
Saat bunga mimpi membangunkan
Semuanya tak jelas
Tak ada yang jelas satu garispun
Aku tidak bisa melihat apa-apa.
Disaat kamu sudah sembuh
Kini aku yang sakit
Tapi rasanya aku begitu sakit
Karena aku tak bisa melihatmu.
Harapanku untuk bersama
Sudah tak pantas untuk ada
Kamu lebih baik untuk aku
Yang tak bisa melihat kamu lagi.
...
Ami
"ami!"
"kamu dimana raka?"
"aku di depan kamu"
Tanganku memanjang mencari suara yang terdengar. Tapi tak ku temukan wujudnya
"aku tidak tahu kamu dimana raka! aku tidak bisa melihat apa-apa"
Raka tertawa. Aku jadi kesal dengan balasannya untukku. Bibirku jadi cemberut tanpa aku minta
"jangan cemberut amigeaku"
Aku tak membalasnya dengan apa-apa. Aku masih kesal kepadanya
"aku tuh gak bisa lihat apa-apa raka fhaisal" aku berbicara dengan nada yang kesal
"dengarkan aku amigea. Jika kamu mencintai seseorang, kamu dapat melihatnya dimanapun dia berada walaupun kamu tidak bisa melihat"
"(mendengus kesal) bagaimana caranya?"
"masih ada mata hati yang menuntunmu dan mata cinta orang yang kamu cinta. Aku pulang dulu ya, dah amigeaku"
...
Raka
Aku masih menangisi keadaan amigea yang sulit aku terima, bagaimana amigea yang menjalaninya?. Aku sudah serba salah dengan kesedihan ini. hari yang seharusnya menjadi kejutan untuk ami akan kesembuhanku, mengapa harus dihiasi dengan kesakitan yang bertambah level. Aku memerhatikan fajar yang tengah teleponan dengan seseorang demgan kaki yang bolak balik di depan ruang ICU, aku tahu tak ada yang patut disalahkan. Ini sudah tertulis di takdir ami.
Langkah fajar berhenti, matanya menatap ke dalam ruang ICU. Aku menatapnya ingin tahu apa yang dia perhatikan
"ami sadar!"
Saat itu juga fajar langsung masuk ke dalam ruangan. Aku, ibu, ibu arsyi dan pak saka juga mengikuti fajar yang masuk ke dalam dan tidak lupa memakai baju khusus ruang ICU. Aku sudah berjalan pelan-pelan tanpa kursi roda, pelan-pelan juga aku melihat mata ami yang masih tertutupi perban. Tak perlu tunggu waktu lama, air mataku sudah menetes melihat kepala ami yang sudah bergerak menggelengkan ke kanan dan ke kiri.
"raka, raka, raka"
__ADS_1
Namaku dituturi oleh mulutnya yang terlihat pucat dan teraluni suara yang serak. Air mataku semakin deras. Sampai isak membuat aku tersedu untuk menjawab panggilan ami
"aku disini ami"
Aku tak tahan menahan kesedihan ini, aku langsung memeluk ibu yang juga menangis disampingku. Ibu membalas memelukku, ada yang begitu menyedihkan daripada sebuah yang dirasakan sendiri itu melihat orang yang dicintai kesakitan sendiri
...
Ami
"raka, raka, raka"
Kepalaku pusing, hanya hitam yang aku lihat. Dimana semesta yang banyak warna. Sekarang telingaku mendengar isakan tangis yang amat tersedu. Kepalaku bergerak ke kanan dan ke kiri. Kenapa aku merasakan sakit yang teramat di penglihatanku
"ibu, ayah, raka, aisha"
Aku memanggil nama orang-orang yang aku cintai dan sayangi. Tapi taka da yang membalas panggilanku
"ibu, ayah jawab aku? ada siapa disini?"
Aku mulai ketakutan. Air mataku sulit untuk keluar
"iya nak, ini ibu dan ayah disini"
"ibu, kenapa gelap. Aku takut. Aku juga gak bisa nangis, ibu ayah"
Kenapa ibu tidak menjawab aku seperti tadi, aku malah mendengar tangisan yang aku sangat kenal
"ibu? Ibu nangis?"
Tangisan ibu semakin terdengar isakannya. Aku bangunkan badan dari tidur. Rasanya ada sesuatu yang menutupi mataku. Tanganku meraba mata. benar saja, ada perban yang menutupi. Ada pirasat yang menakutkanku akan perban yang menutupi mataku. Suaraku mulai gemetar
"ibu, ayah kenapa mataku diperban?"
Tak ada suara yang menjawab juga. Suara tangisanku mulai keluar, dan tanganku saling menggenggam erat.
Itu suara fajar. Ada fajar disini? aku teringat sebelum aku bangun, aku menyelamatkan fajar yang akan tertabrak
"fajar? Kamu disini? jar?"
Fajar juga tak menjawabku. Aku semakin gelisah dengan apa yang sebenarnya terjadi padaku. Ada yang memegang perban di belakang, aku menggeleng-gelengkan kepala
"diam mi, aku bukakan dulu perbannya"
"jar? Fajar?"
"iya ami"
Perbannya sedah terlepas dari mataku.
"oh, ternyata sedari tadi mataku menutup"
"amigea"
Itu suara raka, ya suara raka sangat aku kenali, senyumku langsung merekah dan aku langsung buru-buru membuka mata. tapi kenapa semu? Rasanya mataku sudah terbuka sepenuhnya
"raka? kamu dimana? Ada kamu kan disini? kok aku gak bisa lihat dengan jelas? Semuanya buram?"
Air mataku jatuh begitu saja akan hal yang aku sadari. Tanganku memeluk aku sendiri, dan menekan baju yang aku pakai
"ibu, ayah, raka, apa yang terjadi? Aku gak bisa lihat kalian"
Ada seseorang yang langsung memelukku, aku mendengar dia menangis, dia ibuku. Air mataku ikut terjatuh, pirasatku juga sudah tau apa yang terjadi padaku, tapi takdir belum memberikan kepastian.
"ibu, aku kenapa?"
__ADS_1
Ibu menjawab dengan menggelengkan kepala. aku melepaskan pelukan ibu
"ibu, jawab aku! ibu lihat aku! aku tak bisa lihat ibu!"
Aku sedikit menaikan nada suaraku. Tangisku pecah sangat keras
"ami tenang"
Suara fajar langsung menghentikan tangisanku.
"fajar, kamu pasti tahu, kamu harus jawab aku kenapa?"
"iya mi. sebelumnya aku minta maaf karena kamu menyelamatkanku, kamu jadi seperti ini"
"iya aku maafkan, langsung saja aku kenapa jar? Aku gak bisa lihat apapun"
"saat kamu kecelakaan, matamu terbentur sesuatu yang akupun tak tahu. Di dalam matamu terjadi pendarahan yang membuat lensa matamu tidak dapat menangkap cahaya dengan baik, itu membuat yang kamu lihat remang"
"pada intinya, aku buta?"
Aku bertanya dengan datar dan lesu harus bagaimana aku?
"iya mi"
"aku bisa sembuh kan jar?"
Ibu mengelus-elus tanganku untuk menenangkan aku yang sudah menyiapkan air mata
"sembuh atau tidak itu urusan tuhan, kita hanya bisa berjuang"
Air mata sudah bukan jatuh lagi, melainkan sudah mebanjiri permukaan wajahku. Aku mengedipkan mata, tapi taka da perubahan sama sekali, aku masih tak bisa berubah
"ibu, ayah aku buta, aku buta"
Wajahku bersembunyi dibalik telapak tangan. Air mataku masih terus mengalir karena sedih yang masih menetap
"ami tenang, ada aku disini"
Tangan pemilik suara yang terdengar menggenggam tanganku, dia raka. aku sedikit tersenyum tapi masih tetap menangis
"ka, raka, ini kamu?"
Tanganku meraba-raba wajahnya, aku tersenyum walau tak bisa melihatnya
"aku gak bisa melihatmu, raka. aku gak bisa lihat senyuman kamu"
Raka menjawab dengan isakan tangis yang jelas aku dengar kesedihannya.
"ami"
Sekarang suara fajar yang memanggil. Aku redakan tangisan untuk fajar bicara
"izinkan aku berlutut kepadamu, maafkan aku mi"
aku belum bisa menjawab fajar. Aku hanya menundukan kepala
"aku berjanji dalam waktu satu bulan.."
"itu terlalu lama" raka memotong pembicaraan fajar. Itu membuat fajar memberi koma
"yasudah, dua minggu. Jika aku tidak menemukan donor mata untukmu, aku akan mendonorkan mata untukmu"
"kamu yakin jar?"
"iya aku yakin"
__ADS_1
Aku hanya bisa mengangguk. Aku tidak bisa apa-apa untuk sekarang, yang aku bisa pasrah kepada tuhan, dan meminta bantuan ke orang sekelilingku. Ternyata tuhan begitu menyayangiku.
...