
Afzal memutar tubuhnya ke arah suara gadis yang memanggilnya.
Afzal melihat seorang gadis berparas cukup cantik. Tubuhnya yang jangkung dibalut celana denim ketat dan kaus pendek, ditambah dengan sepatu hak tinggi yang membuatnya lebih serasi. Gadis itu membelakanginya sekarang.
Gadis itu menyembunyikan kedua tangannya di belakang pinggulnya, kedua matanya melotot memandang Afzal dengan tatapan muak.
“Afzal, apakah menurutmu wajar ketika kamu menggantungkan hidupmu dari subsidi kampus padahal kamu mampu membeli barang mewah senilai lima puluh lima ribu dolar untukmu sendiri? Dengarkan, mulai tahun depan, kamu akan dikeluarkan dari daftar penerima subsidi!” seru gadis itu kepada Afzal dengan sikap dingin.
“Whitney, Afzal mendapatkan uang itu sebagai hadiah atas upayanya menyelamatkan hidup seorang anak perempuan! Orang tua anak perempuan itu memberinya shopper's card sebagai ungkapan terima kasih atas kebaikannya itu. Mengapa kamu berpikir untuk mencabut subsidi Afzal? Jangan mentang-mentang kamu presiden perkumpulan mahasiswa lalu bisa membuat keputusan semaumu!”
Presiden perkumpulan mahasiswa memelototi Harper dengan ekspresi dingin di wajahnya tanpa mengatakan sepatah kata pun.
“Apa urusannya dengan kamu? Harusnya kamu tahu bahwa Afzal mendapatkan subsidi itu atas rekomendasi dari perkumpulan mahasiswa? Alasanku memperjuangkan agar Afzal mendapatkan subsidi adalah karena aku tahu dia membutuhkannya! Namun dia justru membeli sebuah tas Hermes senilai lima puluh lima ribu dolar untuk dirinya sendiri! Masak kamu tidak dengar kabar yang beredar di seantero kampus hari ini?”
“Apa yang kamu lakukan itu benar-benar menyalahi ketentuan perkumpulan mahasiswa! Tindakanmu ini dengan sendirinya mencabut hakmu untuk mendapatkan subsidi!”
Whitney melirik Afzal dengan tatapan jijik. Semua orang kini pasti telah mengetahui cerita tentang tas Hermes dari tayangan langsung Felicity yang mereka tonton semalam.
Whitney adalah sosok yang cukup disegani, selain menjabat sebagai presiden perkumpulan mahasiswa, Whitney juga dikenal sebagai salah satu mahasiswa kesayangan rektor di kampus.
Whitney Jenkins memiliki latar belakang keluarga terpandang dan dikenal karena sepak terjangnya di kampus selama ini. Whitney mampu menangani berbagai persoalan bahkan di hampir semua jurusan di kampus.
hampir seluruh dosen dari semua jurusan mengenalnya.
Whitney memiliki karakter khas yang dimiliki oleh kebanyakan pemimpin, yaitu memandang sebelah mata kepada orang tidak punya uang dan kuasa seperti Afzal.
Sejujurnya, Whitney harus mengakui bahwa selama ini Afzal cukup patuh dan rajin melakukan apapun yang dia minta kepada Afzal untuk dilakukan. Itulah alasan mengapa Whitney selalu mendukung agar Afzal mendapat subsidi setiap tahun.
Sementara mahasiswa miskin lainnya yang tidak mau melakukan pekerjaan untuk Whitney maka mereka tidak direkomendasikan untuk mendapatkan subsidi dari kampus.
Sikap semena-mena inilah yang membuat Harper membenci Whitney.
“Afzal, mengapa kamu diam saja?” Whitney bertanya kepada Afzal masih sambil melotot.
Afzal mengernyit. Sejujurnya dia tidak lagi perlu bergantung pada subsidi perkumpulan mahasiswa.
Afzal bisa mengerti alasan Whitney meremehkannya, bisa dibilang subsidi yang dia peroleh selama ini adalah berkat usaha Whitney.
Afzal bertanya, “Apa yang kamu inginkan dariku?”
“Baiklah kalau begitu. Karena kamu yang bertanya, maka aku janji untuk memastikan agar kamu bisa terus mendapatkan subsidi itu, asalkan kamu mau melakukan sesuatu untukku. Kalau kamu bisa melakukan tugasmu dengan baik, aku akan memaafkan tindakanmu yang sudah mencemarkan reputasi perkumpulan mahasiswa!”
Whitney merujuk pada fakta bahwa semua orang sedang menertawakan Afzal dan menganggapnya bodoh karena menggunakan shopper's card untuk membeli sebuah tas.
Tanpa disadari kebencian menyelinap di hati Whitney karena benaknya tidak berhenti memikirkan kejadian itu.
Bagaimana bisa seorang miskin itu sangat beruntung? Bisa-bisanya seorang memberinya kartu Universal Global Supreme shopper's begitu saja?
Lebih gila lagi, Afzal memberikan tas Hermes senilai lima puluh lima ribu dolar kepada seseorang sebagai kado ulang tahun!
Lima puluh lima ribu dolar!
Andai saja Afzal memberikan tas itu kepadanya, tentu Whitney akan merasa senang sekali.
Afzal masih terus saja diam dan tidak menanggapi Whitney sama sekali! Maka, Whitney bermaksud untuk memberi Afzal pelajaran dengan menggunakan subsidi itu sebagai alat.
Itu bodoh!
“Apa sebenarnya maumu?” Afzal bertanya dengan ekspresi datar saja di wajahnya.
“Aku punya permintaan sederhana. Perkumpulan mahasiswa akan menyelenggarakan acara besar Minggu depan dan kami butuh seseorang untuk bersih-bersih tempat acara. Nah, aku ingin kamu bersih-bersih auditorium! Kalau kamu mau melakukannya, maka aku akan tetap membantumu untuk bisa mendapatkan subsidi tahun depan! Nah, tunggu apa lagi, Afzal. Saranku kamu tidak usah masuk kelas hari ini. Aku sudah siapkan surat izin untukmu!” Kata Whitney sambil melemparkan surat palsu itu ke Afzal.
Whitney memutar tubuhnya dan berlalu meninggalkan suara hak sepatu tingginya yang beradu dengan lantai.
“Sialan, dasar wanita tukang rundung!”
__ADS_1
Harper tidak tahan lagi dan mengumpat dengan keras.
Teman sekamar Afzal lainnya, Benjamin tak urung merasa sangat marah.
“Jangan khawatir, Afzal. Aku pikir kamu tidak perlu membersihkan auditorium. Kamu sendiri tahu kan seberapa besar auditorium itu? Nggak mungkinlah seorang Afzal mampu membersihkannya sendiri? Sudahlah, ayo masuk kelas saja.”
Benjamin menepuk pundak Afzal dengan lembut.
“Lalu apa yang akan terjadi dengan subsidi Afzal?”
Teman-teman sekamar Afzal merasa sedikit resah.
Setelah berpikir sejenak, akhirnya Harper bertepuk tangan:
“Baiklah, bagaimana kalau kita membantu Afzal membersihkan auditorium? Kalau kita kompak dan bersama-sama membersihkan auditorium pasti akan selesai dengan cepat.”
“Setuju! Ide bagus!”
Teman-teman sekamar Afzal mengangguk serempak.
Afzal merasakan hatinya hangat.
Afzal kembali merasa optimis dengan kehidupannya di kampus ini meskipun sudah mengalami banyak sekali penghinaan selama tiga tahun terakhir.
Kehadiran teman-teman yang bisa menerima keadaannya yang miskin sangat berarti untuk Afzal.
Mereka selayaknya saudara yang tulus dan selalu menginginkan yang terbaik untuk Afzal.
Afzal tidak rela teman-temannya ikut merasakan hukumannya.
Sejujurnya, Afzal ingin berterus terang kepada teman-temannya bahwa dia sebenarnya anak seorang kaya raya.
Namun Afzal terpaksa mengurungkan niatnya karena khawatir akan kehilangan persahabatannya dengan mereka jika dia mengatakan yang sebenarnya.
“Sudahlah. Aku akan bersihkan auditorium itu sendiri. Lagi pula ini bukan kali pertama aku harus membersihkan auditorium itu sendiri. Satu hal lagi di antara kalian tidak ada yang sehebat dan seterampil aku untuk bersih-bersih, jadi bantuan kalian tidak akan banyak berarti!”
Setelah menimbang-nimbang, Afzal memutuskan untuk menunda dulu pembukaan identitasnya.
Afzal menahan diri untuk sementara waktu.
Afzal munuju auditorium seorang diri.
“Afzal, kenapa lama banget baru ke sini? Apa kamu pikir sekarang kamu sudah hebat karena bisa membeli tas mahal?”
Begitu Afzal menampakkan kakinya masuk ke auditorium, Whitney langsung menyambut dengan ejekan.
“Hahaha!”
Semua orang yang sedang gladi di auditorium itu sontak tertawa terbahak-bahak mendengar kata-kata ejekan yang dilontarkan Whitney.
Mereka sibuk mempersiapkan diri untuk pertunjukan mereka Minggu depan.
Whitney sengaja meminta seluruh tim penampil dari setiap jurusan untuk melakukan gladi di auditorium itu.
“Jangan begitu, dong! Biar bagaimanapun dia mampu membeli tas seharga lima puluh lima ribu dolar! Dibanding dia kita ini nggak ada apa-apanya?”
“Yup, hati-hati kalau bicara, Bu Presiden! Jangan sampai nanti Afzal beneran jadi pria kaya dan berkuasa lalu melempar segepok uang ke mukamu!”
Para wanita di ruangan berpandangan lalu memandang Afzal dan tertawa terpingkal-pingkal.
Sebaliknya, para pria memandang Afzal dengan tatapan iri.
Mereka merasa iri dengan keberuntungan Afzal.
Mereka membayangkan andai bisa membeli ts seharga lima puluh lima ribu dolar, maka mereka akan memilih untuk memberikannya kepada presiden perkumpulan mahasiswa.
__ADS_1
Afzal berlagak tuli dan sama sekali tidak ingin menanggapi cemoohan mereka.
Afzal mengambil sapu dan bersiap untuk mulai membersihkan ruangan.
“Minggir! Apa kamu beneran merasa seperti pria kaya dan berkuasa sekarang?”
Seorang pria jangkung dan kekar mendorong Afzal ke samping dengan kasar.
Afzal nyaris terjatuh karenanya.
Tentu saja Afzal tahu pria in. Namanya Victor Wright dan dia adalah wakil presiden perkumpulan mahasiswa dan juga kapten tim basket kampus.
Orang tua Victor dikenal sebagai pedagang yang sukses dan kaya.
Victor termasuk orang yang punya andil atas semua penderitaan dan penghinaan yang dialami Afzal selama tiga tahun kehidupannya di kampus.
“Victor! Ngapain kamu di sini?”
Whitney terkejut dengan kemunculan Victor yang tiba-tiba dan buru-buru menyapanya dengan riang gembira.
Victor termasuk tipe pria yang disukai Whitney. Selain tinggi, ganteng dan kaya, Victor juga seorang pemain basket yang andal.
Victor adalah karakter pria idaman para wanita.
Para wanita yang sedang latihan di ruangan itu tersipu memandang Victor.
“Oh! Aku ke sini sekarang karena tadi pagi aku keluar rumah lebih awal ketempat modifikasi mobil,” Victor menjawab sambil menyesap minumannya.
“Mobil? Apa? Jadi kamu punya mobil, Victor?”
Beberapa gadis tercengang.
“Hahaha. Ya, aku beli mobil tipe Audi A6, lumayan seru, sih!” Victor menjelaskan sambil tertawa bangga.
“Wow!”
Para gadis semakin tercengang.
Tanpa sadar Whitney mendekat ke arah Victor.
“Mobilmu lokal atau impor?”
Sebenarnya tidak masalah apakah mobil itu lokal atau impor karena mobil Audi A6 adalah tipe mobil yang bertenaga.
“Impor, dong! Ayahku beli lewat temannya makanya bisa dapat seratus ribu dolar lebih murah dari harga normalnya! Hahaha!” Victor tersenyum bangga.
Kali ini Whitney menunjukkan ekspresi aneh pada wajahnya.
Afzal yang sedang sibuk menyapu lantai, tidak tahan untuk tidak menguping pembicaraan mereka terutama ketika mereka bicara tentang mobil.
Adalah impian Afzal sejak lama untuk bisa punya mobil sendiri.
Afzal tidak peduli soal merek dan jenis mobilnya, yang penting mobil beneran dan bisa jalan!
Mengapa ini menjadi impiannya? Karena di masa sebelumnya, Afzal tidak mungkin mampu beli mobil.
Makanya Afzal penasaran dan teru mencuri dengar pembicaraan mereka.
Seluruh perhatian Afzal tertuju pada pembicaraan mereka.
Tanpa disadari Afzal menyapu kaki seorang gadis yang tengah duduk di mimbar.
“Ahh!”
Afzal baru sadar setelah mendengar gadis itu berteriak keras.
__ADS_1