
Setelah kabar mengabari
Ada keheningan baru
Yang menemani
Disetiap terima yang menolak.
Aku berdiskusi dengan takdir
Yang begitu tak nampak aku prediksi
Aku bercerita dengannya
Kenapa ia begitu inginkan begini.
Aku berdiskusi dengan tangis
Di malam yang penuh ikut menangis
Apa memang sama tak inginkan terjadi
Walau sudah terjadi begitu saja.
...
Ami
Aku duduk di teras depan rumahku. Semesta memutar rekaman suara fajar saat di taman tadi. Aku masih tak percaya dengan apa kata fajar, tentang aku yang sebaiknya raka tak lihat. Begitu mudahnya takdir membuat aku tak terlihat raka. aku berusaha tenang, mengatur suara tangis yang hampir tersedu. Tanpa aku tahu, semesta ikut menangis. Malam ini hujan begitu deras, tanpa memberi aba\-aba angin ataupun petir. Ini begitu melengkapi kesedihanku.
“kenapa anak ibu yang cantik?”
Aku langsung menghapus air mata yang sudah membendung sungai. Tapi tetap saja, mata bengkak tak dapat aku sembunyikan dari ibu. Ibu duduk disebelahku, dan memegang tanganku yang basah karena harus menghapuskan air mata. Ibu melihat tanganku dan langsung melihat wajah yang aku tundukan tanpa berani aku perlihatkan.
“kenapa kamu nangis nak?, cerita ke ibu”.
Aku menangis lagi, tak tahan karena sedih ini makin menjadi-jadi. Aku peluk ibuku, yang masih menunggu aku bercerita akan tangisan ini.
“kamu harus tahu dan ngerti mi, tuhan gak akan ngasih cobaan diluar kemampuan hambanya sendiri, ibu yakin kamu bisa terima dan lewati cobaan ini, kamu harus yakin dan semangat. Ibu dan ayah ada untuk kamu, amigeaku”.
Mendengar suara ibu, mengeratkan pelukanku. Amygdalaku semakin memutar kembali ingatanku dengan raka dan rekaman suara fajar saat tadi di taman. Aku masih belum bisa menjawab ibu karena tangis yang masih mengendalikanku.
“kenapa anakku? Ayo cerita ke ibu”
Mendengar permintaan ibu, aku lepaskan pelukanku. Aku mengambil nafas berat, dan memberanikan melihat ibuku
“ya tuhan, matamu sampai bengkak begini nak”
__ADS_1
Aku tersenyum tanpa lengkungan bibir yang sempurna. Aku memandangi mata ibu yang meneduhkan mataku. Aku dibuat tenang, tak seperti tadi yang tersedu. Aku mulai bisa merangkai kata yang akan aku utarakan kepada ibu
“aku tidak apa-apa kok bu”
Ibu langsung tersenyum tak percaya saat aku bicara. Aku jadi malu akan ketenangan yang membuat aku malu harus so merasa kuat dihadapan ibuku yang sudah melewati masa-masaku saat ini.
“taka da gunanya kamu menyembunyikan satu halpun kepada ibu yang sudah melahirkanmu nak”
Aku tersenyum sipu saat mendengar apa kata ibu. Bagaimana mungkin aku membohongi perasaan aku sendiri kepada sosok yang sudah melahirkanku ke dunia ini. ibu pasti tahu aku bagaimana.
“maafkan Ami ibu”
Aku memeluk ibu lagi. Ibu membelai kepalaku yang terselimuti hijab hitam. Aku rindu masa-masa seperti ini, tapi tak suka dengan alasan ini. aku berbicara dengan amygdala yang sedari tadi masih memutarkan rekaman suara fajar saat di taman. Sepertinya dia ingin aku beri tahu ibu akan hal ini.
“ibu, ibu tahu tidak?”
“ya ibu gak tahulah sayang, orang kamu belum kasih tahu”
Ibuku tertawa lucu karena aku yang bersikap seperti anak kecil yang sedang galau karena ingin sesuatu, tapi aku malah makin memanjakan diri
“aah.. ibu..”
Ibu tak menjawab apa-apa, malah tertawa dan memperlihatkan tatapnya ke tatapku. Aku diam tidak berkata apa-apa. Tawa ibu mulai menyamar, dan akhirnya ibu berhenti dari tawanya yang membuat aku sedikit malu.
“emang kenapa Amigeaku, kenapa? Ayo ceritakan ke ibu”
Aku tersenyum malu menjawab kata-kata ibu yang seperti merayu anak kecil saja. Ibu mencubit hidungku karena tingkah aku yang membuat ibu menunggu
“hehe, jadi gini ibuku sayang”
Masih ada canda yang aku balas. Sekarang amygdala sudah siap memutar kembali suara fajar saat tadi di taman.
“kata dokter fajar yang menangani raka, ada baiknya raka tak melihatku”
Ada jeda yang tak tampak apa alasannya, aku memberi koma untuk suara yang selanjutnya
“karena, sudah dua kali raka kesakitan saat melihatku. Itu sangat berpengaruh akan kesembuhan raka, karena katanya ingatan terberat yang harus hilang dari ingatan raka itu, ingatan tentang ami. Dan itu pula yang membuat raka berat untuk mengingat kembali tentang ami. Raka pasti akan merasa sulit yang membuat dia akhirnya kesakitan saat melihat ami”.
Ada satu tetes air mata yang tanpa sengaja tak bisa aku tahan jatuhnya. Mata ibu begitu kasih menatap mataku yang mulai binary kerena genangan air yang mulai mengelabu di awan mataku.
“lalu kamu gak akan hadir di mata raka lagi?”
Aku menganggukan kepala pasrah akan jawaban yang sudah ada di ujung lidahku. aku melihat rasa kasihan ibu terhadapku, dan sekarang telah berubah menjadi tetesan bening yang jatuh ke bak indah ibu. Aku tak tega harus melihat ibu meneteskan air matanya hanya karena aku. Tanganku segera menyeka air mata ibu
”ibu gak boleh nangis karena aku, bu”
Ibu mengangguk bercerita akan kepedulian terhadap anaknya
“kamu harus tetep bertemu dan menjalin hubungan dengan raka. bagaimanapun itu caranya. Ibu yakin kamu bisa menjadi alasan untuk raka sembuh”
__ADS_1
“tapi bagaimana bu?, aku tak ingin raka kesakitan lagi seperti tadi dan kemarin”
Ada koma menjeda antara cakap aku dengan ibu. Ibu menatap ke bawah. Aku mengikuti arah tatap ibu. Tak lama ibu bangkitkan kembali tatapnya kepadaku
“bagaimana kalau kamu memakai masker atau apa saat bertemu raka?”
Aku diam sejenak, memikirkan ide ibu
“iya juga bu, tapi masa aku harus memakai masker setiap saat”
Aku diam sejenak, ibu tidak menyeka sekatapun
“apa memang ini jalan dari Allah untuk aku memakai niqob bu?”
“kamu yakin mi?, cadar bukan mainan!”
Aku masih diam, belum menjawab apa kata ibu.
“bagaimana lagi bu?”
“lebih baik kamu istikharah”
Aku mengangguk dan tersenyum akan kesetujuanku dengan pendapat ibu. Aku diam, ibu juga diam,aku masih dipenuhi pertanyaan tentang apa yang telah terjadi, tentang apa yang telah aku rasakan, dan tentang apa yang harus aku korbankan.
“yasudah, sekarang kamu tidur, nanti ibu dan ayah bangunkan kamu di sepertiga malam, kita dirikan shalat malam bersama ok”
Aku tersenyum. Ibu mengelus pipiku, ibu tersenyum, menghipnotis aku untuk segera kembali ke kamar untuk istirahat dari hari yang sudah menceritakan takdir semesta.
…
“ami, ayo bangun sudah jam dua pagi”
Aku bangun dari lelap yang baru saja sebentar aku pejamkan. Aku sadarkan kantuk yang masih menyelimuti mataku. Dibelakang punggung ibu aku berjalan. Telingaku mendengar lantunan ayat suci Al-qur’an yang teriringi merdu ayah. Ibu selesai mengambil air wudhu, aku masuk setelah ibu keluar dari kamar mandi. Aku begitu merindukan masa-masa sepertiga malam ini. aku sudah sangat lama tak bertemu dengan tuhanku di sepertiga malam, begitu sombongnya diriku ini.
Ayah mengimami aku dan ibu shalat tahajud. Tiba di ujung do’a, aku mencium punggung tangan ayah dan ibu, aku mencium dengan penuh kasih dan harapan yang aku rasakan dari aroma punggung tangan ibu dan ayah. Akhirnya bentuk love milik ayah dan ibu menyentuhku, menempelkan bejuta harapan dan dukungan untuk aku dan takdirku. Keduanya begitu lama menahan ciuman kening ini. aku dalam resap berharap, agar kedua orang tuaku tidak pergi duluan dari pada aku, lebih baik aku yang harus pergi duluan dari mereka.
“sekarang kamu shalat istikharah ya nak”
Ayah begitu tenang dengan nasihatnya untuk aku shalat istikharah, mungkin ibu sudah memberitahu ayah akan yang aku ceritakan semalam. Aku menganggukan kepala megiyakan nasihat ayah.
“kalau begitu, ayah dan ibu tinggal ya”
Aku masih menganggukan kepala, belum ada satu kata yang aku hembuskan untuk menjawab ayah, tapi ayah tak melanjutkan dengan satu katapun, ayah hanya mengelus mukena yang menutupi auratku. Ayah membawa ibu menghilang dari penglihatanku. Sampai akhirnya hanya ada aku di tempat shalat ini.
Ku ucapkan takbir untuk memulai sembahyang istikharah ini. dalam bacaan yang aku persembahkan untuk penciptaku, aku selipkan cerita yang aku lalui disetiap halaman buku harianku. Tetesan tangis masih saja terjatuh, aku benar\-benar tenggelam dalam rasa lemahnya seorang hamba kepada penciptanya. Sampai di sujud terakhir, aku bertanya akan kebingungan yang ingin aku pertanyakan kepa tuhan. Di akhir do’a, aku juga masih sempat bercerita kepada tuhan
‘ ya allah, sesungguhnya engkau maha di atas segala maha. Engkau pasti sudah tahu tentang yang aku lalui dan aku rasakan. Aku ingin aku bisa menyelesaikan cobaan ini. tentang raka yang lebih baik tidak melihatku, aku begitu tak tega bila harus membiarkannya terlelap dari kelupaan ingatannya, aku ingin menjadi perantara engkau untuk kesembuhan raka. aku harus bagaimana? Jika harus tak hadir di pandangan raka, aku tak yakin bisa. Aku ingin selalu hadir disetiap tatap yang menjamunya. Apakah memang seharusnya aku memakai cadar? Atau apa yang terbaik aku putuskan dan lakukan? Aku ingin engkau menjawab aku di bunga tidur setelah istikharah ini. dan aku mohonkan keteguhan atas jawaban yang engkau berikan, aku mohon”.
Aku menutup pertemuanku dengan tuhan dengan pejam yang aku paksa untuk lelap. Aku begitu lega telah mengutarakan rasa dan pertanyaan ini. terima kasih tuhan, atas pedulinya engkau telah membangunkanku di sepertiga malam ini.
__ADS_1
…