
Satu keyakinan
Tak ada kebetulan yang disengaja
Tuhan temukan untuk main-main
Maksud pasti akan ditemukan
Pada temu selanjutnya.
Salah satu dari kita
Sudah pasti ada
Yang sudah menatap
Secara tak sengaja
Itu bertanda
Tuhan menakdirkan di lain waktu
__ADS_1
Kita akan mengenal satu sama lain
Dan inilah waktu
Tatap pertama
...
Ami
"Amigea"
Suara asing memanggilku, mungkin dia Raka Fhaisal, teman tugas kelompokku untuk tujuh hari kedepan. Aku melihat ke arahnya, menatap sepasang matanya dan mendengarkan suara hentakan kaki yang melangkah. Kali baru Sekarang aku dipasangkan dengan mahasiswa laki-laki. Dia mengenakan kemeja merah maroon percis seperti warna amplop yang aku baca suratnya tadi Pagi. Rambut yang hitam, kulitnya selaras dengan sawo yang matang membuat tahi lalat yang berada di bawah ujung pelupuk mata kirinya terlihat manis, dan satu lagi, dia manusia setengah vampir.
"Pesan ibu untuk anak ibu yang cantik, jangan asal kenal laki-laki sembarangan ya"
Dia sudah tepat didepan ragaku, tepat empat mata saling menatapkan pemandangan muara masing-masing, dia mengulurkan tangan.
"Aku, Raka Fhaisal"
Sambutan hangat untuk dua orang yang baru saja bertatapan mata, aku membalas dengan percakapan tak asing manusia lakukan saat pertama kali bertemu. Di bertanya dengan nada yang seperti tak asing dan aku rindukan lantunannya, tapi aku tak tau siapa yang aku rindukan.
__ADS_1
Ternyata dia sama halnya denganku, semester tujuh, dan ini merupakan tugas akhir di semester tujuh, dia akan menjadi prioritasku dalam tujuh hari kedepan, masih tanda tanya akan seperti apa. Tiba di pertanyaan inti, dia akan bertanya akan dimana mulai merancang rencana, aku hanya usulkan tempat mana saja yang tenang dan pastinya nyaman berlama-lama disananya saja.
"Ya sudah, kalau begitu aku tunggu kamu di cofee janji jiwa jam dua siang saja, bagaimana?"
Aku mengangguk, tanda aku sepakat dengan usulannya, dia tepat juga menempatkan tempat, cofee janji jiwa yang di hiasi nuansa klasik dengan wangi kopi yang khas pasti memanjakan aku dan Raka berlama-lama disana
…
Raka
Aku membalas panggilanku, membalikkan badan ke belakang, tepat kepadaku. Aku langsung melangkahkan kaki tepat mempertemukan kakiku dengan kakinya. kenapa aku begitu tak asing dengan aura senyum yang ia ukir di bibirnya. Dia memang memiliki lesung Pipit yang sepertinya menaburkan gula di mukanya hingga ia begitu manis aku pandang.
Ragaku tepat berhadapan dengannya, mimpi apa aku semalam, bisa sedekat ini dengan Ami, aku benar-benar harus berterimakasih kepada Tuhan di sepertiga malam ini.
Aku memulai ini, dengan sapaan dan mengenalkan namaku, dia membalas memberitau namanya, padahal aku sudah lama mengetaui namanya.
"Aku, Amigea"
Tak usah banyak basi disetiap awal pertemuan, aku langsung ke intinya. Aku menanyakan dimana akan mulai merencanakan penelitian ini. Dia sepertinya jadi mau dimanapun itu.
"Dimana saja, tapi harus tenang dan pastinya nyaman berlama-lama disana".
__ADS_1
Kalau begitu, sudah saja aku putuskan di kopi janji jiwa milik ayahku, aku sendiri yang mendekorasi setiap sudut ruangan, tak usah di tanyakan kepada Ami, Ami sendiri sudah menyetujui usulanku, karena katanya itu tempat kesukaannya.
" Aku setuju, i love it"