekeliling taman yang mulai diterangi lampu kuning disetiap sudut yang hitam, rasanya aku ingin pulang


“aku ingin pulang, fajar”


Fajar langsung menganggukan kepala, dia tersenyum, memberdirikan badannya, dan mengulurkan tangannya yang mengajak aku untuk memeluk tangannya. Rasa sedih yang masih menyelimutiku, menjawab uluran tangan fajar untukku. Aku dibawa raka ke mobilnya mengakhirkan cerita di taman ini, dan akhirnya lembar sudah berganti di halaman berikutnya.

__ADS_1




__ADS_2