
“Ya, benar. Semuanya tiga puluh ribu dolar. Ehm... aku dapat uang ini dari.... menang lotre!”
Jawaban itu yang terlontar dari bibir Afzal.
Afzal belum bisa jujur mengatakan bahwa saudara perempuannya telah mengubah minimal pengambilan uang tunai di rekeningnya menjadi tiga puluh ribu dolar per sekali transaksi. Dia yakin kalau mengatakan yang sebenarnya pun tidak akan ada yang percaya dan semakin menganggap dia tolol.
Sebenarnya Afzal tidak ingin menyombongkan kekayaannya, tapi kali ini dia merasa tidak ada pilihan lain kecuali melakukannya.
“Kamu menang lotre?”
Pernyataan Afzal memancing keriuhan di kelas.
Sekarang Danny dan Blondie terlihat seperti orang tolol di depan kelas.
Awalnya mereka maju ke depan bersiap untuk menghitung recehan sambil mengejek dan mengolok-olok Afzal di depan teman-teman sekelasnya dan siapa sangka kalau ternyata Afzal melempar tiga puluh ribu dolar di hadapan mereka?
Danny dan Blondie merasa malu.
Mereka merasa tidak sanggup lagi berdiri di depan kelas, tapi juga malu tak tertahankan untuk balik duduk ke kursinya.
Xavia bertanya dengan harap-harap cemas, “Afzal, memangnya berapa banyak uang yang kamu menangkan dari lotre?”
Jantung Xavia berdetak lebih kencang dari biasanya.
Andai Afzal menang lotre jutaan dolar, ingin rasanya Xavia lompat dari gedung tinggi!
Tidak! Tidak mungkin!
Bagaimana bisa orang yang baru saja Xavia campakkan lalu hidupnya makin beruntung?
Hal itu tidak boleh terjadi!
Afzal tersenyum aneh dan berkata, “Nggak banyak, kok! Nggak segitunya!”
“Kamu bilang tiga puluh ribu dolar itu sedikit?”
Cassandra bertanya serasa melayangkan pandangan heran pada Afzal.
“Yang pasti lebih dari itu, deh....” Afzal menjawab singkat.
Apa, sih maksud Afzal?
Teman sekelas Afzal sangat penasaran berapa total jumlah uang yang dia menangkan. Mereka semua, terutama Cassandra, selalu memandang rendah Afzal. Bagi mereka, Afzal adalah si miskin yang pantas untuk dijadikan bahan ejekan.
Dan sekarang Afzal menang lotre, kesombongan teman-teman sekelasnya seketika runtuh.
Mereka semua iri dengan nasib baik Afzal!
“Nah, mestinya sekarang lebih mudah bagi kalian untuk menghitung uang seribu lima ratus dolar, betul tidak?
__ADS_1
Afzal berkata dengan tatapan dingin kepada Danny yang sekarang mati kutu.
Afzal mengambil seribu lima ratus dolar dari kantongnya dan melemparkan uang tersebut ke hadapan Cassandra.
Afzal memutar tubuhnya menghadap ke teman-temannya dan berkata, “Siapa diantara kalian yang mau meminjamkan tas untukku?”
Afzal mulai menyadari bahwa dirinya adalah orang kaya, dia tidak perlu lagi mengharap belas kasihan orang lain atau menganggap dirinya tidak berharga seperti sebelumnya. Terbersit dalam benak Afzal untuk mulai berlaku seperti Danny dan Yuri, menggunakan uang untuk membeli perhatian dan kebaikan orang lain.
Lalu Afzal memilih untuk memulai dengan cara meminjam tas ransel untuk menaruh uangnya.
“Afzal, kamu bisa pakai tas ranselku!”
“Afzal, pakai saja punyaku, aku tidak butuh tas hari ini.”
“Afzal, Afzal...”
Mendadak semua temannya memanggil namanya, padahal biasanya mereka memanggil dia si miskin, mereka seolah berlomba meminjamkan tas ranselnya.
Afzal meminjam tas ransel salah satu teman sekelasnya.
Lalu Afzal memasukkan sisa uang setelah dipakai membayar kuliah, yaitu sebanyak dua puluh delapan ribu lima ratus dolar ke dalam tas.
“Kenapa kalian bersikap berlebihan padanya? Afzal cuma punya tiga puluh ribu dolar! Itupun uang tunai semuanya! Jadi dia belum ada apa-apanya, Afzal hanyalah orang kaya baru yang menyedihkan.”
Danny dan Blondie berkata tajam.
Xavia memandang Afzal dengan perasaan menyesal. Meski sangat ingin, tapi Xavia malu sekali untuk mengajak Afzal bicara.
Andai dia belum putus dengan Afzal, harusnya sekarang dia bisa menikmati uang tiga puluh ribu dolar itu dengan leluasa!
“Afzal, kamu beruntung banget. Sekarang kamu jadi populer, buktinya semua orang menawarkan tas ransel untuk kamu pinjam! Karena sekarang kamu sudah jadi orang kaya, apa sebaiknya kamu mentraktir semua teman sekelasmu?”
Tiba-tiba Cassandra yang masih berdiri di depan kelas berkata dengan nada getir.
“Setuju! Afzal, kamu punya tiga puluh ribu dolar tunai! Sudah seharusnya kamu mentraktir kami semua makan malam!”
“Ayo, dong Afzal! Traktir kami makan malam! Kita sudah jadi teman sekelas selama tiga tahun.” Beberapa mahasiswi teman sekelas Afzal mulai merayu.
Afzal jadi tidak enak menolak permintaan teman-temannya, apalagi sekarang semua berpikir kalau dia baru menang lotre.
Afzal sudah berencana mentraktir Naomi dan teman se- asramanya makan malam.
Tetapi kemudian...
Afzal menjawab, “Baiklah. Aku traktir kalian makan malam dan kalian boleh mengajak teman.”
Afzal bermaksud untuk sekalian mengajak Naomi dan teman se- asrama makan malam.
“Yay!”
__ADS_1
Seisi kelas bersorak dan mereka mengikuti perkuliahan hari itu dengan riang gembira. Sepanjang hari Afzal terus dikelilingi teman-temannya. Semuanya penasaran ingin tahu berapa total uang lotre yang dimenangkan Afzal. Afzal tetap tidak mau bilang dan membuat semua orang makin penasaran!
“Bro Danny, apa kamu akan ikut nanti malam? Kurasa Afzal sedang nantangin kita!” Blondie berkata getir.
Blondie tidak terima orang yang dia rendahkan selama ini mendadak berubah dan menjadi lebih baik darinya! Situasi ini bikin Blondie jadi salah tingkah.
Blondie merasa harga dirinya jatuh.
“Hahaha. Kita harus ikut, dong! Kita mesti ikut beri pelajaran buat Afzal nanti malam!”
Danny membelai dagunya sendiri sambil tersenyum menatap Afzal.
Blondie mulai paham maksud terselubung Danny.
“Oke, deh, Bro Danny! Kamu memang terbaik!”
Sore harinya, Afzal memesan tempat di sebuah restoran untuk traktiran nanti malam. Dia ingin membuktikan bahwa dia memang niat dan tidak terpaksa melakukannya, makanya dia memilih sebuah restoran di Mayberry Commercial Street.
Sebenarnya dia bisa saja memilih restoran yang lebih mewah dan keren, tetapi dia tidak ingin dikira sok kaya dan dia merasa belum pantas untuk berlaku seperti itu.
Afzal memilih untuk pesan tempat di restoran Homeland Kitchen. Restoran itu jauh lebih sederhana dibandingkan dengan Grand Marshall Restauran yang lokasinya tidak jauh dari situ.
Begitu masuk, Afzal segera mengenali wajah-wajah yang sudah tidak asing baginya di restoran itu.
“Manajer, aku sudah belanja cukup banyak hari ini. Aku tadi membayar lebih dari tiga ratus dolar per kepala, jadi kunjungan berikutnya aku sudah layak dapat diskon pastinya ya...”
“Hahaha. Tentu saja, Tuan Wright. Aku pasti akan memberimu diskon spesial kalau Anda datang lagi nanti!”
“Kurasa Bro Victor punya reputasi yang cukup baik!”
“Apa kamu bilang? Kamu tahu siapa Victor itu? Mobilnya tipe Audi A6, lho! Jangan lupa Homeland Kitchen ini restoran paling bergengsi di Mayberry Commercial Street. Siapapun yang menjadi istrinya akan punya masa depan yang cerah!”
“Whitney, kita bisa kesini dan makan di restoran ini karena Bro Victor ingin cari-cari muka sama...”
Afzal melihat siapa saja yang sedang berada di restoran itu. Nampak di sana ada Whitney sang presiden mahasiswa, Victor wakil presiden mahasiswa, dan beberapa orang teman Whitney.
Mereka semua menatap kagum pada Victor.
“Hello, Tuan!”
Afzal ingin menghindar dan tidak mau bertemu seorang pun dari mereka apalagi Whitney si mulut tajam itu. Afzal berbalik dan bermaksud untuk pesan tempat di restoran lain saja. Tetapi kemudian seseorang menyapa Afzal dengan suara keras seraya membungkukkan badannya.
Suara keras staf restoran itu menarik perhatian Victor dan pengunjung lainnya.
Mata Victor membulat memandang Afzal.
“Afzal!”
Whitney berteriak penuh curiga, “Ngapain kamu ke sini, Afzal?”
__ADS_1
Di mata Whitney, Afzal adalah orang miskin yang harus bekerja keras hanya untuk sekadar bertahan hidup. Setiap hari waktunya habis untuk memikirkan cara mendapatkan uang hari ini supaya besok masih bisa tetap makan.