
Tuhan telah menjawabku
Di pejam yang aku lelapkan
Ini takdir terbaik untuk tuhan
Yang begitu ingin semakin dekat denganku.
Aku memulai ini
Dari sekarang, setelah
Tuhan memutuskan takdir terbaik untuk
Aku menjadi lebih baik.
Aku bisa dekat dengannya
Dan dekat dengan ciptaan tuhan yang aku sayangi
Jika harus aku pergi meninggalkan.
Dengan menyebut namamu, ya Allah
Aku ikuti keputusan takdirmu, tuhan.
...
Ami
Aku terbangun oleh mimpi yang begitu membuatku diam menatap kosong apa yang aku lihat. Amygdala memutar kemabali apa yang aku lihat di mimpi. Aku melihat kampus, aku merasakan kesedihan tentang raka, aku melihat fajar, dan fajar melihatku memakai cadar. Aku begitu tak tahu aku harus apa. Aku berdiri, ku langkahkan kakiku menghampiri lemariku yang cukup besar. Aku membuka lemari, dan aku ambil kain cadar yang sudah aku simpan rapih\-rapih tanpa ibu, ayah, bi ros tahu aku mempunyai cadar. Dan akhirnya aku pakai secara pelan dan rapih. Aku menatap diriku sendiri di cermin yang bercerita tentang penampilanku memakai cadar. Aku memerhatikan dari ujung kepala sampai kaki, penampilan yang menyelimuti tubuhku. Aku begitu tak menyangka akan jadi seperti ini. baru juga aku akan duduk, ibu sudah memanggilku untuk sarapan.
“ami, ayo sarapan”
Aku melewati tangga untuk turun ke ruang makan. Jantungku berdetak bukan main, aku sudah mengenakan cadar. Aku melangkahkan kaki sangat pelan, aku diam menebak ekspresi apa yang akan terukir di wajah ayah dan ibu. Aku sudah sampai di anak tangga terakhir, aku diam sejenak, mengambil nafas dan akhirnya aku sampai di pintu pandangan ibu dan ayah. Ibu dan ayah menatapku kosong, ada kaget yang bercerita melalui sinar mata. Aku tersenyum walau ibu dan ayah tak dapat melihat senyuman yang aku ukirkan ini.
“amigea”
Ibu dan ayah menyebut namaku secara bersamaan. Tatap mereka masih kosong, tak ada kata yang melanjutkan. Aku masih diam berdiri di tempat aku berhenti.
“ami”
Ibu memanggil namaku cukup keras, ibu berlari ke arahku, tepat jarak aku dengan ibu sudah dekat, ibu memelukku, begitu erat. Aku masih diam, belum menjawab pelukan ibu yang sudah erat. Ibu melepaskan pelukannya, mengelus kepalaku yang tertutupi hijab merah jambu, dan mengarahkan pandanganku ke tatap yang memandangiku dari tadi
“yang sabar nak, ini pasti yang terbaik untukmu”
Setelah mendengar apa kata ibu, aku langsung merebut kembali pelukan yang telah ibu lepaskan. Aku eratkan pelukan ini, lagi-lagi air mata pasrah jatuh ke permukaan wajahku.
“do’akan anakmu bu”
Tuturku dengan suara yang tersedu tangis. Ibu melepaskan pelukanku, mempertemukan mataku dengan mata ibu.
“kamunya jangan nangis dong, kan anak ibu dan ayah itu kuat”
Aku tertawa terpaksa untuk ibu dan ayah. Aku berusaha menyipitkan mata agar ibu dan ayah tahu kalau aku tertawa
“sudah, ayo makan, ayah lapar nih”
Ayah berbicara dengan nada canda yang memohon. Aku hampiri ayah dan aku peluk pundak ayah dari belakang
“aku sayang ayah”
Ayah melepaskan pelukanku dan memberdirikan badannya. Ayah membuka sayap tangannya menawarkan kenyamanan dan kasih sayang seorang ayah untuk aku peluk dan aku simpan. Aku ambil pelukan ayah, tanpa sedikitpun celah aku buka. Tak lama ibu ikut dalam arus perasaan ini, dan akhirnya memeluk aku dan ayah. Suasana pagi ini, seperti diberi angina sejuk oleh tuhan, aku merasa ini awal aku menyentuh pintu syurga. Pelukan perlahan lepas. Aku, ibu, dan ayah duduk di meja makan menyantap makanan yang sudah ibu hidangkan.
“yasudah ibu, ayah aku berangkat kampus yah”
__ADS_1
Aku meraih tangan ibu lalu ayah, meminta salam untuk keselamatan hari ini, keduanya memberi kecupan kening yang menghangatkan hati. Syukurku berdzikir dalam hati untuk orang tua yang aku cintai.
“assalamu’alaikum yah, bu”
“wa’alaikum salam anakku”
Ibu dan ayah menjawab bersamaan dengan kata yang sama, memang jodoh itu satu hati. Akhirnya aku keluar dari rumah untuk mulai mengukir cerita di lembar hari ini.
…
Aku berjalan sendiri di lapangan kampus dengan penampilan yang baru dan tak ada yang memakai selain aku. Rasanya semua mata semesta melihat kepadaku, mungkin saja tak ada yang mengenalku. Aku diam sejenak, bagaimana jika benar\-benar tidak ada yang tahu ini aku ‘amigea’, aku yang tidak mempunyai teman bahkan sahabat di kampus, dan raka yang sekarang kehilangan ingatan. Apa yang harus aku lakukan?. Aku lanjutkan kembali langkahku, tak lama, ada sosok yang aku kenal. Dia sudah satu meter dekat denganku, dan sekarang sudah berhenti di depan ragaku. Dia fajar menatapku, mungkin dia kenal dengan yang ada pada diriku
“amigea?”
Aku mengangguk pelan-pelan menjawabnya. Fajar juga diam memperhatikanku dari bawah aku berpijak sampai atas hijab menutup kepalaku.
“ini jawaban dari Allah?”
Dia bertanya dengan wajah yang hati-hati, aku tahu dia pasti ingat apa yang aku dan dia bicarakan di taman kemarin. Aku menghembuskan nafas yang cukup berat
“iya jar, ini jawaban dari Allah”
Aku menjawab dengan senyuman yang tak terlihat olehnya tapi dia tersenyum, mungkin dia melihat mataku yang selalu sipit karena bibir yang membentuk setengah lingkaran.
“ini yang terbaik mi”
“Aamiin jar”
Kini aku berjalan ditemani fajar sampai aku tiba di kelasku. Semua orang menatap tajam, dan menaikan alis kanan atau kiri. Aku dan fajar saling menatap dan tersenyum lucu akan raut wajah semua mata yang melihatku. Fajar yang semua orang kampus tahu akan dirinya, mulai menulis tanda kutip
“semuanya ini amigea”
“amigea?”
Semua seisi kelas menjawab sama dengan saat yang sama hanya raut yang berbeda tapi tetap dengan tujuan yang sama, kaget. Aku tersenyum kepada semua yang masih memokuskan titik hitamnya padaku. Aku tulis tanda kutip dengan tenang
Tak ada jawaban yang mereka beri. Baru saja aku akan mengucapkan salam
“ami, aku ingin minta waktumu untuk bicara”
Aku melihat sosok yang bersuara, dia aisha cika. Aku tak yakin dengan apa yang dia minta, tapi bagaimana mungkin aku menolak, aku mengangguk dengan senang hati dan senyuman yang terungkap oleh mataku.
“lebih baik kita cepat ke ruang dosen saja, sebelum mulai pembelajaran”
Fajar benar, aku harus memberitahu akan penampilan yang dosen harus tahu, khususnya dosen yang mengajariku, aku tak bisa membayangkan jikalau dosen harus memberi respon yang sama dengan teman sekelasku.
“assalamu’alaikum semuanya aku dan dokter fajar ke ruangan dosen dulu”
Aku menutup dengan salam dan penjelasan agar taka da yang menanyakan tentang jalannya aku dengan fajar yang sepikiranku pasti banyak yang mengagumi sosok fajar yang cukup di mata wanita.
“ayo”
Fajar sudah melangkahkan kaki keluar, aku menatap kesekeliling kelas lagi dan tersenyum lalu aku langkahkan keluar dan membuntuti di belakang fajar.
“memang takdir taka da yang tahu”
Fajar berbicara dengan tatap mata kedepan. Aku tersenyum, memikirkan apa yang fajar ungkapkan di tengah perjalanan ini. aku melihat kesekeliling yang sepi karena semua nyawa telah masuk ke kelasnya masing-masing.
“ya memang begitu, jika kita tahu jalan takdir hidup kita, gak seru jar!”
Fajar langsung tertawa saat aku selesai menjawab, aku tertawa tanpa suara melihat raut yang fajar lukis
“eh kok ketawa sih?”
Fajar masih tertawa saat aku mengomentari akan tawanya. Tawa fajar sudah mulai merendah, dan akhirnya diam juga
“kamu pintar juga. Benar nanti gak seru ya?”
__ADS_1
“iyalah”
Aku tertawa pelan setelah huruf terakhir yang menyusun kata untuk menjawab fajar, tapi fajar malah tertawa lumayan keras. Perjalan ini diiramai dengan suara tawa fajar yang baru kali pertama aku dengar. Setelah beberapa langkah, akhirnya aku dan fajar telah sampai di pintu ruang dosen.
…
“assalamu’alaikum”
Aku dan fajar mengucapkan salam bersama, semua dosen yang sedang sibuk dengan kegiatan masing-masing menjawab salam aku dan fajar
“ada apa dokter fajar?”
Sudah ada satu dosen yang bertanya kepada fajar walau matanya belum melihat fajar apalagi aku, mungkin saja dosen-dosen di kampus sangat mengenal fajar.
“perempuan memakai cadar itu siapa?”
Kali ini dosenku yang menjawab, Prof.malik.S.Si. belum sempat fajar menjawab, sudah ada dr.arini,S.Pb dokter senior yang selalu menilai prakter mahasiswa/I fakultas kedokteran yang sedang prakikum
“oh calon kamu dok? Alhamdulillah akhirnya dokter gantengnya aku sudah punyai calon”
Fajar tertawa menjawabnya. Aku ikut tertawa melihat dokter arini yang terlihat lucu karena raut wajahnya saat fajar tertawa. Akhirnya fajar berhenti dari tawanya yang membuat semua dosen melihat kepadanya
“ini bukan calon, dosen-dosen semua ini mahasiswi di kampus ini fakultas sastra bahasa Indonesia, amigea”
“amigea?”
Profesor malik langsung menjawab dengan tanya yang begitu tak percaya. Ini giliranku berbicara
“iya profedor ini saya, amigea”
Aku tersenyum setelah selesai menjawab, semua dosen mengubah kagetnya dengan senyuman tanpa ragu.
“subhanallah, semoga Allah meridhoi kamu mi”
Profesor malik memberiku do’a yang sangat tulus, aku tersenyum baru saja aku akan menjawab dengan rasa syukur meng’amin’kan do’a profesor malik
“semoga kamu diberkahi Allah”
“semoga sabar menemanimu”
“semoga kamu cintai Allah”
“semoga Allah selalu menemanimu”
“semoga hatimu selalu teguh”
“semoga Allah memberimu rahmat”
“semoga kamu selamat dunia akhirat”
“aamiin”
Semuanya menutup dengan aamiin. Tanpa aku sadari air mata sudah jatuh saat saat aamiin yang terengar tulus semuanya beri kepadaku. Aku tersenyum
“aamiin”
Aku merasakan tatapan disampingku, fajar menatapku dengan penuh harap yang membuat aku tak dapat membaca satupun. Aku hanya tersenyum menjawab tatapannya.
“ya sudah kalau begitu, saya dan ami izin pamit”
Fajar memberi titik di pertemuan ini dan memberi kontak mata untuk menyudahi
“assalamu’alaikum”
Salam menjadi titiknya. Aku dan fajarpun keluar dari ruangan setelah semuanya menjawab salam.
“wa’alaikumsalam”.
__ADS_1
…