Anak Konglomerat Yang Terlihat Miskin

Anak Konglomerat Yang Terlihat Miskin
bab 32


__ADS_3

“Apa yang kamu lakukan di sini?”


Ternyata gadis yang tadi menubruknya ada di dalam lift dan dia langsung menyambut Afzal dengan sikap permusuhan.


Gadis itu menyesali dirinya kenapa bisa berada dalam satu lift dengan seorang yang tolol? Gadis itu merasa terhina.


“Oh, aku perlu naik ke lantai atas karena ada sesuatu hal yang aku harus kerjakan di sana!” Jawab Afzal.


Gadis itu memalingkan muka melihat ke arah lain karena tidak sudi bertatapan dengan Afzal.


Ding ding...


Afzal menelan ludah.


Paha gadis cantik itu sangat memikat, putih mulus selembut salju.


Afzal memutar tubuhnya dan pura-pura melihat ke arah lain seolah tidak ada sesuatu pun yang terjadi. Tetapi Kemudian diam-diam Afzal memandang paha gadis cantik itu lagi.


Sangat menyenangkan!


Siapa suruh gadis gila itu menubruknya dan meneriakinya tanpa alasan? Jadi boleh sekarang gantian dia mengambil keuntungan biar impas, kan?


Afzal memiringkan kepalanya sedikit dengan maksud agar bisa melihat paha gadis itu lebih jelas, tapi ternyata gadis itu sudah berbalik menghadapnya sekarang.


Gadis itu menatap Afzal dengan pandangan benci.


“Kamu... kamu... kamu benar-benar kurang ajar! Beraninya kamu melecehkan aku di tempat seperti ini? Kau benar-benar hina!” Gadis itu berteriak marah.


Orang ini benar-benar menjijikkan! Andai dia berpakaian bagus sekalipun, tetap saja hina!


Gadis itu merasa akan meledak!


“Siapa bilang aku melecehkan kamu? Aku hanya menundukkan kepalaku dan melihat lantai, bukan yang lain?” Afzal mencoba membela diri meski nuraninya menyatakan dirinya bersalah.


Slap!


Gadis itu mengangkat tangan dan melayangkan tamparan ke muka Afzal. “Dasar kurang ajar! Jangan kemana-mana! Aku akan buat perhitungan denganmu!”


Gadis itu menekan tombol lift dan buru-buru keluar begitu pintu lift terbuka, wajahnya merah padam.


“Percuma saja punya wajah cantik kalau temperamen!”


Ugh!

__ADS_1


Anehnya, Afzal tidak merasa terhina meski tadi gadis itu menamparnya. Dia bahkan masih sempat melirik paha gadis itu sekali lagi.


Sepertinya sudah waktunya dia mencari pacar baru karena dia memutuskan untuk melupakan Xavia!


Sambil memikirkan soal pacar, Afzal menekan tombol lift menuju ke ruang VIP di lantai 7 sesuai petunjuk Zack.


Afzal tiba di sebuah ruangan besar dan mewah yang biasa digunakan untuk menggelar pertemuan besar.


Afzal melangkahkan kakinya memasuki ruangan, ternyata di dalam sudah banyak orang.


Suasananya sangat hidup. Ada seratusan pria dan wanita dari segala usia di ruangan itu dan para pelayan tampak sibuk berlalu lalang melayani para tamu.


Afzal dapat menduga bahwa mereka semua adalah para pemilik toko dan bisnis di kawasan Mayberry Commercial Street.


Afzal memandang berkeliling, tapi dia tidak melihat Zack.


Afzal mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Zack, ternyata baterainya habis dan ponselnya mati sejak tadi.


Ugh!


Afzal menggunakan ponselnya sepanjang malam dan lupa mengecas baterai.


Sudahlah! Afzal memutuskan untuk menunggu, Zack pasti segera menyapanya begitu dia sampai di ruangan ini.


Afzal menjelajah ruangan besar itu selama beberapa waktu, lalu memutuskan untuk duduk di satu sudut yang sepi sambil tersenyum putus asa pada dirinya sendiri.


Para pelayan sangat sibuk sehingga tak seorang pun memperhatikan Afzal. Tanpa disadari oleh Afzal, sekelompok anak muda generasi kedua pemilik bisnis di kawasan Mayberry Commercial Street memperhatikan dirinya yang sejak tadi asyik makan dan minum sendirian.


“Hei, lihat pria itu. Sejak tadi dia sibuk makan dan minum di pojok. Kalian kenal dia? Apa dia orang Mayberry Commercial Street?”


“Kurasa aku tidak pernah mengenalnya!”


Para gadis itu mengerutkan kening dan menggelengkan kepala mereka.


“Kurasa dia bukan orang Mayberry Commercial Street. Mustahil! Lihat saja bajunya! Mungkin dia pencuri, sengaja menyelinap ke sini untuk makan minum gratis!”


“Masa sih dia ke sini untuk mencuri makanan? Nggak mungkin, lah! Masa iya ada orang sememalukan itu?”


“Kenapa tidak? Kurasa dia memang memalukan! Lihat saja, bajunya lusuh makanya dia duduk di situ sendirian dari tadi.”


“Masuk akal!”


Anak-anak muda para generasi kedua pemilik bisnis di Mayberry Commercial Street mulai bergosip tentang Afzal.

__ADS_1


“Boss Mayberry Commercial Street, Afzal Crawford, akan datang hari ini. Pria berbaju jelek itu tidak seharusnya ada di sini karena bisa merusak suasana!”


“Apa kata Tuan Crawford nanti? Dia pasti akan berpikir orang tua kita tidak kompeten karena membiarkan orang seperti dia masuk ke tempat ini?”


Seorang pria muda kharismatik berbaju putih menatap Afzal sambil mencibir.


“Oh, lihat! Elena sudah datang!”


Mata para gadis itu memandang ke arah pintu masuk.


“Elena, ayo sini!”


Gadis itu melambaikan tangan pada Elena Larson.


Begitu Elena memasuki ruangan, mata para pria muda di ruangan itu seketika berbinar-binar.


Elena membalut tubuhnya dengan gaun pendek dan rambutnya yang panjang ikal bergelombang jatuh lembut di bahunya. Paras Elena cantik sempurna laksana bidadari mengalahkan kecantikan teman-temannya yang juga cantik-cantik.


Beberapa pria bahkan memandang Elena dengan tatapan mesum ketika dia melangkah ke arah teman-temannya dengan sepasang kaki jenjangnya dan rambutnya yang terurai gemulai.


Para pria muda terpesona dengan Elena.


“Elena! kok, kamu telat banget? Padahal kan kita sudah janjian untuk datang sama-sama?”


“Elena, kenapa kamu terlihat sangat kesal? Ada apa?” Pria muda berbaju putih bertanya pada Elena dengan raut muka penuh perhatian.


“Ugh. Aku memang sedang kesal. Tadi aku ketemu orang kurang ajar di tangga! Pertama, dia menyentuhku di bagian yang tidak pantas. Setelah itu dia melecehkanku di dalam lift! Makanya aku harus ke toilet dulu untuk membetulkan bajuku!” Elena tampak pucat dan bercerita sambil menghembuskan napas berat.


Elena cukup fasih dan pandai dalam berbicara.


Alasan utama dia keluar dari lift sebelum sampai di lantai yang dituju adalah untuk menghindari si pria kurang ajar.


Alasan kedua dia merasa posisi ****** ******** bergeser ketika tadi dia terpeleset di pintu putar. Jadi dia ke kamar mandi untuk membetulkan posisi ****** ***** dan merapikan bajunya.


Elena merasa sangat kesal!


“Gila! Kok bisa terjadi hal seperti itu?”


Pria muda berbaju putih dan teman-temannya merasa marah mendengar cerita Elena. Siapa orangnya yang berani menyentuh Elena seperti itu? Elena adalah bidadari mereka dan bahkan tak seorang pun di antara pria muda itu berani menyentuh tangan Elena!


“Baiklah, Elena. Kami pasti akan menemukan orang itu. Kami akan menemui petugas keamanan gedung dan meminta dia untuk menemukan pria kurang ajar itu melalui kamera CCTV!”


Pria muda berbaju putih itu memandang Afzal yang masih asyik menikmati buah-buahan dan salad sayuran.”

__ADS_1


“Ya, kita harus menemukan pria kurang ajar itu!”


Pria muda berbaju putih itu terdengar seperti sedang mengomando para gadis...


__ADS_2