
“Alice, koq kamu kayak bad mood gitu, ada apa!” seru Quinton seraya turun tangga dan menyembunyikan kedua tangannya di balik saku bajunya.
Hati Quinton berdesir setiap kali memandang Alice yang tampak jauh lebih cantik dibanding dua tahun lalu ketika terakhir mereka bertemu.
“Ngak apa-apa, kok. Aku hanya agak kesal saja pada seseorang!”
Alice memandang Afzal dengan ekspresi dingin.
“Benar! Kok, ada ya orang yang tidak tahu diri dan sok tahu kayak gitu?”
Jacelyn dan teman-temannya sepertinya kompak membenci Afzal. Mereka semua memandang tajam kepada Afzal.
Quinton menatap Afzal.
Sejak awal pertemuan tadi, Quinton dapat merasakan kalau Alice sedang kesal terhadap Afzal.
Dan sekarang, dia dapat melihat bahwa kekesalan Alice terhadap Afzal semakin menjadi-jadi.
Mungkinkah antara Alice dan Afzal ada suatu hubungan spesial?
Hahaha. Sepertinya itu tidak mungkin!
Quinton menyimpulkan itu dari baju yang dipakai Afzal.
Total harga baju yang dipakai y, tidak lebih dari tiga puluh dolar. Quinton yakin bahwa pria dengan penampilan seperti Afzal bukanlah tipe pria idaman Alice.
“Sepertinya ada salah paham antara kalian berdua, ya? Kenapa tidak dibicarakan saja? Bukankah kalian teman sekelas jadi sudah semestinya saling terbuka satu sama lain!”
Quinton tersenyum dan pandangan matanya terfokus pada Afzal.
“Perkenalkan, namaku Quinton, senang bertemu denganmu.”
Quinton menjabat tangan Afzal. Dia mengulurkan tangan sedemikian rupa sehingga jam tangan Rolex berwarna emas yang melingkari tangannya terlihat.
Jam tangan Rolex berwarna emas itu tak pelak membuat para gadis itu terpesona dan menjadi kian kagum terhadap Quinton.
Afzal tahu bahwa perkenalan Quinton tidaklah tulus dan dia dapat merasakan maksud jahat yang coba disembunyikan oleh Quinton.
Belum sempat tangan Quinton menjabat tangan Afzal, mendadak Quinton berseru seolah kaget, “Wow! Bro, apa merek bajumu? Asing banget mereknya! Apa mungkin ini merek baru? Maklum aku kan baru datang dari luar negeri jadi tidak tahu perkembangan merek baju terbaru.”
Quinton memandang Afzal dengan tatapan mengejek, raut mukanya mengernyit, satu tangannya memegang ujung dagunya sambil bibirnya membentuk lengkungan seolah sedang berpikir keras.
Quinton bermaksud menarik perhatian Alice dengan cara ikut-ikutan merundung Afzal untuk menunjukan keberpihakannya pada Alice.
“Hahaha. Ini memang merek baju murahan.”
Afzal tidak tertarik untuk meladeni ejekan Quinton.
Bagi Afzal, Quinton bukanlah lawan yang sepadan.
Sebenarnya Afzal sudah berencana untuk membeli beberapa baju pakai kartu Universal Global Supreme shopper's card yang diberikan oleh saudara perempuannya itu. Sayangnya minimum transaksi menggunakan kartu itu adalah lima puluh ribu dolar, Afzal merasa jumlah itu terlalu besar membeli baju senilai lima puluh ribu dolar adalah pemborosan.
“Ooh. Pantesan. Harold, ngomong-ngomong apa kamu pernah lihat merek baju ini? Aku sengaja tanya kamu karena kamu kan tidak pernah ke luar negeri?”
Quinton memutar tubuh ke arah temannya.
Harold adalah seorang pria berambut pirang dan sedang asyik memandangi para gadis cantik, matanya berpindah-pindah dari Alice, Hayley dan Jacelyn. Harold segera menangkap maksud Quinton bertanya dan langsung masuk dalam permainan Quinton.
Harold menggelengkan kepala, tersenyum dan menjawab, “Nggak, tuh, aku nggak pernah tau ada merek ini. Coba aku cek sebentar di internet, ya?”
Keduanya berlagak seolah sedang berdiskusi serius.
Semua orang paham bahwa mereka sebenarnya sedang mengejek Afzal.
Anehnya, Afzal tidak merasa gusar sedikitpun dengan semua ejekan itu.
Alice dan para gadis itu tampak senang dengan aksi Quinton dan Harold.
__ADS_1
“Hahaha! Salah kamu sendiri, Afzal! Ngapain iri sama Quinton! Jadi ya terima saja kalau ada yang mengingatkan siapa sebenarnya dirimu, hai orang miskin!” Jacelyn berkata sambil tertawa-tawa.
“Lagipula, Quinton baru balik dari kuliah di luar negeri. Nggak level kalau dibandingkan dengan Afzal!” Alice menimpali dengan suara agak lirih.
Alice tahu, seperti halnya Danny, tindakan Quinton menghina Afzal adalah demi dirinya. Bedanya adalah Quinton melakukannya secara lebih tersirat dibanding Danny.
Quinton melakukannya dengan cara yang lebih halus.
Alice senang karena itu artinya Quinton lebih pintar.
“Quinton, perkenalkan mereka adalah teman-temanku.
Sekilas melirik pada Afzal sebelum Alice mengenalkan semua temannya pada Quinton.
Sebaliknya, Quinton juga mengenalkan Harold kepada Alice dan teman-temannya. Keluarga Harold adalah pemilik lembaga pelatihan terbesar di kota Mayberry.
Keduanya lalu duduk dan Quinton memilih tempat duduk berhadapan dengan Alice.
Tampaknya Harold tertarik dengan Jacelyn dan Hayley.
Para gadis itu tak henti-hentinya mengagumi Quinton dan Harold sambil terus mengobrol. Mereka lupa dengan tujuan awal acara makan siang pada hari itu, yaitu untuk merayakan hubungan antara Harper dan Hayley.
Kehadiran Quinton mengubah semuanya dan Harper jadi sedih karenanya.
Afzal dapat merasakan kegusaran Harper.
Afzal tidak terima melihat sahabatnya Harper diabaikan begitu saja.
Namun Afzal sudah menyiapkan antisipasi untuk situasi tidak mengenakkan ini.
Tadi sebelum beranjak dari asrama, Afzal menelpon Zack, manajer Wayfair Mountain Entertainment. Afzal meminta Zack untuk memesan meja dan mengatur segala sesuatunya untuk dia dan teman-temannya.
Afzal tidak mau Harper kehilangan muka dihadapan Hayley!
Selain itu, Afzal juga ingin menyenangkan Naomi karena dia tau bahwa Naomi pengen banget datang ke Wayfair Mountain Entertainment.
Harold secara tendensius menanyakan beberapa hal kepada Harper ketika dia mengetahui acara makan siang hari itu didedikasikan oleh Harper untuk Hayley.
Afzal tidak sabar lagi untuk mengajak mereka semua pergi ke Wayfair Mountain Entertainment begitu mereka selesai makan siang bersama.
Mendadak Quinton berujar, “Ngomong-ngomong, ada kabar burung kalau keluarga Fhiser mengalami bangkrut dan terpaksa mereka harus melepas Grand Marshall Restauran di kawasan Mayberry Commercial Street! Adam Fisher, bapak Nigel dulunya sahabat baik ayahku. Aku sedang mencoba membantu mereka untuk membeli kembali restoran itu!”
Alice terkesiap dan mengerjapkan matanya.
Apa yang terjadi pada Nigel dan keluarganya telah menjadi sebuah rahasia umum.
Mereka tengah bersama Nigel ketika peristiwa itu terjadi.
Para gadis itu sangat senang mendengar rencana Quinton untuk mengambil alih Grand Marshall Restauran. Mereka semakin ingin berteman dengan Quinton.
Alice mengangguk samar dan berkata, “Ya, kami tahu yang menimpa Nigel dan keluarganya. Info yang kami dengar, Nigel telah membuat seorang yang sangat berpengaruh di Mayberry City tersinggung, akibatnya seluruh bisnis keluarga Fisher bangkrut dalam semalam! Pendapatan utama keluarga Fisher adalah dari Grand Marshall Restauran di kawasan Mayberry Commercial Street itu, aku tidak bisa membayangkan mereka akan bertahan hidup setelah ini.”
Quinton sangat menikmati tatapan kekaguman para gadis itu terhadap dirinya.
Quinton mengangguk dan berkata, “Ayahku menyetujui ideku untuk mengambil alih restauran itu. Aku yakin kalian semua tahu nilai bisnis dan usaha yang ada di Mayberry Commercial Street. Begitu kalian membuka usaha disana, maka dipastikan bisnis itu akan menghasilkan uang untukmu seperti air mengalir! Ayahku bilang di dalam kawasan itu sekarang ada sebuah istana yang sangat megah dan mewah bahkan di dalamnya ada sumber air panas!”
“Wayfair Mountain Entertainment!”
Semua kompak berseru demi mendengar kata istana yang ada sumber air panas di dalamnya.
Quinton mengangguk dan tersenyum sebelum berkata, “Apakah di antara kalian ada yang pernah ke sana?”
Alice teringat kembali dengan kejadian memalukan malam sebelumnya.
Alice tidak ingin menyembunyikan hal itu dari Quinton.
Secar ringkas Alice menjelaskan semuanya kepada Quinton.
__ADS_1
Begitu Alice selesai dengan ceritanya, Quinton tersenyum dan berkata, “Aku tidak habis pikir kenapa Nigel melakukan kebodohan semacam itu. Alice, sebagai gantinya, aku ingin mengajakmu dan teman-temanmu pergi ke Wayfair Mountain Entertainment sekarang! Sebentar, aku telepon ayahku dulu, ya.”
“Ahh! Serius, nih? Kamu memang keren, Quinton!” Jacelyn berkata dengan ceria.
“Serius, dong. Sebentar, ya. Aku telepon ayahku dulu.” Quinton mengambil ponsel dari saku bajunya dan lalu menghubungi ayahnya.
Tidak lama kemudian, Quinton mengakhiri panggilan telponnya.
“Sepertinya kita harus pergi sekarang karena semakin siang akan semakin ramai pengunjung. Kalau sore pengunjungnya rame banget, akan susah buat ayahku mengusahakan meja buat kita.”
“Okay! Ayo pergi!”
Para gadis itu tidak keberatan untuk berangkat saat itu juga.
“Baiklah, aku dan Harold akan ambil mobil supaya kita bisa ke sana barengan.”
“Tapi Quinton, dua mobil cuma muat untuk kami para gadis. Terus bagaimana dengan mereka?” Alice bertanya sambil menunjuk Harper dan teman-temannya.
Quinton memandang Harper dan bertanya, “Lho, kamu tidak bawa mobil ya ke sini?”
Harper menggeleng, dia tertekan dengan pertanyaan Quinton.
“Sudahlah, kalian pergi saja sendiri.”
Situasinya menjadi sangat tidak nyaman dan membuat Naomi bimbang. Tetapi kemudian dia memutuskan, “Kalau mereka tidak pergi maka alu juga tidak!”
Afzal merasa kasihan dengan Naomi yang selalu saja berada di posisi sulit. Afzal tahu seberapa besar keinginan Naomi untuk pergi ke Wayfair Mountain Entertainment.
Buru-buru Afzal berkata, “Naomi, kamu pergi aja dulu dengan mereka. Nanti aku dan teman-teman menyusul. Kami juga sudah pesan meja lengkap dengan menu-menunya!”
Afzal sengaja menekankan kata-katanya untuk memancing reaksi Alice dan Hayley.
Afzal kesal karena Alice dan teman-temannya tidak menghargai Harper. Mereka akan pergi begitu saja tanpa mencicipi sedikitpun makanan yang sudah terhidang di meja.
Sebagai seorang yang cukup sensitif, Alice bisa merasakan bahwa kata-kata sindiran yang diucapkan Afzal itu ditujukan kepadanya. Lalu Alice membalas, “Hahaha. Kamu akan menyusul kami? Kamu pikir siapa kamu bisa masuk ke Wayfair Mountain Entertainment tanpa Quinton? Lagian, ngapain sih kamu sarkas gitu? Bilang aja kalau kamu mau aku membayar semua makanan yang sudah dipesan?”
Harper buru-buru mencegah, “Tidak usah, sudah, kalian pergi aja sekarang. Sampai jumpa, Hayley!”
Harper memandang Hayley, dalam hati dia masih ingin menghabiskan waktu dengannya. Tapi Alice benar, bahwa tidak mungkin baginya untuk bisa menyusul Wayfair Mountain Entertainment, dia pasti sudah ditolak di pintu masuk.
Alice dan teman-temannya pergi bersama Quinton dan Harold. Harper bersyukur bahwa meski sama-sama tidak menyenangkan, tapi situasinya tidak seburuk semalam.
Setelah Hayley dan teman-temannya berlalu, hati Harper patah dan kehilangan selera makannya.
Harper merasa patah semangat.
“Harper, jangan menyerah. Aku kan bilang kalau kita akan pergi ke istana itu dan aku pastikan kita bisa melakukannya. Tolong kali ini kamu percaya sama aku.”
Afzal menepuk pundak Harper untuk menguatkannya.
Harper tersenyum pahit dan berkata, “sudahlah, lupakan saja. Ayo, kita makan lalu balik ke asrama dan tidur!”
Afzal tahu bahwa Harper mencoba bersikap tegar untuk menutupi kekecewaannya.
Afzal tersenyum dan merasa bahwa sudah waktunya dia menunjukkan dirinya yang sebenarnya. Sudah cukup Harper dan teman-temannya mengalami hinaan dan cemoohan karena dirinya.
Afzal juga merasa sangat kecewa.
Afzal mengeluarkan ponselnya dan mulai menelpon Zack.
“Zack, setelah ini aku dan teman-temanku mau meluncur ke Wayfair Mountain Entertainment. Tolong kirim dua mobil untuk menjemput kami, ya?
Diujung telpon Zack menjawab dengan sikap sangat menghormati.
“Baik, Tuan Crawford. Tentu saja bisa, segera saya siapkan. Mohon kirim lokasi Anda, Tuan?”
Afzal mengirim lokasinya kepada Zack dan menutup telponnya setelahnya.
__ADS_1
Harper menatap Afzal terkejut.
“Gila, kamu Afzal! Kamu pikir siapa yang baru saja kamu telepon?”