AmiKa

AmiKa
pengakuan kerelaan


__ADS_3

Ada yang berbeda


Jikalau yang terjadi tak di inginkan


Apa yang akan terjadi


Jika yang di inginkan dipaksakan.


Yang bersifat bahagia


Haruslah ada kesedihan menyertai


Karena takut lena melupakan


Hati yang memasrahkan.


Lama tak menjamin abadi


kejap juga tak menjamin kandas


ini bukan perihal waktu


tapi perihal pemberian tuhan.


...


Raka


Mataku terbuka begitu merasakan seseorang membuka gorden jendela. Ternyata matahari telah terbitkan sinar. Seina merapihkan benda yang terdampar di lantai. Semenjak kemarin, seina tidak banyak bicara kepadaku, dia berbicara seperlunya. Mata seina yang terlihat menghindari pertemuan mataku dengannya, memperlihatkan rasa yang dia pendam sendiri. Biasanya dia selalu ceria saat denganku. Dia mengambil gelas yang ada di meja. Jika aku tak salah melihat, tangannya gemetaran


"prang!"


Gelas yang dia ambil, jatuh begitu saja. Beningan gelas terhampar di lantai. Aku angkat badan dari tempat tidur yang membuatku bosan. aku menghampirinya


"sei.."


Baru saja aku akan membantunya yang sedang memungut kepingan gelas yang pecah, dia menahan dengan tangan yang menahanku mendekat.


"jangan ka, bahaya"


Dia mengancamku tanpa melihatku. aku merasa ada sesuatu yang tak beres dengannya


"ada apa seina? Kamu kenapa?"


Aku langsung bertanya apa yang sudah terangkai sedari tadi untuknya. Seina hanya menggelengkan kepala


"kenapa na?"


Aku membujuk dengan menggenggam lembut tangannya. Seina kembalikan pandangan yang dia palingkan. Ada genangan yang terpantul dari bening matanya


"tidak ada apa-apa ka"


Dia menjawab dengan mata yang melihat ke bawah.


"seina lihat aku! lihat mataku"


Aku semakin membujuknya, meminta dia untuk melihat aku yang khawatir. Akhirnya seina kembali melihatku lagi


"ada apa na? kenapa sejak kemarin sore kamu berbeda?"


Dia masih menggelengkan kepala tapi matanya tetap melihatku. aku dibuatnya kesal karena telah membuatku merasa mempunyai salah kepadanya


"aku mohon na. ada apa? Jangan buat aku khawatir"


Dia meneteskan air mata dari pelupuk matanya. Isakan tangis langsung terdengar di telinga


"sei?"


Aku memanggilnya yang terbawa arus kesedihan yang tak tahu apa penyebabnya


"aku takut kehilanganmu raka"


Begitu saja, seakan ada petir yang menyambar kenyataan dibalik realita kehidupan. Aku berusaha tenang dengan pengakuan seina. Aku memikirkan apa jawaban yang netral untuk membalas sebuah pengakuan


"kamu tak akan kehilangan aku sei"


Seina tersenyum dengan mata yang menahan air maa terjatuh lagi.


"aku takut ka"


"jangan takut mi" kata-kata itu terucap begitu saja dari mulutku. Aku merasa bukan laki-laki yang sejati


"apa?mi?"


"tidak, kamu salah dengar"


Seina tersenyum menertawakan jawaban yang seharusnya diberi kepada anak sd.


"oh, salah dengar ya"


Aku mengangguk meyakinkan dia yang sudah tahu kebenarannya


"aku mencintaimu sedari awal kita bersama raka"


Pengakuannya semakin menjadi-jadi. Aku memalingkan wajah dari pandangannya yang meminta asih untuknya. Aku melihat sudut senyumnya, tangannya memalikan pipiku dan membuat mataku kembali menatap matanya


"aku tak meminta kamu membalas cintaku ka. Aku hanya ingin aku tak kehilanganmu"


"iya sei, aku juga tak ingin kehilangan sahabat sepertimu"


Aku dan seina saling memberikan senyuman. Dia terlihat begitu tanang sekarang.


"sudahlah, aku sudah tenang ka. Terima kasih"


"terima kasih untuk apa?"

__ADS_1


"untuk segalanya"


Aku mempersembahkan senyuman untuk dia yang begitu mengagumkan.


"oh iya, bagaimana dengan amigea?"


"bagaimana apanya sei?"


"hari ini dia ulang tahun raka fhaisal"


"iya? Kenapa kamu tidak memberitahuku seina? "


"aku lupa kamu lupa ingatan. Jadi aku santai saja, tidak memberitahumu"


"kamu jadi ikut-ikutan lupa ingatan ya"


"hehe. Maafkan akulah"


Dia tertawa yang tidak lucu. Aku jadi tersenyum mendengar jawabannya seperti anak sd.


"tunggu dulu ka, aku punya sesuatu"


Dia lari keluar dari ruangan. Entah apa yang akan dia tunjukan sampai ada di luar ruangan. Belum detik menginjak angka sepuluh, dia kembali masuk. Aku tak melihat sesuatu yang dia bawa.


"apa sesuatu itu?"


Dia tersenyum jahil kepadaku


"tada!"


Dia mengulurkan tangan yang memegang kaset bulat tanpa gambar.


"ini milikmu"


"milikku?"


"iya, aku menemukan ini saat aku membersihkan kamarmu. Aku penasaran karena dalamnya"


Dia membuka pengaman CD bulat yang berbentuk kotak. Disitu, terukir huruf yang merangkai kalimat 'amika'


"apa amika?"


"jawabannya ada di dalam kaset ini"


"assalamu'alaikum"


Ibu, ayah dan dokter masuk dengan memberi salam. Aku mendengus kesal karena mereka masuk disaat tak tepat. Aku memandangi seina, seina hanya tersenyum tenang.


"selamat raka, boleh pulang. Keadaanmu membaik" ujar dokter


"benar dok?"


Dokter mengangguk dengan memberiku senyuman yang meyakinkan.


Ajak ibu kepada aku dan seina


"yeyyy"


Aku bersorak bahagia. Akhirnya aku bisa keluar dari ruangan yang membosankan ini. di pikiranku langsung terbayang mata ami yang tersenyum. Aku ingin bertemu ami, untuk memanjatkan do'a bersama untuknya. Aku tak sabar. Ada sesuatu yang muncul di pikiranku


"bu kita pulang kemana?"


Aku memandangi ibu yang sedang mengemasi pakaian dan barang-barang.


"ya pulang ke syurga kita"


Ayah menjawab pertanyaanku untuk ibu. Aku sedikit tak mengerti dengan jawaban ayah


"maksudnya yah?"


"iya, pulang ke syurga kita. Rumah kita"


"oh, baiti jannati"


"itu kamu tahu"


"akupun tak tahu kenapa aku bisa tahu ya"


"sudahlah syukuri saja" sekarang ibu yang menjawab. Ibu tersenyum sangat bahagia. Aku ikut terbawa bahagia melihat ibu yang bahagia.


"ayo pulang"


Ibu menyuguhkan kursi roda kepadaku. Sepertinya hatiku berkata tidak untuk hal ini


"gak mau bu. Aku kuat"


"tapi.."


Aku langsung berhentikan suara ibu


"tidak ibu, aku sehat"


Ibu pasrah tidak menjawab aku lagi. Aku tersenyum melihat ibu yang tak ingin kalah tapi sekarang kalah.


"sayang ibu" manjaku dengan mengambil pelukannya.


"ayah enggak?"


Ayah memperlihatkan wajah manjanya


"pasti sayang ayah juga kok"


Aku peluk keduanya. Mereka keduanya mengelusi rambutku. Aku nyaman lama-lama dalam keadaan ini. ibu melepaskan pelukan, ayah juga ikut melepaskan pelukan.


"sudah, ayo pulang"

__ADS_1


ajak ayah dengan lirikan yang melihat ke jam tangan


"ayo!"


Aku langsung membalas dengan nada ceria yang bersemangat.


"ayo!" aku mengulurkan tangan mengajak seina yang sedari tadi diam memerhatikan percakapan aku dengan ibu dan ayah. Seina memberiku senyuman, dia membalas uluran tanganku dengan tangan yang langsung memeluk satu sama lain, seina sudah seperti adik kandungku sendiri.


...


Akhirnya, garasi rumah telah mobil masuki. Aku bisa istirahat di kamarku sendiri tanpa infusan yang hinggap.


"sampai!"


Ayah bersorak akan sampainya perjalanan rumah. Ayah dan ibu keluar duluan


"ayo ibu antarkan kamu ke kamar"


Ibu membuka pintu mobil yang melindungiku.


"biar seina saja tante yang antar raka ke kamar"


Seina mengajukan kesediaannya menolongku kepada ibu, tapi matanya menatapku. Aku tahu ada sesuatu yang dia ingin bicarakan lagi, mungkin soal tadi


"iya bu, kasian ibu capek. Gak apa-apa kok bu"


"ya sudah kalau begitu, hati-hati ya seina"


"iya tante" jawab seina dengan wajah yang mengungkapkan perasaan lega.


Seina menuntunku mengarungi anak tangga karena kamarku ada di lantai ke dua. Di perjalanan menuju kamar, tak ada cakap yang terurai, yang ada tatapan seina yang menatapku dengan makna yang dalam. Akhirnya pintu kamar telah di depan mata, seinapun membukanya. Aku dan seina masuk bersamaan. Kamar ini begitu asing bagiku, banyak buku-buku yang tertata tulisanku tapi aku tak tahu waktu kapan itu ada. Aku hanya bisa mengelus dada jika ada sesuatu yang sama sekali aku tak tahu.


"kamu duduk dulu di kasur"


Seina mendudukanku di kasur yang rapih. Seina juga ikut duduk di sampingku.


"mana CD tadi?"


Aku langsung menyodorkannya kepada seina. Aku tak tahu apa itu, jadi aku tak terlalu ingin tahu apa isinya


"raka"


Seina memanggilku. Aku hanya menjawab dengan mata yang mengungkapkan tanda tanya


"kamu mencintai ami?"


Mataku membelalak mendengar pertanyaan yang begitu saja seina ungkapkan.


"memangnya kenapa?"


Aku tidak menjawabnya, tapi aku memberikan dia pertanyaan lagi.


"aku juga mencintaimu" ungkap seina tanpa melirikku


"maksudmu?"


Aku bingung dengan apa yang seina ungkapkan


"ya, aku tak mengerti saja. Aku bersama denganmu sudah beberapa tahun, sedangkan kamu bersama amigea hanya beberapa hari. Kamu sudah mencintai amigea, tapi kamu tidak mencintai aku. aku yang mencintai kamu"


Di pengungkapan kalimat terakhir, seina menertawakan dirinya sendiri dengan menghembuskan senyuman


"tapikan aku lupa ingatan" sanggahku yang tak tahu menahu


"iya ka. Memang kamu lupa ingatan. Tapi kenyataan yang sudah terjadi kamu tidak mencintai aku, aku yang mencintaimu. Dan sepertinya ingatanmu sedikit demi sedikit sudah pulih tapi kamu tidak menyadarinya".


"apanya yang pulih? Aku tidak ingat apa pun"


Tegasku yang tak setuju dengan apa kata seina


"kamu itu sudah bersama dengan amigea sejak dia belum memakai cadar ka!"


Aku lemas seketika itu. Di amygdalaku terekam kejadian kemarin-kemarin saat bersama amigea


"CD ini akan menjawab perkataanku. Ini punya kamu ka. Ini aku temukan langsung di lacimu yang dipenuhi dengan foto-fotomu bersama amigea"


Seina menunjuk laci yang dia maksud. Aku memandang laci itu. Kepalaku sedikit sakit seketika itu. Aku memegang bagian kepalaku yang kesakitan. Seina mengangkat badannya dari duduk, dia melangkah menuju laci yang tadi dia tunjuk. Saat ia buka, dia mengambil beberapa lembaran foto. Dia memberikannya kepadaku. Aku melihat apa yang dia perlihatkan, ini foto aku bersama amigea sebelum memakai cadar.


"tunggu, wajahnya seperti pernah aku lihat"


Aku bertanya sembari memandangi foto yang tak tahu dimana alur tempat dan waktunya


"iya, kamu pernah melihatnya saat pertama kamu bangun dari koma, tapi kamu kesakitan saat melihatnya"


"lalu kenapa dia memakai cadar?"


"itu jawaban istikharahnya"


Tiba-tiba kepalaku sakit seperti waktu itu


"cukup sei. Sakit!"


"kamu bisa ka, tak akan apa-apa"


"tapi sakit sei" aku sedikit menjerit, tanganku memegang kuat bagian kepala yang sakit


"percaya sama aku ka. Aku sudah bertanya kepada ayah ibuku dokter di korea. Katanya, jika seseorang lupa ingatan sakit kepala saat mengingat orang yang dia sayang, itu adalah siuman ingatan ka! Kamu tahan ya, sebentar saja. Percaya padaku"


Aku hanya menganggukan kepala menjawab apa yang seina jelaskan


"sekarang kita putar CDnya ok"


Aku masih menganggukan kepala. seina melangkahkan kaki ke pemutar CD. Dia langsung memasukan CDnya lalu rekaman kejadian terputar begitu saja. Aku seakan kembali lagi ke saat yang terekam CD.


...

__ADS_1


__ADS_2