AmiKa

AmiKa
awal penerimaan


__ADS_3

Aku berusaha


Memulai dengan ikhlas


Belajar memandirikan diri


Aku harus bisa.


Ini awal aku menerima


Walau sembuh masih aku harapkan


Karena tetap itu yang aku inginkan


Untuk bisa kembali seperti sedia kala.


...


Ami


"ibu!"


Aku memanggil ibu, karena suara klakson mobil raka sudah terdengar dan akupun tidak tahu harus kemana dalam ketidak melihat apa-apa.


"kenapa nak?"


Ibu terdengar buru-buru dalam mengambil nafas karena harus berlari menghampiriku. Aku manangis mendengar ibu yang sepertinya lelah


"ibu cape ya?"


Aku langsung bertanya dengan sangat tak memaafkan diri


"ibu gak cape sama sekali"


"ibu bohong! Aku tahu kalau ibu cape, aku bisa rasakan"


"iya nak ibu cape, tapi kamu pasti lebih cape kan?"


Aku menganggukan kepala dan mulai menjatuhkan air mata, ibu mengusap air mataku


"ibu tak akan membuatmu merasa kesepian nak"


"tapi aku.."


Ibu menyeka mulutku dengan jari telunjuknya


"tapi ibu sayang kamu"


Aku langsung meminta pelukan ibu, ibupun mengambil pelukanku. Ibu mengelus-elus punggungku


"gak aka nada orang tua yang ingin anaknya kesakitan"


Aku hanya menganggukan kepala. Ibu melepaskan pelukannya


"oh iya, ada titipan dari ibunya raka, bu sarah"


Ibu menaruhnya di tanganku. Aku meraba-raba apa yang bu sarah berikan untukku


"ini apa bu?"


"itu tongkat untuk kamu selama dua minggu ini"


Aku tersenyum "beritahu kepada bu sarah, terima kasih"


"sudah ibu katakan nak, banyak yang sayang sama kamu"


Aku hanya menganggukan kepala.


"yasudah, aku akan belajar sendiri dengan tongkat, agar ibu bisa istirahat ya"


"iya" ibu mengecup keningku.

__ADS_1


"ibu siapkan makan malam untukmu ya"


Aku menganggukan kepala. Suara langkah ibu mulai terdengar lalu menghilang, itu artinya ibu sudah pergi ke dapur. Sekarang hanya ada aku dan tongkat pemberian bu sarah. Aku mulai mencobanya sendirian, tanpa ada bantuan siapapun. Sesekali aku jatuh, menabrak pintu, dan bingung ada dimana tapi, setelah aku meraba benda yang ada, aku tahu aku dimana.


...


Sudah terdengar adzan empat kali di hari ini, berarti sekarang sudah masuk waktu maghrib. Tanganku langsung mencari tongkat yang ada di sampingku. Aku melangkah dengan tongkat ke kamar mandi untuk mengambil wudhu lalu shalat dengan menekadkan menghadap kiblat.


"ami, ayo makan. Ayah sudah ada"


Aku langsung menyudahi hubunganku dengan Allah. Kakiku langsung dituntun dengan tongkat ke ruang makan


"eh anak ayah yang cantik, sini nak kita makan enak"


Aku langsung duduk di kursi yang sudah aku temukan.


"nih, ibu sudah buatkan bubur kesukaanmu"


"biarkan aku makan sendiri ya bu"


"yakin?"


"aku mohon bu"


Aku makan dengan tanganku sendiri tanpa lihat sama sekali. Sesekali aku salah masukna sendok. Tapi aku tak putus asa. Tak sengaja terdengar suara isak tangisan


"siapa yang nangis bu, ayah?"


"tidak, tidak ada yang nangis nak. Lanjutkan makannya"


Ibu menjawab dengan penuh pengartian, sepertinya ayah yang menangis. Aku langsung melanjutkan makan


"itu tongkat dari siapa nak? Cantik sekali"


Ayah bertanya saat aku sedang mengunyah makanan. Aku selesaikan dulu makanan yang masih ada dalam mulut


"oh itu dari bu sarah ya bu"


"iya" ibu membantu menjawab dengan nada yang semangat. Aku memberikan senyuman kepada ibu dan ayah.


"assalamu'alaikum"


"itu siapa?" ayah bertanya


"biar ibu yang buka pintu" ibu menjawab dengan mempersilahkan diri


"jangan bu, itu raka. aku mengenal suaranya"


"kamu yakin nak?"


"iya"


Saat itu juga, petir semesta bersuara begitu saja, sepertinya langit inginkan manangis


"kamu yakin nak? Di luar akan turun hujan" ayah bertanya memastikanku


"aku yakin yah, biarkan saja"


Hujan langsung terjatuh ke bumi. Ada khawatir kepada raka yang berada diluar, tapi aku tak ingin membuatnya semakin sedih melihatku


"amigea, tolong pikirkan baik-baik. Di luar hujan"


Ibu meminta aku berpikir akan keputusanku


"suruh dia pulang bu. Aku tak ingin menemuinya"


'maafkan aku raka' hatiku bergumam sendiri, semoga raka mendengar kata hatiku


...


Raka

__ADS_1


"assalamu'alaikum"


Aku mengucapkan salam kepada keluarga ami, tanganku mengetuk pintu yang tertutup. Belum terdengar suara kaki yang melangkah. Tiba-tiba ada petir yang memberitahu semesta akan menangis, angin yang kencang melantuni hembusan nafas semesta. Aku memeluk diriku sendiri. Aku menatap jendela yang masih bercahaya. Apakah mungkin sudah tidur?.


Baru saja kakiku akan membalikan badan ke mobil. Pintu terbuka, ternyata ibu arsyi.


"eh nak fajar"


Aku mencium tangannya. Dan tersenyum


"aminya masih bangun bu?"


"oh aminya sudah tidur"


"baguslah, raka hanya ingin memberikan kesukaan ami saja bu"


Aku memberikan ke ibu arsyi.


"titip salam buat ami ya bu"


"iya nak, pasti"


"kalau begitu, raka pulang bu. Katakana pada ami makan sekarang selagi masih hangat lalu tidur dan kita bertemu di mimpi saja"


"maafkan ibu"


"iya bu, aku mengerti. Assalamu'alaikum"


"wa'alaikumsalam. Hati-hati nak"


Aku langsung berlari ke mobil karena hujan telah deras menjatuhkan diri. Sebelum berangkat aku bunyikan klakson. Semoga kamu suka mi, mungkin ini pertemuan terakhir kita"


...


Ami


"Ini dari raka"


Ibu menaruh sesuatu di meja. Aku diam tak bertanya apa-apa


"ibu suapin ya. Kata raka makan selagi hangat, setelah ini tidur lalu bertemu dengan raka di mimpi"


Aku tersenyum dengan apa kata raka yang ibu beritahu


"ibu serius nak, ini amanat dari raka loh"


"iya ibuku"


Ibu langsung menyuapi makanan dari raka. aku memakannya, ini martabak manis rasa stoberi. Aku memakan dengan tersenyum sendiri. Kenangan yang tercipta dibalik rasa stoberi terputar begitu saja. Aku ingat saat kali pertama pertemuan aku dengan raka di kafe. Aku ingat, dan aku ingin terjadi kembali.


"yey abis ya kalau dari raka"


Ibu menggodaku, aku tersenyum malu.


"aku ingin tidur bu"


"iyalah, kan kata raka juga langsung tidur"


"apaan sih ibu"


Aku mendengus dengan nada yang kesal tapi tetap tersenyum malu


"sudah, sudah. Ayah antarkan kamu ke kamar ya nak. Sekarang giliran ayah lagi"


Ibu tertawa. Aku ikut tertawa, tak lama ayah ikut tertawa


"apa sih yang kita ketawain ibu, ayah?"


"kamu" ibu dan ayah membalas bersamaan


"ah jahat. Aku kemar sendiri saja"

__ADS_1


"yasudah" lagi-lagi ibu dan ayah menjawab bersama dan dengan tertawa. Aku tersenyum mendengar mereka kembali tertawa kembali saat setelah aku buta. Aku langsung menggenggam tongkat dan melangkahkan kaki ke kamar untuk tidur lalu bertemu dengan raka di mimpi.


...


__ADS_2