
Bukan main sakitnya
Kenapa semesta mempertemukan
Aku dengan dia
Apa ada kesalahan?
Ternyata, dia penyebab
Atau dia yang disebab
Akankah kamu tau semua ini?
Semua yang terjadi padaku
Pikiranku tak habis
Mana yang pura-pura
Dan mana yang bersalah
Kenapa jadi seperti ini?
...
Ami
"Raka.."
Tuturku spontan, aku memegang kepala yang sudah dipeluk oleh kasa putih, kepalaku seperti menimpa sesuatu, sakit yang aku rasakan membuat mataku melihat kesekeliling ruangan ini berwarna putih, bergorden hijau, aku melihat ibuku dan merasakan genggaman tangannya
"Ami, anakku"
Aku senyum tipis mendengar lantunan suara ibu, ibu menangis, kejutan apalagi setelah ini, apa ayah dan ibu akan pisah? Apa lagi tuhan?.
Aku mengingat satu kejadian sebelum ini, aku melihat bayangan ingatan Raka yang menyelamatkanku dari mobil besar dan aku yang dia singkirkan
"Raka mana, gimana keadaannya?"
Bagaimanapun Raka yang sudah menyelamatkanku dari mobil besar yang hampir menabrakku, aku tidak boleh pentingkan egoku hanya karena kejadian di rumah Raka, walaupun memang aku sangat menyangka ini terjadi
"Raka di ruang ICU, dia koma?"
Aku dibuat kaget oleh apa kata ibu, mataku tak bisa lagi bohongi, aku mencintainya, aku tak ingin dia kenapa-kenapa.
"Aku ingin kesana ibu, aku ingin melihat Raka ibu"
Pintaku, dengan memegang tangan ibu sangat erat
"Kamu baru sadar dari tadi mi, kamu juga koma dari kejadian kemarin, Raka tak apa-apa, dia hanya sedang mencari pendonor darah O karena dia mengalami pendarahan banyak dari perutnya"
Tangisku sudah menjadi banjir di wajahku. Aku menangis, merasa bersalah, Raka tidak bersalah apa-apa, yang salah hanya ayah.
Ibu memanggil dokter untuk memeriksa keadaanku. Untung saja dokter mengerti, aku dibolehkan berjalan keluar menghirup udara walaupun harus dengan kursi roda. Aku meminta ibu untuk membawaku ke ruang ICU, tepat Raka berbaring dari komanya. Tidak ada ibu Raka dan ayah kemana mereka, tega sekali meninggalkan Raka sendirian di dalam ruangan. Aku melihat Raka dari luar kaca ruangan ICU, wanita memang mudah terbawa perasaan jika ada sesuatu hal yang terjadi pada orang yang dicintainya. Aku menangis, sangat menangis.
Aku melihat ibu Raka yang melangkah ke ruang ICU, saat ini aku tidak ingin bertemu ibu Raka, aku langsung meminta ibu untuk membawaku pergi dari sini.
…
Ami
Siangnya aku langsung diperbolehkan pulang oleh dokter, aku yang tidak nyaman dengan suasana rumah sakit, langsung ingin berkemas untuk pulang, walaupun hatiku masih memikirkan Raka.
Aku bosan di rumah, membuat amygdalaku teringat Raka, dan membuat mataku lagi-lagi meneteskan air mata. Aku beranjak dari tempat tidur, dan keluar dari kamar yang membuat aku ingat Raka.
Jalanku masih sempoyongan, karena daya tahan tubuhku yang masih lemah, menarik perhatian ibu dan bi Ros yang sedang masak di dapur
"Non mau kemana, nih nyonya sedang masakan nasi goreng kesukaan non yang non makan setiap pagi"
Langkahku berhenti setelah mendengar kata terakhir dari BI Ros
"Mau kemana mi?"
Aku masih terdiam, dan melangkahkan diri mendekati ibu
"Ibu, apa yang telah terjadi?"
Ku peluk ibu dengan erat, dengan tangisan yang sudah menetes sedari tadi aku menatap mata ibu
"Nanti ibu jelaskan, jika ayah sudah ada"
__ADS_1
Ibu mengelus jilbab yang menutupi auratku. Aku menganggukkan kepala dan semakin mempererat pelukanku.
"Ibu, antar aku ke panti jompo cinta kasih,ayo"
Ibu mengangguk dan aku langsung menggenggam tangan ibu menuntun keluar rumah, dan meminta pak Ahmad menyupirkan mobil.
…
Ami
Aku tersenyum keluar mobil, melihat Bu cika yang sedang duduk di kursi taman. Langsung aku tarik tangan ibu, dan mengajaknya mendekat ke Bu cika.
"Assalamualaikum ibu"
Sapaku untuk memulai pembicaraan, ibu cika tersenyum dan langsung memelukku
"Waalaikumsalam Ami nya ibu cika yang cantik, kepala kamu kenapa".
Aku menundukkan kepala, lalu memandang Bu cika dengan beningnya air mata.
"Ada apa sayang, cerita ke ibu, mana Raka?"
Tangisku semakin pecah. aku langsung menceritakan bagaimana aku bisa seperti ini dan kenapa Raka tidak ikut.
"Assalamualaikum"
Suara perempuan yang baru saja aku kenal kemarin kini ada dia ada di depanku.
"Ada apa Bu?"
Bu cika langsung balikkan badan dan melihat ibu Raka.
"Sarah?"
Mata bu cika membelalak, aku teringat dengan cerita pak Fhaisal dengan kasihnya yang bernama Sarah, ibu Raka?, Sarah?, Pak Fhaisal? Ayah? Dan Raka?
"Bu cika"
Lirih IBu Raka, langsung lemas dan duduk di rumput taman, memegang lutut Bu cika dan menundukkan kepalanya ke lutut Bu cika, tak lama suara tangisan terdengar dari iBu Raka dan Bu cika.
"Kamu kemana saja Sarah, Fhaisal kacau"
Tangis Bu cika memecah saat berbicara, disebelahku ibu mengelus pundakku
Tangis Bu Raka mengalahkan tangisan Bu cika. Aku sempat terdiam mendengar ucapan akhir ibu Raka yang mengarah kepada ayahku, dan ibuku juga ikut menangis.
"Lalu, sekarang mana anakmu dan Fhaisal?"
Tanya Bu cika dengan nada tinggi tapi
"Raka Bu, Raka Fhaisal"
Aku menjawab dengan begitu saja tanpa permisi
"Bu, mana Fhaisal Bu? Fhaisal masih ada kan Bu? Aku juga masih mencintainya, walaupun aku sudah mempunyai suami, tapi aku belum pernah satu tempat tidur dengan suamiku, karena aku selalu dihantui bayangan Fhaisal setiap melihat mata Raka, dan sekarang Raka koma Bu, dia butuhkan darah O, dan hanya Fhaisal yang aku harapkan, karena darah Raka itu dari Fhaisal bu".
Ibu Sarah, Bu cika, aku dan ibu menangis dengan tersedu, mengetaui kenyataan hidup sebenarnya dan kami semua saling memeluk satu sama lain.
"Ayo, kita bertemu Fhaisal"
Ajak Bu cika, yang langsung berjalan ke ruangan tempat pak Fhaisal berada.
"Kang..kang Fhaisal ini Sarah"
Pak Fhaisal yang tadi melihat keluar jendela, langsung balikan badan, melihat Bu Sarah dan langsung menghampirinya. Tetesan demi tetesan air mata pak Fhaisal jatuh, tangannya mengelus dan menghapus air mata Bu Sarah yang menangis. Pak Fhaisal dudukan diri, dan memeluk kaki Bu Sarah
"Maafkan aku Sarah, maafkan aku atas dua puluh taun ini, aku salah, aku yang tidak mau menerima konsekuensi atas kesalahanku, maafkan aku, dan hatiku masih tetap untukmu Sarah, setiap malam yang aku pejamkan, tak hadirkan mimpi, tapi menghadirkan bayangan aku dan kamu, Sarah"
Tangis pak Fhaisal langsung pecah dan Bu Sarah pun meminta pak Fhaisal untuk berdiri
"Asal kamu tau sal, aku juga masih mencintaimu, kamu tau aku menikah dengan seorang pria atas perintah ibuku, dan aku dengan dia tidak pernah tidur bersama, kamu tau? Anak kita, Raka Fhaisal yang selalu membuat aku seakan selalu bersamamu, dan sekarang dia koma di rumah sakit, dia membutuhkan donor darah O, sal"
Mata pak Fhaisal kaget mendengar nama Raka Fhaisal dari Bu Sarah
"Raka? Raka Fhaisal?"
Tanya pak Fhaisal yang langsung mengarahkan pandangannya kepadaku. Aku hanya membalas dengan menganggukan kepalaku, karena aku sama menangis tak kuat menahan kenyataan.
"Ayo kita ke rumah sakit, darah ku O, buka Bu cika, buka!"
Teriak pak Fhaisal membuat Bu cika langsung membukakan jeruji.
"Amiku sayang, terima kasih telah mempertemukan ibu dengan Fhaisal, kamu masih tidak memaafkan Raka?"
__ADS_1
Aku tersenyum membalas Bu Sarah,
"Tenang saja Bu, aku pasti memaafkan Raka, lagipula Raka tak salah apa-apa, sekarang aku mengerti alur cerita hidupku yang tersirat, nanti aku temui Raka sesudah aku berkumpul dengan ibu dan ayahku"
Ibu Sarah tersenyum dan melambaikan tangan dari dalam mobil.
…
Ami
Ibu memelukku selama perjalanan ke rumah. Aku membuka pintu, melihat seseorang laki\-laki yang berdiri di tengah ruangan keluarga, ayah tersenyum, membuka tangannya. Kakiku berlari dan meraih pelukannya, ayah membalas pelukanku, dan mencium keningku, tak lama ibu ikut dalam pelukan kasih sayang ini.
"Kenapa ayah gak cerita?"
Tanyaku yang masih penasaran dengan apa maksud dari yang ayah lakukan
"Anakku, kamu kuat ya selama dua puluh taun ini, maafkan ayah yang tidak memberitaumu, ibu tau kalau ayah menikah lagi, tapi ayah meminta merahasiakannya dari kamu, karena kamu tau, ayah gak mau kamu ikut-ikutan dengan masalah yang ayah sebabkan"
Aku menyunggingkan bibir ke sebelah kiri
"Apa yang membuat ayah menikahi Tante Sarah?"
Ayah menghembuskan nafas
"Dulu, ayah terpaksa harus menikahi Tante Sarah karena ayah menabrak ibunya Sarah, dan ia meminta ayah untuk menikahi sarah jika ayah tak ingin dimasukkan penjara, ayah tak ingin kamu dikenal sebagai anak yang ayahnya dipenjara nak, waktu itu kamu masih sangat kecil".
Aku dan ibu memeluk ayah, aku tak menyangka dengan dibalik layar kehidupanku, ternyata terlalu banyak peran yang berkorban untuk orang yang dicintainya
"Kita mulai semuanya dari awal ya anakku, istriku, kita buka lembaran baru".
…
Ami
Aku terigat sesuatu baru saja aku masuk ke kamar untuk sebentar saja istirahat, aku teringat seseorang yang kemarin merelakan mengorbankan nyawanya dan hampir tiada, aku langsung keluar dari kamarku, aku memanggil ayah dan ibuku yang baru saja akan masuk ke kamar sudah aku tahan dengan teriakan memanggil
“ayah ibu, aku ingin melihat raka”
Ayah dan ibu tersenyum dan menganggukkan kepala, akupun langsung masuk lagi ke kamar untuk bersiap-siap bertemu dengan raka, ya raka fhaisal
Selama di perjalan, mobil yang melindungi kami bertiga, ac yang dingin tapi terasa hangat karena adanya percakapan nyaman yang memeluk keluargaku, betapa aku bersyukur kepada tuhan. Dan betapa aku baru menyadari perkataan raka saat dia membawaku ke dataran tinggi dua hari yang lalu
“ibu ayah, sekarang aku mempunyai arti keluarga sebenarnya bagiku”
Ibu melihat ke belakang tepat tempat aku duduk, sedangkan ayah tetap fokus menyetir tanpa memberanikan diri melihat kepadaku, mengingatkanku dengan sosok yang tengah berbaring di rumah sakit dan alas an kenapa aku sedang berada di mobil sekarang, ayah hanya tersenyum
“oh ya? Memang apa arti keluarga sebenarnya menurutmu anakku?”
Ayah bertanya dengan penuh kasih sayang, kata-katanya seakan memelukku tanpa terwujud tapi terasa hangatnya, aku tersenyum dan ibu tersenyum
“menurutku, arti keluarga sebenarnya adalah dimana tidak ada satupun ingin melihat sedih keluarganya, yang ada merelakan terlihat sedih demi keluarganya, dan segalanya hanya untuk keluarga, sampai rela terlihat keji dan acuh hanya karena tak ingin keluarganya terpandang keji dan acuh, dan keluarga adalah segalanya bagiku bu, yah”
Aku baru menyadari saat aku melihat awan putih milik ibu mendung dan meneteskan air mata, aku memegang tangan ibu, dan ibu membalas genggamanku dengan sangat kuat
“bagi ibu kamu lebih segalanya nak”
Ibu memelukku, dan tanpa ku sadari rumah sakit telah mobil pijaki, ayah memakirkan mobil, baru saja ayah menarik kunci mobil, ayah memeluk aku dan ibu, betapa lengkap yang aku rasakan saat ini.
Aku melihat ibu sarah dan pak fhaisal sedang mondar mandir di depan ruang ICU raka, aku merasakan sesuatu yang tak beres sudah terjadi sampai terlihat kegelisahan diantara raut wajah ibu sarah dan pak fhaisal yang sangat cemas, bahkan bu sarah sampai menggigit jari telunjuknya.
“assalamualaikum sarah, fhaisal?”
Ayah memulai dengan salam
“waalaikum salam saka, mila, ami”
Bu sarah dan pak fhaisal menjawab dengan kompak dan aku sadari ada harmoni yang lirih saat mereka menjawab, aku penasaran ada apa yang terjadi dengan raka, aku sangat kehilangan akal sampai memikirkan yang tidak-tidak
“bagaimana keadaan raka bu, pak?”
Bu sarah langsung duduk di kursi sambil melihat ke bawah lantai, awanku mulai memendung, ku rasakan sakit yang begitu menyayat melihat bu sarah yang sangat kebingungan
“ibu juga gak tau ami, raka sudah didonorkan darah oleh fhaisal, tapi kenapa saat tadi ia sempat sadarkan diri, dia tidak mengenal ibu apalagi fhaisal, dia tidak mengenal ibu, ami, dan sekarang dokter sedang memeriksa raka di dalam, tapi sampai sekarang belum keluar, ibu takut terjadi sesuatu pada raka”
Aku langsung jatuhkan diri ke lantai, tanganku menyentuhkan kepalaku di lutut bu sarah, tanpa bisa aku bending, aku menangis, aku tenggelam dalam genangan rasa bersalah yang terputar saat kejadian ini menimpa pada raka
“ini semua salahku bu, kalau saja aku tidak melarikan diri, dan aku tidak diam bingung di tengah jalan. Raka gak bakalan jatuh baring seperti ini bu, maafkan aku”
Aku tidak beranikan melihat wajah bu sarah, tapi bu sarah memaksaku melihatnya
“ lihat ibu ami sayang, kamu gak salah, sama sekali gak salah, gak ada yang salah, ini udah takdirnya raka, dan takdir kita semua, gak ada yang boleh menyalahkan, karena jika harus dibilang ibu juga salah, tapi jangan sampai ada yang menyalahkan, kita lewati ini bersama-sama ya ami, raka sayang sama kamu, dan ibu sayang sama raka, ibupun sayang sama kamu amigea”
Aku langsung meraih pelukan bu sarah, bu sarah membalas pelukanku, dengan ikut merasakan ibu dan ayahku memelukku dari belakang, dan pak fhaisal memeluk bu sarah dari belakang. Saat ini aku, ibu, ayah, bu sarah, pak fhaisal dikurung dengan jeruji kecemasan tentang seorang laki-laki yang kita semua cintai dan sayangi.
__ADS_1
…