
Aku masih teringat
Tadi dia memberi tahu perasaanya
Kepada orang yang aku juga sayangi
Sayangnya, aku tak memberi tahu perasaanku sendiri.
Karena tadi, aku lupa
Menyembuhkan diriku sendiri
Menyelamatkan dari maut yang selalu menyapa
Jika lalai mengendalikan.
Aku lelah, karena tadi
Aku ingin berjuang dalam istirahat
Semoga tuhan memberiku waktu
Cukup lama untuk bersandar.
...
Aisha
"kiri bang!"
__ADS_1
Aku berhentikan mas angkot yang hampir melewati rumahku. Aku memberinya uang ongkos dan langsung keluar dari angkot. Aku menarik nafas lega. Baru saja aku akan membuka gerbang rumah yang tertutup, handphoneku bergetar, sepertinya ada pesan masuk.
'sha, aku sudah tak kuat menahan perasaan yang terpendam untuk ami. Menurutmu ami suka tempat apa?'
Jantung berdegup begitu kencang, aku merasa kedinginan sementara mentari masih terikan panasnya sore ini. aku berusaha kuat untuk ketikan balasan kepada fajar
'ami suka pantai'
Dia hanya membaca pesanku, tidak membalas bahkan mengucapkan 'terima kasih'pun tidak. Aku tersenyum menertawakan diriku sendiri yang harus saja mencintai yang tidak mencintai diriku sendiri. Alarm jam tanganku berbunyi lagi, aku baru ingat kalau aku waktu minum obat sore. Tanganku langsung mencari obat yang harus aku minum. Aku menemukannya, tapi saat aku lihat, aku baru menyadari, hari ini harusnya aku check up kondisiku ke dokter spesialisku, obat untuk sore inipun sudah habis, aku harus bagaimana.
Aku idak bertindak apa-apa. Untuk saat ini, aku pasrah. Lagipula, aku lelah harus minum obat setiap saat. Aku masuk kedalam rumah yang tidak ada satupun nyawa yang mengisi. Ibu dan ayah yang sibuk tapi tidak menyewa pembantu satupun di rumah. Habislah sudah aku. aku memasuki kamar yang berantakan, tempat obat-obat yang sudah habis terdampar di setiap sudut yang kosong, baju yang keluar dari tempatnya, begitupula tempat tidur yang tak tahu dimana tempat yang pantas aku tiduri.
"sha, ibu dan ayah datang"
Aku mendengar suara ibu memanggilku. Aku langsung bangun dari rebahanku di tempat tidur. Rasanya petir menerjangku saat aku duduk. Ragaku dingin, tak ada bagian yang hangat sedikitpun, begitupula warnanya memutih, telapak tanganku putih pasi, taka da bagian yang merah sedikitpun. jantungku hilang kendali, mataku sudah tak melihat apa-apa, hanya suara fajar yang terngiang di telinga membentuk bayangan raga fajar di mata batinku.
" Aku sudah tak kuat lagi jar"
"aisha? Aisha! Kamu ada di dalam kan nak?"
Ibu memanggilku. Aku tak kuat bicara, aku hanya mengeraskan hembusan nafasku untuk tanda aku ada di dalam
"aisha!"
Ibu teriakan suaranya, aku menangis mendengar suaranya. 'ibu tolong aku di dalam' hati kecilku berkata kepada hati kecil ibu, berharap ikatan batin seorang anak dengan ibunya memang ada.
"ayah! Sini!"
Ibu memanggil ayah sangat keras, ibu juga memanggil dengan isakan air mata yang begitu nyaris aku dengar.
__ADS_1
"ada apa bu?" akhirnya suara ayah terdengar juga
"aisha di dalam yah, dia tidak menjawab ibu"
"apa?" ayah membalas dengan pertanyaan dan suara yang lantang
"bruk!"
Aku mendengar suara yang mendorong pintu dan suara deras air mata
"ayo yah cepat!"
Suara ibu terdengar kembali. Air mataku tak kalah deras dengan ibu, hanya saja aku tak bersuara
"bruk! Bruk!"
Suara dobrakan pintu terdengar lagi
Akhirnya
"bruk!"
Pintu terbuka. Aku melihat remang-remang ayah dan ibu yang menghampiriku di atas tempat tidur. Ibu langsung merangkul aku yang terdampar begitu saja, mata yang membelalak karena menahan sakit yang teramat. Ayah menggenggam tanganku erat
"apa yang terjadi sha?"
Ibu bertanya dengan senggukan air mata. aku meneteskan air mata melihat kedua orang tuaku menangisiku. Rasanya aku tak bisa menjelaskan apa yang ibu pinta
"jangan sampai ami tahu bu, aku mohon"
__ADS_1
Mataku melayu, cahaya sudah tak ada di celah mataku. Izinkan aku berjuang dalam istirahat yang mudah-mudahan hanya sebentar.
...