
Aku merasa di puncak tertinggi
Masalah yang mulai aku cium
Asapnya darimana
Aku hampir tak bisa kendalikan diri.
Sampai ternyata
Ada kejutan yang lebih hebat
Dan menusuk hati
Dari kemarin.
Ternyata
Kamu ikut berperan
Dalam masalahku
Dan kenapa harus kamu
Yang mulai aku cinta.
...
__ADS_1
Ami
"Ami, sudah pagi bangun, ayo sarapan"
Suara Raka sembari mengetuk pintu, membangunkanku dari tidur malam yang kurang lelap, aku tidur jam tiga pagi, itupun aku masih mendengar suara jam yang berdetik di meja samping tempat tidurku.
"Iya ka, aku nyusul saja"
Raka berhenti mengetuk pintu dan melangkahkan kaki menjauh dari pintu. Aku menghela nafas berat, memikirkan, apa yang terjadi di rumah sekarang, aku cemas akan ibu dengan ayah yang membuatku tak percaya akan sikap dan tutur katanya, apa penyebab atas ayah kemarin.
Raka tersenyum kepadaku, mereka terlihat sangat menikmati sarapan, aku teringat dengan ibu dan ayah, apa mereka sudah sarapan atau malah pertengkaran mereka semakin meraksasa.
"Nih, kamu harus cobain nasi goreng buatan ibu"
Kata ibu Raka dengan mengambilkan nasi ke piringku. Aku hanya tersenyum dan membalas terima kasih. Baru saja aku sampai pada suapan ke tiga
Suara laki-laki ini tak asing, aku merasa, aku sering mendengar suara ini, dan mengapa jantungku berdetak kencang tiba-tiba.
"Itu ayah, Ami ayo ikut, aku kenalkan kamu dengan ayahku"
Aku yang sedang memegang sendok, langsung Raka rebut dengan tangannya, dia mengajakku berlari ke ruang depan. Laki-laki itu membelakangi aku dan Raka,
"Ayah, ini wanita yang selalu aku ceritakan ke ayah, namanya amigea"
Laki-laki itu langsung balikan badan. Aku merasakan banjir di pelupuk mataku, gempa di sekujur tubuhku, melihat ayah Raka yang ternyata adalah ayahku sendiri
"Ayah? Apa yang telah ayah lakukan"
__ADS_1
Tangis ku menetes deras dari mataku. Raka terlihat kebingungan dengan tingkahku, aku yang sudah muak akan keadaan, langsung memaksa lepaskan tangan dari genggaman Raka, dan tanpa memikirkan Raka, aku larikan diri dari rumah Raka.
…
Raka
"Ami!"
Suaraku pecah melihat kejadian ini, aku melihat wajah ke dua orang tuaku,
"Apa yang sudah terjadi, ibu, ayah?"
Tangisku pelan-pelan menetes, aku melihat ayah yang seperti sedang bingung dengan keadaan, bahkan ibu meneteskan air mata
"Kejar Ami sekarang Raka, nanti ibu dan ayah jelaskan"
Lirih ibu dengan suara bergetar
"Kejar Ami sekarang juga Raka"
Teriak ayah, seperti sedang sangat kecewa dengan keadaan.
"Ami!"
Aku memanggilnya yang sedang berlari di depanku, suara tangisnya terdengar olehku. Di depannya jalan yang sedang sepi oleh mobil, tapi saat dia sedang di tengah jalan, mobil besar tiba-tiba datang dari lain arah. Ami diam bingung harus seperti apa, aku tak mau dia kesakitan, akhirnya aku singkirkan Ami dari tengah jalan, dan
"Bruk!"
__ADS_1