
“Aku nggak ngerti kenapa sih Alice mengajak Afzal ke sini? Dia hanya membuat semua orang nggak nyaman!”
Alice dan gadis lain menumpahkan kejengkelan mereka.
Mereka berani terang-terangan mengejek Afzal karena mereka tahu Quinton juga tidak menyukainya.
Quinton sudah terlihat tidak suka saat tahu Afzal juga ikut meskipun Afzal tidak merasa apa-apa. Lagi pula, bagaimana bisa Afzal bersaing dengan Quinton?
Para gadis itu sengaja menyerang Afzal karena mereka ingin menegaskan status sosial mereka di depan Quinton.
Alice hanya bisa menggelengkan kepala. Awalnya dia berencana mau balas dendam pada Afzal. Dia sadar sekarang, itu hanya terdengar konyol. Sangat konyol dan buang-buang waktu hanya untuk khawatir pada pria ini sejak awal.
“Naomi! Harper! Ngapain kalian di sini? Ah, Afzal ada kamu juga rupanya!”
Terdengar suara seorang wanita di belakang mereka.
Ketika Afzal membalikkan badan, dia melihat Xavia di sana.
Xavia menggandeng lengan Yuri dengan mesra. Dia melihat Afzal, Naomi, dan yang lain dengan pandangan heran. Xavia tidak menyangka kalau mereka bisa datang ke acara berkelas seperti itu.
Afzal memandang Xavia yang mengenakan gaun emas dan perak. Dia lalu teringat cincin berlian yang dibeli Yuri untuk Xavia. Afzal yakin pasti Yuri membelikan barang-barang itu untuk dikenakan Xavia pada pembukaan Restoran Grand Marshall malam ini.
Xavia terlihat sangat senang dan bangga.
‘Mungkin Yuri dan Xavia memang benar-benar saling mencintai,’ kata Afzal dalam hati. Mungkin dulu Afzal hanya sebagai alat menghilangkan kejenuhan saja untuk Xavia.
Memikirkan hal itu, Afzal merasa sangat bodoh. Apalagi saat mengkhawatirkan Xavia tadi malam, harusnya itu tidak perlu.
__ADS_1
“Quinton, jadi kau juga mengenal Afzal?” Yuri bertanya akrab pada Quinton.
Sebenarnya, kekayaan keluarga Lowell tidak ada apa-apanya dibanding dengan keluarga Ziegler. Alasan kenapa Yuri bisa datang ke pesta itu adalah karena ibu Yuri adalah teman dekat ibu Quinton. Mereka dulu adalah teman sekamar ketika masih kuliah dan masih berhubungan baik sampai hari ini. Ketika Yuri mendengar kabar pembukaan Restoran Grand Marshall, dia lalu meminta bantuan ibunya. Itulah kenapa dia bisa ada di sana malam ini dengan Xavia.
“Mereka semua teman-teman Alice. Kau kenal mereka juga?” Tanya Quinton.
“Ya. Mereka dari kelas sebelah.”
“Quinton, Afzal ini cuma gembel. Ini acara pesta yang megah dan mewah, tapi lihat Afzal sama sekali nggak menghargai acara ini sama sekali. Lihat baju yang dia pakai! Benar-benar menurunkan citra acara ini!” Kata Xavia sambil melirik sinis pada Afzal. Dia lalu merapatkan pegangan tangannya pada Yuri, seakan ingin menunjukkan bahwa hidupnya berubah jadi lebih baik sejak bersama Yuri.
Ditambah lagi, Xavia ingin Afzal tahu bahwa dia menjadi orang yang pantas datang ke pesta mewah setelah putus dari Afzal. Afzal memang beruntung karena memenangkan lotre sebesar tiga puluh ribu dolar, tapi tetap saja dia tidak ada apa-apanya dibanding dengan orang-orang ada di sana!
Quinton juga merasa sepakat dengan komentar Xavia. Dia memasukkan tangan ke dalam saku celananya lalu tertawa, “Hahaha! Kalau dia memang mau menurunkan standar, turunkan saja standarnya. Lagi pula kalau bicara soal keanggunan dan pujian, nggak semua orang punya standar yang tinggi kan?”
“Hahaha! Quinton memang keren. Semua yang dia bilang memang akurat!”
“Okay, okay, kita hentikan ini. Masa kita masih perlu bicarakan soal Afzal meskipun itu benar? Hahaha!” Xavia dan gadis-gadis lain mengangguk setuju dengan yang dikatakan Quinton.
Afzal mulai merasa marah mendengar cemoohan yang dilontarkan padanya. Sekarang dia tahu seberapa gila gadis-gadis ini pada uang.
“Baiklah! Lihat saja, akan kulemparin uang ke depan wajah mereka!” Pikirnya.
Afzal benar-benar marah sekarang.
Quinton lalu memandang Afzal dan berkata, “Hai, kawan, jangan salah paham. Aku cuma bercanda. Kau tidak marah, kan? Aku tahu seorang Afzal tidak akan marah hanya karena candaan seperti ini.”
Afzal menjawab pertanyaan Quinton dengan nada dingin, “Quinton, apa kau sedang mencari masalah denganku sekarang?” Awalnya Afzal mengira Alice mengajaknya ke sini untuk memperbaiki hubungannya dengan Quinton. Meskipun dia tidak cocok dengan Quinton, tapi dia tetap di undang ke sana, dia pikir itu adalah hal yang wajar. Sekarang Afzal sadar bahwa dia diundang hanya untuk diejek di depan umum.
__ADS_1
“Oh, sepertinya Afzal mulai marah. Hei, sadar diri, dong! Quinton sudah memberimu kesempatan untuk ikut datang ke pesta mewah ini. Dan sekarang kau mau marah pada Quinton? Hahaha!”
Xavia merasa senang melihat semua orang juga merendahkan Afzal. Dia lebih puas ketika tahu Quinton juga ternyata membenci Afzal. Karena itu Xavia terus mendesak dan mengejek Afzal supaya Quinton terkesan.
“Oke, oke, sudah cukup. Quinton, mana meja yang kamu pesan untuk kami?” Kata Alice kemudian.
Lagi pula Alice yang membawa Afzal ke sini. Kalau Xavia terus merendahkan Afzal, secara tidak langsung sama saja dengan mempermalukan Alice juga.
“Ah, iya, berhubung Yuri dan Xavia juga sekampus dengan kalian. Kenapa kalian nggak duduk bersama saja?”
Quinton lalu membawa mereka ke sebuah meja besar. Setelah itu, dia mempersilakan mereka duduk. Xavia dan Yuri tentu tidak menolak duduk bersama mereka. Xavia justru bisa semakin bebas pamer.
Sayangnya, jika di tambah Yuri dan Xavia, meja yang sebenarnya bisa menampung lima belas orang itu jadi sedikit sesak. Enam orang dari asrama Alice, lima dari asrama Harper, di tambah Naomi jadi dua belas orang. Dan masih ada Xavia, Yuri dan Quinton.
Itu artinya tidak ada tempat untuk Afzal.
“Ah, tidak mungkin, ini memalukan. Kawanku Afzal, maaf sekali! Nggak ada tempat lagi untukmu.”
Quinton tersenyum dingin dan bersikap seolah sangat menyesal.
Harper lalu menimpali, “Afzal, kamu duduk di sini saja berbagi dengan kami.”
“Hei! Nggak bagus kalau kita duduk berdesakan. Yang datang ke sini orang-orang kaya dan terpandang. Apa kata mereka kalau kita duduknya berjejalan?” Kata yang lain menjawab.
Quinton menggaruk kepalanya dan menghela napas, “Aku sebenarnya ingin duduk di sini bersama kalian jadi kita bisa ngobrol dulu sebelum nanti aku ke atas panggung untuk acara pembukaan. Aku nanti nggak akan ikut makan jadi ketika aku sudah naik ke panggung Afzal bisa duduk di sini.”
“Jangan, jangan dong!” Jacelyn dan gadis lain segera menyahut, “Kalau kamu kasih tempat dudukmu untuk Afzal, nanti dia akan duduk di antara Alice dan aku! Nggak mau! Lagi pula kami kan nggak mau kamu pergi, Quinton. Kami masih mau dengar cerita-ceritamu.”
__ADS_1