
Tak ada memang
Takkan ada yang bisa menyangka
Kita mendarat di pulau ini
Pulau dimana aku menemukan kesedihan kemudian
Aku sedih dengan segulung Tanya
Yang terjawab tidak tau
Olehnya yang menempati hati
Kepadakupun, dia tidak tau
Aku masih tak menyangka
Dan tak bisa menerima
Ini terjadi begitu sangat tak di ingikan
Aku tak ingin berlama-lama
Dalam keadaan ini
Aku sulit untuk menerima
Dia buta melihatku
__ADS_1
Dan dia buta melihat tujuh hari kemarin
Yang aku lalui bersamanya.
...
Ami
Pintu ruang yang melindungi raka terbuka, dokter keluar dengan wajah yang sulit di artikan. Sempat aku tebak, tapi tak ingin aku memastikan, ini terlalu sulit untuk diprediksi bahkan untuk di terima aku tidak menjaminnya,
“tante sarah”
Suara asing baru menghembus gendang telingaku baru saja terdengar, tapi memanggil bu sarah?, siapa dia?, aku fokuskan pandanganku terhadap seorang perempuang yang tengah berjalan menghampiri kami yang sedang kecemasan. Aku sedikit terkejut, perempuan itu memeluk bu sarah, dan yang menjadi perhatian kedua adalah bu sarah yang membalas pelukannya, apa memang bu sarah mengenalnya? Atau bahkan saudaranya? Atau bisa jadi sahabat raka, karena sungguh aku baru melihatnya, dan aku tak pernah melihatnya di kampus bersama raka, rakapun tidak pernah menceritakan perihal ini. Ayah datang dari toilet, dan memanggilku, kenapa dia yang menghampiri dan meminta salam
Ayah seperti sedang mengingat-ngingat tapi ayah tidak seperti bu sarah yang langsung membalas pelukannya. Bu sarah langsung menarik tangannya berbicara kepadanya dengan secara tatap mata dan berbisik, tanpa memperbolehkan aku dan yang lainnya untuk mengetaui. Kenapa aku begitu ingin tau siapa dia ya tuhan!
“ibu, bapak, boleh saya memulai”
Suara dokter menyadarkan aku dan semuanya dari perempuan itu. Aku dan yang lain mengangguk dan diam mempersilahkan dokter untuk menjelaskan apa yang telah terjadi dengan raka.
“ sayapun kaget dengan keadaan yang baru saja raka perlihatkan dari komanya selama dua hari, dan ternyata setelah tadi saya periksa dan tes darah raka lagi, dengan berat hati saya harus beritau, raka mengalami amesia ringan”
Bu sarah langsung mencari kursi di dekatnya, sementara aku memeluk erat ibu yang juga turut sedih
“kenapa dok? Kenapa bisa? Kan saya sudah mendonorkan darah untuk anak saya raka, dok?”
Pak fhaisal bertanya dengan lantang tapi iramanya menyayat hati yang mendengarkan
__ADS_1
“biar saya jelaskan terlebih dahulu ya pak, bapak tolong tenang. Dari pertama awal kecelakaan raka sudah mengalami pendarahan parah, dan memang ini akibat dari pendarahan parahnya, dia yang harus menunggu donor darah yang lumayan lama, mengakibatkan ada sel saraf di otaknya yang terganggu dari darah yang keluar dari kepalanya saat kecelakaan, dan mengakibatkan dia mengalami amesia ringan, tapi tolong ibu bapak sabar, amesia ini tidak akan bertahan lama, karena ini ringan, saya harap semua yang ada disini berusaha memulihkan ingatan raka sedikit demi sedikit, jangan memaksa karena raka akan kesakitan, paling cepat satu bulanpun raka akan kembali pulih jika kita sama-sama memberikan yang terbaik untuk ingatan raka, dan semoga hanya satu bulan ya pak, saya harap bapak dan ibu sabar dan jangan putus asa karena raka pasti sembuh dan pulih seperti semula, saya pamit ya pak,bu”.
Boleh aku ceritakan keadaanku sekarang, aku seakan terbentar petir semesta yang begitu jahat, baru saja aku berdamai dan menemukan keluargaku yang sebenarnya mencintaiku, aku sudah diberi lagi kesedihan karena orang yang ku sayang mungkin tak akan mengenalku selama satu bulan, berbeda jauh dengan tujuh hari yang aku lalui bersamanya kemarin, aku harus melewati fase dimana raka lupa dengan tujuh hari kemarin dan satu malam sebelum esoknya dia berada di ruang ICU ini. Aku sudah tak tahan lagi dengan ini semua, aku menghilangkan diri dari keadaan ini, aku sulit untuk menerima ini, ini terlalu sulit dan terlalu sakit, raka yang mengorbankan dua harinya hanya untuk koma yang seharusnya aku yang rasakan, bukan dia, dan harusnya juga ingatanku yang harus hilang, bukan ingatannya yang sudah menjadi kebahagiaanku walau harus aku yang merasakan lupa akan dia sendiri.
Aku berlari ke halaman belakang rumah sakit. Hujan bukanlah hujan kesedihan lagi yang aku rasakan, tapi sudah menjadi banjir yang melanda hati dan otakku yang sudah tertuliskan namanya disederet alasan setiap yang aku kerjakan.dan sekarang, aku sudah ditenggelamkan oleh kesedihan yang baru saja aku dengar belum aku lihat.
“amigea anak ibu”
Aku berhenti sejenak dan menunggu ibu duduk disebelahku, baru saja ibu duduk, aku langsung meraih pelukannya, ku peluk ibu dengan sangat erat, tak ada celah yang aku buat untuk siapapun itu.
“kok anak ibu nangis? Anak ibu kan kuat, masa nangis”
Aku tetap menangis, tak sedikitpun menghembuskan nafas untuk menjawab perkataan ibu tadi, ibu hanya tersenyum dan memaklumi. Ibu memaksa mataku melihat kepadanya
“ami, ini bukan salahmu, tapi ini sudah takdirnya. Kamu boleh menangis tapi jangan tenggelam sampai tak berdaya seperti ini, ibu tau pasti sulit, tapi ini cobaan untuk kamu, jika raka memang jodoh kamu, tuhan pasti akan memulihkan ingatannya tentangmu, dan jika kamu memang yakin dan mencintai raka, kamu harus berusaha sedikit demi sedikit memulihkan ingatan raka. Jika sudah jodohnya pasti aka nada jalan untuk bersama kembali, dan kamu harus tau, jodoh itu gak bakalan tersesat ke jodohnya orang lain, karena dia gak bakalan nyaman lama-lama dengan jodohnya, anakku”
Aku menganggukan tanda aku mengerti dengan yang dijelaskan ibu, aku memeluk ibu lagi
“terima kasih ibu, aku mengerti”
“ya sudah, ayo kita pulang, ke rakanya nanti saja jika kamu sudah baikan dan gak ada namanya nangis lagi, mana mungkin kamu menemui raka yang lupa ingatan dengan keadaan seperti ini, biarkan raka untuk hari ini saja ya nak, besok saja kamu menemui rakanya ok?”
Baru saja aku ingin menyanggah
“ibu mohon sayang, ini demi kebaikan kamu dan raka juga, percaya sama ibu”
Dengan sangat berat hari dan pasrah, aku terpaksa meninggalkan raka dan tidak bertemu dengannya menjadi tiga hari.
…
__ADS_1