
Pada saat bersamaan, Wilson juga sudah menyelesaikan semua dokumen untuk transaksi keuangan dan administrasi lainnya.
“Tuan Crawford, ini kunci mobil Anda dan juga kartu namaku. Mulai sekarang, jangan ragu untuk menghubungi saya kalau Anda perlu sesuatu. Bahkan jika itu tidak ada hubungan dengan mobil, Anda bisa kapan saja menghubungi saya jika ada butuh bantuan!” Wilson berkata dengan respek.
Hal itu dia lakukan karena Afzal bukan seorang pelanggan biasa. Wilson tahu bahwa Afzal pasti berasal dari keluarga kaya raya dan berpengaruh.
Wilson merasa bahwa dia tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan dapat berkenalan dengan Tuan Crawford.
“Okay, terima kasih, manajer Wilson. Sejujurnya, aku butuh bantuanmu kalau Anda tidak keberatan, Manajer Wilson.” Afzal berkata sambil tersenyum.
“Tentu, dengan senang hati. Beritahu saja apa yang Anda ingin saya lakukan!”
“Bisakah Anda mencari seseorang untuk membantuku mengendarai mobil ini pulang? Hahaha. Sebenarnya, aku belum punya SIM...
“Oh! Kalau hanya soal itu, aku bisa melakukannya sekarang!”
“Tuan Crawford, kenapa tidak aku saja yang menyetir untukmu?”
“Tuan Crawford, aku bisa menyetir untukmu! Aku sudah punya SIM lebih dari dua atau tiga tahun!”
“Tuan Crawford, dimana Anda sedang belajar menyetir?
Karena kata-kata yang mereka lontarkan tidak mempan untuk menarik perhatian Afzal, beberapa orang mengerumuni Afzal dan menarik-narik tangannya.
Mereka mencecar Afzal dengan pertanyaan seperti kuliah di mana dan ambil kursus mengemudi di mana.
Afzal bingung merespons semua itu. Untungnya, Wilson sangat tanggap dan cepat bertindak, dia segera menawarkan diri untuk mengantar Afzal pulang.
__ADS_1
Sementara itu, Vanessa yang sedang berdiri di samping pintu memandang Afzal yang sedang dikerumuni banyak orang. Dia menggigit bibirnya, hatinya dipenuhi penyesalan. Dia ingin sekali menampar mukanya sendiri.
Dia telah meremehkan dan merendahkan seseorang dan orang itu adalah seorang raja yang sebenarnya!
Rasa-rasanya Vanessa ingin mengubur dirinya sendiri mengingat tindakannya terhadap Afzal barusan. Bisa dipastikan karirnya sudah tamat.
Ternyata Afzal tidak meminta Wilson untuk mengantarkannya balik ke kampus.
Sepanjang jalan, banyak orang memandang mobilnya. Nampaknya semua orang kagum dengan mobil Lamborghini yang mewah dan keren.
Kalau dia mengendarai mobilnya ke kampus, pasti akan sangat mencolok dan menarik perhatian.
Itu akan terlalu high - profile.
Seolah Afzal sedang pamer kekayaan.
Afzal benci dengan orang yang arogan dan senang pamer kekayaan.
Lalu Afzal meminta Wilson untuk naik taksi kembali ke kantornya.
Afzal baru saja membeli mobil, tapi dia malu mengendarainya. Benar-benar aneh.
Afzal sangat puas dengan mobilnya karena itu adalah yang dia impikan selama ini.
Setelah mengeluarkan kunci mobilnya, Afzal merasa haus dan menuju kios di dekat kampus untuk membeli segelas es teh susu.
“Kalau kamu tidak ada uang tunai, kamu bisa bayar pakai uang elektronik!”
__ADS_1
“Maaf, ponselku mati dan saya lupa bawa dompet. Aku akan balik dulu ke asrama dan mengambil dompet lalu membayar minumanku, aku taruh dulu minumanku di sini ya...”
Begitu sampai di kios, Afzal melihat seorang gadis sedang berbicara dengan penjual minuman sambil memegang segelas teh susu yang dia pesan.
Sepertinya gadis itu baru sadar kalau dia lupa membawa dompet setelah dia memesan segelas teh susu. Kebetulan baterai ponselnya habis pula sehingga dia tidak bisa membayar pakai uang elektronik. Kejadian yang sedikit memalukan tentunya.
Afzal memperhatikan profil gadis itu.
“Huh? Benarkah itu dia?” Afzal agak terkejut.
Afzal bertemu gadis itu beberapa waktu lalu ketika Whitney menyuruhnya membersihkan auditorium. Ketika itu, tanpa sengaja Afzal menyapu sepatu putih gadis itu sehingga kotor karena asyik mendengarkan pembicaraan Victor soal mobil.
Afzal dapat mengingatnya dengan sangat jelas karena gadis itu selain cantik juga tidak suka membeda-bedakan seperti Whitney. Dia sangat lembut dan baik.
Oleh karena itu Afzal sangat terkesan dengannya. Bahkan dia masih ingat nama gadis itu, Mila Smith!
“Kak, jangan bercanda, ya. Kamu tadi pesan 6 gelas teh susu sekaligus dan bahkan kamu sudah meminum salah satunya. Kalau kamu meninggalkannya di sini dan tidak kembali, apa yang harus aku lakukan dengan minuman ini? Aku harus meminta uang pada siapa nanti? Nona, aku hanya menjalankan usaha kecil-kecilan di sini. Jadi tolong jangan buat aku makin susah!”
Ibu penjual di dalam kios itu berkata putus asa.
Wajah Mila terlihat sangat gusar dan dia mulai menyeka keringat dingin di keningnya.
“Berapa harganya? Aku akan membayar semuanya untuk dia...”
Tiba-tiba terdengar suara di belakang telinganya ketika Mila merasa sangat bingung.
Mila menghembus napas lega sebelum dia memutar tubuhnya untuk melihat siapa orang yang telah datang untuk menolongnya. Mila tersenyum ketika melihat Afzal.
__ADS_1
“Kamu rupanya?”
“Ya. Aku tidak menduga kita akan bertemu lagi!” Afzal tersenyum dan wajahnya bersemu merah.