Anak Konglomerat Yang Terlihat Miskin

Anak Konglomerat Yang Terlihat Miskin
bab 26


__ADS_3

Mimpi apa dia datang ke tempat mewah seperti restoran Homeland Kitchen ini?


“Mungkin saja dia mau cari kerja paruh waktu di sini!”


“Hahaha. Kita kan masih ada kuliah sore, nggak bisa dong dia ambil kerja paruh waktu sekarang?”


“Hahaha. Kurasa dia ke sini diam-diam karena nggak sanggup bayar kuliah hari ini! Dia kesini untuk kerja supaya bisa dapat sedikit uang! Lebih baik bolos dulu dari pada nanti dikeluarkan karena tidak sanggup bayar kuliah!”


Lima orang gadis itu tertawa karena mereka sudah paham kondisi Afzal dan lalu asyik bergosip.


Whitney dengan ekspresinya yang dingin mencecar Afzal dengan pertanyaan. “Afzal, benarkah kamu memilih kerja dari pada ikut kuliah sore? Dengar, ya. Ini tidak bisa dibiarkan, aku akan melaporkan ini pada bagian kesiswaan supaya kamu dapat penalti pengurangan poin! Jadi percuma saja kamu bisa bayar kuliah karena kamu pasti tidak bakal lulus karena poinmu kurang.”


Victor mencibir. Sebenarnya Victor kesal karena Afzal tidak berbasa-basi menyapanya, padahal Victor adalah wakil ketua presiden mahasiswa. Selama ini Afzal tertolong oleh prestasi akademiknya untuk terus melanjutkan kuliah meski kondisi keuangannya sangat buruk. Tetapi Victor tidak yakin Afzal bisa terus bertahan tanpa dukungan dari perkumpulan mahasiswa untuk mendapatkan subsidi kampus.


“Tujuanku ke mari bukan untuk cari kerja paruh waktu. Aku ke sini untuk pesan tempat buat makan malam.”


Afzal menjawab dengan intonasi dan cara bicara yang berbeda dari biasanya. Dia mulai merasa lelah dan frustasi dengan ulah Whitney dan teman-temannya yang tanpa henti menghina dan mengolok-olok dirinya.


Tanpa menunggu reaksi lawan bicaranya, Afzal langsung menuju ke arah resepsionis.


“Apa? Yang benar saja dia pesan tempat untuk makan malam?


Whitney dan teman-temannya tertegun selama beberapa saat dan benaknya semakin dipenuhi dengan kejengkelan dan perasaan jijik terhadap Afzal.


“Afzal, kamu mau pesan tempat untuk makan malam? Ya, ampun, kamu sadar nggak, sih? Kamu tahu nggak berapa harga makanan di sini?”


Whitney menatap dingin dan tajam selayaknya Afzal seorang yang idiot.


Whitney berpikir bahwa Afzal pasti sudah gila. Mimpi apa Afzal sampai berpikir bahwa dirinya mampu membayar harga makanan di Homeland Kitchen?


“Cantik, kamu kenal pria ini?” Manajer bertanya kepada Whitney seraya tersenyum.


Menilik dari penampilan dan cara berpakaian Afzal, sang manajer berkesimpulan bahwa Afzal tidak akan mampu membayar untuk makan di situ.


Harga makanan di restoran berkisar antara seratus lima puluh sampai lima puluh dolar per porsi.


Biaya untuk pesan ruangan khusus adalah dua ribu lima ratus dolar, biaya itu belum termasuk makanan dan minuman.


Homeland Kitchen terkenal dengan cita rasa dan kualitas makanannya yang istimewa dan lokasinya yang strategis di Mayberry Commercial Street.


Untuk pelanggan yang membeli makanan seharga seratus lima puluh dolar, maka mereka hanya boleh makan di lantai dasar. Ada harga yang dibebankan untuk tempat dan setiap lantai berbeda-beda harganya.

__ADS_1


Manajer restoran merasa bahwa sepertinya Afzal tidak akan sanggup untuk membayar, bahkan yang paling murah. Sebenarnya dia tidak bermaksud untuk merendahkan Afzal, tetapi dia penasaran karena sepertinya antara Afzal dan Whitney saling mengenal.


“Tentu saja aku mengenalnya! Orang ini terkenal di Mayberry University karena kemiskinannya! Saking miskinnya dia bahkan tidak mampu membayar biaya kuliah dan makan sehari-hari!”


“Benar dan sekarang dia mau pesan makan malam di restoran?”


Dua orang teman Whitney ikut bicara dan kini berdiri di belakang Whitney.


Victor menggelengkan kepalanya seraya tertawa dan berkata, “Sudahlah, Whitney. Siapa tahu dia ke sini karena disuruh Danny atau yang lainnya? Mungkin saja dia hanya disuruh untuk pesan tempat?”


“Benar juga, ya...”


Manajer tersenyum ramah pada Afzal dan berkata, “Tuan, bolehkah aku tahu ruangan yang Anda pesan itu atas namamu sendiri atau atas nama temanmu? Saya tidak punya maksud apa-apa, saya hanya ingin memastikan pesananmu. Oh ya, mau pesan paket yang mana?”


Afzal merasa lega dengan keramahan dan sopan santun manajer di restoran itu, ternyata dia bukanlah wanita yang sombong.


Afzal mengangguk dan berkata, “Aku memesan ruangan atas namaku sendiri. Aku akan mentraktir teman-temanku makan malam dan untuk itu aku pesan tiga meja.”


“Hahaha. Kamu pesan atas namamu sendiri dan bahkan akan mentraktir banyak orang? Kamu pasti bercanda?”


Whitney terpingkal sampai harus memegangi perutnya.


Meski mereka sudah selesai melakukan pembayaran, tapi tak seorangpun hendak beranjak. Mereka penasaran melihat kelanjutannya, bagaimana nanti Afzal membayar ruangan yang dia pesan.


Afzal memperhatikan daftar menu yang disodorkan dan sepertinya tidak ada yang menarik. Kalau dia ingin mentraktir teman-temannya dengan makanan super enak, maka dia harus membayar sedikit lebih mahal.


Setelah beberapa saat menimbang, Afzal menjawab, “Saya order paket menu enam ratus dolar per orang! Tolong siapkan untuk tiga meja yang bagus!”


“Baik, Tuan, silahkan membayar lima ribu dolar sebagai uang muka!”


Manajer itu tersenyum tipis, sementara itu Whitney dan teman-temannya sangat terkejut. Afzal ternyata memesan paket yang jauh lebih mahal dibandingkan dengan paket makan yang diberikan oleh Victor untuk mereka semua!


Apa maksud dia memesan paket mahal untuk teman-temannya? Lalu dia nanti makan apa? Irisan kentang rasa ayam pedas?


Gila! Pria ini sudah benar-benar gila!


Emangnya dia sekaya itu!


Ini konyol!


Afzal tetap acuh dan dengan tenang mengambil uang lima ribu dolar dari dalam ranselnya dan menaruhnya di atas meja didepan manajer.

__ADS_1


Whitney terdiam selama beberapa saat.


“Okay, Afzal! Sepertinya kamu memang beneran punya uang untuk makan enak! Tapi ingat, aku tidak akan pernah lagi membantumu untuk mendapatkan subsidi! Kamu tidak akan mendapatkan sedikit pun untuk membayar uang kuliahmu semester depan!”


“Terima kasih sudah peduli padaku, tapi aku sudah membayar uang kuliahku.”


Afzal tidak tau lagi apa yang harus dikatakan pada wanita itu.


Meskipun cantik, tapi Whitney sangat sombong dan memandang sebelah mata pada mereka yang miskin. Dia hanya mau berbaik hati pada temannya yang kaya, sebaliknya selalu merendahkan dan menindas temannya yang miskin.


Afzal teringat dengan Mila, gadis yang tadi dia temui di auditorium kemarin. Afzal mendapatkan kesan bahwa Mila seorang gadis yang baik, cantik dan sedikit pendiam. Afzal teringat hatinya bergetar ketika matanya bertemu pandang dengan Mila di auditorium beberapa waktu lalu. Sayang sekali dia tidak ada di situ.


Whitney terbelalak kaget.


“Apa kamu bilang? Kamu sudah bayar uang kuliah semester ini? Dan barusan kamu membayar lima ribu dolar? Sepertinya kamu punya banyak uang sekarang? Apa....ada apa ini?”


“Oh, aku menang lotre.”


Afzal sudah putus asa. Kalau dia tidak segera memberikan klarifikasi, maka wanita ini akan terus menuntut jawaban. Afzal memutuskan untuk meneruskan kebohongannya.


“Kamu menang lotre? Berapa banyak?” Whitney terus mencecar.


Whitney menyadari bahwa Afzal tidak main-main, kali ini dia jadi seorang yang sangat royal. Pertama dia sudah membayar deposit tiga meja sebanyak lima ribu dolar! Dia juga perlu uang lebih untuk ekstra minuman nanti malam. Restoran itu terkenal dengan anggur terbaiknya. Setidaknya Afzal perlu menyiapkan 10 ribu dolar untuk makan malam nanti.


Dengan kata lain, Afzal pasti sudah memenangkan lebih dari tiga puluh ribu dolar. Tidak, dia pasti menang lebih dari lima puluh ribu dolar atau bahkan lebih. Kalau tidak, tidak mungkin dia seroyal ini.


“Uh...nggak, nggak banyak, kok.”


Afzal menutup tas ranselnya dan berlalu meninggalkan restoran.


Mengapa dia harus menjelaskan semuanya pada Whitney?


Lagipula Afzal tidak ingin ada urusan apapun lagi dengannya.


“Apa? Jadi dia menang lotre? Apa istimewanya? Nggak bisa dia dibandingkan dengan orang kaya yang sebenarnya, dong!”


Victor mencoba menenangkan Whitney. Dia bisa mengerti bahwa Whitney sedang gusar, karena tadi Afzal berbicara padanya dengan raut muka agak sombong.


“Sudahlah, Whitney, Apa gunanya kamu marah dengan orang seperti Afzal? Nanti kalau aku ke kampus, aku akan minta Danny dan teman-temannya untuk mengurus si bocah sombong itu!” Victor berkata dingin.


“Kamu benar! Kenapa dia sombong banget sih, padahal kan cuma menang seratus ribu dolar?”

__ADS_1


Teman-teman Whitney juga ikut menenangkannya.


Namun kemudian Whitney punya ide. Dia harus mengorek semua informasinya termasuk berapa banyak uang yang dimiliki Afzal dari menang lotre!


__ADS_2