AmiKa

AmiKa
hari keempat belas


__ADS_3

Setelah hari aku jalani sendirian


Aku selalu pergi sendiri


Tidak ada lagi yang bertamu


Tapi tak masalah, aku tenang.


Aku terbiasa keluar sendiri


Hatiku yang melihat hati semesta


Tapi tak menjadi sebuah alasan


Untuk aku tidak ingin sembuh, tetap saja.


Ini hari terakhir


Dimana penjanji mempertanggung jawabkan


Kesediaannya untuk merelakan


Atau hasilnya mencari.


...


Dua belas hari kemudian

__ADS_1


Ami


Aku sedang mendengar musik melalui earphone di taman komplek rumahku. Aku sendiri tak ada yang menemani, bahkan aku pergi tanpa ada yang menuntun. Semenjak malam raka memberikan martabak, raka tak pernah bertamu lagi, aku tak tahu kenapa. Tapi, mungkin ini demi kebaikan aku dengan raka. benar saja, apa kata raka yang dititipkan kepada ibu untuk bertemu di mimpi. Setiap mata terlelap, aku selalu bermain dengan raka. Entah aku yang mengada-ada tapi raka selalu ada di mimpiku. Sekarang sudah hari ke empat belas aku buta, aku teringat janji fajar untukku. Aku jadi tak tega jika harus dia yang mendonorkan mata jika dia tak menemukan pendonor mata untukku.


Aku sedang mendengarkan lagu perfect Ed Sheren, entah sudah berapa kali terputar, tapi sepertinya sudah belasan kali karena aku sudah satu jam lebih di taman. Tiba-tiba, ada panggilan masuk ke handphoneku. Aku langsung menekan tombol angkat di earphone yang membantuku mendengarkan musik.


"halo ami, anakku"


Aku lega, ternyata ibu yang menelonku


"iya bu ada apa?"


"ayo pulang nak, makan siang dulu"


"iya bu, aku pulang"


Aku langsung bangun dari kursi taman. Kakiku melangkah dengan di tuntuni tongkat. Aku menyentuh tiang listrik, berarti aku tinggal menyebrangi jalan yang membentangi rumahku di sebrang sana. Ada tangan yang menggapai tanganku. Aku tak tahu siapa, tapi tangan ini selalu ada setiap aku hendak menyebrangi jalan raya. Aku selalu berterima kasih kepadanya, tapi dia tidak pernah membalasku. Aku tidak tahu itu siapa, aku juga tidak pernah mendengar suaranya. Yang aku tahu, tangannya kecil dan dingin, satu lagi, dia memakai jam tangan kecil. Sayangnya aku tidak tahu seperti apa jam tangan itu.


Karena tidak ada jawaban sama sekali, aku langsung membuka gerbang rumah, dan masuk ke dalam.


"assalamu'alaikum"


Aku membuka pintu rumah yang tidak di kunci. Kakiku langsung berjalan menuju ke ruang makan.


"eh nak, duduk"


Aku menganggukan kepala mendengar ibu mempersilahkan aku duduk.

__ADS_1


"makan yang banyak ya"


"siap bu"


Aku langsung makan bubur yang sudah menjadi makananku selama aku buta agar aku bisa makan sendiri. Rasa buburnya agak sedikit berbeda dan tersa sedikit pahit tapi aku terus menghabiskannya, mungkin lidahku saja yang kurang enak makan. Belum sampai aku habiskan, mataku terasa ngantuk yang tidak bisa ditahan. Baru saja aku makan sudah ngantuk lagi


"bu, aku ngantuk ingin tidur"


"yasudah tidur saja"


"bu antarkan aku, aku tidak kuat sekali"


"iya"


Ibu menggenggam tanganku, menuntunku ke kamar. Aku tiba duduk di tempat tidur dan langsung terlelap begitu saja.


...


SPESIAL FOR READER AMIKA


yuk promosiin Amika


jika sudah ada di angka ribuan yang membaca Amika


author akan. mengadakan give away pulsa sebesar 100 ribu di Instagram author @chasalsabila23


tunggu apalagi, promo, like, dan komen

__ADS_1


I LOVE YOU ALL READER AMIKA


GOOD READING AMIKA.


__ADS_2