AmiKa

AmiKa
tidak melihatnya lagi


__ADS_3

Aku melihat lagi, tapi


Tidak melihatnya lagi


Aku melihat karena dia berkorban


Dia berkorban, agar dia pergi terkenang.


Aku berpisah dengannya di mimpi


Dan bangun sudah melihat


Tapi tidak dia


Dia sudah berada di syurganya tuhan.


Aku tak bisa memaafkan


Dia yang tidak memberitahu


Dia yang diam-diam menolong


Sampai korbankan satu indra karena nyawa sudah di ambang pintu syurga.


...


Ami


'aku dimana?' tanyaku pada diri sendiri. Mataku melihat warna-warni semesta, aku melihat dengan jelas diriku sendiri. 'aku bisa melihat lagi?'. Aku tersenyum bersyukur memanjatkan puji. Disana ada seseorang yang aku kenal dan sudah lama tak jumpa


"aisha!"


Aku memanggilnya, tapi kenapa pandangannya kosong. Aku melangkah mendekatinya


"aisha"


Aku memanggilnya sekali lagi. Dia tetap memandang kosong, tapi senyuman khasnya terpancar dengan tulus


"jangan mendekatiku mi"


Kakiku langsung berhenti jalan. Aku menatapnya aneh karena pandangannya tidak bergerak sekalipun.


"kenapa sha?"


Aisha tersenyum dengan gingsul yang manis


"kamu jaga diri baik-baik ya. Aku pamit selamanya. Aku menunggumu di syurga"


"apa? Maksudmu apa?"


Baru saja aku melangkah kepadanya. Dia berjalan mundur, dan melambaikan tangan, tak lama dia memudar dan menghilang begitu saja


...


Mataku tidak bisa dibuka, aku menggerakan kepalaku ke kanan dan ke kiri, tanganku memegang mata, ternyata mataku diperban. Kenapa sepertinya ada sesuatu yang terjadi saat aku tertidur. Rasanyapun ini bukan di kamarku. Aku mendengar suara yang tidak asing


"bu, ami sadar, bu"

__ADS_1


Itu suara laki-laki yang aku cintai, raka


"dok, ami sadar, dok"


Itu suara ibuku dan bu sarah. Aku bingung, sebenarnya apa yang sudah terjadu? Kenapa kata mereka aku sadar? Bukannya aku hanya tertidur?


"ami? Ami jawab aku"


Ini suara fajar. Aku hanya mengangguk menjawabnya.


"duduk yuk mi"


Aku dibantu fajar duduk. Fajar memotong perban yang menutupi mataku. Aku diam tak berkutik apapun. Akhirnya mataku bisa bernafas dari perban yang menutupi


"sekarang buka mata kamu pelan-pelan mi"


Fajar mengarahkanku, aku mengikuti apa kata fajar. Awalnya semuanya masih semu lalu mataku mengedip beberapa kali. Akhirnya, aku melihat warna-warni semesta dengan jelas dan wujud orang-orang yang aku cintai dengan jelas, aku tersenyum bahagia


"aku bisa lihat lagi"


Tanganku mengusap mata.


"eh matanya jangan diusap-usap dulu"


Aku tertawa mendengar larangan fajar akan tingkahku. Ibu dan ayah menghampiri lalu memelukku. Mereka mengecup keningku satu persatu. Mataku berhenti memandang seseorang yang aku cintai, raka


"raka"


Raka tersenyum dengan mata yang berlinang indah. Fajar juga tersenyum kepadaku. Di samping fajar ada ibu aira dan pak shakir, ibu dan ayah aisha


"ibu aira, pak shakir, aisha mana?"


"bu aira?"


"ibu tidak apa-apa mi"


Aku menatap dengan aneh. Kenapa bu aira begitu sedih? Dan pak shakir begitu menyembunyikam kesedihan


"aku ingin bertemu aisha bu"


Bu aira menganggukan kepala. aku tersenyum menerima jawaban bu aira


"ibu, ayah aku ingin bertemu aisha sekarang juga"


Ibu dan ayah menatap fajar selagi dokter yang menanganiku. Fajar mengangguk, aku tersenyum bahagia dengan jawabannya.


"aku ingin berjalan dengan kaki ya bu"


"iya iya"Ibu menjawab dengan pasrah akan permintaanku. Aku tersenyum manja kepada ibu.


Ibu dan ayah berjalan disampingku. Aku melihat ke belakang, melihat raka dan fajar yang berjalan bersama, aku tersenyum kepada mereka. Di depan ada bu aira dengan pak shakir berjalan bersama. Aku bahagia bisa melihat lagi. Aku, ibu, dan ayah satu mobil yang sama, Raka dengan fajar di mobil yang berbeda, begitupula bu aira dan pak shakir. Mobil bu aira dan pak shakir berjalan duluan karena aku tidak ada yang tahu dimana aisha berada.


Akhirnya mobil yang dikendarai pak shakir berhenti juga. Aku melihat dari jendela keluar. bukannya ini pemakaman?, Apa memang rumah aisha di sampingnya itu?, tapi kenapa berhenti disini?. aku membuka pintu dan kakiku melangkah keluar mobil. Mataku memandang pemakaman yang luas. Bu aira dan pak shakir berjalan masuk ke pemakaman tanpa berbicara apapun, akupun tak bisa bertanya apapun. Tangan raka meraih tanganku, dia menuntunku masuk ke pemakaman tanpa kata juga. Aku menatap raka yang menuntunku tanpa menoleh kepadaku. Aku melihat ke belakang, ayah, ibu, dan fajar mengikuti dengan kepala yang menunduk. Apa yang telah terjadi tanpa sepengetahuanku?


Langkah bu aira dan pak shakir berhenti di depan makam yang kelihatannya baru. Raka berhentikan langkah tepat di samping bu aira dan pak shakir. Aku ikut terhenti. Aku masih menatap tak mengerti


"kamu sudah bertemu aisha mi"

__ADS_1


Raka menunjukan sesuatu dengan tangannya. Aku melihat ke apa yang raka tunjukan. Aku melihatnya, aku membaca nama aisha cika tertulis di batu nisan. Kakiku lemas dan jatuhkan diri. Air mataku langsung terjatuh deras


"kenapa sha? apalagi? Jadi benar mimpi itu pertemuan kita terakhir?"


Aku berjalan mendekati aisha yang dalam pelukan semesta. Aku memeluk nama aisha yang tertulis di batu nisan.


"aisha chika! Kenapa sha! kita baru saja bertemu sha!"


Aku tenggelam dengan rasa sedih yang begitu mengalir deras. Tanganku memukul badanku sendiri. Raka menghampiriku, menahan tangan yang memukuli diriku sendiri


"jangan menyakiti dirimu sendiri mi"


"tapi ka"


Raka meneduhkan kepalaku di dadanya. Aku menangis sampai banjir di baju raka.


"sudah mi. ini ada titipan dari aisha"


Raka memberikan kotak warna pink dengan pita putih dari aisha. Aku membukanya, didalamnya, ada foto-foto aku bersama aisha dan kamera yang selalu aisha pakai. Aku menatap raka, raka menganggukan kepala mengiyakan pertanyaan yang mataku ungkapkan. Aku mengambil kamera aisha dan menghidupkannya. Saat kameranya bercahaya, aisha ada di dalamnya dengan wajah pucat, penutup kepala dan alat pembantu nafas


...


"halo sahabatku amigea! Aku kangen kamu"(Aisha tersenyum dan berdeham)


"kalau kamu melihat vidio ini berarti mataku sudah ada padamu dan sudah menjadi milikmu. Tenang saja mi, jangan kaget. Ini keinginanku bukan fajar, raka, atau siapapun itu. Aku yang memang sudah di panggil allah dan aku yang tak ingin sahabatku ini tidak bahagia. Kamu jangan merasa tak enak kerana hal ini, lihat ini (aisha melepaskan kupluk yang menutupi kepalanya) tidak ada rambut dikepalaku mi, ini berarti kanker darahku sudah benar-benar parah. Bukannya aku menyerah, tapi memang aku sudah di undang ke syurganya allah. Jadi aku tak ingin aku bahagia di syurga tapi kamu tidak bahagia di dunia kerana tak bisa melihat. Allah sudah menakdirkan mataku untuk kamu, sahabatku. Jadikan itu pengingat dan pengobat saat kamu rindu padamu. Aku pasti akan lebih merindukanmu di syurga, jadi jangan lupa do'akan aku ya, akupun pasti akan mendo'akanmu"


Aisha memberi koma sebentar dan meminum air putih di meja sampingnya


"oh iya, sekarang aku tidak usah mengantarmu menyebrangi jalanan karena sekarang mataku sudah langsung menolongmu. Maafkan aku tidak pernah membalas ucapan terima kasihmu secara langsung, tapi aku tetap menjawabmu dalam hati. Aku punya satu permintaan mi. Aku ingin kamu jalani amanatku. Aku ingin kamu melihat orang-orang yang kamu cintai, buat kamu bahagia dengan melihat. Ceritakan kebahagiaanmu lewat penglihatanmu, agar aku bisa ikut bahagia. Jangan sampai kamu sedih karena melihat. Tapi jika itu tak tertahan kamu boleh menangis, selagi itu membuatmu lega. Aku mohon mi, bahagiakan dirimu sendiri. Dan bersamalah dengan orang yang kamu cintai dan sayangi. Satu lagi, jaga dirimu baik-baik ya, aku pamit selamanya, aku menunggumu di syurga"


...


Air mataku tak berhenti terjatuh. Aku memeluk kotak dan isinya. Aku menatap foto-foto yang melukiskan ceritaku bersama aisha. Bu aira dan pak shakir menghampiriku, bu aira memelukku dan menatapkan mataku yang aku pejamkan


"lihat ibu nak, lihat!"


Aku membukakan mata karena permintaan bu aira tersedu tangisan


"kamu jangan merasa tak enak. Aisha juga bilangkan ke kamu. Ini memang keinginan aisha dan takdir Allah. Kamu harus mensyukuri jangan menjatuhkan dirimu ke dalam rasa sedih yang tak berujung. Ingat apa permintaan aisha yang harus kamu jalani! Kamu harus bahagia amigea"


Aku menganggukan kepala dan meraih pelukan bu aira lagi


"terima kasih bu"


Bu aira menganggukan kepala "terima kasihlah kepada aisha dengan do'a, dan bersyukurlah kepada Allah dengan bersyukur"


"iya bu, pasti"


Aku semakin mengeratkan pelukanku dengan bu aira. Wajah aisha terbayang di amygdalaku. Mimpi yang tadi datang memang menjadi pertemuan terakhirku dengannya. Ternyata selama ini aku bersahabat dengan malaikat tak bersayap. Dia memang pantas di syurganya Allah, semoga memang begitu, 'aamiin'


Bu aira melepaskan pelukannya. Tangannya menghapus tangisanku. Aku memberi senyuman untuk bu aira.


"yuk pulang, biarkan aisha istirahat dengan tenang"


Aku mengangguk, lalu bangun dari duduk. Tanganku diraih tangan raka, raka tersenyum kepadaku, akhirnya aku kembali melihat senyumannya. Aku, raka, ibu, ayah, bu aira, pak shakir, dan fajar berjalan meninggakan aisha. Walau begitu, rasanya aisha tetap terasa kehadirannya, karena dia tak pantas untuk dilupakan.


'aku akan membahagiakanmu dengan membahagiakan diriku sendiri sha. yang tenang disana sahabatku, aku pasti akan merindukanmu' hatiku berbisik kepada hatinya yang masih terasa kebaikannya, 'aisha terima kasih untuk segalanya yang tak bisa aku balas'

__ADS_1


...


__ADS_2