Anak Konglomerat Yang Terlihat Miskin

Anak Konglomerat Yang Terlihat Miskin
bab 12


__ADS_3

Xavia terpana melihat lembaran-lembaran uang yang bertebaran di tanah.


Xavia benar-benar merasa bingung.


Dia tidak menyangka bahwa kantong plastik sampah berwarna hitam yang dibawa Afzal berisi uang sebanyak itu!


“Apa? Ini semua uang...”


Xavia benar-benar tidak bisa berpikir lagi.


“Afzal, dari mana kamu dapatkan uang sebanyak ini?"


Alih-alih menjawab pertanyaan Xavia, Afzal tidak peduli dan langsung berjongkok memunguti seratus ribu dolar yang bertebaran di tanah.


“Apa pedulimu? Katamu aku ini tidak berarti buatmu karena aku hanyalah seorang lelaki miskin?"


Setelah berkata demikian, Afzal berbalik untuk pergi.


Kali ini Xavia sudah benar-benar tidak bisa mengontrol dirinya lagi.


Kalau Afzal benar-benar miskin dan dia benar-benar membeli tas itu menggunakan one - time shopper's card, Xavia tidak akan pernah menyesali putusnya hubungan mereka.


Dia tidak akan pernah menyesalinya!


Namun, ternyata sekarang Afzal punya uang tunai sebanyak seratus ribu dolar.


“Afzal, berhenti! Sebaiknya kamu ceritakan apa adanya kepadaku. Kalau tidak, aku akan berteriak!”


Xavia berteriak dan didorong oleh emosi yang meluap-luap sambil melompat ke arah Afzal.


Dia sudah bertekad kali ini dia harus mengetahui kebenarannya.


Afzal tidak peduli lagi pada Xavia.


Xavia mendadak merasa takut. Jangan-jangan Afzal benar-benar telah menjadi seorang kaya raya!


Teriak?


Hahaha.


Afzal tersenyum sinis dan berkata, “Xavia, silahkan saja lakukan apapun yang kamu mau."


“Ahh! Tolong! Tolong! Ada orang mau perkosa aku!" Xavia berteriak sekeras-kerasnya.


Meskipun malam telah larut, tapi masih banyak pasangan yang sedang menghabiskan waktu berduaan disekitar situ.


Demi mendengar teriakan Xavia, mereka segera berlari menuju ke arah danau.


“Sialan!”


Afzal tidak menyangka bahwa Xavia akan benar-benar berteriak minta tolong dan berbuat seolah-olah dia akan memperkosanya!


“Xavia, apa yang sedang kamu lakukan? Okay, sekarang kamu menang dan aku kalah.”


“Afzal, aku hanya ingin kamu jujur kepadaku dari mana kamu dapatkan uang seratus ribu dolar itu! Tolong katakan kebenarannya sekarang!” Xavia berkata sambil mengerutkan keningnya.


Afzal benar-benar merasa putus asa dengan perempuan ini.


Afzal benar-benar tidak ingin berhubungan lagi dengan Xavia.


Itu sebabnya Afzal memutuskan untuk terus berbohong dan berharap Xavia membenci dirinya sepenuhnya.


“Oh, aku harus mengembalikan seratus ribu dolar ini kepada seseorang. Aku, kan tadi cerita tentang seorang anak perempuan yang aku tolong beberapa hari lalu? Nah, selain memberiku shopper's card, mereka juga memberiku sepuluh ribu dolar sebagai tambahan hadiah. Tanpa mereka sadari, mereka memberiku seratus ribu dolar. Oleh sebab itu aku bermaksud mengembalikan yang sembilan puluh ribu dolar!" Afzal mencoba bercerita dengan nada tulus.


Xavia berusaha keras untuk mencerna semuanya.


Pertama, Xavia tahu bahwa Afzal bukanlah seorang yang pandai berbohong.


Kedua, jika Afzal benar-benar telah menjadi kaya raya, kenapa penampilannya tetap biasa saja?

__ADS_1


Afzal sama sekali tidak terlihat seperti layaknya seorang kaya raya.


Setelah mendengarkan seluruh penjelasan Afzal, Xavia benar-benar merasa lega sekarang.


Semuanya terasa masuk akal sekarang.


“Sekarang aku paham. Singkat kata, selain 10 ribu dolar tunai ini, kamu sudah tidak punya apa-apa lagi!”


Xavia menarik napas panjang dan dia merasa keputusannya untuk membiarkan Afzal meninggalkannya sudah tepat dan Xavia yakin dia tidak akan pernah menyesali keputusannya ini.


“Kalau kamu sudah puas, sekarang aku mau pergi.”


Selanjutnya Afzal berlalu dengan membawa seratus ribu dolar tunai ditangannya.


“Seorang lelaki miskin selamanya akan tetap miskin! Kalau begitu aku akan kembali kepada Yuri!”


Xavia buru-buru pergi setelah beberapa jenak memandang punggung Afzal dengan tatapan jijik.


Afzal merasa sangat tertekan setelah menyetor uangnya melalui mesin ATM.


Xavia sudah benar-benar berubah, sama sekali berbeda dengan Xavia yang pernah dikenalnya.


Xavia, Xavia.


Andai saja Xavia bisa melupakan soal tas Hermes dan mau menerima dirinya meskipun ketika dia tidak punya uang, Afzal tidak akan keberatan untuk kembali bersamanya.


Nyatanya, Afzal tidak hanya memiliki sepuluh ribu dolar, dia bahkan kelipatan sepuluh ribu dolar yang tak terhitung jumlahnya.


Ahh!


Afzal menghela napas dan mulai berjalan pulang ke asrama.


Tiba-tiba, ponselnya berdering.


Sebuah panggilan telepon dari Naomi.


“Afzal, maukah kamu mencicipi kue buatanku? Kalau mau, datanglah ke asrama putri, nanti aku bawakan kuenya ke sana!”


Selama ini, keduanya berhubungan baik dan Naomi selalu merasa senang dan damai kapanpun ketika Afzal bersamanya.


Naomi juga merasa nyaman untuk bercerita apapun kepada Afzal.


Berbeda dengan penghuni asrama lainnya, Afzal tidak memiliki niat terselubung dalam berteman. Naomi dapat merasakan bahwa Afzal tulus bersahabat dengannya, sama sekali tidak bertujuan untuk mengajaknya ketempat tidur seperti yang lainnya.


Hmm!


“Kue? Baiklah, aku sendiri sudah bosan banget makan cake..."


Afzal tertawa. Dia benar-benar bisa merasakan keindahan dalam persahabatannya dengan Naomi, bisa dibilang Naomi adalah satu-satunya sahabat perempuan yang dia miliki.


“Okay, baiklah. Afzal, apapun yang terjadi denganmu malam ini, ingatkah bahwa kamu akan selalu menjadi sahabat terbaikku! Aku sangat suka tas yang kamu belikan untukku!


Mereka masih terus berbincang melalui sambungan telpon sampai beberapa waktu kemudian sebelum akhirnya Naomi menutup percakapan.


Sementara itu, teman-teman Naomi di asrama sudah tidak sabar untuk terus menunggu.


“Naomi, kenapa sih kamu selalu baik dengan seorang laki-laki seperti Afzal?”


“Alice, aku tahu bahwa kamu meremehkan Afzal, tapi kamu harus percaya padaku! Dia bukanlah seperti yang kamu pikirkan! Afzal itu orangnya sangat otentik dan seorang yang sangat baik kalau kamu sudah kenal lebih dekat."


Alice juga sedang berada di kamar Naomi.


Alice merasa sangat tertekan malam itu.


Suatu hari Alice berkeinginan untuk bertemu pria baik yang bisa dia pertimbangkan untuk diajak kencan, tetapi orang pertama yang dia temui adalah Afzal. Lalu Alice memiliki perasaan terhadap Nigel, seseorang yang membuat dia kehilangan segalanya dalam semalam.


Alice masih ingat betapa dia merasa sangat kesal saking malunya ketika mereka sudah menunggu diluar Wayfair Mountain Entertainment tapi kemudian tidak bisa masuk.


Itu benar-benar pengalaman yang tidak menyenangkan!

__ADS_1


Alice merasa bahwa kesialannya dimulai sejak dia bertemu dengan Afzal.


Itulah sebabnya Alice sangat membenci Afzal.


“Aku tidak bisa percaya bahwa dia memberimu sebuah tas Hermes palsu. Menurutku ini sangat keterlaluan dan menjijikkan!”


Alice merasa sangat kecewa ketika melihat Naomi memperlakukan tas pemberian Afzal dengan perlakuan yang sangat istimewa.


Alice meraih tas itu dari Naomi dan membuangnya ke tempat sampah.


Naomi buru-buru berjalan ke tempat sampah dan bermaksud mengambil tas itu kembali.


“Selamat Ulang Tahun, Naomi!"


Belum sempat Naomi melakukannya, sahabat-sahabatnya sesama penghuni asrama memasuki kamarnya dengan membawa kue ulang tahun.


“Ah, ternyata kalian semua disini!"


Naomi buru-buru menuju pintu dan menyapa teman-temannya.


Lalu Felicity dan Xavia menuju kamar Naomi.


Meskipun Naomi sudah sangat jarang berbicara dengan Xavia karena Afzal, tapi Naomi tetap menyapa Xavia dengan sebentuk senyum manis di bibirnya.


“Wow! Naomi, kamu pasti menerima banyak hadiah keren! Sampai-sampai kamu membuang tas cantik itu ke tempat sampah? Oh, my God, padahal ini tas Hermes lho!" Felicity mengatakan itu sambil bercanda demi melihat tas Hermes di tempat sampah.


Felicity Nelson benar-benar seperti boneka saking cantiknya. Felicity dan Alice, bisa dibilang keduanya adalah gadis tercantik di seantero asrama.


Alice memandang Felicity dan menyadari bahwa mereka berdua sama-sama cantik dan elegan, tidak dapat dipungkiri Alice merasa sedikit tersaingi.


“Hmm! Jadi, kalau ini Hermes? Pastilah ini tas Hermes palsu karena yang beli adalah seorang lelaki miskin!" Alice mengatakan demikian sambil mengernyitkan kening.


Xavia berdiri tepat disebelah Felicity dan seketika wajahnya berubah demi melihat tas Hermes yang sedang mereka bicarakan.


Xavia langsung menyadari bahwa itu adalah tas Hermes yang dibeli oleh Afzal seharga lima puluh lima ribu dolar pagi tadi!


Xavia merasa tidak nyaman setelah melihat tas itu.


“Palsu?"


Felicity mengambil tas dari tempat sampah dan mengamatinya dengan teliti.


Setelah beberapa saat, mata Felicity membelalak karena terkejut sambil memandang dan memutar tas yang ada di tangannya.


“Ini...Apu pikir ini bukan tas Hermes palsu. Aku pikir ini benar-benar produk asli!"


“Asli?" Semua gadis asrama itu terkejut. “Bagaimana mungkin? Afzal itu miskin banget. Bagaimana bisa dia membelikan Naomi sebuah tas Hermes asli?"


“Tas ini adalah edisi khusus “Collector's item” dan dijual dengan harga diatas lima puluh ribu dolar!” Alice berkata sinis.


Alice bisa merasakan bahwa jantungnya berdetak lebih kencang demi mendengar Felicity mengatakan bahwa tas Hermes itu adalah produk asli.


“Tidak, aku jamin ini asli. aku pernah menyentuh tas Hermes asli di Hermes Boutique Store dan rasanya ini benar-benar persis. Rasanya tidak mungkin tas Hermes palsu bisa punya tekstur yang sama persis dengan aslinya. Aku punya kontak manajer Hermes Boutique Store yang terletak di seberang kampus kita dan aku bisa menelpon untuk bertanya apakah seseorang telah membeli Colector's item dari tokonya. Kita semua akan tahu kebenarannya!"


Felicity memegang tas Hermes ditangan dan memperlakukannya selayaknya sebuah benda yang sangat berharga.


Ucapannya membuat para gadis seketika terkesiap.


Lalu Felicity mengambil telepon genggamnya dan mulai mencari nomer telpon manajer dari Hermes Boutique Store.


“Kamu tidak perlu menelpon...” Mendadak Xavia membuka suara. Xavia tidak ingin Felicity melanjutkan teleponnya. Xavia masih tidak rela menerima kenyataan bahwa Afzal membelikan tas mahal senilai lima puluh lima ribu dolar untuk diberikan kepada perempuan lain.


Namun Felicity memutuskan untuk tidak meneruskan panggilan telepon, dia memutuskan untuk menyampaikan kebenarannya secara langsung.


“Tas Hermes ini beneran asli. Ketika Afzal membelinya pagi tadi, Yuri dan aku...kami juga sedang berada di Hermes Boutique Store. Afzal membayar lima puluh lima ribu dolar untuk membeli tas itu!”


“Apa?”


Bam!

__ADS_1


Semua yang ada di ruangan itu mematung.


__ADS_2