
Di tengah perjalanan
Aku melihat sosok yang aku rindukan
Bersama sosok baru yang menemaninya
Inikah kenyataannya?
Saat aku tak tahu
Berjalan sendiri,
Aku melihat dia sendiri kesakitan
Aku meraih sakitnya
Di bangunnya yang baru saja
Ada temu yang baru
Karena temu yang pertama hilang
Dari dia yang sedang sakit
Di temu yang baru ini
Dia tidak mengenal karena aku baru
Karena aku bukanlah aku
Yang ia kenal dulu
...
Ami
Sekarang aku sendiri, fajar ada fasien kecelakaan tabrak lari membuatnya harus pergi ke rumah sakit dalam keadaan apapun itu. Aku tengah duduk di kursi lapangan basket yang panjang. Aku rindu suasana kampus ini, apalagi suasana saat\-saat aku dan raka bersama disini. di mataku, aku melihat seakan ada bayangan aku dan raka sedang berlari saling kejar di tengah lapangan waktu baru dua hari aku dan raka bersama. Aku melihat ke langit, saling bertatapan dengan langit yang diam\-diam mewarnai dirinya dengan warna kelabu. Aku menghembuskan nafas, tingkah nalar begitu tak karuan. Baru saja aku akan mengangkat tubuh dari sini, aku melihat sosok yang baru saja aku bayangkan, kini nyata bukan bayangan lagi, itu raka bersama, seina. Entah apa yang terjadi, serasa tsunami membawa aku hanyut dan melemah. lemah membuat kakiku gemetar tak kuasa berdiri, aku langsung dudukan diri. Seina menemani raka? apa mungkin seina kuliah disini juga? Di fakultas apa? Apa sama dengan raka?. aku bukanlah seorang yang kuat menahan air mata yang sudah membendung, mataku tak sama dengan langit yang bisa memberi menehan sejenak bendungan air hujan dengan warna kelabu ataupun petir. Aku menjatuhkan satu tetes air mata, aku berusaha kuat tidak meneteskan air mata selanjutnya. Aku memperhatikan mereka, dari kejauhan aku melihat raut wajah raka yang tak sepenuhnya tersenyum, ada yang dia pikirkan dan baru aku sadari matanya menatap lekat mataku tanpa kedipan. Dia mengedipkan mata saat aku juga mengedipkan mata. Apa dia mengenalku? Tapi dia tidak merasakan kesakitan seperti biasanya melihatku. Aku tersenyum, melihatnya tidak kesakitan melihatku. Ini senyuman pertama yang aku lihat dari raka dalam keadaan seperti ini.
Seina meninggalkan raka, dia menempelkan telepon di telinganya. Betapa tenangnya aku melihat raka tanpa seina. Aku semakin nyaman menatapnya, dia juga menatapku, rasanya seakan aku masih dalam saat\-saat bersamanya. Ingatanku memanjakanku, sampai aku tak sadar raka mengahampiriku dengan wajah yang penasaran.
“hallo? Kamu mahasiswi di kampus ini?”
Aku sadar dengan rasa kaget melihat raka sudah berdiri tepat dihadapanku. Aku sedikit gugup menjawabnya, aku takut dia kesakitan lagi jika mendengar suaraku. Tapi, bagaimana lagi, mana mungkin aku diam tak menjawabnya
“ada apa?”
Aku gugup karena takut apa yang akan terjadi setelah aku membuka suara untuk menjawab raka.
“eh, maaf aku lancang. Kamu mahasiswi kampus ini?”
Raka tersenyum, hatiku bahagia sangat bersyukur. Raka tidak kesakitan sedikitpun, aku sangat terharu akan yang terjadi. Tuhan memang tak pernah salah.
“iya, aku mahasiswi kampus ini”
Aku tersenyum menjawab raka. Raka juga tersenyum melihatku tersenyum
“oh iya, kenalkan aku Raka Fhaisal, panggil saja Raka, mahasiswa fakultas psikologi”
Raka menjawab dengan senyuman yang belum pudar. Ada haru yang berusaha aku tahan tangisnya, karena saat haru aku selalu saja bisa meneteskan air mataku. Tangan raka mengulur mengajak untuk saling berpelukan dengan tanganku. Aku membalasnya dengan jabat tangan islam tanpa menyentuhnya
“aku amigea, panggil saja ami, mahasiswi fakultas sastra bahasa Indonesia”
Raka memerhatikan tangannya yang masih terulur, kurasa dia tak mengerti
“maafkan aku raka, aku tak bisa bersentuhan denganmu”
Dengan pelan aku menjelaskan ini kepada raka. raka tertawa dan menggaruk kepalanya yang entah gatal atau tidak
__ADS_1
“hehe, maafkan aku tidak mengerti”
“iya tak apa. Jika kamu tak mengeti, aku akan membuatmu mengerti”
“benar?”
“iya, aku serius”
“kamu baik sekali. Kalau begitu, boleh aku minta nomor handphonemu?”
Raka menyodorkan handphonenya, aku menerima dengan senyum yang terukir begitu saja. Saat aku mengetik nomor handphoneku, aku merasa raka memerhatikanku. Benar saja, saat aku selesai mengetik nomor handphoneku, raka tertangkap basah memerhatikanku. Tapi, raka tidak salah tingkah, dia malah tersenyum seperti kagum kepadaku. Baru saja raka mengambil handphonenya dari genggaman tanganku
“raka!”
Seina memanggil raka ditempat tadi raka dan seina berada. Aku menghembuskan nafas kesal. Raka melihat dimana seina memanggilnya
“iya sebentar!”
Raka menjawab seina, aku kesal setengah pasrah bagaimana lagi, raka lupa ingatan ami!
“yasudah, nanti kita ketemuan ya, aku akan hubungi kamu mi”
Dia tersenyum, nada suaranya manis, rasanya seperti sedang mengemut permen yang tak habis-habis. Aku tersenyum membalasnya
“iya, aku tunggu”
“dah amigea, nice to meet you”
Raka berlari pelan sambil melihat ke arahku dan melambaikan tangan meminta untuk bertemu kembali. Tanganku spontan membalas lambaian tangan dan senyuman raka
“nice to meet you too Raka Fhaisal”
Aku menjawab dengan suara pelan karena jarak antara aku dan raka lumayan jauh, tapi aku rasa raka tetap mendengar suara hatiku yang membalasnya.
…
Raka
Kurasa seina selalu bertanya tentang fashion dan fashion lagi, aku bosan dengannya. Aku hanya membalas ‘iya’ daripada diam dan dia akan menambahkan pertanyaan menjadi dua, tiga, dan seterusnya. Seina asyik dengan handphone yang sama sekali tidak mengerti perasaan manusia, sedangkan aku, sibuk menikmati keindahan semesta di lapangan basket kampusku ini. tidak terlalu banyak orang yang aku lihat lewat ataupun bertepi. Tunggu, aku melihat seorang perempuan, dia memakai gamis dan hijab merah jambu, tapi ada kain yang menutupi setengah wajah bawahnya, mulut dan hidung. Dia siapa?, kenapa aku begitu penasaran melihatnya. Aku memerhatikannya tanpa sebentarpun mengedip. Sepertinya dia tahu aku memerhatikannya, dia juga menatapku dan mengedipkan mata yang otomatis membuatku mengedipkan mata juga. Untung saja aku tidak salah tingkah dibuatnya, karena memang aku tidak bisa melihat raut wajahnya, hanya mata yang bisa berbicara dia juga sedang memerhatikanku. Seina memegang pundakku, dan memperlihatkan handphonenya. Aku belum melihat apa yang seina berikan, tapi dia langsung langkahkan kaki ke lain tempat dengan ponsel yang sudah menempel di telinganya, mungkin ada yang meneleponnya.
Aku penasaran dengan sosok wanita yang aku perhatikan sekarang. Kakiku tak bisa tinggal diam karena rasa penasaran menekan tombol jalan. Aku menghampirinya, tapi kenapa tatapannya kosong? Mungkin dia sedang memikirkan sesuatu bukannya memerhatikanku yang sudah ada di hadapannya langsung.
“hallo? Kamu mahasiswi di kampus ini?”
Aku membuka kutip agar dia sadar dari tatapan kosongnya. Dia sadar, matanya begitu jelas meneduhkan tatapanku terhadapnya. Aku tersenyum mendapatkan matanya yang teduh
“ada apa?”
Dia bertanya lagi padaku, aku tersenyum mendapatkan matanya yang kebingungan. Aku suka matanya
“eh, maaf aku lancang. Kamu mahasiswi kampus ini?”
Aku tersenyum-senyum sendiri bertanya seperti ini kepadanya, dia juga tersenyum begitu jelas terlihat di matanya
“iya, aku mahasiswi kampus ini”
Aku tersenyum bahagia dengan jawaban yang dia berikan. Entah kenapa aku sebahagia ini, rasanya baru kali pertama ini aku merasa bahagia yang menggairahkan sukmaku. Aku mengulurkan tanganku, dan memperkenalkan diri
“oh iya, kenalkan aku Raka Fhaisal, panggil saja Raka, mahasiswa fakultas psikologi”
“aku amigea, panggil saja ami, mahasiswi fakultas sastra bahasa Indonesia”
Dia menjawabku tapi tidak membalas uluran tanganku. Aku sedikit tak menyangka dia tidak membalasku, dia membalas tapi tidak berjabat tanganku
“maafkan aku raka, aku tak bisa bersentuhan denganmu”
Dia berbicara lagi, dia meminta maaf. Atau mungkin aku yang tak tahu, aku kan lupa ingatan. Jangan-jangan ini ajaran agama aku dan dia. Dia sudah pasti islam karena hijab itu dikhususkan untuk muslimah, hanya islam.
“hehe, maafkan aku tidak mengerti”
Aku menjawabnya seperti anak kecil dengan menggaruk kepala yang tidak gatal sedikitpun dan tersenyum polos tanpa malu
__ADS_1
“iya tak apa. Jika kamu tak mengeti, aku akan membuatmu mengerti”
Dia mempersilahkan aku masuk ke lembar harinya, aku tersenyum mendapatkan kata-kata manis yang begitu sejuk membuat hati nyaman.
“benar?”
Memang aku harus saja bertanya setelah pasti diberikan, aku memang begini
“iya, aku serius”
Dia tersenyum meyakinkan dia seorang yang baik
“kamu baik sekali. Kalau begitu, boleh aku minta nomor handphonemu?”
Aku mengulurkan handphone untuk dia mengetikan nomor handphonenya di handphoneku. Dia menerima tanpa kata, tapi tetap saja teduh aku rasakan. Saat dia mengetikan nomor handphone, aku sibuk menatapnya, merasakan sejuk yang membuat aku nyaman lama-lama menatapnya. Dia sudah selesai, langsung memberikan handphone dengan uluran yang menunggu aku terima. Baru saja aku terima handphoneku
“raka!”
Seina memanggilku ditempat tadi seina meninggalkan aku sendiri.
“iya sebentar!”
Aku menjawab seina dengan suara yang cukup keras. Sebelum aku beranjak pergi, terakhir kali saat ini, aku menatap dalam ami lagi
“yasudah, nanti kita ketemuan ya, aku akan hubungi kamu mi”
Aku memberinya suatu undangan untuk kembali bertemu, dia tersenyum
“iya, aku tunggu”
Aku tersenyum bahagia mendapatkan jawaban ami yang sesuai dengan harapanku, bahkan dia bicara, dia menungguku. Aku menyudahi temu kali ini, seina sudah memperlihatkan wajah kesal menunggunya. Aku tetap saja menatap ami, tanpa menghiraukan seina. Kakiku sudah memulai langkah titik akhir cerita pertemuan pertamaku dengan ami. Kakiku yang menjauh, aku melambaikan tangan untuk sebuah tanda aku menunggu kan bertemu kembali
“dah amigea, nice to meet you”
Aku tak tahu, kata-kata ini begitu saja keluar dari mulutku. Aku melihat dia tersenyum dari matanya, aku tebak dia menjawab ‘nice to meet you too’.
…
“siapa itu?”
Seina langsung bertanya siapa yang tadi bersamaku. Aku menghembuskan nafas kesal Dan berjalan mendahului seina. Aku begitu kesal, dengan raut yang dia ukir di wajahnya saat tadi bertanya. Dia menarik tanganku, membuat aku sontak berhenti jalan. Aku tetap melihat ke depan, tanpa melihat ke seina yang ada di belakangku
“maafkan aku raka”
Seina meminta maaf masih dengan menggenggamku. Aku ingat dengan kata ami ‘maafkan aku raka, aku tak bisa bersentuhan denganmu’, tanganku pelan-pelan melepas genggaman tangan seina.
“maafkan aku juga. Tapi mohon jangan menyentuhku lagi”
“kenapa raka?”
“nanti aku jelaskan”
Aku langsung melanjutkan langkah yang terjeda, sedangkan seina diam tidak mengikutiku. Maafkan aku seina, aku rasa ada yang berbeda di dalam diriku saat bersama dengan ami. Seina dengan ami sangat berbeda jauh. Ami sangat tertutup tapi seina terbuka. Aku berjalan dengan rasa bersalah yang terasa memukul diriku sebagai seorang laki-laki. Langkahku sontak terhenti
“raka jahat! Raka bukan Raka Fhaisal yang Seina kenal”.
Seina berteriak cukup keras. Aku belum berani melihat seina di belakang
“raka jahat!”
Seina sudah berteriak lagi, aku tak bisa jadi pengecut begitu saja. Aku langsung membalikan badan. Seina sudah berlari tapi belum jauh, aku langsung cepat mengejarnya
“seina, aku bisa jelaskan”
Tak ada jawaban satu katapun dari seina. Dia tetap lari secepat yang dia bisa. Aku tetap berusaha sebisa dan sekuat yang aku bisa. Kondisiku yang baru saja pulih, sepertinya belum sepenuhnya pulih. Rasanya aku seakan dikelilingi bintang-bintang yang membuat pusing, langkahku melambat dan melemah, tanganku menunjuk seina berlari
“seina, aku bisa jelaskan nanti. Cukup, aku tak kuat lagi”
‘bruk’
…
__ADS_1