Anak Konglomerat Yang Terlihat Miskin

Anak Konglomerat Yang Terlihat Miskin
bab 34


__ADS_3

“Umm... Tuan Lyle, kau tidak perlu mencariku. Aku sudah di sini.


Glek!


Suara Afzal seperti kilat di telinga Zack, badannya seketika gemetar. Zack lalu mencoba memperhatikan pria dengan rambut kusut dan penampilan yang berantakan itu.


Zack seketika terbelalak kaget ketika tahu itu adalah Afzal!


Orang-orang disekelilingnya saling pandang kebingungan.


“Dasar pria jahat! Kau masih berani bicara, hah? Tadi kau bilang kau siapa?” Kata Elena sambil memelototi Afzal.


“Hahaha! Benar-benar pintar akting, ya! Bahkan berani pura-pura jadi Tuan Crawford!” Kata gadis yang lain menimpali.


Afzal memegangi jidatnya dan masih mencoba mengumpulkan kesadaran. Mereka harusnya menggelar pesta penyambutan untuknya, tapi kenapa dia malah dipukuli? Zack menghampiri Afzal untuk membantunya berdiri dan berkata dengan suara yang masih gemetar.


“Tuan Crawford! Ssa...sayaa...saya sungguh minta maaf atas apa yang terjadi,” Zack membungkukkan badan sembilan puluh derajat di hadapan Afzal.


“Apaa!”


Semua orang di ruangan itu terkejut bukan main. Elena kebingungan.


Jadi orang ini... pemilik Mayberry Commercial Street? Dia yang telah berjasa pada Zack selama ini? Jadi diaa... adalah Afzal Crawford?


Warren yang sudah pucat pasi mencoba memaksakan diri, “Ssee...selamat datang, Tuan Crawford. Saya... senang bertemu dengan Anda,” Dia membungkukkan badan pada Afzal dengan penuh kerendahan hati.


Habis sudah! Putrinya sudah menyerang Tuan Crawford sedemikian rupa. Tamatlah riwayatnya sekarang.


“Senang bertemu dengan Anda, Tuan Crawford!” Yang lain mengikuti membungkuk pada Afzal.


Namu tidak dengan Elena, dia masih berdiri tegak mematung.


Afzal lalu menatap Elena dengan ekspresi mengejek dan berkata, “Jadi, Nona Muda. Kau mau dengan cara apa kita selesaikan urusan ini?”

__ADS_1


“Aku... aku tidak tahu.”


Elena merasa sangat malu dan marah di saat yang sama. Dia masih benar-benar tidak menyangka pria menyebalkan di depannya adalah Afzal Crawford yang terkenal itu. Orang kaya di banyak jenis bisnis!


“Tuan Crawford, saya sungguh minta maaf atas semua perlakuan putri saya. Anda bisa menghukumnya jika Anda mau,” Warren membungkukkan badan dan tidak berani berdiri tegak.


Sejujurnya, melihat Elena dan Warren dengan raut penuh penyesalan, kemarahan Afzal sudah hilang. Dia juga merasa bersalah karena berperilaku buruk tadi hanya karena melihat kaki Elena yang jenjang dan indah. Hufftt. Ini pertama kalinya dalam hidup Afzal dikelilingi begitu banyak wanita.


Afzal sebenarnya tipikal orang yang tidak mau cari keributan dan menyudahi saja semua kesalahpahaman yang sudah terjadi. Lagi pula sakit hatinya sudah hilang. Tetapi, Zack yang berdiri di samping Afzal seperti bisa membaca pikirannya.


“Tuan Crawford, Anda harus menghukum mereka karena apa yang sudah mereka lakukan berarti menghina keluarga Anda juga. Lagi pula, jika Anda tidak menghukum mereka setelah mereka mempermalukan Anda di depan umum, ini akan menjadi sejarah buruk terlebih jika sampai kakak Anda tahu. Konsekuensinya tidak sesederhana yang Anda bayangkan.”


Afzal memandang Warren yang masih membungkukkan badan di depannya.


Ya, dia harus menghukum Elena dan teman-temannya. Jika tidak, orang-orang penting di Mayberry Commercial Street tidak akan segan dan takut lagi padanya.


Afzal lalu menoleh pada Elena dan teman-temannya dengan tatapan dingin dan berkata, “Zack, tolong siapkan kamar untukku dan bawa gadis-gadis ini ke sana.”


Zack segera melaksanakan perintah dari Afzal tanpa berkata apa-apa.


Warren dan ayah para gadis yang lain menghela napas panjang setelah mendengar perintah Afzal. Mereka paham apa yang diinginkan Afzal.


Hukuman? Apa ini memang hukuman? Ini justru hadiah untuk mereka!


Kalau putrinya bisa melayani Afzal dengan baik dan Afzal puas, tentu akan menjadi keuntungan yang besar untuk keluarga Larson! Begitu pikir Warren. Warren juga berpikir dia bahkan bisa memanfaatkan kesempatan ini untuk menggantikan posisi Zack memimpin Mayberry Commercial Street.


Tentu saja ayah para gadis yang lain juga berpikir sama. Mereka berulang kali mengedipkan mata pada putri-putri mereka, meyakinkan mereka agar bisa melayani Afzal dengan baik.


Beberapa saat kemudian, Zack telah selesai menyiapkan kamar yang diminta Afzal. setelah itu, Afzal membawa Elena dan empat temannya menuju kamar. Zack menunggu di luar kamar.


“Tuan Crawford... apa... apa yang Anda inginkan?” Salah seorang dari gadis itu bertanya dengan tatapan malu.


“Hahaha! Menurut kalian apa yang aku inginkan? Setelah kalian berlima menyerangku sampai berantakan begini, sekarang kau masih bisa bertanya apa yang aku inginkan?”

__ADS_1


karena tadi ia sudah menahan marah, Afzal bisa melampiaskannya sekarang.


“Sekarang aku minta kalian semua berbaring di atas tempat tidur!”


“Apaa?”


Elena diam-diam mengepalkan tangannya. Dia tidak menyangka bahwa Afzal memang benar-benar pria mesum. Jika bukan karena khawatir keluarganya akan bangkrut dan harus membayar konsekuensi akan perbuatannya, Elena tidak akan pernah mau menuruti perintah Afzal.


Elena tidak bisa membayangkan yang akan terjadi selanjutnya. Dia sebenarnya sangat membenci pria-pria mesum dan hal-hal menjijikkan yang seringkali mereka lakukan. Dan sekarang dia justru dipaksa melakukannya bersama dengan para gadis lain?? Benar-benar brengsek!


Sayangnya, Elena hanya bisa pasrah menuruti perintah Afzal. Dia mulai berbaring di atas tempat tidur bersama teman-temannya dengan menggertakkan giginya.


Plak!


Afzal menampar pipi salah satu dari mereka dengan keras.


Dia lalu melanjutkan menampar yang lain secara bergantian.


Gadis-gadis itu merasa malu dan kesakitan, tapi tidak bisa berbuat apa-apa selain menahannya. Elena hampir menangis setelah mendapat tamparan dari Afzal.


“Kalian mau menyerangku? Kita lihat apa kalian masih berani menyerang dan memukuliku lagi!”


Afzal menampar mereka sekali lagi.


Setelah puas, dia lalu menghela napas lega. Afzal merasa jauh lebih baik sekarang.


Jika berniat mau berbuat macam-macam, Afzal tentu akan memilih Elena. Tetapi dia tidak punya sifat penguasa yang seperti itu. Bagaimanapun juga, Afzal harus tetap menghukum mereka. Jadi dia pikir hukuman semacam ini sudah cukup setimpal untuk membuat gadis-gadis itu menyesal.


“Hiiks..hiks...” Gadis-gadis itu masih menangis sesenggukan.


Setelah setengah jam berada di dalam kamar, mereka akhirnya diizinkan keluar dengan masih merasakan panas dan perih di pipi mereka. Melihat gadis-gadis itu, semua orang yang menunggu di luar kamar tercengang.


Luar biasa! Tuan Crawford benar-benar luar biasa! Dia bisa menghukum lima gadis cantik itu dalam waktu hanya setengah jam sampai mereka tidak bisa berdiri congkak lagi.

__ADS_1


Pria muda berbaju putih juga diam-diam mengagumi Afzal. Tetapi karena Afzal masih fokus pada Elena dan teman-temannya, dia tidak berani mendekat dan mencari perhatian.


__ADS_2