
“Ya. Aku memenangkan sejumlah uang!” Afzal menjawab sambil tersenyum.
“Mengapa kamu menghabiskan semua uang itu? Mestinya kamu juga menyimpannya sebagian untuk keperluanmu sendiri?” Mila melanjutkan pertanyaannya.
“Menyimpan sebagian?”
“Afzal sangat naif, bagaimana mungkin dia mampu menyimpan uang? Hahaha...” Victor yang baru saja masuk ruangan menyahut, tampaknya dia sudah mendengar cerita dari banyak orang tentang Afzal yang menang lotre.
Tentu saja Victor menggunakan kesempatan ini untuk semakin menginjak Afzal.
“Okay, okay, semuanya, silahkan duduk. Ngomong-ngomong, barusan waktu aku ke bawah, aku tadi bicara dengan presiden mahasiswa untuk mengundang beberapa teman dari jurusan lain. Aku mengundang beberapa orang lagi untuk bergabung dengan kita malam ini!” Victor berkata sambil tertawa.
“Ide bagus! Tapi, Victor, meskipun ruangan ini sangat indah dan mewah, aku khawatir tidak akan cukup memuat terlalu banyak orang.”
Whitney sangat senang dan merasa tertarik ketika mendengar bahwa presiden mahasiswa dari jurusan lain akan datang.
Whitney sangat ingin bertemu dengan mereka karena Whitney adalah tipe orang yang senang menjalin hubungan dan dekat dengan mereka yang memiliki status dan pengaruh.
“ Ya! Tiga orang di antaranya akan datang dan bergabung dengan kita. Jika hanya dua orang, akan mudah bagi kita untuk berbagi tempat dengan mereka. Tetapi pasti akan sangat sulit jika masih harus ditambah satu orang lagi!” Victor berkata gusar sambil menggaruk keningnya.
Afzal sadar bahwa Victor sengaja mengatakan semua itu dan ditunjukkan pada dirinya.
Satu-satunya alasan Afzal mau datang makan malam karena ingin memberi muka pada Mila, Afzal ingin menyenangkan Mila.
Acara kumpul-kumpul dengan teman selalu seperti ini. Satu orang yang diundang maka dia akan mengajak temannya dan begitu seterusnya.
Meskipun tuan rumah merasa tidak nyaman dengan situasinya, tapi biasanya akan memilih untuk diam saja.
__ADS_1
Afzal berada dalam situasi sulit karena Mila yang mengundangnya malam ini.
“Cinta yang berat.” Afzal mengeluh pada dirinya sendiri.
Ketika melihat sebotol jus di meja putar, Afzal ingin menuangkan segelas jus untuk dia minum.
Tetapi belum sempat dia meraih botol jus, seseorang memutar mejanya sehingga botol jus itu menjauh dari jangkauan tangan Afzal.
Karena yang ada di depannya sekarang satu teko teh, maka Afzal memutuskan untuk minum teh saja.
Tetapi lagi-lagi dia belum sempat mengambil teko teh itu, seseorang kembali memutar meja sehingga Afzal tidak bisa meraih teko.
Siapa pelakunya?
Afzal mendongakkan kepala dan melihat sekeliling, lalu menyadari bahwa tangan Whitney sedang bertumpu pada meja putar. Whitney sedang melotot padanya.
Apa hubungannya dengan Afzal jika ada satu orang lagi yang akan bergabung?
Afzal bertekad pada saatnya nanti akan memberi pelajaran pada si Whitney.
Sudah cukup bagi Afzal menerima semua perlakuan tidak masuk akal dari Whitney.
“Afzal tidak tahu malu! Udah enak makan gratis, udah gitu dia mengambil jatah kursi orang lain dan berlagak seolah dia pemilik tempat ini!” Quinn menimpali dengan nada menghina.
Quinn mengatakan semua itu mewakili Victor dan semua orang yang ada di meja itu. Kebetulan Quinn juga tidak punya sedikitpun kesan yang positif terhadap Afzal karena sejak awal Quinn sudah memandang sebelah mata dan memandang rendah pada Afzal.
“Mila, mengapa kamu tidak minta Afzal untuk pulang duluan? Kamu bisa undang dia makan malam lagi kapan-kapan. Lihat dong betapa kacau dan sulitnya pengaturan tempat duduk sekarang! Gak penting banget sih!” Whitney mulai memengaruhi dan menunjukkan kuasanya pada Mila.
__ADS_1
Mila mengernyitkan kening. Andai dia tahu bahwa akan terjadi hal semacam ini, Mila dan Afzal pasti tidak akan ikut acara.
Mila sedang menimbang untuk mengajak Afzal meninggalkan restoran.
Belum sempat Mila berkata-kata, Quinn menunjuk sebuah meja kecil di samping mereka dan berkata, “Baiklah, Afzal tidak harus pergi. Tetapi dia hanya perlu pindah ke meja kecil itu dan melanjutkan makannya di situ. Kita akan memberinya beberapa jenis hidangan dalam satu piring. Tidak akan ada bedanya buat dia, kan?”
“Baiklah, kupikir itu ide bagus. Karena Afzal miskin, kita tidak boleh membiasakannya dengan terlalu banyak macam hidangan lezat. Kalu tidak, dia tidak akan mampu membayar seleranya di masa depan!” Nathaniel menyetujui pendapat Quinn, dia berkata sambil terbahak.
Sekelompok orang itu benar-benar kotor mulutnya!
Sejujurnya, Afzal sangat ingin menggebrak meja dan meninggalkan tempat itu seketika.
Afzal sudah berdiri tapi kemudian dia berubah pikiran.
Pergi?
Jika dia pergi, bukankah dia akan menjadi bahan ejekan mereka semua sepanjang waktu?
Sialan! Afzal memutuskan untuk tidak pergi! Lagi pula dia tidak akan, membiarkan mereka semua untuk terus merundung dirinya di wilayah kekuasaannya?
Tiba-tiba saja, pikiran itu melintas di benak Afzal.
Afzal mengangguk dan berkata, “Okey, baiklah. Aku akan duduk di meja kecil.”
Setelah mengatakannya, Afzal menarik kursinya dan duduk menghadap meja kecil.
Tiba-tiba, seseorang membuka pintu ruangan dengan paksa...
__ADS_1