AmiKa

AmiKa
saat aku mengingat lagi


__ADS_3

Akhirnya kunci pintu ingatanku


Ditemukan sahabatku sedari beranjak remaja


Dia menyayangiku,


Tapi dia berbaik hati mengalahkan hati.


Aku mengingat lagi


Aku mengingat siapa yang aku cinta


Ternyata, aku mencintainya tulus


Dia juga mencintaiku tulus.


...


Raka


"jadi.."


Pikiranku kosong saat melihat vidio di cd yang terputar. Ada banyak tawa yang terungkap oleh cd, di penutupnyapun ada ucapan 'happy birthday amigea, aku mencintaimu'


"happy birthday? Berarti.."


Belum semua kata yang terangkai dimulut terungkapkan, kepalaku sudah sakit yang tiada tandingnya, sakit sekarang begitu berbeda dengan yang sebelum-sebelumnya aku rasakan. Rasa sakit ini ditemani dengan putaran-putaran kejadian yang aku jalani. Aku menahan dengan memegang bagian kepalaku yang sakit. Aku tak tahan lagi, aku pasrahkan saja kepada yang maha kuasa.


"BRUK!!!"


...


Raka


"raka tolong aku!"


Ada yang memanggilku dari belakang. Aku langsung refleks membalikan badan. Ternyata amigea. Dia menatapku kosong. Aku masih diam belum menjawab permintaannya. Matanya yang masih menatap kosong meneteskan air mata. tanganku langsung meraih tangan ami, secara langsung pula ami melepaskan genggaman tanganku


"kenapa ami?"


Ami masih menatapku kosong, aku merasa ada yang aneh dari matanya


"ami?"


Dia masih menatapku kosong. Biasanya jika dia tidak membalas dengan lisan, dia selalu membalas dengan tatapan mata.


"ami kenapa kamu menatapku aneh?"


Dia menundukan pandangannya. Tanganku membangkitkan pandangannya yang ke bawah. saat pandangannya telah sejajar dengan pandanganku, dia masih menatapku kosong. Aku penasaran akan apa yang terjadi. Aku melambaikan tangan tepat di matanya, dan dia masih tetap menatapku langsung. Jantungku seperti menghentikan diri untuk berdetak. Air mataku sudah membendung di awan mata


"ami kamu lihat aku?"


Ami tidak menjawab aku sama sekali. Yang ada air matanya menetes terus tanpa henti


"amigea jawab aku!"


Aku sedikit mengeraskan suara. Ami masih tidak menjawab, dia ketakutan mendengar suaraku


"amigea kamu bisa lihat aku? dari tadi pandanganmu kosong"


Tangisan dia tersedu. Aku mengusap tangisannya yang jatuh

__ADS_1


"ami jawab aku"


Nada suaraku kembali mengeras dan sekarang memaksa


"iya raka! aku tidak melihatmu raka!"


Tanpa aku meminta, air mataku jatuh dari muaranya. Aku menatap mata ami yang begitu sering menahan duka yang sedih. Aku mengelus pipinya


"kamu bohong ami! Kamu bohong!"


Suaraku semakin mengeras dan sekarang di temani dengan air mata yang membuat suara isak yang begitu menyayat hati.


"aku buta ka"


...


"ami!"


Aku mengendalikan nafas yang terhembus diluar kendali. Badanku basah dengan keringat. Aku melihat kesekeliling, lagi-lagi aku dirawat di ruangan yang itu-itu saja. Aku sendirian, dimana ayah, ibu, seina, begitupun ami?. Ami?. Seperti ada yang masuk ke memoriku. Aku melihat, aku tahu, aku ingat. Siapa ibuku, ayahku, sahabatku dari smp, dan wanita yang aku cintai. Akupun ingat cd itu hadiah untuk ulang tahun ami.


"aaahhh"


Tapi tetap ada sakit yang menggerogoti. Tanganku mengambil bel untuk memanggil dokter. Kepalaku terus saja memegangi kepala yang kesakitan. Tak lama kemudian, datang dokter fajar dengan ibu dan ayah. Aku tidak melihat seina.


"coba pijati kepala dia sus"


Dokter fajar meminta suster untuk memijati kepalaku. Aku ingat apa kata ami kepadaku saat aku lupa ingatan. Tanganku langsung menyanggah tangan suster yang akan memijati kepalaku.


"aku tidak apa-apa. Aku ingat lagi"


"apa?"


Ibu langsung sontak bertanya kepadaku.


Aku mendengarkan nasihat dokter fajar. Ingatan-ingatan yang hilang, kini masuk pelan-pelan dalam memoriku yang sempat kosong. Aku diam tutup mata meresapi kenangan yang terputar kembali. Sekarang aku mengingat lagi. aku membuka mata lagi, senyuman merekah begitu saja.


"aku ingat ibu, ayah"


Ibu dan ayah menghampiriku, memelukku dengan begitu penuh kasih sayang.


"Alhamdulillah ya allah"


Ibu memanjatkan syukur kepada allah. Ada yang menetes ke bajuku. Saat aku lepaskan pelukan ibu dan ayah, mereka menghapus air mata yang terjatuh.


"ibu, ayah jangan nangis, aku sembuh"


"iya kamu sembuh"


"mana seina?"


Saat aku menanyakan seina. Ibu dan ayah menggelengkan kepala. ada yang aneh mencemaskan hatiku


"kenapa bu, ayah? Mana seina sahabatku?"


Ibu memberikanku sepucuk kertas yang terikati pita putih. Aku menerimanya dengan tangan yang penuh tanya. Tanganku membuka dengan penuh ragu. Kertasnya teruntai huruf yang bercerita


Hallo raka fhaisal


Pasti kamu sudah tahu tulisan ini, karena aku tahu surat ini akan mendarat padamu saat kamu sudah ingat akan segalanya.


Ini aku ka, seina yang selalu kamu panggil dengan panggilan 'sei'. Kamu tahu ka, kamu itu satu diantara semua orang yang kenal kepadaku yang memanggil dengan panggilan 'sei' jadi saat aku di korea. Aku sangat merindukanmu.

__ADS_1


Saat aku sudah skripsi, hatiku langsung meminta untuk bertemu denganmu, karena aku mencintaimu. Tenang dulu ka, aku belum selesai bicara.


Mungkin ini jawaban dari tuhan akan perasaan yang selalu aku ceritakan padanya saat beribadah.


Aku berpikir. Saat kamu lupa ingatan, kamu masih tetap bisa mencintai amigea walaupun ingatanmu tidak ada. Itu merupakan jawaban dari tuhan ka. Ternyata memang sejatimu hanya untuk ami, dan kamu memang sangat mencintainya.


Aku sempat berpikir untuk membuatmu mabuk, agar kamu bisa aku gauli. Karena aku tahu, di agamamu tidak boleh menikah dengan yang berbeda agama, oh iya kamu pasti lupa kalau aku dengan kamu berbeda agama. Sedangkan aku sudah jelas berbeda agama denganmu.


Sudahlah ka, tanganku pegal menulis


Terima kasih raka fhaisal


Karenamu, aku tahu apa itu cinta


Karenamu, aku bisa memantaskan diri sendiri


Dan karenamu, aku tahu mana tuhan yang patut untuk disembah dan mana tuhan yang menciptakanku


Aku minta do'amu tidak lupa tante sarah, om fhaisal. Oh iya amigea dan keluarganya juga


Aku sudah memeluk islam saat kamu tertidur satu hari kemarin, dan sekarang aku akan kembali ke korea untuk menemui ayah dan ibu dan memberitahu mereka aku sudah menjadi mualaf. Alhamdulillah di korea, ayah dan ibuku bertetangga dengan muslim juga, tak jarang ayah dan ibu bertanya perihal islam kepada mereka. Aku minta do'anya untuk aku, ayah dan ibuku.


Oh iya, kita masih tetap sahabat kan?


Selamat berjumpa lagi raka fhaisal


Assalamu'alaikum ya sohibi


Sahabatmu


Seina putri


"jadi seina itu?"


Pertanyaan begitu saja meluncur dari mulutku, sedangkan mata masih tetap memerhatikan surat dari seina


"iya ka, seina berbeda dengan kita. Itu yang membuatmu tidak mencintainya walaupun sudah lama bersama"


Air mataku jatuh menetes begitu saja. Ada haru yang diselimuti oleh seina. Kenapa begitu banyak luka yang diam-diam tak meminta pertanggung jawaban. Aku merasa tak enak hati kepada seina


"ada apa lagi setelah ini bu?"


Ibu menundukan kepala, tak menjawabku sama sekali. Aku merasa ada sesuatu yang ditutupi selain seina


"ibu? Ayah? dok? Kenapa diem? Aku bertanya ada apa lagi?"


Aku melihat beningan air mata di pelupuk mata ibu. Pikiranku tak lain arah. Aku cemas tanpa sebab yang pasti


"ibu?" aku memanggil ibu. Masih tak ada respon untukku


"kalau begitu, saya ke ruang sebelah ya, ada fasien yang harus saya periksa"


Dokter fajar langsung membalikan badan, aku merasa dia juga menutupi sesuatu dariku. Terlebih ada perban yang menutupi sebagian kepalanya. Apa yang telah terjadi padanya?


"dok" aku memanggilnya pelan. Langkahnya berhenti, tapi dia tidak menolehkan wajah kembali


"tidak ada apa-apa kan dok?" aku bertanya dengan pasrah dan gemetar


"iya raka.insya Allah tidak ada apa-apa"


Dokter fajar melanjutkan langkahnya lagi yang terhenti. Aku tersenyum memikirkan kata 'insya Allah' yang diucapkan dokter fajar.

__ADS_1


...


__ADS_2